Rabu, 28 April 2021

Proper Theology / Doktrin Tentang Allah


PENGAJARAN TENTANG ALLAH

(Teologia Proper)

 

A. Pendahuluan

Jika dalam Teologi Sistematika kita dipertemukan dengan suatu pembahasan yang panjang mengenai dapatkah Allah dikenal, maka dalam pembahasan ini kita akan diajukan pertanyaan dilematis, dapatkah Allah didefinisikan ? pertanyaan ini memang sulit sekali untuk dijawab, karena Allah sedemikian agung untuk didefinisikan, dan pendefinisian itu sendiri menciptakan kesan sebagai usaha membatasi Allah yang tak terbatas.  Oleh sebab itu untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, paling tidak  ada dua pertimbangan yang perlu dipikirkan, yaitu : Pertama : jika pendefinisian itu dimaksudkan untuk menggambarkan Allah secara aktual, maka itu sangat tidak mungkin karena tidak ada sumber data yang cukup memadai untuk membangun sebuah definisi. Kedua :  jika pendefinisian itu dimaksudkan sebagai deskripsi terbatas atas hakikat Allah maka hal itu menjadi mungkin karena Allah memang menyatakan diriNya secara terbatas kepada manusia melalui wahyu khusus yaitu Alkitab dan Yesus Kristus.

Dalam menentukan tingkat signifikasi dari pengajaran tentang Allah, baiklah kita sejenak mencermati latar belakang atau konteks hidup kita saat ini, bahwa kita hidup dalam periode eksplosi science, yang mana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (yang kemudian disingkat IPTEK) berkembang begitu pesatnya sehingga seolah-olah segala sesuatu yang dahulu dianggap mustahil untuk dilakukan oleh manusia, sekarang dapat dikerjakan oleh teknologi. Perkembangan ini sedikit banyak telah mempengaruhi pola pikir maupun pola hidup rohani manusia yang cenderung mendewakan IPTEK dan mengabaikan hal-hal yang bersifat keagamaan. Namun ada suatu pengetahuan yang dilupakan oleh sementara banyak orang yaitu pengetahuan tentang Allah. Pengetahuan ini sangat menakjubkan sehingga Charles C  Ryrie mengungkapkannya demikian “Bukankah lebih mengagumkan memiliki pengetahuan akan Dia yang mendiami surga, dari pada memiliki pengetahuan tentang makhluk yang mendiami planet? Bukankah lebih mengagumkan mengorbitkan manusia ke surga dari pada ke bulan…”, namun tidak banyak orang yang memahami fakta dan keindahan dari pengetahuan akan Allah (teologi) ini. Beberapa alasan tersebut memang bukanlah satu-satunya alasan utama mengapa kita belajar teologia Proper, tetapi sedikit banyak dapat menjadi bahan perenungan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditimbulkan oleh kecenderungan manusia di era post-modern ini.

 

B. Signifikansi & Urgensi Pengajaran Tentang Teologia Proper

Dalam  teologi Barat modern saat ini, eksistensi Allah secara praktis dipungkiri. Pembahasan tentang Allah menjadi kabur karena tradisi teologi barat dimulai oleh proposisi Immanuel Kant yang menolak bukti-bukti theistic tradisional. Ia merasa bahwa pemikiran logis kita seharusnya hanya difokuskan kepada dunia yang dapat diindera saja, jadi intinya Immanuel Kant menolak iman Kristen tradisional seperti yang diajarkan oleh Yesus, bahwa Bapa surgawiNya memberi makan burung-burung dan mendandani rumput di padang. Konsekuensinya jelas bahwa realitas Tuhan tidak senyata realitas burung dan rumput itu sendiri “That is the reason why modern western theology the doctrine of God changed radically and the seriousness of the historical fact of the creation is not see”.[1]

Kant mencoba menjelaskan tentang Allah dalam beberapa “non-objective utterances”, ia menyatakan bahwa “All theological utterances about the existence of God must be non-objectifiying[2]. Paul Tillich[3] juga mengungkapkan hal itu juga bahwa pertanyaan tentang eksistensi Allah tidak pernah dipertanyakan lagi. Pemikiran ini dilanjutkan dikemudian hari oleh seorang teolog Neo-Orthodoks, Karl Barth,. Beberapa jawaban baru yang dimunculkan untuk menjawab tantangan era pencerahan yang mulai menggeser peran Allah dari segala aspek pemikiran manusia dan menggantinya dengan otonomi intelektualitas manusia. Barth mengangkat tantangan yang ditimbulkan oleh Ludwig Feurbach dalam bukunya “God is Nothing but What Man Thinks”. Barth mencoba menghindari “berfikir” tentang Allah, tapi Allah harus menjadi sesuatu yang lain, selain “sebuah object”pikiran manusia. Oleh sebab itu berkaitan dengan kondisi yang demikian, urgensi dan signifikansi pembelajaran ini juga di dasarkan pada beberapa alasan-alasan yang teologis dan filosofis pula, seperti halnya kemunculan pemikiran seperti di atas, bahwa :

1. Alkitab Mengajarkan Eksistensi Allah

               Alkitab secara jelas mengajarkan kepada manusia tentang Allah yang benar, yang eksis, dan yang lebih nyata dibandingkan segala sesuatu yang lain. Dalam realitasnya, segala sesuatu membutuhkan dan bergantung kepadaNya. Hanya orang-orang yang bodoh yang meyakini bahwa Allah tidak ada, demikian pernyataan firman Tuhan dalam Mazmur 14:12-15, 10:3-4; 36:1. Orang-orang yang sedang sibuk mempropagandakan ketiadaan Allah berarti mereka juga sedang sibuk menyangkal bahwa Allah memang benar-benar ada.

