Tampilkan postingan dengan label Seri Doktrin Kristen 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Doktrin Kristen 4. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 April 2021

Soteriology / Doktrin Keselamatan

 DOKTRIN TENTANG KESELAMATAN

(SOTERIOLOGI)


 

A. Pendahuluan

               Konsep keselamatan/soteriologi memiliki peranan sangat penting dalam dinamika
pertumbuhan Gereja, kekeliruan atau kekaburan tentang dasar dalam masalah ini akan membuat Gereja sebagai lembaga yang kehilangan arah. Dan sebagai akibatnya Gereja berputar-putar dalam lingkaran yang tak berujung pangkal dan akhirnya terjebak dalam tradisi sebagaimana bangsa Israel yang hidup hanya bagi berkat dan tidak peduli dengan tugas yang diembannya, demikian yang diungkapkan oleh Chris Marantika. Jadi pentingnya konsep ini adalah berkenaan/berkaitan dengan eksistensi Gereja yang dihadirkan Tuhan Allah di dunia ini.

               Konsep keselamatan memiliki jangkauan makna yang sangat luas, keselamatan bukan sekedar masalah pengampunan, melainkan sebagai suatu bukti kasih dan kepedulian Allah dalam hidup kita. Keselamatan merupakan rencana agung Allah untuk mempertemukan, memperdamaikan dan memulihkan hubungan yang telah terputus antara manusia dengan diriNya sendiri, dan melaluinya Allah ingin membebaskan umatNya secara progresif dari kehidupan yang berpusat pada diri kita sendiri (atau dengan istilah lain egoisme) dan membawanya kepada suatu persekutuan yang harmonis dengan sesama umat Allah.[1]

B. Keterkaitan Soteriologi Dengan Kristologi

               Meskipun keterkaitan kedua doktrin ini secara singkat dan sederhana telah dijelaskan dalam bagian awal tulisan ini, namun ada beberapa hal penting yang perlu kita pahami secara mendalam, yaitu bahwa konsep keselamatan berkaitan dengan penganugerahan berkat keselamatan kepada manusia yang berdosa, dan pembaharuan yang dialaminya oleh kehendak Allah agar mereka dapat hidup dalam persekutuan yang intim dengan Allah. Soteriologi memberikan presuposisi pengetahuan tentang Allah sebagai sumber tertinggi kehidupan, kekuatan dan kebahagiaan umat manusia sekarang dan selamanya. Konsep soteriologi dapat dipahami secara tepat berdasarkan keadaan manusia yang semula sebagaimana diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, dan gambar itu kemudian hancur oleh karena dosa yang sekaligus merusakkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Allah.

               Konsep keselamatan ini membawa pemikiran kita kepada perundingan damai di masa kekekalan, yaitu pembuatan rencana penebusan manusia dari dosa, dan konsep ini timbul dari asumsi bahwa karya Kristus sebagai pengantara dalam penebusan sudah sempurna, sehingga ada hubungan yang erat antara Kristologi dengan soteriologi, sehingga banyak tokoh menyatakan bahwa soteriologi merupakan implementasi dari karya penebusan Kristus (Kristologi).

 

C. Ordo Solutis/ Urutan Karya Keselamatan

               Ada beberapa Istilah lain yang dipakai sebagai sinonim dari istilah ordo solutis dalam beberapa bahasa, misalnya, Heilsaneegnung (Jerman), Heilsweg dan Ordes des Heils (Belanda), dan the way of Salvation (Inggris). Ordo solutis berbicara tentang proses yang melaluinya karya keselamatan, yang digenapi dalam Kristus secara subyektif di sadari dalam hati orang berdosa. Tujuannya adalah menjabarkan berbagai macam peran Allah atau karya Allah dalam penerapan keselamatan.

               Alkitab tidak secara eksplisit memberikan kepada kita suatu susunan yang lengkap tentang keselamatan, Alkitab memberikan dasar yang cukup untuk urutan seperti itu, pendekatan yang paling memadai dalam Alkitab dapat kita temukan dalam penyataan Paulus di kitab Roma 8:29:30.

 

Pandangan Beberapa Aliran Teologi

1.      Pandangan Reformed[2]

               Asumsi yang melatar belakangi pandangan Reformed ini adalah keadaan spiritual manusia bergantung pada keadaannya, yaitu dalam hubungannya dengan hukum, dan hanya berdasarkan kebenaran yang diberikan Tuhan Yesus Kristus maka orang berdosa dapat dilepaskan dari pengaruh yang merongrong dan menjatuhkan dirinya karena dosa.

               Soteriologi Reformed mengambil starting point dalam persekutuan yang ditetapkan dalam Pactum Salutis[3] antara Kristus dan mereka yang diberikan Bapa kepada-Nya, berkenaan dengan adanya pelimpahan kekal kebenaran Kristus kepada mereka yang menjadi milik-Nya, sehingga beberapa tokoh Reformed (Maccovius, Comrie, A,Kuyper Sr, dan A.Kuyper Jr) memulai ordo solutis dari pembenaran bukan pada kelahiran baru. Reformed mengajarkan pembenaran yang sangat berbeda dengan paham Lutheran karena mereka menekankan pada Perjustitiam Christi, sedangkan Lutheran mengajarkan pembenaran Per Fidem yang melengkapi karya Kristus.

 

2.      Pandangan Lutheran[4]

Meskipun Lutheran tidak menolak doktrin pemilihan, persatuan mistis, dan pelimpahan kebenaran Kristus, tetapi tidak mengambil starting point pada ketiga hal ini, melainkan pada a parte hominis[5] bukan pada a parte Dei. Mereka melihat bahwa anugerah Allah mula-mula adalah dalam iman manusia[6] sebagai factor yang paling menentukan dalam urutan-urutan keselamatan.

               Menurut Mathin Luther manusia diberikan iman yang menyelamatkan, yang oleh dan melaluinya manusia memproleh pengampunan atau pembenaran yang secara obyektif diberikan dalam Kristus, di adopsi sebagai anak Allah, disatukan dengan Kristus dan menerima roh pembaharuan dan penyucian, prinsip-prinsip hidup yang taat. Kepemilikan yang permanen dari semua berkat ini tergantung dari kelangsungan iman, berdasarkan iman yang aktif di pihak manusia, jika manusia terus percaya maka akan menerima damai, sukacita, hidup, dan keselamatan, tetapi jika tidak beriman lagi ada kemungkinan kehilangan semua itu.

 

3.      Pandangan Roma Katholik

Dalam pandangan Katholik, Ekklesiologi mendahului dari seluruh ordo solutis, manusia dilahirkan kembali melalui sakramen baptisan, siapa yang berkenalan dengan injil pada masa hidupnya menerima Gratia Sufficiens[7], mereka bisa menolak atau menerimanya, jika menerimanya anugerah itu akan menjadi Gratia Co-Operans[8], dimana manusia mempersiapkan diri untuk mengalami pembenaran, persiapan itu meliputi

  • Ø Menerima dan percaya penuh Firman Tuhan
  • Ø Menyadari keberdosaan.
  • Ø Berharap pada kasih karunia Allah.
  • Ø Mencintai Tuhan.
  • Ø Meninggalkan dosa.
  • Ø Taat terhadap perintah Allah.
  • Ø Dibaptiskan.

Dalam soteriologi Katholik iman tidak menduduki tempat yang utama, karena iman hanya sekedar penerimaan secara intelektual terhadap doktrin Gereja (fides informis) dan menerima kuasa pembenarannya melalui kasih yang dicurahkan dalam Gratia infusa (fides caritate formata[9]). Anugerah merupakan pemberian Cuma-Cuma dan bukan merupakan jasa dari persiapan sebelumnya. Anugerah pembenaran diberikan dengan cara mentaati perintah dengan melakukan tindakan yang baik, hal ini dimungkinkan karena dalam gratia infusa manusia menerima kekuatan supranatural untuk melakukan perbuatan baik.

4.      Pandangan Arminian

Meskipun Arminian menerima kenyataan bahwa keselamatan merupakan karya Allah, tetapi menjadikannya bergantung pada sikap dan pekerjaan manusia. Allah membuka kemungkinan adanya keselamatan bagi manusia apakah manusia mau meningkatkan kemungkinan ini. Aliran ini berpandangan bahwa penebusan merupakan suatu persembahan dan pemuasan bagi dosa seluruh dunia. Arminian menolak konsep Total Depravity manusia akibat kejatuhan Adam, nature manusia tidak rusak oleh dosa, sehingga manusia sebenarnya mampu secara spiritual melakukan yang baik.

