Kencenderungan Hermeneutika abad 21
Tidak dapat kita pungkiri bahwa hermeneutika memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teologi, sebab teologi dibangun melalui sistem hermeneutika, oleh sebab itu hermeneutika yang benar tentu akan menghasilkan teologi yang benar, sedangkan hermeneutika yang keliru sangat mungkin menghasilkan teologi yang keliru pula. Hermeneutica merupakan sains dan sekaligus seni[1]dalam menafsirkan Alkitab, disebut sains karena dalam hermeneutic selalu melibatkan teknik-teknik dalam menafsir, serta mengikuti prosedur-prosedur tertentu, disisi lain dikatakan seni karena di dalam prosesnya juga memanfaatkan imajinasi dan “dunia rasa”sang penafsir. Hermeneutika tidak akan berhenti pada implementasi yang bersifat teknis semata, namun akan diejawantahkan pada situasi atau konteks kontemporer.[2] Dalam bagian ini kita akan secara khusus membahas kecenderungan sistem hermeneutika masa kini (kontemporer) yang melaluinya muncul teologi-teologi yang akan kita bahas dalam bagian selanjutnya.
Sistem hermeneutika terkait erat dengan presupposisi atau asumsi dasar seorang teolog mengenai revelation dan inspiration Alkitab, sehingga hal itulah yang memungkinkan terjadinya keberagaman sistem hermeneutika (yang di dalamnya termasuk tujuan, strategi, dan teknik penafsiran) dan teologi. Pada dasarnya ada tiga pendekatan yang lazim kita temui dalam pengajaran hermeneutika, yaitu pendekatan ilmiah rasional (high criticism), intuitif (aplikatif, devotional), dan pendekatan historis analisis gramatikal. Pada abad 20 & 21 pendekatan hermeneutika sangat berpengaruh adalah pendekatan historis kritis yang memandang Alkitab sebagai sebuah naskah klasik yang konteks ruang dan waktunya berbeda sekali dengan konteks masa kini, namun demikian masih diyakini menyimpan suatu nilai spiritual yang berharga di dalamnya. Untuk menggali isi dan maknanya, metoda penelitian terhadap sastra di asumsikan untuk memahami Alkitab. Tekanan pada daya nalar logis, historis-kritis dan sistematis diupayakan di dalam proses penafsiran.[3]
Namun pada akhirnya banyak orang yang kurang setuju dengan pendekatan ini, para teolog menentang pendekatan ini dengan dasar pertimbangan soal tendensi penafian keimanan, dan mencoba mencari alternatif baru dengan menyambut pendekatan naratif dengan anggapan bahwa pendekatan ini merupakan versi ilmiah dari bentuk ortodoks, yaitu pendekatan “back to the Bible”. Akan tetapi ketika jelas bahwa pendekatan ini tidak memperdulikan asumsi-asumsi doktrinal dogmatis yang terkumpul dalam banyak kesimpulan - yang sudah diambil sebelumnya terhadap teks- sikap mereka mulai berubah menjadi apatis. Pendekatan naratif diterima namun tidak seluruhnya. Secara formal tafsir naratif di terima dengan muatan yang berbeda sama sekali dari esensi yang seharusnya.
Pada dasarnya mendekatan naratif merupakan metamorfosa dari sebuah pendekatan literal yang berkembang pada abad 20, dimana ledakan hasrat terhadap pendekatan literal Alkitab memuncak.
The last third of the 20 century saw an explosion of interest in the literary approach to the bible. Using diverse methodologies, literary critics focus on the final form of the biblical text. For example, the literary critic N.Frye in his ‘The Great Code : The Bible and Literature, 1981’ sought to understand the bible as a literacy whole, a task for which source analysis and modern theories of authorship are irrelevant. The bible is undoubtedly the end product of a long and complicated literary process, but it needs to be studied in its own right.[4]
Memandang Alkitab sebagai sebuah teks yang sudah final sehingga pendekatan modern yang mendekati Alkitab dengan analisa sumber dan teori-teori tentang kepenulisan modern sudah sangat tidak relevan sehingga Alkitab harus dipelajari sebagaimana Alkitab itu sendiri. Pendekatan literal ini kemudian berkembang menjadi sebuah biblical naratif yang artinya memandang Alkitab sebagai sebuah cerita/narasi secara keseluruhan, dan ketertarikan ini diejawantahkan membentuk sebuah teologi naratif “One feature of the literary approach has been a renewed interest in biblical narrative or story, which has led to development of narrative theology”.[5]
Dampaknya sangat jelas yaitu Alkitab tidak lagi dipandang sebagai suatu fakta historis yang secara nyata terjadi, melainkan sebuah cerita “A popular slogan is that bible is not history but story”[6].
Pendekatan selanjutnya juga banyak dipengaruhi oleh perkembangan filsafat era posmo, yaitu pendekatan sosiologis terhadap Alkitab, merupakan dampak dari pendekatan historis kritis, pendekatan ini merekomendasikan sebuah rekonstruksi situasi sosial dalam Alkitab. Pembaca harus menarik keluar dan memisahkan situasi sosial dari dalam teks untuk menemukan kebenaran yang hakiki.