2. Ketidakpercayaan Modern & Kompromi Teologi

Kelemahan dasar berpijak dari teologia modern adalah “believes everythings occurs according to scientific laws, but we can not deny the factuality of the witnesses of God[4] Kepastian tentang Allah lebih dari sekedar prasangka/praduga harus menjadi starting point dari pemikiran kita. Selanjutnya kita memiliki penjelasan/penjabaran logis untuk kepastian hukum dalam regularitas alamiah, inilah yang diajarkan oleh Yesus dalam Matius 10:29-31. Namun demikian Teologia Barat modern terus mencoba membangun ulang/merekonstruksi kekristenan dengan membangun kompromi dengan pemikiran modern yang tidak mempercayai realitas Allah, dampaknya adalah Allah dipaksa dalam beberapa bagian untuk tidak mampu melakukan sesuatu apapun di dunia ini. 

C. Pemahaman Dasar

Theologia proper adalah suatu usaha ilmiah untuk menyelidiki tentang Allah khususnya untuk keberadaan-Nya, Pribadi, karya, serta hal-hal yang khas mengenai Tritunggal. Satu hal penting sebelum mempelajari Teologia Proper yaitu bahwa tak ada satu manusiapun di dunia ini yang mampu memperoleh seluruh data-data untuk menjelaskan tentang Allah secara menyeluruh sesuai keberadaan Allah secara factual, hal ini dikarenakan

1.      Keterbatasan manusia sebagai makhluk ciptaan

2.      Keberdosaan manusia

3.      Keterbatasan sumber data.

Meskipun demikian, di tengah-tengah kelemahan tersebut, ada suatu keistimewaan yang membuat teologia yang diupayakan oleh orang-orang percaya menjadi sangat berbeda dengan teologia yang diupayakan oleh orang-orang di luar Yesus, orang Kristen mempunyai lima dasar kebenaran, yaitu lima pondasi prinsip mengenai pengetahuan tentang Allah, yaitu

1.    God has spoken to man, and the Bible is His Word, given to us to make us wise unto salvation.

2.     God is Lord and King over His world, He rules all things for His glory; displaying His perfections in all that He does, in order that men and angels may worship and adore Him.

3.    God is saviour, active in sovereign love through the Lord Jesus Christ to rescue believers from the guilt and power of sin, to adopt than as His sons, and to bless them accordingly.

4.    God is triune, they are within the Godhead three person; the Father, the Son, and the Holy Ghost; and the work of salvation is one in which all three act together, the Father purposing redemption, the son securing it, and the spirit applying it.

5.    Godliness means responding to God’s relation in trust and obedience, faith and worship, prayer and praise, submission and service. Life must be seen and lived in the light of God’s Word. This, and nothing else is true religion[5].

Melalui terang prinsip kebenaran ini, kita mulai mencoba mempelajari dalam detail-detail tentang apa yang Alkitab tunjukkan kepada kita tentang hakikat dan karakter Allah.

               Dalam memulai studi kita mengenai pengajaran tentang Allah, maka dengan serta merta kita akan menghadapi tantangan yang begitu hebat dari begitu banyak pandangan filsafat, keyakinan agama-agama lain, pengajaran dari ilmu pengetahuan maupun dari perbedaan pandangan para teolog Kristen sendiri. Hal ini dimungkinkan terjadi karena semua manusia pada dasarnya hanya mampu memahami hal-hal yang sifatnya dapat diindera(sensible) saja (I Kor 2:14), sehingga jika bukan karena Allah sendiri yang menariknya dalam suatu pemahaman melalui penerangan ilahi maka sangat mustahil memahami Allah.

               Studi tentang Allah ini menarik perhatian bagi para filsuf maupun teolog dalam beberapa millennium, sebagian duduk dan bermeditasi, serta mencoba memikirkan realitas dari hakikat kekal tersebut, tetapi mereka pasti tidak akan menemukan apapun karena pengetahuan yang benar tentang Allah hanya mungkin ditemukan melalui atau di dalam Alkitab saja (Yoh 1:18; I Yoh 4:12; Kel 33:20). Kesulitan dalam memecahkan permasalahan ini sebenarnya telah dipecahkan oleh Allah sendiri melalui bagian awal dari Alkitab (Kej 1:1). Alkitab memang tidak dimaksudkan memberikan evidensi terhadap eksistensi Allah, tetapi Alkitab di buka dengan fakta positif bahwa Allah benar-benar eksis, dan Alkitab secara tegas menyatakan bahwa orang bodohlah yang menyangkal akan keberadaan Allah (Maz 14:1).

 

D. Teori-Teori Tentang Adanya Allah :

               Secara filosofis maupun teologis, berkembang begitu banyak pandangan tentang hakekat dan eksistensi Allah, dari pandangan yang bersifat sangat ilmiah, sampai pada pandangan yang sangat mistik, beberapa pandangan itu adalah :

    Deisme :

               Suatu pandangan yang menyatakan bahwa Allah tidak bersifat pribadi dan tidak berpribadi, meninggalkan seluruh alam semesta pasca Ia menciptakannya. Allah dipahami sebagai yang transenden, tidak terikat hubungan, baik secara moral maupun material dengan manusia. Paham ini juga beraggapan bahwa dunia merupakan suatu mekanisme yang dapat mengatur dirinya sendiri dan tidak memerlukan campur tangan eksternal untuk kelangsungan hidupnya.

    Atheisme

               “Allah tidak ada”, dan hanya ada oleh karena manusia yang mengadakannya, oleh sebab itu eksistensiNya bergantung pada manusia. Itulah  pandangan dari filsafat ini. Mereka secara gencar mempropagandakan bahwa Allah tidak ada dan Allah merupakan ciptaan manusia oleh karena kebodohan dan kelemahannya. Kelompok ini sebenarnya dapat dipisahkan menjadi dua model :

a.      Atheis Praktis             : Adalah mereka yang beragama, memiliki keyakinan bahwa Allah ada, namun pola hidupnya tidak mencerminkan sebagai manusia yang berTuhan.

b.      Atheis Filosofis/Dogmatis  :  Adalah mereka yang secara filosofis maupun dogmatis menyangkal akan adanya Allah. 

    Skeptisisme

               Skeptisisme meragukan kenyataan adanya Allah, secara khusus Allah yang menyatakan diri-Nya. Menurut pandangan ini tidak ada satu manusiapun yang mampu mendapat gagasan atau pengetahuan di luar apa yang dapat ia amati/persepsi, jadi semua pengetahuan itu sangat bergantung pada indera manusia.

    Agnotisisme

               Secara literal agnostik berarti tidak ada pengetahuan, yang merupakan kebalikan dari gnostik. Agnostik ini terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu yang pertama berhaluan keras yang mengklaim bahwa Allah secara mutlak tidak dapat diketahuai, sedangkan golongan yang kedua lebih fleksibel yang beranggapan bahwa eksistensi dan nature Allah tidak diketahui. Pandangan agnostik dipengaruhi oleh skepticism David Hume yang berasumsi bahwa manusia tidak akan pernah dapat memperoleh pengetahuan tentang persoalan apapun sehubungan dengan gagasannya, satu-satunya pengetahuan adalah yang dapat dialami (amati/persepsi) secara langsung. Bahkan dengan tajam ia menyatakan bahwa semua informasi yang Allah berikan melalui kitab suci sama sekali tidak berfaedah sama sekali, karena memang informasi tersebut tidak real.

Proposisi Immanuel Kant mengakar begitu kuat dalam pemahaman filsafat agnosticism dengan basic argumen pada dua pemikiran penting

a.      The imposible of knowing reality

Pemikiran Kant sangat dipegaruhi oleh tradisi rasionalism Leibniz bahwa rasionalisme merupakan dimensi a priori dari pengetahuan. Bentuk dari segala pengetahuan bebas dari pengalaman, di sisi lain Kant juga banyak dipengaruhi empirism Hume sehingga berpandangan bahwa isi dari segala pengetahuan datang dari “sense”, namun struktur pengetahuan diperoleh  melalui peristiwa-peristiwa dalam pikiran. Sintesa kreatif antara rasionalism Leibniz dengan empirism Hume ini memecahkan permasalahan di antara keduannya. 

b. Antinomies of human reason

Dalam pandangan agnosticism, bukan hanya ada jurang pemisah yang tidak tersebrangi antara pemahaman (knowing) dengan keberadaan  (being), antara kategori-kategori pemahaman kita dengan nature realitas, tetapi di sana ada juga kontradiksi yang tak terelakkan yang menyebabkan kita mulai melanggar garis batas.[6] Oleh sebab itu pemikiran manusia murni bebas dari pengaruh dari luar dirinya sendiri.

 

    Panteisme

               Kelompok ini berpandangan bahwa segala sesuatu adalah Allah, dan Allah adalah segala sesuatu. Segala sesuatu adalah representasi dari Allah yang tidak tampak. Segala sesuatu yang terbatas merupakan sekedar aspek, modifikasi, dan bagian dari yang kekal. Tidak ada perbedaan secara fundamental antara materi dan ide/pikiran, antara tubuh dan jiwa, antara Allah dan dunia, antara yang terbatas dan yang tak terbatas, semuanya adalah satu substansi.[7] Paham ini beranggapan bahwa akal budi adalah akal budi Allah, segala aktivitas adalah aktivitas Allah, semua hati nurani adalah hati nurani Allah. Keadaan baik, buruk, penderitaan dan sukacita merupakan fenomena Allah, yang di ciptakanNya untuk menyatakan diriNya sendiri.

 

    Polytheisme

               Suatu keyakinan kepada banyak Allah, atau kepada Allah yang banyak. Secara histories,  sosiologis, maupun etnologis, kita menemukan bahwa banyak sekali masyarakat pramodern yang menganut paham ini, bahkan pandangan ini masih tetap eksis dalam agama-agama tertentu pada masa kini.

       

E. Hakekat Allah

Hakekat Allah dapat dijelaskan dalam beberapa pokok bahasan dan penjelasan seperti demikian

  1. Allah adalah Roh bukan zat bendawi  (Yoh 4:24)

Oleh karena nature Allah adalah bersifat rohani, maka konsekuensinya adalah :

a.      Allah tidak berbadan dan tidak berwujud (Yoh 4:24)

b.      Allah itu hidup ( Yos 3:10; I Sam 17:26; Maz 84:3;Mat 16:16; I Tim  :15; Wahyu 7:2).

c.      Allah tidak bisa dilihat/invisible (Kel 33:20; Yoh 1:16; Kel 1:15; Rom 1:20; I Tim  1:17; I tim 1:16).