Allah mencurahkan anugerah yang cukup bagi manusia untuk memampukan mereka, jika manusia memilih untuk itu, tawaran Injil datang kepada manusia tanpa terkecuali dan memberikan sekedar pengaruh moral kepada mereka, meskipun mereka sendiri dalam dirinya memiliki kemampuan untuk menolak atau menerimanya.

 

E. KONSEP DOSA DAN ANUGERAH

Dalam teologia Kristen konsep anugerah Allah hanya dinyatakan melalui Yesus Kristus ( Yoh 1:17), sedangkan konsep dosa dinyatakan dalam Roma 6:23 bahwa dosa membawa maut. Dosa dan anugerah merupakan dua sisi teologis sentral dalam tataran konsep soteriologi Kristen. Konsep anugerah merupakan kesempurnaan Allah yang perlu kita bahas terlebih dahulu dalam bagian ini.

 

1. Konsep Anugerah Allah

Ada beberapa istilah Ibrani dalam Perjanjian Lama yang sering dipakai untuk mengungkapkan tentang konsep ini :

a. Khen , makna kata ini sama dengan konsep rahmani dan rahimi    dalam konteks bahasa Arab, artinya Allah (yang superior) membungkuk dan memberkati manusia (yang inferior).

b. Khesed , merupakan pemberian yang disertai rasa kasih sayang yang dalam karena hubungan yang erat antara yang superior dan yang inferior.

               Dalam istilah inilah kasih anugerah Allah dinyatakan dalam Alkitab, serta kesempurnaan yang hakiki inilah rencana keselamatan diimplementasikan, Bukan karena reaksi Allah yang dengan marah (orge) karena terpojok oleh ulah si iblis, melainkan suatu tindakan proaktif, dan terencana sejak kekekalan. Oleh karena kemahatahuan-Nya yang sempurna maka realisasi pengadaan jalan keselamatan dan tindakan tanggung jawab manusia sudah diketahui dan dicanangkan Allah terlebih dahulu, sehingga kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia dipertemukan dalam kemahatahuan Allah.

               Kehendak bebas manusia (free will) yang tidak digunakan sebagaimana mestinya inilah yang membuatnya jatuh ke dalam dosa dan selanjutnya cenderung menjadi jahat, jika mula-mula kejahatan itu oleh karena kehendak sendiri namun pada akhirnya kejahatan manusia berkembang menjadi enslaved sinner (diperbudak oleh dosa). Manusia yang dahulu diciptakan serupa dengan gambaran diri Allah sekarang menjadi bejat total (total depravity) dan tidak berdaya dalam dirinya snediri untuk menjadi benar walaupun sebenarnya tidak terjadi pelenyapan secara total (total extinguishing) dari gambaran Allah tersebut.

 

2. Konsep Tentang Dosa

Pengajaran tentang soteriologi menjadi kehilangan makna jika tidak disoroti dari sudut pandang kekejaman dan kedahsyatan dosa. Dosalah yang membuat keselamatan itu menjadi sangat penting, dan jika kita cermati, hampir seluruh isi Alkitab membicarakan kekejaman dosa kecuali empat pasal yaitu Kejadian 1 dan 2 yang disebut sebagai dunia Pra dosa dan Wahyu 21 dan 22 yang disebut sebagai dunia post dosa. Allah melalui Alkitab memang tidak memberi tahu secara terperinci tentang asal-usul dosa, tetapi Ia menjelaskan bahwa iblis merupakan agen supranatural yang membawa dosa kepada ciptaan Allah termasuk kepada manusia (Yes 14, Yeh 28).

 

a.  Arti Dosa :

Secara sederhana dosa dapat dipahami sebagai sesuatu yang sangat tidak disenangi oleh Allah, namun dalam konteks Alkitab, dosa dijelaskan sebagai ketidaktaatan atau pelanggaran terhadap hukum, pelanggaran dalam hubungan dengan masyarakat, dan pemberontakan kepada Allah, sehingga dosa dapat didefinisikan tidak mencapai sasaran, kebejatan, pemberontakan, kesalahan, memilih jalan yang tidak benar, kejahatan, penyimpangan, keadaan tidak beriman, perbuatan jahat, pelanggaran terhadap hukum, pelanggaran, kebodohan, dan kesegajaan meninggalkan jalan yang benar. Pada dasarnya sifat utama dosa adalah terletak pada arahnya yang berlawanan dengan Allah.

 

b. Istilah dalam Bahasa Ibrani :

1). Khata, sebanyak 522 kali dalam Alkitab, dipakai dengan pengertian sebagai kehilangan standart, sasaran atau tujuan.

2). Pasha, merupakan pelanggaran terhadap hubungan atau pemberontakan (1 Raj 12:19)

3). Awon , memiliki arti jahat atau melawan ( 1Sam 3:13).

4). Shagag, yaitu suatu kesalahan atau penyimpangan (Yes 28:7).

5). Rasha, memiliki makna ketidaksalehan, ketidakadilan atau kejahatan (Kel 2:13, Maz 9:17).

5). Asham, adalah suatu pelanggaran secara khusus dalam upacara keagamaan yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja yang diperhitungkan sebagai dosa atau pelanggaran (Im 4:13).

6). Taah, yaitu suatu tindakan menyimpang, tersesat karena unsure kesengajaan (Bil 15:22).

7). Ra , dalam Alkitab 444 kali dipakai dalam Alkitab dengan arti menghentikan atau menghancurkan (Yes 45:7; Kej 3:5).

 

c. Istilah dalam Bahasa Yunani

1). Hamartia, adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum yang berlaku atas umat atau Allah.

2). Paraptoma , artinya bersalah atau kekhilafan.

3). Kakos, artinya buruk, kadang mengacu kepada fisik misalnya penyakit, tetapi lebih utama mengacu kepada masalah moral. (mat 21:41; 24:48,dll).

4). Paneros, memiliki makna kejahatan moral (Mat 7:11; 12:39; Kis 17:5).

5). Asebes, adalah suatu keadaan tanpa Allah (Rm 4:5; 5:6).

6). Enokhos, merupakan suatu kesalahan, biasanya mengacu kepada kejahatan yang menimbulkan hukuman mati (Mat 5:21-22; Mark 14:64; 1 Kor 11:27).

7). Adikia, adalah tingkah laku yang tidak benar dalam arti luas (Rm 1:18, Luk 16:9; Yak 3:6).

8). Anomos, memiliki pengertian kedurhakaan (mat 13:41, 1 Tim 1,9).

9). Parabates, adalah pelanggar atau orang berdosa (Rm 3:23, 5:14; Gal 3:19).

10). Agnoein, kata ini dipakai berkenaan dengan ibadah yang keliru yang ditujukan kepada Allah (Kis 13:27; Rm 2:4).

11). Planao, adalah keadaan menyimpang atau tersesat sebagai tindakan tercela (1 Pet 2:25).

 

d. Sumber-Sumber Dosa :

Alkitab secara eksplisit menjelaskan bahwa sumber-sumber dosa adalah berasal dari :

1.      Pekerjaan Iblis

Iblis merupakan penguasa dunia ini (Yoh 12:31) yang merupakan bapa pemberontak dan pembohong (Yoh 8:44), terus melakukan penentangan terhadap pemberitaan Injil (Mat 13:19) dan terus menaburkan ilalang di ladang gandum (Mat 13:39).

 

2.      Tatanan Dunia

Dunia merupakan lingkup kerja iblis dalam menentang umat Allah dan mengencarkan rencana-rencananya, karena itu system dunia ini merupakan sumber dosa apabila seseorang menjadi serupa dengannya (Roma 12; Yo 15:18-19).

 

3.      Hati Manusia

Yesus seringkali menyatakan bahwa apa yang muncul di luar merupakan pancaran dari dalam hati (Mat 15:19). 

e. Pengelompokan dosa :

Dosa dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok besar, yaitu :

1.      Dosa Warisan

Dosa ini merupakan dosa yang dibawa oleh semua orang sejak lahirnya sebagai warisan dari keberdosaan orang tuanya (Maz 51:7), sehingga berdampak pada pikiran yang dibutakan ( 2 Kor 4:4; Rm 1:28), emosinya merosot dan tercemar (Rm 1:21, 24,26;Tit 1:15), dan kehendaknya yang diperbudak oleh dosa (Rm 6:20; 7:20). 

2.      Dosa Keturunan

Merupakan pertalian, pertautan, pelimpahan dosa dari Adam kepada segala bangsa (Rm 5:12-21). Dosa yang telah dilakukan Adam dipertalikan kepada seluruh keturunannya.

3.      Dosa Pribadi

Adalah pelanggaran yang dilakukan manusia sebagai suatu pelanggaran secara pribadi kepada Allah sebagai wujud pemanfaatan freewill secara tidak bertanggung jawab, dan tidak bersangkut paut dengan pribadi yang lain.

          Berdasarkan pada pengelompokan tersebut, maka Charles Swindoll menyimpulkan bahwa manusia pada dasarnya merupakan pendosa dalam tiga hal yaitu sinners by birth, sinners by nature, dan sinners by choice.[10]

F. PENGERTIAN MENGENAI KESELAMATAN

Doktrin keselamatan merupakan doktrin yang sederhana, tetapi juga sekaligus sangat kompleks. Meskipun dikatakan sederhana namun doktrin ini tidak boleh diremehkan keberadaannya dan perlu dipahami secara benar karena barang siapa yang mengajarkan tentang Injil lain dari Injil yang sebenarnya maka Kutuk (anathema) diletakkan di atasnya oleh Allah (Gal 1:8).   Sedangkan jika dinyatakan sederhana namun Di satu pihak orang dapat menjelaskan keselamatan dengan mudah melalui Yohanes 3 :16 dan Kisah Rasul 16:31, tetapi kemudian akan muncul kesulitan ketika menjelaskan tentang Allah yang menjadi manusia, dan kemanusiaan Yesus Kristus yang dijadikan berdosa dan mati bagi orang berdosa, oleh sebab itu doktrin ini dapat dikatakan gampang-gampang susah.

1.      Pengertian Keselamatan dalam Perjanjian Lama dapat dipahami melalui istilah-istilah

a. Yasa , memiliki pengertian kemerdekaan dari larangan-larangan dan ikatan, melepaskan dari kehancuran moral, dan memberikan kemenangan. Kata ini dipakai 278 kali dalam Perjanjian Lama.

b. Syaloom, adalah damai sejahtera dan kondisi sehat, kata ini digunakan sebanyak 68 kali dalam Perjanjian Lama.

c. Salem , kata ini dipakai sebagai pengungkapan melalui persembahan syukur bagi suatu kebebasan dalam perjuangan.

 

2.      Pengertian Keselamatan dalam Perjanjian Baru

Dalam PB keselamatan berasal dari kata “Sozo”  yang arti dasarnya adalah “menjadi sehat” , “menyembuhkan”, “ mengawetkaan“ , istilah tersebut berkaitan dengan manusia, yang berarti “menyelamatkan dari kematian atau mempertahankan kehidupan[11].

               Dari beberapa istilah tersebut di atas maka kita menemukan suatu pengertian secara umum bahwa keselamatan adalah pembebasan yang dilakukan oleh Allah Yahweh terhadap umatNya.

 

G. Peranan Roh Kudus Dalam Karya Keselamatan

Roh Kudus memainkan suatu peran yang sangat penting dalam seluruh karya keselamatan, ada sekurang-kurangnya 5 karya Roh Kudus dalam hal ini, yaitu

    1. Menginsafkan (convicting), Yesus pernah berkata dalam Yohanes 16 :8-11 bahwa Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.
    2. Membaptiskan (baptizing), yaitu peristiwa yang terjadi pada saat orang percaya kepada Yesus Kristus (1 Kor 12:13).
    3. Melahirkan baru (regeneration), merupakan suatu syarat penting dalam keselamatan manusia, karena jika manusia tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh, ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:3-5).
    4. Memeteraikan (Zealing), Roh Kudus merupakan meterai yang diberikan oleh Allah kepada umatNya sehingga Ia merupakan jaminan kekal (Ef 1:14).
    5. Mendiami (indwelling), ini merupakan tanda bahwa sudah menjadi milik Kristus (Yoh 14:17 dan 1 Kor 6:19). Merupakan tindakan aktif di dalam kehidupan orang percaya dalam hal memenuhi (Ef 5:18), membimbing (Gal 5:16,25), memberi kuasa (Rm 8:13; Gal 5:17) dan mengajar (Yoh 14:26; 16:13).

Disamping 5 hal di atas Roh Kudus juga berperan menuntun orang percaya agar dapat dipakai sebagai alat di tangan Allah. Pengalaman ini terjadi jika orang percaya tidak mendukakan Roh Kudus (Ef 4:30), tidak memadamkan Roh ( 1 Tes 5:19), tetapi hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh (Gal 5:16,18).

 

H. PENGAJARAN TENTANG 12 TIANG KESELAMATAN

Konsep keselamatan merupakan pengalaman rohani yang diekspressikan Allah dalam FirmanNya dengan sekurang-kurangnya melalui 12 simbol (ungkapan) yang saling melengkapi dan sejajar yang digambarkan seperti berlian dengan 12 sisi, yaitu

1.      Pilihan (Election)

2.      Pengganti (Subtitution)

3.      Penebusan (Redemption)

4.      Pemuasan (Propitiation)     

5.      Perpalingan (Convertion)

6.      Kelahiran Baru (Regeneration)

7.      Pendamaian (Reconsiliation)

8.      Pembenaran (Justification)

9.      Pengangkatan (Adoption)

10.   Kesatuan dengan Kristus (unification)

11.   Penyucian (Sanctification)

12.   Pemuliaan (Glorification)

12 sisi keselamatan merupakan konsep yang koheren dan saling terpaut sehingga tidak bisa dilepaskan atau berdiri sebagai tema yang mandiri karena pembedaan ini merupakan pembagian berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda

 

1.  Konsep Pilihan (Election)

               Pengajaran ini merupakan pengajaran yang sangat sulit dijelaskan, dan bahkan menjadi bahan perdebatan para ahli teologi sampai saat ini, namun secara sederhana konsep ini dapat didefinisikan sebagai “tindakan kekal Allah dimana, Ia dalam kedaulatan kehendakNya yang baik, dan tidak berdasar pada usaha mereka, memilih sejumlah orang untuk menjadi penerima anugerah khusus dan keselamatan kekal[12]. Namun demikian masih saja ada hal-hal yang terus diperdebatkan oleh sebagian teolog Kristen tersebut terutama mengenai makna sebenarnya dari konsep pemilihan ini, apakah Allah memilih umat bukan (pribadi) seperti Gereja misalnya untuk diselamatkan, ataukah maksud pemilihan itu adalah Allah memilih Kristus untuk menyelamatkan umatNya,

The nature of election is the subyek of a longstanding debate. Some understood the scripture to teach that God has chosen a people,i.e.the church of Christ, for salvation but has not chosen individuals. Similiarly, it has been suggested that God Has Chosen Christ to be means by which people are saved (Ef 1:4), but has not determined which individual will actually be incorporated into Christ.[13]

 tetapi Paulus dengan jelas menjabarkan bahwa Allah telah memilih umatNya (yaitu orang-orang tertentu sebagai satu pribadi) sebelum dunia dijadikan (Ef 1:4). Pemilihan merupakan tindakan aktif Allah yang berdaulat yang dengan penuh kemurahan telah memilih di dalam Kristus untuk menyelamatkan semua orang yang dari semula sudah diketahui olehNya tanpa mempertimbangkan jasa-jasa dan perbuatan-perbuatan orang terpilih,  jadi pada masa kekekalan sebelum Allah meletakkan dasar bumi, Ia telah memilih siapa saja yang akan diselamatkan atas dasar karakter Allah sendiri, yaitu

a. Kasih Allah yang menentukan kita sebagai umatNya (Ef 1:4,5).

b. HikmatNya  (Yudas 25).

c. Kemahatahuan Allah (Mzm 139, why 1:8b, 1 Pet 1:1,2).

Pilihan Allah direalisasikan dengan cara pemberitaan ditetapkan, selain itu ada juga prosedur tertentu yang ditempuh yaitu :

a.      Allah mengutus juru selamat untuk mati (Rm 5:6,8).

b.      Penebus berinkarnasi (Rm 8:3).

c.      Proklamasi Injil masa kini diperintahkan untuk dilaksanakan (Ef 6:15).

d.      Persyaratan pertobatan dari dosa  dan iman kepada Kristus (Luk 5:32).

Kematian Kristus memang diperuntukkan bagi semua orang tetapi kuasa keselamatannya hanya berlaku bagi  orang-orang pilihanNya (1 Tim 4:10). Meskipun pandangan ini sudah cukup jelas , namun bukan berarti tidak ada masalah yang timbul, justru pemahaman bahwa Allah yang memilih dan akan menggenapi janjiNya tanpa melihat jasa dan keadaan manusia ini menimbulkan polemik antara peranan atau responsibility manusia dan juga tentang keadilan Allah, ”The biblical teaching on election makes clear that salvation is God’s work, that His purpose will be accomplished, and that His promoise to bless all nations will be fulfilled. Of course, such teaching raises questions about human responsibility and divine justice.[14] Jikalau memang keselamatan diperoleh manusia karena memang telah ditetapkan oleh Allah sejak masa kekekalan, berarti manusia tidak memiliki kehendak bebas sama sekali untuk memilih dan menentukan hidupnya, dan selain itu dimanakah letak keadilan Allah ketika Ia hanya memilih sebagian orang untuk diselamatkan ? apakah Alkitab memberikan jawaban yang gamblang

The scriptures do not provide a complete answer to such questions. They do, however, teach a form of compatibilsm in which human responsibility is assumed, even though God has predestined everithing which will occur. This tension between divine sovereighty and human responsibility is articulated was predestined in Acts 2:23 & 4:27-28. The death of Jesus was predestined before the foundation of the world, and yet the people who did the evil deed were held responsible their motives and actions nowhere do the scripture teach that events are predestined, than those who do what is evil are free from responsibility.[15]

Secara jelas juga permasalahan ini juga dijawab oleh Chris Marantika bahwa sekalian manusia sudah berdosa dan kekurangan kemuliaan Allah, tidak ada satupun keunggulan dari manusia yang memungkinkan Allah tertarik, oleh sebab itu kalau ada yang diselamatkan itu semata-mata karena anugerah Allah, dan mereka yang tidak terlibat dalam keselamatan, bukannya tidak dipilih, tetapi mereka menerima hukuman yang setimpal dengan dosa mereka.[16]apakah manusia tidak memiliki kehendak bebas untuk menolak tawaran keselamatan dari Allah? Berdasarkan pada kondisi manusia dan nature keselamatan, maka pada dasarnya manusia tidak mungkin dapat menolak keagungan anugerah Allah tersebut, bukan karena sebuah keterpaksaan.

 

2. Konsep Pengganti (Subtitution)

               Pengertian dari konsep ini berarti bahwa kematian Kristus sebagai pengganti manusia, yaitu mereka yang percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dalam Perjanjian Lama konsep korban diberikan untuk kepentingan orang yang membawanya sebagai pihak yang bersalah, tetapi Allah berkata bahwa hati yang hancur, pertobatan dan iman kepadaNya lebih penting dari semuanya itu (Maz 51:18-19). Konsep korban dalam Perjanjian Lama merupakan tipologi dari kematian Kristus sebagai pengganti yang sempurna dan berkenan kepada Allah. Leon Morris mengatakan bahwa

Kristus mati menggantikan tempat kita sebagaimana hewan kurban yang menggantikan kedudukan orang yang mempersembahkannya. Saya menyadari bahwa pentingnya korban persembahan itu sangat dipersoalkan, dan bahkan ada yang menolak aspek penggantian. Di sini saya bekesempatan untuk membahas pokok ini  dengan terinci. Saya hanya dapat menyatakan secara dogmatis bahwa menurut hemat saya pengertian kurban persembahan tidak dapat dipahami secara memuaskan tanpa melibatkan aspek penggantian. Sedangkan Kristus mati sebagai kurban persembahan kita. Oleh karena itu Dia mati juga sebagai pengganti kita.[17]

               Konsep pengganti ini secara biblika dapat dijelaskan melalui istilah huper dalam bahasa Yunani melalui kitab Filemon 13 dan 2 Kor 5:21 yang diterjemahkan in the place of,  dan kata anti dalam kitab Matius 20:28, Mark 10:45 yang memiliki makna yaitu sebagai ganti orang banyak.

3. Konsep Penebusan (Redemption)

               Penebusan merupakan pengajaran yang sangat penting dalam seluruh tataran pengajaran mengenai keselamatan, maupun Kristologi. Penebusan secara sederhana merupakan upaya untuk membebaskan manusia, binatang atau harta benda dari kepemilikan orang/kuasa lain melalui pembayaran/penggantian terhadap harga yang ditebus. A.Skevington Wood menjelaskan bahbwa penebusan merupakan

Popular parlance equates redemption with God’s plan of salvation but the biblical term denotes only one important aspect of salvation. Redemption involves the release of people, animals, or property from bondage through outside help. Their social, physical, or spiritual weakness makes redemption necessary only someone strong or rich can effect it. So God plays a leading role in redemption.[18]

Meskipun pengertian tersebut cukup untuk menjelaskan definisi tentang penebusan, namun untuk mendapatkan pemahaman yang memadai tentang konsep penebusan maka kita perlu menelaahnya dalam sejarah istilah maupun budaya dalam konteks Perjanjian Lama, karena pada dasarnya konsep penebusan yang diajarkan dalam Perjanjian Baru berakar dari padanya.

 

a.  Hukum Perjanjian Lama : Akar Dari Penebusan

               Melalui Keluaran 21 kita bisa mencermati bahwa pada permulaannya hanya ada dua model penebusan yang berlaku, yaitu .       

Ayat 8 menjelaskan tentang seorang lelaki Israel yang mengijinkan penebusan terhadap budak istrinya dengan melalui pembayaran. Penebusan memungkinkan pemulihan hak dan pengembalian kepada keluarganya. Penebusan ini menjadi mediasi anugerah ilahi dengan melindungi orang-orang lemah dari kekerasan/eksploitasi orang-orang yang memiliki kekuatan dan sekaligus sebagai pemulihan kesatuan keluarga.

               Ayat 30 menjelaskan penebusan nyawa seseorang yang mati karena binatang orang lain (karena kelalaian sang pemilik). Penebusan di sini mengembangkan anugerah terhadap ketidak bertanggungjawaban.

               Perjanjian Lama telah memplokamirkan bahwa Yahweh adalah pemilik atas semua anak sulung baik manusia maupun binatang, tapi Ia juga mengijinkan pembebasan dari beberapa di antaranya (Kel 13:2,13; 34:19-20; Bil 3:12,dll). Seekor domba akan mendamaikan hidup seekor keledai saat domba tersebut (dan anak sulung binatang yang tidak dapat ditebus lainnya) digunakan sebagai persembahan/korban atau daging konsumsi bagi imam (Bil 18:17-18). Pemilik harus menebus atau menjual anak sulung dari binatang-binatang najis (Im 27:26-27).

Mengenai anak sulung dari manusia, Yahweh telah menerimanya dari suku Lewi (Bil 3 : 49,51) sebagai yang mewakili seluruh anak sulung suku Israel lainnya.

               Penebusan lainya juga dapat kita cermati melalui hukum GO’EL yaitu penebusan hak milik sanak famili yang hidupnya kurang beruntung oleh familinya yang lain (Im 22:26-34) atau menebus familinya dari perbudakan (Im 25:48-52). Demikian juga mengenai penebusan terhadap hutang darah (go’el haddam) penebusan atas penumpah darah juga dilakukan melalui penumpahan darah juga (Bil 35:19; 33-34).

 

b. Konsep penebusan Dalam Perjanjian Baru

               Penebusan dalam Perjanjian Baru dibangun di atas dasar 3 istilah bahasa Yunani

1)           Agorazo, artinya membeli, membayar, menyerahkan sesuatu sebagai harga pembayaran yang setimpal bagi suatu barang. Kata ini berasal dari kata dasar agora yang artinya pasar luas dan terbuka. Pemahaman teologis pengajaran ini bahwa manusia berada di dunia ini seperti di dalam pasar dosa, dan Allah melalui Kristus membeli manusia yang berdosa (wah 5:9, 2 Pet 2:1, 1 Kor 6:19-20).

2)           Eksagorazo, berasal dari kata dasar yang sama dengan istilah di atas dan mendapat tambahan eks untuk mempertegas dan memberi tekanan kepada arti kata tersebut. Kata eks berarti dari atau keluar dari, sehingga secara teologis istilah itu bermakna dibeli untuk dibawa keluar dari pasar dosa (Gal 4:5,9,  3:13, Yoh 10:28).

3)           Lutroo, memiliki arti dasar membebaskan, melepaskan dari belenggu dosa dan melepaskan sebagai orang merdeka (mat 20:28, Mark 10:45, Ibr 9:12)

Sarana penebusan Allah adalah melalui diri Kristus yang mati di kayu salib sebagai penebus (1 Tim 2:6), sedangkan basicnya adalah darah Kristus yang tak bercacat (Kol 1:14; 1 Pet 1:18-19). Jadi kesimpulannya menurut Skevington adalah

Theologically, redemption flows from the OT into the NT, as redeemer, God lovingly demonstrated it in the exodus, requires it in the law, and consumates it in Christ. Its subthemes are rescue from harm, freedom from tyranny, the forgiveness of sin, and unbelievable joy. Paradoxically, it frees slaves of sin to make them slaves of God. But in the end, the slaves become of God’s adopted children for all eternity this is, indeed, a wonderful story.[19]

 

               Tidak dapat dipungkiri juga bahwa sering terjadi perbedaan penafsiran di kalangan para teolog, yang pada akhirnya melahirkan sebuah pandangan doctrinal yang sangat berbeda di antara satu dengan yang lainnya, namun Paul Enns membuat suatu bagan yang sangat baik mengenai teori-teori tentang penebusan yang berkembang sepanjang sejarah Gereja, yang kiranya dapat membantu kita untuk memahami secara garis besar perkembangan penafsiran atau dokrin ini, dan hasilnya seperti berikut ini :

Teori

Tokoh pemra karsa

Ide Utama

Kelemahan

Penganut terkini

Penebusan kepada setan

Origen

(184-254)

Tebusan dibayar kepada setan karena manusia telah ditawan olehnya.

Dosa melanggar kekudusan Allah; salib penghukuman bagi setan, bukan tebusan untuk setan

Penganut terkini tidak diketahui

Rekapitulasi

Irenaeus

(130-200)

Kristus alami semua yang dilakukan Adam, termasuk dosa

Kontradiksi dengan Kristus tidak berdosa dalam I Yoh 3:5

Tidak diketahui

Komersial

Anselm

(1033-1109)

Dosa merampas kemulyaan Allah; kematian Kristus memulyakan Allah dan memapukan Dia untuk ampuni dosa.

Meninggikan kemulyaan Allah diatas atribut yang lain; mengabaikan arti penebusan untuk menggantikan

Tidak diketahui

Pengaruh moral

Abelard

(1079-1142)

Kematian Kristus tidak dibutuhkan untuk menebus dosa; kematianNya melembutkan hati orang berdosa dan menyebabkan mereka bertobat.

Dasar kematianNya adalah kasihNya, bukan kekudusan. Penebusan dipandang tidak perlu.

Friedrich Schleiermacher, Albert Ritschl, Horace Bushnell

Teladan

Socianus

(1539-1604)

KematianNya bukan untuk penebusan, melainkan teladan ketaatan yang menginspirasikan pembaruan

Memandang Kristus semata sbg manusia; penebusan dipandang tidak perlu.

Thomas Althizer, unitarians

Pemerintahan

Grotius

(1583-1645)

Kristus dirikan pemerintahan dibawah hukum Allah; kematianNya merupakan tanda pembayaran, memungkinkan Allah untuk kesampingkan hukum dan mengampuni.

Allah dapat berubah, hukumNya dikesampingkan; Allah mengampuni tanpa pembayaran untuk dosa.

Daniel Whitby, Samuel Clarke, Richaed Watson, J.M.Campbell

Kesalahan

A.Schweitzer (1875-1965)

Kristus jadi terpikat oleh Mesias kompleks dan karena kesalahan dalam proses ia hancur di dalamnya.

Memandang kematian Kristus sebagai suatu kesalahan; menyangkali penebusan substitusional.

Tidak diketahui

 

4. Konsep Pemuasan (Propitiation)

Pemuasan atau propitiation merupakan pendamaian murka Allah pribadi, yaitu suatu pendamaian terhadap seseorang yang bersalah. Istilah Yunani yang dipakai untuk menjelaskan pengajaran ini adalah hilasmos yang berarti “memuaskan, mendamaikan dengan diri sendiri”, dalam Septuaginta istilah ini dipakai kata “kapher” yang berarti menutupi atau memeteraikan yang pemakaiannya berhubungan dengan kenajisan manusia bukan pada kelaliman orang berdosa.

Pengertian secara teologis yaitu kematian Kristus memuaskan hati Allah sehingga tidak mengingat dosa manusia lagi (Mrk 3:29, Rm 1:18) dan Allah mengangkat manusia yang percaya ke dalam keluargaNya. Mereka mempercayakan dirinya kepada Dia yang memuaskan Allah itu, sehingga kebenaran Kristus menutupi manusia berdosa dan kebenaran Allah dinyatakan dalam diri mereka.

 

5. Konsep Perpalingan (Convertion)

Pengertian perpalingan adalah pembalikan pemikiran seorang berdosa secara sukarela dari dosa (negatif) kepada Kristus (positif), sehingga pertobatan saja tidak dapat membawa manusia kepada keselamatan jika tidak ditindaklanjuti dengan iman kepada Kristus.

DOSA                 PERTOBATAN                   IMAN KEPADA KRISTUS

Konsep ini merupakan titik perubahan rohani yang fundamental, jika ditinjau dari segi manusia oleh karena gerakan yang ilahi (Yer 31:18), yang merupakan tanggapan manusia terhadap panggilan Allah sehingga seluruh pribadi dan eksisitensinya dikuasai oleh ketaatan kepada kehendak Allah.

               Pertobatan dalam Perjanjian Baru dijelaskan sebagai tindakan membelakangi yang semula di sembah, lalu menghadap Tuhan Allah. Pertobatan juga berarti mengubah pikiran atau berganti pikiran (Luk 1:16-17; 17:3; Kis 15:3). Sedangkan beriman merupakan cara bereksistensi dari hidup yang baru oleh karena Roh Kudus.        Secara singkat pertobatan meliputi 3 unsur yaitu, unsur yang menyangkut pikiran, perasaan hati, dan unsur yang menyangkut kehendak, oleh sebab itu tidaklah salah jika Bob Gordon menyatakan bahwa pertobatan yang benar meliputi dua hal penting, yaitu

1.      we change our thinking : there is new perspektif of the nature, awfulness and consequence of sin. There is recognition that what we are in ourselves is deeply abhorrent to a holy God.

2.      We change our actions : we turn to God from our disobedience, selfishness and rebellion. We turn away from sin and we submit our lives to God and make Jesus our Lord.[20]

Pertobatan bukan hanya sekedar pemahaman intelektualitas belaka, tapi juga terimplementasi dalam prilaku setiap hari, atau secara singkat pertobatan itu menyentuh semua sisi/aspek kehidupan manusia,

1.      Touching the intellect (Mat 21:29)

2.      Touching the emotions (II Kor 7:9).

3.      Touching the will (Luk 15:18,20).

         Iman, merupakan sesuatu yang sangat fundamental bagi keyakinan akan suatu pengajaran, maupun bagi kehidupan praktis setiap hidup orang percaya, karena oleh karena imanlah orang-orang percaya diselamatkan (Ef 2:8). Secara deskriptif iman bisa dipahami sebagai “ belief, trust, fidelity, or layalty to a creed or religion”, namun secara jelas Alkitab mendefinisikan iman sebagai bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat dan dasar bagi sesuatu yang kita harapkan (Ibr 11:1). Meskipun semuanya sudah sedikit jelas secara definisi, namun bukan berarti semua esensi iman itu benar, tepat dan memiliki kuasa, karena hanya iman yang tepat pada sasaran sajalah yang mampu menyelamatkan manusia, yaitu iman yang tertuju pada Firman Tuhan dan pribadi Yesus Kristus. 

6. Konsep Kelahiran Baru (Regeneration)

               Masalah terbesar yang menghantui manusia adalah kematian, hal ini diakibatkan oleh kematian manusia dalam kesalahan dan dosa-dosanya (Ef 2:1; 1 Kor 15:22). Solusi dari permasalahan ini adalah penanaman kembali kehidupan yang ilahi yang disebut sebagai regenerasi atau kelahiran kembali secara rohani. Ada bermacam-macam istilah yang mengungkapkan konsep ini di antaranya, dilahirkan kembali (Yoh 3:3), dilahirkan dari air dan Roh (Yoh 3:5), penciptaan kembali (Mat 19:28), dihidupkan dari mati (Ef 2:5), pembaharuan manusia batin (2 Kor 4:16), mengenakan manusia baru (Ef 4:25), dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan pemahaman tentang konsep ini kita harus melakukan suatu penelitian terhadap istilah Yunaninya dan juga hubungan antara konsep-konsep tersebut, karena kita tidak akan pernah menemukan latar belakang ataupun istilah lahir baru dalam Kitab-Kitab Perjanjian Lama “ a biblical theological approach to regenaration begins with an examination of the New Testament word and its related concepts; there is no word for regenaration in the Old Testament.”[21]

               Istilah kelahiran baru berasal dari istilah genethe anothen yang artinya lahir kembali (Yoh 3:3,5). Dan juga dari kata paliggenesia yang memiliki dua makna, yaitu :

a. Secara umum : menunjuk kepada pembaharuan segala sesuatu, pembaharua alam semesta yang terjadi pada Kedatangan Kristus kedua kali (Mat 19:28, Tit 3:5)

b. Secara khusus : karya Tuhan yang dikerjakan secara langsung dengan perantaraan Roh Kudus untuk mencurahkan hidup baru dalam diri seorang manusia, yang semula mati secara rohani sehingga hidup kembali dengan esensi yang baru.

              Secara teologis istilah ini memiliki makna bahwa kelahiran baru adalah aktifitas Roh Allah yang memberikan kodrat baru kepada seseorang di dasari oleh karena ia telah menerima Yesus Kristus, sehingga secara prinsip kelompok reformed dan injili berpandangan (melalui pengakuan yang termaktub dalam Westminster Confession) bahwa kelahiran baru merupakan :

a. Regenaration an act of God

b. Regenaration an act of God’s Power

c. Regeneration is a new life (in regeneration a new life is communicated to the soul, man is the subject of new birth, he receives a new nature or new heart and becomes a new creature).[22]

Dari pemaparan tersebut di atas maka kita dapat membuat suatu kesimpulan bahwa struktur teologi dalam Perjanjian Baru merujuk/menganjurkan bahwa paling tidak ada tiga hal penting terkait dengan masalah kelahiran baru ini, ketiganya tidak sinonim tetapi  saling terkait seperti halnya dalam masalah pembenaran, pengudusan, maupun pemuliaan.

The structure of New Testament theology suggests that there are least three basic ways in which we must speak about this reality. They are not synonymous but they are linked in exactly the sameway that justification, sanctification, and glorification are linked :

1. objective regenaration : this is work of God in the person of Christ effected on our behalf. the new creation is  Where Christ is and it is imputed to all who believe in  Him.

2.      Subjective regeneration: this is the sovereighty work of the Holy Spirit in  the believer as the christian life begins and continues to its consumation.

3.      Comprehensive regeneration : this the renewal of all things, the colloraly of the renewal of believers (Rom 8:19-23). It is the fullnes of the kingdom of God.[23]

 

7. Konsep Pendamaian (Reconciliation)

               Pengajaran tentang pendamaian dalam Alkitab biasanya lebih ditekankan dan dibahas secara bersamaan dengan konsep pertobatan, tetapi dalam beberapa bagian juga dibahas secara bertalian dengan konsep pengampunan/ forgiveness. Secara umum reconciliation dapat dijelaskan sebagai “a change of personal relations between human being (I Sam 29:4; Mat 5:24; I Cor 7:11) or between God and man (Rom 5:1-11; II Cor 5:18, Col 1:20; Eph 2:5) by this change a state of enmity and estrangement is replaced by one of peace and fellowship”.[24]Yaitu suatu perubahan hubungan pribadi, baik antar manusia, maupun antara manusia dengan Tuhan yang melaluinya keduanya berada pada perdamaian dan kebersamaan. Istilah reconciliation paling tidak dipakai sebanyak 16 kali dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru istilah ini berasal dari kata Katallage yang berarti memperbaiki yang rusak atau penyesuaian perbedaan yang menimbulkan permusuhan antara kedua belah pihak dengan menggunakan alat penukaran tertentu, hubungan atau relasi baru adalah akibatnya. Dan kata hilasmos yang mengandung gagasan tentang alat atau sarana yang dipergunakan untuk memperbaiki yang rusak seperti yang dijelaskan dalam istilah katallage, sehingga kata katallage sering diterjemahkan sebagai pendamaian sedangkan kata hilasmos diterjemahkan sebagai korban pendamaian. Dalam 16 kali pemakaian dalam Perjanjian Baru, secara garis besar istilah ini dapat dikelompokkan menjadi tiga, dalam hal penggunaan istilahnya

In the first, Paul stresses that believers were reconciled to God through Christ’s death while they were still God’s enemies; this is a ground for rejoicing (Rom 5:10-11).

Inthe second, Paul calls the whole gospel ministry of apostolate and the church the ministry of reconciliation (2 Cor 5:18); it is grounded in the fact that God was reconciling the world to Himself in Christ, not counting man’s sin against them (2 Cor 5:19). It is therefore incumbent on Paul’s reader to be reconciled to God ( 2 Cor 5:20).

A thirtd cluster of Pauline references is found in the prison epistles. In one passage Paul stresses the outcome of God’s saving work in Christ, i.e. sanctification, through which believers are presented to God holy and without blemish and without reproach (Col 1:22, author translation). In another he focusses on the universal scope of the blessedness (peace) effected by Christ’s cross (Col 1:20).[25]

               Istilah ini secara teologis memiliki makna, oleh karena pertobatan dan iman kepada Kristus maka perseteruan antara manusia dengan Allah dihancurkan sehingga terjadi pembaharuan hubungan di antara kedua pihak (Rm 5:10-11), Allah yang benar dan kekal dan tidak berubah menyediakan jalan perubahan melalui Kristus kepada manusia agar ia diubah dan diangkat ke tingkat persekutuan sesuai dengan maksud asli penciptaan manusia. Tekanan dalam masalah ini adalah adanya relasi yang baru antara manusia dengan Allah.

 

8. Konsep Pembenaran (Justification)

               Doktrin tentang pembenaran secara histories mengalami pasang surut dan seringkali diputarbalikkan kebenarannya dan hampir dibuang, peristiwa Reformasi Protestan sangat berjasa karena telah menempatkan doktrin ini sebagaimana seharusnya dalam tatanan dogmatika Kristen.              

               Ada suatu kesalahan besar yang terjadi sekarang ini menurut Alban Douglas yang mengidentikan antara pembenaran dengan memaafkan, ia menyatakan “one of the modern errors of today is to identify justification with pardon. Justification more than pardon; to justify mean to declare rightous[26] bagi Douglas (dan tentunya juga kita semua) bahwa pembenaran bukan hanya sekedar memaafkan dosa atau pelanggaran,  melainkan menyatakan benar oleh karena iman yang diperoleh dari Kristus “ justification is the judicial act of God whereby those who put faith in Christ are declared righteous in His eyes, and free from guilt and punishment”[27]Konsep ini berhubungan dengan posisi legal manusia di hadapan Allah, pembenaran merupakan azas legalitas dalam kerajaan Allah oleh karena karya Kristus. Tanpa pembenaran, manusia sebaik apapun perbuatan dan etikanya tetap berada di luar kerajaanNya. Istilah Yunani pembenaran adalah dikaiosis erat kaitannya dengan dikaiosune yang artinya kebenaran. Secara histories, pada abad pertama akar kata dari istilah ini dipakai untuk merujuk kepada suatu kebenaran standart dan kegiatan yang bernuansa standart kebenaran seperti yang terdapat dalam Hukum Taurat.

               Secara teologis konsep ini merupakan tindakan hokum Allah, dimana karena adanya Yesus Kristus, orang-orang berdosa dibenarkan oleh karena iman kepada Kristus. Allah menyatakan bahwa orang-orang berdosa itu benar tanpa dosa dan bebas dari hokum Taurat dari hukuman kekal dan telah diperbaharui. Ada beberapa unsure yang terdapat dalam pembenaran, yaitu :

a. Pengampunan dosa (the forgiveness of sin) dan pengangkatan kesalahan, serta penghukuman dosa (the removal of its guilts and punishment) (Rm 5:1,16).

b. Pencangkokan/penempatan akan kebenaran Kristus (the imputation of Christ’s righteousness)atau penempatan kepada posisi kedudukan yang menyenangkan hati Allah (zak 3:4).

c. Pembebasan dari kutuk Taurat.

 

9. Pengangkatan (Adoption)

               Hanya sedikit referensi yang kita peroleh dari Alkitab penjelasan  mengenai konsep pengangkatan ini, namun itu tidak berarti kita tidak akan dapat menemukan makna sebenarnya dari konsep tersebut. Untuk memahami pengajaran tentang pengangkatan, kita tidak bisa melepaskan begitu saja referensi dari beberapa ayat dalam Perjanjian Lama, karena melaluinyalah konsep pengangkatan dalam Perjanjian Baru dibangun.

 

1.      Konsep Pengangkatan Dalam Perjanjian Lama

       Konsep adopsi dalam PL biasanya mengacu pada dua pokok, yaitu dipakai dalam hal hubungan Allah dan Israel sebagai anak adopsi Allah sendiri  (Kel 4:22, Ul 2:10; Hos 11:1)  yang didasarkan pada perjanjian antara Allah dan umatNya tersebut, dan yang kedua konsep ini dipakai sebagai hubungan antara Allah dengan raja Israel, yaitu ketika Allah berjanji kepada Raja Daud bahwa Ia akan menjadi Bapanya, dan ia menjadi anakNya (2 Sam 7:14), janji tersebut kemudian diulangi dalam I Tawarikh 17:13 dan sejara terang/jelas dinyatakan wujudnyatakan kepada Salomo dala I Tawarikh 28:6.

 

2.      Konsep Pengangkatan dalam masa Intertestamental

         Pada permulaan tradisi Yudaisme konsep adopsi kita dapat temukan dalam 2 Samuel 7:14) yang diaplikasikan pada Mesias (Florilegium 1:11), kepada umatNya yaitu pada masa restorasi (Jubilees 1:24) dan juga kepada keduannya (Testament of Judah 24:3).

 

3.      Konsep Pengangkatan dalam Perjanjian Baru

         Hanya ada sedikit referensi dalam Perjanjian Baru karena hanya Paulus satu-satunya penulis yang menggunakan kata “adopsi”. Ungkapan pengangkatan ini muncul dari istilah Yunani huiothesias yang berarti pemberian posisi legal sebagai anak . istilah ini 5x disebutkan dalam Alkitab yaitu di surat-surat Rasul Paulus (Ef 1:5; Gal 4:5; Rom 8:15, 23; Rom 9:4). Dalam istilah Yunani ada dua kata anak, yaitu :

a.        Teknon : anak yang hadir dalam keluarga menurut kelahiran secara biasa.

b.        Huios : anak yang diterima secara sah dalam hokum dan berhak menerima warisan sehingga menjadi anak kandung legal.

Meskipun sudah ada penjelasan yang demikian baik namun masih saja masalah ini menjadi perdebatan sengit bagi para teolog yang berkisar latar belakang konteks dan makna yang dimaksudkan oleh Paulus dari istilah tersebut, Desmond menjelaskan permasalah tersebut dengan sangat baik bahwa

The evidence suggests that it  refers to the process or state of being adopted, and that on OT and Jewish background probably lies behind Paul’s usage…..in the other four places where the word is used it refers to the status of believers as God’s children an and through Jesus Christ. One of the motives for praising God in Eph 1:3-14.[28]

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa latar belakang konsep ini dalam Perjanjian Lama sangat kental mewarnai tulisan Paulus, namun sebagian besar mengacu pada status orang percaya sebagai anak-anak Allah melalui Yesus dengan maksud untuk memuji dan memulyakan Allah. John Murray berpandangan bahwa sebenarnya secara spesifik pengajaran ini merupakan tindakan Allah yang secara tegas memanggil, melahir barukan, dan membenarkan dengan maksud agar kita/orang percaya menjadi anak-anak Allah.

Adoption is specific act of God’s grace distinct from calling, regeneration, and justification, it is that act by which we become sons of God, and the term in Greek clearly expresses this notion of instatement in the fillial relation. The status is constituted by this bestowed of authority or right (John 1:12) a right belonging only those who believe in Jesus name.[29]

               Pengertian teologi konsep ini adalah bahwa setiap orang percaya yang telah lahir baru, diangkat oleh Allah menjadi anggota keluargaNya dan berhak mewarisi Kerajaan Allah bersama orang-orang beriman lainnya (Luk 15:7,10). Pengalaman ini terjadi saat orang mengalami lahir baru (E 1:5; Gal 3:26 dan Yoh 1:12).  Konsep adopsi secara jelas mengajarkan bagitu banyak hal.[30]

               Pertama, pengangkatan ini menunjukkan kepada kita kebesaran dari anugerah Allah, Perjanjian Baru memberikan dua bukti terbesar dari kasih Allah kepada orang-orang percaya, yaitu salib (Rom 5:8; I Yoh 4:8-10), dan pemberian status sebagai anak ((I Yoh 3:1). Dari semua anugerah Allah, pengangkatan sebagai anak adalah yang paling besar.

               Kedua, pengangkatan menunjukkan kemulyaan pengharapan orang-orang percaya. Pengajaran ini merupakan jaminan kepastian akan seluruh pengharapan setiap orang percaya akan akhir dari kehidupannya.

               Ketiga, pengangkatan memberikan kepada kita suatu kunci untuk memahami pelayanan Roh Kudus. Pelayanan Roh Kudus hanya dapat dipahami melalui pengalaman hidup, yang memampukan kita untuk memahami pikiran Allah. Alkitab mengajarkan bahwa Roh adalah agen dari kelahiran baru, pemberi pengetahuan sehingga kita mengenal Allah dan memiliki hati untuk mentaatiNya, Ia juga mendiami, menguduskan, dan menguatkan orang percaya dalam setiap perjuangan hidupnya sehari-hari.

               Keempat, pengangkatan menunjukkan kepada kita makna dan motif dari “Injil kekudusan”, istilah “injil kekudusan” memang tidak lazim kita dengar, namun istilah ini sangat familiar bagi kalangan Puritan yang menunjukkan pada kehidupan Kristen yang otentik. Pengangkatan menunjukan kepada kita betapa kudus dan benarnya kita dalam menjalani kehidupan kristiani kita sebagaimana bapa adalah Allah yang kudus.

Pada akhirnya, oleh karena setiap orang percaya adalah anak-anak Allah maka, implikasinya adalah :

1.       Memiliki nama keluarga (Ef 3:15; Why 2:17; 3:12).

2.       Memiliki persamaan hak dalam keluarga untuk memperoleh pengertian yang benar (Kol 3:10).

3.       Menerima kasih keluarga (1 Yoh 2:9-11).

4.       Memiliki sifat-sifat yang sama dengan orang tua kita (2 Pet 1:4).

 

 

10.   Kesatuan dengan Kristus (unification)

               Konsep ini adalah kesatuan hidup dimana roh manusia (meskipun dalam keunikan dan kepribadian yang tetap) dipenetrasikan dan dikerjakan oleh Roh Kristus, dijadikan satu denganNya. Ungkapan ini muncul melalui beberapa istilah yaitu en Kristo, merupakan pengalaman mistik Kristen. Kesatuan dengan Kristus dinyatakan melalui berbagai gambaran dalam PB  melalui pernyataan secara tidak langsung, antara lain :

? Persatuan antara gedung dan pondasinya (Ef 2:20-21).

? Persatuan suami dan istri (Rm 7:2, Ef 5:31-32).

? Persatuan pokok anggur dan rantingnya (Yoh 15:1-10)

? Persatuan antara kepala dan anggota-anggota tubuh (1 Kor 6:15-19; 12:12; Ef 1:22-23).

Selain itu ada juga pernyataan dalam PB yang dinyatakan oleh penulis Alkitab secara langsung, seperti berikut ini :

q  Orang percaya dinyatakan di dalam Kristus (Yoh 14:20; Rm 6:11;8:1; 2 Kor 5:17).

q  Kristus dinyataka ada di dalam orang-orang percaya (Yoh 14:20; Ef 3:17).

q  Bapa dan Anak dinyatakan dalam orang percaya (Yoh 14:10,23; Ef 3:17; 1 Yoh 4:16).

q  Orang percaya memperoleh hidup dengan bersatu dengan Kristus sebagaimana Ia hidup dan bersatu dengan Bapa (Yoh 6:56-57;14:23; 1 Kor 10:17).

q  Semua orang percaya dijadikan pewaris sifat ilahi (2 Pet 1:4).

q  Semua orang percaya adalah satu dengan Kristus (Yoh 17:21-23).

q  Orang percaya dijadikan satu roh dengan Kristus (1 Kor 6:17,19; Rom 8:26).

               Kesatuan ini merupakan kesatuan yang sangat unik antara yang terbatas (limited) dengan yang tak terbatas (unlimited), yang insani dengan yang ilahi yang dijembatani oleh Kristus (1 Tim 2:5; Ibr 8:6; 9:5; 12:24). Secara positif persatuan ini merupakan penyatuan organik di  mana orang percaya menjadi anggota tubuh Kristus dan mengambil bagian dalam sifat kemanusiaanNya. Setiap anggota tersebut bergerak dan hidup menurut perintah kepala (Ef 1:22-23; 4:15;5:29-30). penyatuan tersebut adalah kesatuan vital, dimana hidup Kristus menjadi prinsip hidup yang mendominasi diri orang percaya.[31]

 

11.   Penyucian (Sanctification)

               Penyucian merupakan subyek yang sangat penting, karena menuru Ibrani 12:14, tanpa adanya penyucian tidak ada seorang pun yang akan melihat Tuhan. Penyucian merupakan satu sisi dari karya keselamatan yang sangat fundamental karena melaluinya karakter hidup kita berubah “in regeneration our nature is changed, in justification our standing is changed, in adoption our position is changed, in sanctification our character is changed”[32]penyucian merupakan buah dari hidup yang telah dibenarkan oleh Kristus, kita perlu menjadi suci karena juru selamat kita telah menyucikan kita.

               Penyucian merupakan pemisahan untuk suatu tujuan khusus yang meliputi penyerahan diri. Dalam konteks PL dipakai istilah qadash untuk menunjukkan penyucian/pemisahan para nabi-nabi, imam-imam untuk tugas pelayanan kepada Allah. Dalam konteks PB dipakai istilah hagiazein.

Dalam konsep penyucian meliputi tiga hal, yaitu

  • Kesucian secara posisi (positional sanctification) : orang-orang beriman telah dipisahkan sebagai orang suci dalam kedudukannya sebagai keluarga Allah (1 Kor 6:11).
  • Kesucian secara pengalaman (eksperiental sanctification dan progressive sanctification) : yaitu proses pembaharuan secara terus menerus (1 Pet 1;16) melalui pengalaman hidup sepanjang hari.
  • Kesucian akhir (perfected sanctification) : kesucian ini merupakan kesempurnaan total yang terjadi pada saat kehadiran Kristus kelak (Fil 3:20-21)

Dampak dari pengudusan yang terjadi adalah suatu kesempurnaan melalui Kristus (Ibr 10:14), dan juga buah-buah kekudusan (Rom 6:22).

 

12.   Pemuliaan (Glorification)

               Pemuliaan akan direalisasikan pada saat kedatangan Kristus kedua kali, dimana Kristus akan mengubahkan tubuh jasmani yang hina menjadi tubuh kemuliaan ( 2 Kor 4:16-17). Tubuh lama lenyap dan berganti dengan tubuh baru yang ditebus memasuki kemulyaan dan pesta anak domba Allah di surga.

               Dua kata Yunani dipakai untuk menjelaskan konsep ini, yaitu Politeuo dan huperchei. Politeuo menjelaskan hak dan kewajiban kewargaan, menunjukkan pada hak istimewa sebagai warga dua kerajaan yaitu kerajaan Allah di bumi dan di surga, sedangkan kata huperchei menunjukkan kepastian di surga (Yoh 14:1,2).

               Selain dua kata di atas masih ada beberapa kata lagi yang dipakai dalam PB yang menjelaskan konsep diatas. Kata pertama adalah apekdechometha, yang merupakan bentukan dari kata apo dan ek yang sama-sama memiliki pengertian “dari” jadi penggunaan ganda kata tersebut menyatakan tekanan kepastiannya, sedangkan kata dechomethan berarti menantikan atau menerima. Makna secara lengkap berarti konsentrasi, perhatian, sehingga penantian itu sama dengan penerimaan. Kata ini dipakai dalam konteks yang berhubungan dengan kedatangan Kristus yang kedua kali. Jadi kemuliaan mutlak akan dirasakan warga kerajaan sorga saat Kristus kembali untuk yang kedua kalinya. Kata kedua adalah methaschematisei yang artinya “mengubah”, yaitu suatu tindakan yang membawa perubahan bagian luar, atau yang nampak (skema) dari tubuh yang dijelaskan dalam kitab Roma 7 :17-28).

Pemuliaan memiliki beberapa aspek, yaitu :

  • Pemuliaan dalam hal kehidupan berpengetahuan secara sempurna (1 Kor 13:8-10).
  • Pemuliaan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat yang adil secara mutlak (Ibr 12:22,23).
  •   Pemuliaan yang berakibat pada pemujaan kepada Allah (Why 19:1-6) dan pelayanan secara terus menerus kepada Allah (Why 22:3).


[1]John RW. Stott  menuliskan bahwa “salvation is a wonderfully comprehensive term. It is a great mistake to suppose that it is merely a synonym for forgiveness. God is as much concerned with our present and future as with our past. His plan is first to reconcile us to himself, and then progressively to liberate us from our self centredness and bring us into harmony with our fellow men”. P.98

[2] aliran ini sering disebut sebagi Calvinist atau presbyterian, merupakan aliran terbesar kedua setelah Lutheran dalam kalangan Gereja-Gereja Protestan dunia.

[3] Kesepakatan dari ketiga pribadi Tri Tunggal untuk merencanakan dan melaksanakan karya penebusan sejak sebelum dunia dijadikan.

[4] Lutheran merupakan aliran atau Gereja-Gereja yang berpedoman kepada pengajaran Martin Luther (seorang tokoh Reformasi), merupakan Gereja Protestan tertua yang mungkin paling banyak pengikutnya dan ± 105 organisasi Gereja tergabung di dalam The Lutheran World Federation, di Indonesia salah satu aliran Lutheran adalah HKBP, GKPS, GPKB, dsb.

[5]A parte hominis merupakan ordo solutes yang menekankan/menitik beratkan pada peranan dipihak manusia, sedangkan a parte Dei justru menekankan pada pihak Allah sendiri.

[6] Iman yang dibicarakan disini secara lebih spesifik sebagai prinsip aktif dalam diri manusia dan sebagai tindakan manusia.

[7] Sudah cukup dengan anugerah saja, yang terdiri dari iluminasi dalam pikiran dan penguatan kehendak.

[8] Anugerah yang bekerja bersama-sama dengan usaha manusia

[9] Anugerah yang menyatu dengan usaha manusia.

[10] Charles Swindol, Growing Deep In The Christian Life, (Oregon : Multnomah Press, 1986)p.237

[11] W.Waltson, Baker’s Dictionary of Theology, (Grand Rapids : Baker Book House,t.t),P.496

[12] Paul Enns, The Moody Handbook of  Theology, (Malang : Literatur SAAT, 2006),p.406

[13] Desmond Alexander, et al, New Dictionary of Biblical Theology, (Illionis : Interversity Press, 2000),p.452

[14] ibid.453

[15] Ibid

[16] Chris Marantika, Doktrin Keselamatan dan Kehidupan Rohani, ( Yogyakarta : Iman Press,2002)p.52-53

[17] Leon Morris, The Cross in  New Testament, (Grand Rapids : Eerdemands, 1965)p.175

[18] A.Skevington Wood, Baker’s Dictionary Of Theology, edited by Everett F.Harrison, (Michigan : Baker Book House,1988),p.716

[19] ibid..720

[20] Bob Gordon, The Foundation Of Christian Living,(England : soverighty World, 1988),p.15

[21] Desmond Alexander, p.721    

[22] Charles Hodge, Systematic Theology,Abridge Edition, (Grand Rapid : Bakker Book Publisher),P.436

[23] Desmond Alexander,p.723

[24] William Childs Robinson, Baker’s Dictionary Of Theology, p.437

[25] Desmond Alexander,p.502

[26] Alban Douglas, One Hundred Bible Lessons, (Manila : OMF Publisher,1983),p.116

[27] Ibid.p.117

[28] Desmond Alexander,p.377

[29] John Murray, Edited by Everett F Harrison, Baker’s Dictionary Of Theology, (Michigan : Baker Book House, 1988),p.25

[30] J.I.Packer, Knowing God,p.194-203

[31] Chris Marantika, Doktrin Keselamatan dan Kehidupan Rohani, ( Yogyakarta : Iman Press,2002),hlm.135-137

[32] Alban Douglas, p.15

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...