Another recent trend is the sociological approach to scripture. This can be seen as an extension of historical critical approach and it share some of that approach’s limitation, as it trends to be based on hypotetical reconstructions of social situations out of which the biblical text emerged. More over, a sociological approach is no more free from presupposition than any other.[7]
Meskipun pendekatan ini juga tidak pernah lepas dari keterbatasan karena juga rentan dipegaruhi dan dimasuki unsur subyektifitas atau asumsi seorang teolog, namun bagi beberapa kalangan pendekatan ini sedikit banyak memperlengkapi sistem hermeneutika yang berkembang masa kini yang meninjau Alkitab dari perspektif yang berbeda. “Sociologist transfer models from other societies and this procedure may no be valid in relation to biblical sociaties of two or three millenia ago. Nevertheless a sociological aprroach can provide a different perspective and can complement other methodologies”.
Pengaruh Negatif Posmodernisme Terhadap Hermeneutika
Subjectivism Posmodern
Aksioma Rene Descartes yang telah menjadi nafas masa pencerahan (Enlightment/aufklärung) yaitu“pendewaan”terhadap kemampuan rasio atau “kemaha mampuan” akali manusia kembali menggejolak pada era modern. Dunia modern dengan positivismenya telah menanamkan keyakinan penuh akan adanya suatu fakta atau kebenaran yang obyektif, yang dapat ditemukan dan diuji melalui teori yang obyektif. Kebenaran obyektif artinya memiliki realitas dan validitas yang “extra mental” yang berlaku secara universal, namun posmodernisme menolak semuanya itu, dan beranggapan bahwa tidak ada kebenaran yang absolute, tidak ada fakta yang obyektif karena semuanya bersifat particular, terbatas, dan insuler.[8]
Immanuel Kant melalui tulisannya yang berjudul The Critique of Pure Reason telah menjadi “drive” bagi posmodernisme, dimana diri ”self” tidak akan mungkin menemukan secara obyektif apa yang ada di dalam dunia ini. tentu asumsi ini akan menjadi ancaman yang serius bagi iman Kristen, secara khusus kaum Injili yang membangun system hermenutikanya berdasarkan otoritas Alkitab yang tidak mungkin salah (infallible Word) karena diinspirasikan oleh Allah. Keyakinan dasar hermeneutika biblika Kristen, secara khusus Injili bahwa Alkitab memberikan fakta dan kebenaran yang obyektif dan universal ditolak secara sepihak oleh posmodernisme, lalu apa dampaknya ? sudah sangat jelas, jika hermeneutika tidak hanya berhenti pada tugas menemukan makna teks, namun juga harus mampu mengimplementasikan makna tersebut dalam kehidupan, maka Alkitab, oleh karena tidak mengandung kebenaran yang bersifat obyektif dan universal, dianggap tidak lebih dari buku-buku atau karya sastra lainnya. Kebenaran di dalam Alkitab belum tentu berlaku bagi setiap orang, aplikasinya tidak berlaku mutlak, dan prinsipnya sangat mungkin bisa salah, dan pada akhirnya hermeneutika biblika gagal dalam mengemban tugasnya dalam menuntun penafsir untuk menemukan arti, makna dan aplikasi.
Linguistic Turn
Filsafat zaman mengalami pembalikan ke arah bahasa, demikian ungkap Sugiarto.[9]jika era modern filsafat dunia dinafasi oleh rasionalism, spiritisme, eksistensialism dan eksperientalism, maka era psomodern ini lebih dijiwai oleh linguistic yang didekonstruksi dari pendekatan historis kepada pendekatan strukturalisme yang memandang bahasa sebagai sebuah system yang koheren secara internal, menekankan pada struktur bahasa. Pergeseran pendekatan terhadap bahasa ini akhirnya melahirkan kritik sastra (literary criticism) dalam hermenutika biblika, yaitu metodologi penafsiran yang lebih menekankan pada penelitian sastra tanpa memperhatikan masalah-masalah historis, seperti identitas penulis, konteks penulisan, pembaca pertama, dan lain-lain.
Reader Response Oriented
Perkembangan Hermeneutika kita telah mengalami pergeseran yang cukup sigifikan. Di era postmodern ini, hermeneutika mulai bergerak maju dari teks oriented (Hans-Georg Gadamer) yang kemudian dikembangakn oleh Ricoeur dengan mengembangkan system penafsiran melalui dekontekstualisasi, yaitu proses pembebasan teks dari konteksnya pengarangnya dan dilanjutkan dengan rekontektualisasi, yaitu proses memasukkan teks ke dalam konteks pembaca. Penafsiran tidak berhenti pada penafsiran yang berpusat pada makna teks, namun terus bergerak kepada/atau berpusat pada pembaca, yang kemudian kita kenal sebagai kritik respon pembaca (reader response criticism) yang dipelopori oleh Stanley Fish. Asumsi dasar dari hermeneutika postmodern ini adalah keraguan terhadap kelengkapan teks, sehingga teks itu harus dilengkapi dan dihidupkan oleh pembaca dalam dirinya sendiri. Teks dianggap sebagai bahan mentah dalam proses hermenutika sehingga perlu diolah sehingga memiliki makna dan signifikansi. Dampak dari system penafsiran seperti ini sudah sangat jelas menimbulkan subyektivism yang tak terkendali, yang pada akhirnya membuka kritik dari berbagai pendekatan sehingga teks dapat dipersalahkan.
[2] Gordon D.Fee, Douglas Stuart, How To Read The Bible for All its Worth (Grand Rapid : Zondervan, 1993)p.25
[3] Materi disampaikan oleh BS Sidjabat bertema “Seputar Pengajaran Hermeneutika di Sekolah Teologi” dalam Simposium PASTI di I3, thn 2002
[4] T.Desmond Alexander, et all, New Dictionary of Biblical Theology, (USA : Interversity Press, 2000).p.17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar