Rabu, 05 Mei 2021

Ibadah Sejati

 

EKSPOSISI   ROMA  PASAL 12

KEHIDUPAN KRISTEN

 

Sebuah pengajaran dari Rasul Paulus tentang “Etika Kristen berdasarkan dogma” bagi Jemaat di Roma dan relevansinya bagi jemaat Kristen masa kini”.Secara garis besar Roma pasal 12 dapat dibagi menjadi  Empat bagian besar  :

 

1)     Roma 12: 1-2 …Membahas Tentang Ibadah Yang Benar & Perubahan Yang Mendasar”.

Dua ayat pertama pada pasal 12 diawali dengan pengajaran penting Paulus tentang konsep ibadah sejati. Ajakan dan ajaran Paulus mengenai kehidupan Kristen diawali dengan kata sapaan : saudara-saudara…. Aku menasehatkan kamu… Kata-kata pembukaan yang sama kita temukan dalam I Kor 1:10 ; II Kor 10:1 ; Ef. 4:1 dll. Sapaan saudara-saudara  ini biasa dipakai Paulus apabila mulai membicarakan perkara yang dianggapnya penting. (bnd. 10:1 ; 11:25 ; 15:30).

Ayat 1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Kata “Menasehatkan kamu” dalam ayat ini, Paulus mendesak jemaat Roma untuk melakukan ibadah sejati. Kata “menasihatkan” dalam terjemahan LAI terlalu halus. Terjemahan New American Standard Bible (NASB) menggunakan kata urgen (mendesak). Sedangkan banyak terjemahan Inggris menggunakan kata yang berarti memohon (beseech, pleased, dll) Dari struktur bahasa Yunani, kata ini menggunakan bentuk orang pertama, tunggal, waktu sekarang (present), aktif, dan indikatif. Lalu apa signifikansinya dari struktur bahasa Yunani ini?

Dari struktur bahasa Yunani ini, kita bisa belajar bahwa betapa pentingnya dorongan/desakan Paulus ini di dalam beberapa hal antara lain :

Pertama, permohonan/desakan Paulus bersifat langsung (bentuk kata ganti orang pertama). Kata menasehatkan kamu dalam bahasa  Yunani  Parakalein  muncul dengan arti yang berbeda-beda, yaitu : Memohon (II Kor 12:8), Mendorong untuk bertobat  (Kis 2:40) Menasihatkan (Ro. 12:8) Menghibur ( II Kor. 1:4,6)  Kata “menasihatkan” di sini menggunakan bentuk kata ganti orang pertama. Di dalam bahasa Inggris, kita mengerti contohnya, yaitu penggunaan subjek I, you, dll sebagai bentuk kata ganti orang pertama. Nasihat yang menggunakan bentuk seperti ini adalah nasihat yang langsung ditujukan kepada jemaat Roma agar mereka menunaikan ibadah yang benar .

Kedua, permohonan Paulus ini bersifat tunggal. Artinya, nasihat ini berlaku untuk masing-masing individu jemaat Roma, bukan borongan. Dengan kata lain, Tuhan melalui Paulus mengajar masing-masing pribadi jemaat Roma agar mereka masing-masing beribadah dengan konsep yang benar kepada Tuhan. Ibadah sejati bukanlah ibadah borongan, tetapi ibadah pribadi kepada Tuhan (meskipun tentu tetap memperhatikan konsep persekutuan di dalam ibadah).

Ketiga, permohonan ini penting dan berlaku sekarang. Artinya, nasihat ini tidak berlaku untuk waktu mendatang, tetapi sekarang. Dengan kata lain, nasihat ini memiliki tingkat urgensi tinggi. Tuhan melalui Paulus mengingatkan agar jemaat Roma setelah mendapatkan banyak doktrin iman Kristen, mereka langsung mengaplikasikannya ke dalam kehidupan mereka sehari-hari di dalam ibadah. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita yang sudah banyak belajar theologi, kita makin dingin, kering, statis, dan tidak ada perubahan? Biarlah kita mengoreksi spiritualitas dan praktik hidup kita?

Keempat, permohonan ini bersifat aktif. Aplikasi doktrin bukanlah pasif, tetapi aktif. Aktif di sini harus diartikan bahwa kita bisa melakukan perbuatan/ibadah yang memuliakan Tuhan hanya karena anugerah Allah melalui Roh Kudus. Tetapi jangan salah mengerti dan dibalik bahwa kita tidak berbuat apa-apa dengan alasan menunggu Roh Kudus bekerja di dalam kita. Di sini, uniknya, Paulus menggunakan bentuk aktif di dalam kata “menasihatkan,” berarti nasihat ini harus dilakukan secara aktif, bukan menunggu pimpinan Roh Kudus atau yang lain.

Nasihat ini bukan nasihat biasa, tetapi Paulus mengatakan bahwa nasihat ini diberikan demi kemurahan Allah. Kemurahan Allah ini bukan hanya hiburan. Tetapi lebih dari pada itu Kemurahan Allah telah menyelamatkan  manusia berdosa, Tuhan telah meneguhkan kembali haknya atas ciptaanNya itu. (telah dibahas dalam pasal 1-11).Kemurahan Allah bisa diterjemahkan belas kasihan Allah (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 862). Apa signifikansinya? Nasihat ini yang dikaitkan dengan belas kasihan Allah berarti Paulus ingin menasihati jemaat Roma agar mereka beribadah secara benar kepada Allah dengan mengingat belas kasihan-Nya yang telah memilih dan menetapkan mereka sebagai anak-anak-Nya. Seringkali para pemimpin gereja menasihati jemaatnya untuk memuliakan Tuhan, mereka menasihati sekaligus menakuti jemaat dengan murka Allah. Hal ini tidak salah, tetapi itu adalah separuh kebenaran. Paulus mendorong umat Tuhan untuk beribadah secara benar bukan dengan menakuti mereka, tetapi mengingatkan mereka akan belas kasihan-Nya kepada mereka. Hal ini juga berlaku bagi kita saat ini. Ingatlah, Tuhan telah menyelamatkan kita dari jurang kegelapan dan maut dengan mengangkat kita untuk bertemu dengan terang-Nya yang ajaib di dalam Kristus, oleh karena itu, biarlah kasih setia dan belas kasihan-Nya ini mendorong dan memimpin langkah hidup kita untuk makin memuliakan Tuhan selama-lamanya.

Lalu, nasihat apakah yang Paulus berikan sehingga nasihat ini begitu penting ?

Dari ayat 1, kita belajar beberapa konsep penting tentang makna ibadah yang sejati:

 

1.     Ibadah sejati adalah ibadah totalitas. Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa ibadah sejati bukanlah ibadah fenomenal, kelihatan aktif di berbagai kegiatan gereja. Namun Ibadah sejati adalah ibadah totalitas, artinya menyeluruh di dalam seluruh aspek hidup kita. Hal ini diajarkan Paulus di dalam ayat ini dengan mengatakan  bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan/kurban yang hidup. Kata “mempersembahkan” dalam bahasa Yunani  Paristanai   yang dipakai disini sudah  kita temukan pula didalam 6:13,16,19. Disitu, pemakaiannya berkaitan dengan suasana lingkungan  istana: menyediakan , mengabdikan kepada raja (bnd 6:13)  Sebaliknya  disini  kata Paristanai  merupakan  istilah peribadatan dalam lingkungan Bait Allah : mempersembahkan (kurban). Artinya itu ditegaskan oleh pemakaian “persembahan” (kurban). Jadi gagasan dasar disini =  yang terdapat dalam 6:12-14 (penyerahan diri kepada Allah secara total), namun penjabarannya berbeda.Kata Paristanai yang dipergunakan di sini menggunakan bentuk aktif. Berarti, ibadah sejati adalah ibadah yang terjadi ketika kita secara aktif mempersembahkan/menyembahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Itulah arti berserah total. Berserah adalah kita berani menyerahkan seluruh hidup kita dikuasai oleh Kristus sebagai Tuhan, Raja, dan Pemerintah hidup kita. Dengan kata lain, kita juga harus berani menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Ketika kita berserah, di saat yang sama kita menyangkal diri untuk mengatakan “tidak” kepada kehendak kita dan mengatakan “ya” kepada kehendak-Nya. Hal ini diteladani sendiri oleh penulis surat Roma, yaitu Paulus. Paulus adalah salah satu rasul Kristus yang sudah menyerahkan totalitas hidupnya kepada Kristus (Flp. 1:21), dan di saat yang sama, ia bisa mematikan kehendaknya yang berlawanan dengan kehendak Allah. Kapan Paulus berani mematikan kehendak dirinya sendiri? Ketika Paulus mendapatkan suatu hambatan (baca: II Kor. 12:7-9). Para penafsir tidak sepakat ketika menafsirkan arti “duri dalam daging” di dalam II Kor. 12:7 ini. Ada yang menafsirkan penyakit, ada juga yang menafsirkan hambatan/halangan dalam pelayanan Paulus. Intinya hanya satu: tantangan/hambatan dalam pelayanan Paulus (bisa berupa penyakit, dll). Ketika Tuhan menguji Paulus dengan “duri dalam daging”, Paulus pernah berdoa 3x memohon agar Tuhan mencabut duri itu, tetapi Tuhan menolaknya, dan Paulus taat (baca II Kor 12: 9-10). Bahkan di dalam penderitaan, Paulus pun dengan berani tetap percaya kepada-Nya (II Tim. 1:12). Biarlah kita meneladani Paulus sebagai rasul Kristus yang telah menjalankan apa yang diajarkannya sendiri di bagain ini. Adalah suatu yang tidak masuk akal jika orang yang menyanyikan “Aku Berserah”, tetapi masih percaya kepada kehendak diri yang lebih baik daripada kehendak Tuhan.

 

2.     Ibadah sejati adalah ibadah yang kudus. Bukan saja sebagai kurban/persembahan yang hidup, Paulus juga menasihatkan jemaat Roma agar mereka juga mempersembahkan tubuh mereka sebagai kurban yang kudus. Kudus berarti dipisahkan (separated). Dengan kata lain, dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus, berarti kita memiliki keunikan yang lain dari dunia ini. Paulus bukan hanya mempersembahkan tubuh/hidupnya sebagai kurban yang hidup, tetapi ia juga mempersembahkan hidupnya sebagai kurban yang kudus. Dari manakah ia mempersembahkan kurban yang kudus itu? Dari Roh Kudus. Roh Kudus yang telah menguduskan hidup Paulus dan umat Tuhan, Ia menuntut kita untuk mempersembahkan tubuh yang telah dikuduskan-Nya itu untuk dipakai memuliakan Tuhan. Kepada jemaat Korintus, Paulus mengajarkan konsep ini di dalam 1Kor. 6:19-20, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Melalui dua ayat ini, kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau dikuduskan Roh Kudus di dalam penebusan Kristus, sehingga kita harus memuliakan Tuhan melalui tubuh kita. Kata “tubuh” baik di dalam Roma 12:1 maupun 1Kor. 6:19-20 sama-sama menggunakan kata Yunani soma. Karena Roh Kudus yang telah menguduskan tubuh/hidup kita, maka kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus bagi-Nya yang berbeda dari dunia.

 

3.     Ibadah sejati adalah ibadah yang menyenangkan Allah. Bukan hanya hidup dan kudus, ibadah sejati adalah ibadah yang berkenan kepada Allah. Kata “berkenan kepada Allah” diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai “menyenangkan Allah” (hlm. 862). NASB, English Standard Version (ESV), Analytical-Literal Translation (ALT), Geneva Bible, Young’s Literal Translation (YLT), dll menerjemahkannya acceptable to God (dapat diterima/memuaskan bagi Allah). International Standard Version (ISV) menerjemahkannya pleasing to God (menyenangkan Allah). Dengan kata lain, ibadah yang berkenan kepada Allah adalah ibadah yang menyenangkan atau memuaskan Allah.