 

2. Allah Berkepribadian:

Allah disebut sebagai pribadi karena di dalam diriNya terkandung seluruh karakteristik sebagai seorang pribadi, yaitu

a.      Memiliki kesadaran diri ( Kel 3:14; Yes 45:5; IKor 2:10)

b.      Kemampuan membuat keputusan ( Ayb 23:13;Rom 9:11;Ef  1:9; Ibr 6:17)

c.      Intelektualitas (Kej 18:19; Kel 3:7; Kis 15:18)

d.      Perasaan (Kej 6:6; Maz 103:8-14; Yoh 13:16)

e.      Kehendak (Kej 3:15; Maz 115:3; Yoh 6:38)

f.       Ia dapat berbicara (Kej 1:3)

g.      Ia dapat melihat (Kej 11:5)

h.      Ia dapat mendengar (Maz 94:8)

i.       Ia dapat berduka (Kej 6:6)

j.       Ia dapat menyesal (Kej 6:6).

k.      Ia dapat marah (Ul 1:37)

l.       Ia dapat cemburu ( Kel 20:5)

 

3. Ada Dengan Sendirinya

    Keberadaan Allah  tidak bergantung pada apa yang ada di luar diriNya. Thomas Aquinas  menyatakan bahwa Ia adalah penyebab pertama, dia sendiri tidak ada penyebabnya. Eksisitensi/keberadaaNya tersirat pada kesaksiaNya  kepada Musa yang menyatakan “Aku adalah Aku”  dalam Keluaran 3:14 dan bandingkan dengan Yohanes 8:58; Yesaya 41:4; Wahyu 1:8.  Allah adalah pencipta, bukan ciptaan sehingga tidak ada yang menciptakanNya melainkan ada dengan sendirinya, Ia tidak berawal dan juga tidak akan berakhir. 

 

F. Kesempurnaan Allah

Sebagai yang maha sempurna, Kesempurnaan Allah tersebut  tercermin dalam seluruh karya/pekerjaan yang telah dilakukanNya dan sifat-sifat yang dimilikiNya.

1. Sifat-sifat  non-moral Allah.

a.      Maha Hadir (omni present):  Ia tidak di batasi oleh ruang, waktu dan dimensi ( I Raj 8:27; Maz 139:7-10; Kis 7:48-49; Rom 10:6-8; Mat 28:20; Maz 46:2; Kis 17:24;28).

b.      Maha Tahu (omni science)  Kis 15:18; Mat 11:21;Maz 139:16, dsb

c.      Maha Kuasa (omni potent)  dipakai 56 kali dalam Alkitab ( Kej 17:1; Kel 6:3; 2 Kor 6:10; Wahyu 1:8, 9:6).

d.      Maha Kekal / tidak berubah; Yak 1:17, Maz 102:27-28, Mal 3:6; Ibr 1:12; Rom 4:20-21.

e.      Maha esa (Ul 6:4, Ef 4:6;I Kor 8:6; I Tim 2:5).

 

2. Sifat-sifat Moral Allah.

a.      Maha Kudus (Im 11:44,45; Yos 24:19;  I Sam 6:20; Maz 22:4, Hab 1:12; Yoh 17:11;Ibr 12:10; I Pet 1:15-16)

b.      Kebenaran dan keadilan (Yoh 17:3,Tit 1:2; Rom 3:4; Ibr 6:18 Keadilan ( Maz 11:7, Dan 9:7, Maz 19:9, Kis 17:31).

c.      Kebaikan  (Mark 10:18)

d.      Maha kasih,dsb

G. Nama- nama Allah

               Allah dalam dalam konteks iman Kristen bukanlah Allah yang anonim, karena Ia sendiri memperkenalkan dirinya melalui beberapa nama, yang melaluinya Allah ingin menunjukkan sifat dan karyaNya kepada manusia, nama-nama itu antara lain :

1. ELOHIM

Nama yang umum bagi Allah , terdapat 2.570 kali dari Perjanjian Lama, artinya menyatakan bahwa “Dia adalah yang kuat, pemimpin yang perkasa, Allah yang tertinggi”, ( Kej 35:2,; kel 12:12 ;10;11; 23:24, Kej 23:24). Nama ini pertama kali yang dipakai dalam Alkitab. Secara tata bahasa kata “Elohim” adalah berbentuk jamak, sehingga nama ini pada umumnya dipahami secara berbeda, misalnya :

a.      Bentuk jamak politheistik

Pada awalnya kebanyakan teolog menafsirkan kejamakan nama “Elohim” sebagai Allah yang jamak dan belakangan memperoleh pengertian tunggal/esa. Sampai saat ini masih ada beberapa kalangan yang meyakini bahwa orang Israel memang masih mewarisi keyakinan politheisme dari nenek moyang mereka, namun satu hal yang penting adalah monotheisme Perjanjian Lama bukanlah hasil pengembangan dari konsep politheisme, melainkan monotheisme yang diwahyukan.

b.     Bentuk jamak Trinitarian

Artinya Allah adalah esa namun berpribadi tiga tampak seperti yang diisyaratkan oleh istilah ini, namun dalam perkembangannya paham ini sulit dalam kaitannya dengan upaya menarik suatu kesimpulan bahwa bentuk jamak di sini menunjuk pada Trinitas.

c.      Bentuk jamak intensif

               Pemakaian kata “Elohim” ini selalu diikuti oleh kata benda atau kata kerja yang berbentuk tunggal, demikian juga dengan kata sifat, maupun kata gantinya. Hal ini menunjukkan bahwa kata ini sebenarnya mengungkapkan keagungan dan supremasi Allah yang tak terbatas, sehingga jika kita perhatikan konteks pemakaian kata ini selalu mengacu pada hal-hal seperti berikut ini :

    Nama  dipakai berhubungan dengan kedaulatan (Yes 54:5, Yer 32:27, Neh 2:4).

   Nama dipakai berhubungan dengan karya ciptanya (Kej 1:1, Yes 45:18, Yun 1:9)

   Nama dipakai berhubungan dengan penghakiman 9 Maz 50:6;58:12)

   Nama  dipakai berhubungan dengan karya bangsa Israel (Ulg 5:23; 8:15, Maz 68:8)

 

2. YAHWEH 

Merupakan nama utama Allah, Nama ini adalah nama pribadi Allah yang dalam teks aslinya ditulis sebagai “YHWH” dipakai sebanyak 5.321 kali dalam Perjanjian Lama. Nama yang pertama disebutkan kepada Musa dalam Keluaran 3:14.

Contoh teks :

KJV Exodus 3:14 And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.

Nama ini tidak boleh disebut secara sembarangan kerena dianggap terlalu sakral sehingga bangsa Israel menggantinya dengan sebutan Jehovah ”Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-KU turun temurun,” Keluaran 3:15. Makna nama itu sendiri mengungkapkan beberapa hal :

a.      Menakankan keberadaan sendiri yang tak berubah dari Allah

b.      Menekankan jaminan penyertaan Allah bagi umatNya (Kel 3:12)

c.      Menekankan pekerjaan dan pemeliharaan Allah yang berkuasa.

 

3. Nama-Nama gabungan.

a.      El Elyon: Allah Yang Maha Tinggi: “Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Maha Tinggi ( El Elyon), Pencipta langit dan bumi.” Kejadian 14:22.

b.      El Roi . Tuhan Yang Melihat: “Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan : “Engkaulah El-Roi.” sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?”. Kejadian 16:13-14.

c.      El-Shaddai. Allah Yang Mahakuasa: “Akulah Allah Yang Mahakuasa (El-Shaddai), hiduplah dihadapan-Ku dengan tidak bercela.” Kejadian 17:1

d.      El Olam- Allah yang kekal

e.      El Gibbor-Allah perkasa

f.    Yehovah-Jireh. Tuhan menyediakan: “Dan Abraham menamai tempat itu : TUHAN menyediakan ( Yehovah-Jireh) sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Diatas gunung TUHAN, akan menyediakan.” Kejadian 22:14.

g.      Yehua-Rapha. Tuhan Penyembuh: “Aku ini pengasih (Yehovah-rapha).” Keluaran 22:27.

h.  Yehovah-Nissi. Tuhan Panji-panjiku: “Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya :TUHANlah panji-panjiku (Yehivah-nissi)!” Keluaran 17:16.

i.   Yehovah-Mekoddishkem. Tuhan Yang Menguduskan kamu: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:….. akan tetapi hati-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.” Keluaran 31:12-13.

j.       Yehovah-Shalom. Tuhan adalah Keselamatan: “Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya Tuhan itu keselamatan (Yehovah-shalom). Hakim-hakim 6:24.

k.      Yehovah-Sabaoth. Tuhan Semesta Alam: “Tuhan semesta alam (Yehovah-sabaoth) menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Mazmur 46:7.

l.       Yehovah-Raah. Tuhan Gembalaku: “TUHAN adalah gembalaku (Yehovah-raah), takkan kekurangan aku.” Mazmur 23:1.

m.    Yehovah-Tsidkenu. Tuhan Keadilan: “… dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya, TUHAN keadilan kita (Yehovah-tsidkenu).” Yeremia 23:6.

n.      Yehovah-Shammah. TUHAN hadir di situ: “Jadi keliling kota itu adalah delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah : Tuhan Hadir Di situ. (Yehovah-shammah).” Yehezkial 48:35.

2.      ADONAI  

Arti kata ini adalah Tuan, majikan,Tuhan (Kej 19:2;40:1; I Sam 1:15) : “Janganlah takut Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” Abram menjawab:”Ya TUHAN (Adonai) Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku?” Kejadian 15:1-2.

KJV Genesis 15:1 After these things the word of the LORD came unto Abram in a vision, saying, Fear not, Abram: I am thy shield, and thy exceeding great reward. 2 And Abram said, Lord GOD, what wilt thou give me, seeing I go childless, and the steward of my house is this Eliezer of Damascus?

 

3.      ALLAH  (Theos)

Dipakai dalam Perjanjian Baru menunjuk kepada satu Allah yang benar, Rom 9:5, Yoh 1:1,18.

KJV Romans 9:5 Whose are the fathers, and of whom as concerning the flesh Christ came, who is over all, God blessed for ever. Amen.

 

4.      DESPOTES  (penguasa),

Artinya Tuan/Tuhan, dipakai dalam kaitan dengan kepemilikan (Luk 2:29, Kis 4:24, Wahyu 6:10).

KJV Luk 2:29 

Lord, now lettest thou thy servant depart in peace, according to thy word

 

5.      KURIOS

Dipakai 717 kali dalam Perjanjian Baru dengan arti Tuhan. Nama ini dipakai selalu berkaitan dengan otoritas dan supremasi Allah (Mat 8:6, Yoh 20:28, Kis 2:36,Fil 2:11,dsb).

 

 

H. KETRINITASAN ALLAH

Istilah Trinitas/ Tritunggal tidak dapat kita temui dalam Alkitab, sebab istilah tersebut bukanlah istilah asli Alkitab melainkan istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan suatu doktrin yang sangat rumit, yang dipaparkan dalam beberapa bagian dari teks Alkitab.  Meskipun demikian:

1.       Trinitas merupakan doktrin yang Alkitabiah , meskipun Alkitab tidak menyatakannya secara jelas tetapi memang Allah telah menyatakan diri-Nya dalam Trinitas itu.

2.       Pemahaman mengenai Trinitas hanya sebatas apa yang dinyatakan Tuhan melalui Alkitab.

3.       Trinitas tidak boleh dipahami secara rasionalis matematis, melainkan harus ditinjau dari sudut fideis supranaturalis.

 

1. Arti Trinitas

Allah adalah esa dan dalam keesaannya itu terdapat tiga pribadi yang setara dan kekal yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.Konsep trinitas pada dasarnya dipandang pada dua segi, yaitu : 

   Sudut pandang ontologis :

               Memfokuskan pada pekerjaan ketiga pribadi tersebut atau “opera ad intra” (pekerjaan di dalam) atau sifat-sifat yang membedakan ketiga pribadi tersebut.

   Sudut pandang administratif / ekonomis :

               Berfokus pada jabatan, tindakan, dan tugas masing-masing pribadi “opera adekstra” (pekerjaan keluar) yang berbeda, yaitu :

a.       Tugas Bapa : memilih (I Pet 1:2), memelihara alam semesta (Yoh 3:16).

b.       Tugas Anak : menebus (I Pet 1:18),dsb.

c.       Tugas Roh Kudus : melahirkan kembali (Tit 3:5), menguatkan (Kis 1:8),dsb.

 

2. Kesetaraan Trinitas berdasarkan SifatNya

a. Allah Bapa

1)           Bapa maha kuasa (Mat 19:26).

2)           Bapa maha Tahu (Mat 10:29).

3)           Bapa maha kudus (Yoh 17:11).

b. Allah Anak (Yesus Kristus)

1)           Yesus maha kuasa (Mat 28:18).

2)           Yesus maha tahu (Yoh 1:48).

3)           Yesus maha kudus (2 Kor 5:21).

c. Allah Roh Kudus.

1)           Roh kudus maha kuasa (Kej 1:2)

2)           Roh Kudus maha tahu 91 Kor 2::10-11).

3)           Roh Kudus maha kudus (Rom 1:4).

 

3. Ajaran Alkitab tentang Trinitas

a.      Bapa adalah Allah : Yoh 6:44-46; Rom 1:7; I Pet 1:2.

b.      Anak adalah Allah : Yes 9:5; Yoh 1:1; 20:28, I Tim 3:16.

c.      Roh Kudus adalah Allah : Kis 5:3-4, Ibr 9:14.

 

4. Kesetaraan Trinitas Berdasarkan Pengakuan dari KetigaNya

a.      Bapa dan Roh Kudus  menyatakan bahwa Yesus  sama dalam kuasa dan kemulyaan: Mat 3:16-17.

b.      Penyataan Tuhan Yesus sendiri (Yoh 14:16,26; 15:2; Mat 28:19-20.

c.      Pernyataan Rasul Paulus ( 2 Kor 13-14).

d.      Pernyataan Rasul Petrus ( 1 Pet 1:2; 4:14).

 

5. Bukti Trinitas dalam Perjanjian Lama

Meskipun Eksistensi Trinitas dalam Perjanjian Baru dinyatakan lebih jelas, namun tidak dapat diragukan bahwa dalam Perjanjian Lama juga menerangkan adanya bukti tentang pribadi-pribadi yang berbeda dalam keesaan Allah, yang sangat jelas bahwa beberapa nats memperlihatkan peran masing-masing  sangat menonjol.

 

a. Trinitas Pra-Israel.

Pada zaman pra Israel tidak ada pernyataan tentang Trinitas, akan tetapi ada penyataan bahwa ada kejamakan pribadi dalam oknum Allah yang esa itu. Dalam kejadian 1: 26 yang tertulis “baiklah Kita…” menunjukkan bahwa dibalik keesaan Allah ada pribadi-pribadi yang berbeda. Ada beberapa contoh tafsiran yang salah dalam memahami nats tersebut, misalnya tafsiran yang menjelaskan bahwa :

1)      Pernyataan itu adalah sisa-sisa polyteisme Israel.

2)      Kata “kami” dipakai sebagai sebagai kata ganti “saya” seperti kebiasaan dalam pidato atau surat.

3)      Saat itu Tuhan bersama-sama dengan para malaikat dalam mengucapkan kata “kita”.

Ketiga tafsiran tersebut jelas-jelas tidak memiliki landasan biblika yang kuat, mengapa ? Pertama, tidak ada informasi internal yang cukup memadai untuk mengafirmasi tentang keyakinan polytheisme Israel. Kedua, dari segi terminology, maupun etimologi sangat sulit mengasumsikan istilah “kami” dengan “saya” memiliki makna yang sama dan perbedaan istilah hanya dipengaruhi oleh konteks pemakaian istilah. Ketiga, para malaikat tidak diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, sehingga sulit untuk menerima tafsiran bahwa Allah bersama para malaikatlah yang menciptakan manusia.

 

b. Trinitas Zaman Israel.

1). Kata “Allah”  berbentuk jamak.

Nama Allah yang disebut pertama kali dalam Alkitab adalah “Elohim” dipakai dalam beberapa nats misalnya Kej 1:26;3:22; 11:7;Yes 6:8, meskipun nama tersebut berbentuk jamak intensif yang tidak selalu menunjuk kepada Trinitas, namun dalam beberapa teks, nama tersebut juga diikuti dengan kata kerja berbentuk jamak misalnya dalam Kej 1:26: 11:7.  Dalam hal ini sejatinya Allah sedang menunjukkan Ketrinitasan dalam keesaanNya.

2).  Malaikat Yahweh

Meskipun malaikat sering bertindak mewakili Allah, namun malaikat-malaikat berbeda dengan Malaikat Yahweh (Kej 16:7-13; 18:1-21; 19:1-28; Mal 3:1). Beberapa karakteristik melekat pada diri malaikat ini, yang membedakannya dengan para malaikat pada umumnya, ciri –ciri tersebut antara lain :

1)           Ia berfirman atas nama-Nya sendiri (Kej 16:10).

2)           Ia mau disembah oleh orang (Yos 5, Hak 2).

3)           Ia juga disebut Allah (Kej 16:13).

4)           Ia dibedakan dari Bapa sebab Ia dapat disuruh oleh Bapa (Hak 13).

5)           Dari beberapa bukti tersebut di atas maka kita dapat berkesimpulan bahwa eksistensi Allah Trinitas sangat nyata dalam hal ini.

 

3). Penyataan Roh Kudus Terdapat Pada Zaman Israel.

Pada zaman Israel pekerjaan Roh Kudus tampak sangat menonjol, meskipun tidak mendominasi peran dalam kaitannya dengan karya Illahi terhadap kehidupan umat Israel, misalnya saja Roh Kudus menghiasi makhluk dengan kecakapan dan talenta (Kel 31:2), Ia menerangi hidup rohani umatNya (Maz 51:13; Zak 4::6) dan Roh Kudus juga merupakan  Roh nubuat, yang memberi ilham dari Allah sehingga manusia mampu memahami dan melanjutkannya kepada orang lain (Yeh 11:5; Bil 11:29).

 

4). Pribadi-Pribadi yang Berlainan.

Dalam beberapa bagian Kitab suci kita dapat mencermati bahwa Allah sedang memberikan suatu informasi yang sangat penting tentang ketritunggalaNya, misalnya saja ketika muncul nats yang menjelskan tentang  keberadaan Tuhan yang dibedakan dari Tuhan (Kej 19:24; Hos 1:7), Penebus (illahi) dibedakan dari Tuhan (Yes 59:20), dan Roh dibedakan dari Tuhan (Yes 48:16; 59:21; 63:9-16).

 

c. Trinitas Dalam Perjanjian Baru.

Kita tidak perlu mencari nats-nats dalam Perjanjian Baru yang mengandung pernyataan tentang Trinitas karena seluruh Perjanjian Baru dibangun berdasarkan Trinitas.

 

1). Catatan yang berkenaan dengan Allah Bapa :

a)     Lihat ajaran Alkitab tentang Trinitas.

b)     Allah Bapa mengutus Allah Anak (Yoh 5:30,37; Yoh 20:21,dsb.

c)     Allah Bapa menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Anak (Mat 11:27;  

d)     Luk 10:22; Yoh 8:29; Yoh 13:3).

e)     Allah Bapa yang mengadili, memberi pahala sekaligus hukuman (Mat   

f)      6:4,18;Mat 10:28,Luk 12:5; Mat 13:43).

g)     Bapa senantiasa beserta dengan Anak (Yoh 14:10; 6:57).

 

       2). Catatan yang berkenaan dengan Allah Anak.

a)     Anak mengenal Bapa dengan sempurna (Yoh 10:15; Yoh 14:10,11,28; 17:21).

b)     Anak hanya mengerjakan yang diperintahkan oleh Bapa (Luk 2:49;22:42; Yoh 10:32).

c)     Anak adalah jalan satu-satunya menuju kepada Bapa (Yoh 14:6,9).

 

      3). Catatan yang berkenaan denganRoh Kudus.

a)     Roh Kudus diutus oleh Bapa (Yoh 14:16;14:26).

b)     Roh Kudus diutus oleh Anak (Yoh 15:26).

c)     Roh Kudus adalah pribadi, bukan sekedar kekuatan, penolong  (parakletos=penghibur)(Yoh 14:16; 15:26).

d)     Roh Kudus bekerja dalam Allah Anak (Luk 4:18; Mat 12:28).

e)     Roh Kudus bekerja dalam diri orang percaya (Yoh 3:6, Mat 10:20)

 

       4). Ketiga Pribadi dinyatakan :

a)     Melalui pembaptisan oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:6).

b)     Ketika Yesus dikandung (Luk 1:35).

c)     Dalam rumusan pemberian berkat (2 Kor 13:13;  I Pet 1:2; Wahyu 1:4,5).

d)     Ketiganya memberi karunia rohani (I Kor 12:4,6).

 

7. Serangan-Serangan Terhadap Doktrin Trinitas.

a.  Monarkhisme.

Bapa Gereja pada mulanya tidak memformulasikan konsep Trinitas  dengan terang dan komperehensip seperti sekarang ini sehingga hal ini memunculkan serangan-serangan dari berbagai celah :

 

    Monarhisme Dinamis (Adopsionisme),

               Dipelopori oleh Theodosius dari Bysantium, ajarannya menyatakan bahwa Yesus adalah manusia biasa yang diberi kekuatan khusus dan diangkat menjadi Anak Allah. Ajaran ini dilanjutkan oleh PaulusSamosatenus, Ritschl, Gogarten.

 

    Monarkhisme Modalistik,

               Ajarannya menyatakan bahwa Kristus adalah wujud inkarnasi Allah Bapa .dalam teologia Barat ajaran ini dikenal sebagai Patri Passianisme (Patri = Bapa dan Psako=menderita), sedangkan dalam teologia Timur ajaran ini dikenal sebagai Sabellianisme, namun pada intinya semua pengajarannya adalah sama, yaitu memahami konsep Trinitas secara salah.

 

b. Arianisme

Dipelopori oleh Arius (250-336) mengajarkan bahwa Allah anak diperanakkan oleh Bapa sehingga memiliki permulaan dan Roh Kudus adalah ciptaan yang pertama dari Allah Anak. Pandangan ini dibangun dari sebuah penafsiran terhadap beberapa ayat misalnya Matius 28:18; Markus 13 :32; I Korintus 15:28.

 

c. Pneu Matomachians (373)

Diajarkan oleh Eustath dan kelompoknya, mengajarkan bahwa Allah Anak dan Roh Kudus semata-mata menyerupai zat Bapa, namun pada hakekatnya keduanya adalah sangat berbeda.

 

d. Sub Ordinasi.

Pandangan ini membedakan tiap tingkatan di antara ketiganya, sehingga bagi mereka kualitas dan otoritas Bapa lebih tinggi dari kedua oknum lainnya, sehingga gambarannya seperti berikut :  

 

e. Gnostik

Merupakan penentang pertama doktrin Kristen sejak Gereja mula-mula. Menurut Gnostik ada 2 asal dari segala sesuatu. Allah menciptakan/mengalirkan yang bersifat dunia roh (emanasi aion-aion). Sedangkan sesuatu yang ilahi (demi urgos) menciptakan sesuatu yang bersifat dunia materi/kebendaan. Dalam gnostik kekuasaan Allah dibatasi oleh Demi Urgos sehingga Allah anak yang kemudian menjadi manusia, dalam gnostik termasuk dalam dunia Roh yang diciptakan oleh Allah.

 

f. Marcion.

Mengajarkan bahwa Allah Perjanjian Lama berbeda dengan Allah Perjanjian Baru dan Yesuslah yang memperkenalkan Allah Perjanjian Baru itu. Allah Perjanjian Lama dipahami sebagai Allah yang keras, Allah yang suka terhadap perang juga Allah yang jahat, sedangkan Allah Perjanjian Baru adalah Allah yang penuh belas kasihan dan damai sejahtera.

 

8. Akibat Serangan-Serangan Tentang Trinitas.

Berkembangnya begitu banyak pengajaran sesat yang datang baik dari dalam Gereja sendiri maupun dari filsafat di luar Gereja, memaksa Gereja berfikir untuk memformulasikan rumusan-rumusan tentang Trinitas agar penyelewengan tersebut tidak menyebar dan mendatangkan dampak negatif. Konsili Necea (325) juga muncul sebagai wujud respon Gereja terhadap masalah tersebut, yang menghasilkan pengakuan iman “Niceano-Constantinopolitanum” yang sesudah synode Toledo (589) pengakuan ini mempunyai bentuk baku hingga sekarang kita kita kenal dengan pengakuan iman rasuli.

 

      9.  Doktrin Trinitas Dalam Gereja.

Menurut sejarah proses perkembangannya doktrin ini tidak langsung diterima seperti saat ini. Pada abad pertama belum muncul  doktrin ini karena belum ada tantangan, namun pada abad kedua Tertulianus membuat suatu rumusan walaupun belum begitu jelas. Ia merumuskan doktrin ini sebagai jawaban terhadap serangan dari monarkhisme dinamis (adopsi). Arius kemudian menolak trinitas, sehingga memacu munculnya konsili Nicea. Athanasius menolak doktrin Arius yang memformulasikannya menyerupai doktrin yang kita kenal saat ini. Doktrin paling mapan adalah pada masa Agustinus pada tahun 354-430 yang kemudian dipopulerkan pada masa reformasi.

 

      10.  Pentingnya Doktrin Trinitas

Jangkuan  dari nilai signifikansi pemahaman terhadap pengajaran Trinitas ini sangat luas, yang menyangkut pada tataran :

   Karya Penyelamatan, Dosa, iman dan pembenaran. Roh Kudus menginsafkan kita dari dosa dan beriman.Trinitas memungkinkan untuk karya penyelamatan Bapa memilih, Yesus Menebus, dan Roh Kudus memeteraikan.

   Penyataan, Trinitas memungkinkan bahwa yang tidak mengenal Yesus tidak mengenal Bapa. Yesus pernah datang terbukti dengan silsilah-Nya di dunia (yang Yesus/Allah itu ada).

   Penyembahan dan Doa, doa sangat ditentukan oleh siapa yang membawakannya (Rom 8) RK menterjemahkan doa kita kepada Bapa

 

11. Implikasi Pengetahuan Tentang Allah

Setelah kita mempelajari segala pengetahuan tentang Allah, pertanyaan selanjutnya yang seharusnya kita pikirkan adalah, apakah implikasi pengetahuan tentang Allah tersebut dalam kehidupan Kristiani kita ? jika pengetahuan-pengetahuan di luar teologia saja memiliki implikasi yang sangat besar dalam kehidupan praktis umat manusia, maka seharusnya teologi Kristen berdampak lebih besar lagi, oleh sebab itu tidaklah berlebihan jika JI Packer menyatakan bahwa

a.       Those who know God have great energy for God

b.       Those who know God have great thoughts of God

c.       Those who know God show boldness for God.

d.       Those who know God have great contentment in God[8].

Kita dapat berkesimpulan sekarang bahwa, teologia seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan-pengetahuan yang hanya bersifat kognitif rasionalis dan menghasilkan suatu rumus-rumus atau teori-teori teologia tertentu, melainkan berdampak pada semakin besarnya hidup kita, yaitu yang menyangkut seluruh aspek hidup manusia yang diarahkan kepada Allah.

 



[1] Han Chul Ha, ACTS Theological Journal,vol.2 (Korea : Asia United Theological College, 1986)p.77

[2] Ray Anderson, Historical Transendence and The Reality of God, (London : Geoffrey Champman, 1975),p.48

[3] Bdg.Paul Tillich, Systematic Theology ,p.23

[4] Han Chul Ha, ACTS Theological Journal,vol.2 (Korea : Asia United Theological College, 1986)p.80

[5] JI Packer, Knowing God, (Illinois : InterVarsity Press, 1976),p.15-16

[6] Norman Geisler, Christian Apologetics (Michigan: Bakker Book House, 1982),p.16

[7] Charles Hodge, Systematic Theology, (Grand Rapid : Bakker Book House, 1992)p.121

[8] J.I.Packer, Knowing God, p.23-24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...