 Bagaimana ibadah bisa dikatakan menyenangkan Allah? Ibadah bisa menyenangkan Allah ketika ibadah dilakukan (baik di gereja ataupun kehidupan sehari-hari) bukan memuliakan diri, tetapi memuliakan Tuhan (God-centered worship). Ibadah yang memuliakan diri adalah ibadah yang menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sebagai objek dan subjek ibadah. Ini dilakukan oleh orang-orang kafir di dalam Alkitab. Mereka beribadah untuk mencari keuntungan. Tetapi ibadah yang berpusat pada Allah yang menyenangkan-Nya adalah ibadah yang memuliakan Dia saja (Soli Deo Gloria). Bukan hanya ibadah, pelayanan kita kepada Tuhan pun juga demikian. Di dalam pelayanan, pelayanan yang menyenangkan Allah adalah pelayanan yang berpusat dari Allah, oleh Allah, dan bagi Allah saja (Rm. 11:36). Sehingga pelayanan yang berpusat pada Allah adalah pelayanan yang tidak mencari keuntungan sendiri. Di dalam 2Kor. 2:17, Paulus menyatakan konsep pelayanan palsu vs sejati, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.” Di dalam ayat ini, Paulus memaparkan pelayanan yang palsu adalah pelayanan yang mau cari untung sendiri, sedangkan pelayanan yang menyenangkan Allah adalah pelayanan yang memuliakan-Nya dengan memberitakan firman Tuhan dengan murni dan jujur sesuai apa yang difirmankan-Nya.

Di dalam pelayanan firman, jangan pernah mengkompromikan kebenaran firman Tuhan. Ketika firman Tuhan berbicara keras kepada jemaat, sebagai hamba-Nya yang memberitakan firman-Nya, kita harus tegas dan keras berbicara dengan murni sesuai apa yang difirmankan-Nya di dalam Alkitab. Jangan pernah membuatnya lunak atau bahkan menghapuskannya. Teladanilah Paulus yang tidak segan-segan menuding kemunafikan Petrus (Gal. 2:11-14). Semua itu dilakukan Paulus karena ia mau melayani dengan kemurnian hati dan ia tidak suka melihat kemunafikan. Ingatlah, kalau Paulus membenci kemunafikan, apalagi Tuhan, Ia lebih membenci hamba-Nya yang munafik yang memperhalus berita firman Tuhan yang keras, tetapi Ia memuji hamba-Nya yang setia, taat dan jujur menyampaikan berita firman Tuhan yang keras. Itu yang Tuhan melalui Paulus ajarkan di dalam 2Kor. 2:17 ini. Ingatlah, jangan pernah mengukur konsep pelayanan dari kuantitas, tetapi kualitas apakah pelayanan itu God-centered atau man-centered. Biarlah kita menyelidiki motivasi sedalam-dalamnya hati kita tentang konsep pelayanan kita yang kita jalani.

Lalu, bagaimana kita menjalankan ibadah dan pelayanan yang memuliakan Tuhan? Sebuah slogan terkenal dari Rev. Dr. John S. Piper adalah, “God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.” (=Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita dipuaskan di dalam-Nya). Seolah-olah, slogan ini antroposentris, tetapi jika diselidiki kita menemukan kelimpahan maknanya. Dr. Piper menegaskan bahwa Allah itu paling dimuliakan di dalam kita BUKAN ketika kita (merasa) dipuaskan saja, tetapi dipuaskan DI DALAM Dia. Artinya, Allah itu sebagai sumber kepuasan ultimat yang di dalam-Nya kita menemukan anugerah, belas kasihan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dll, dan di dalam Dia saja kita semakin memuliakan-Nya. Ini mirip dengan jawaban pertanyaan di dalam Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 yang mengajar bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya.

Jadi, ibadah dan pelayanan yang memuliakan Allah adalah ibadah dan pelayanan yang menikmati Allah. Bagaimana menikmati Allah? Apakah suatu pengalaman ekstase yang tidak sadarkan diri? TIDAK! Menikmati Allah adalah menikmati Pribadi Allah dan firman-Nya. Menikmati Pribadi Allah berarti

  1. ada suatu pengenalan yang mendalam tentang Pribadi Allah. Paulus menikmati Pribadi Allah, sehingga ia berani mengatakan bahwa hidup baginya adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Seorang yang tidak pernah menikmati Allah tak akan pernah mungkin mengatakan hal seagung itu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berani mengatakan seperti Paulus bahwa hidup kita adalah Kristus di mana Kristus bertahta dan bertitah mutlak dalam hidup kita?
  2.  menikmati Pribadi Allah tidak bisa dilepaskan dari menikmati firman-Nya. Kita baru bisa mengenal Allah dengan benar melalui firman-Nya, Alkitab. Ibadah dan pelayanan kita tidak pernah menyenangkan Allah ketika ibadah dan pelayanan kita tidak didasari oleh konsep firman Tuhan yang beres. Berapa banyak kita melihat kekacauan konsep pelayanan? banyak orang yang mengklaim diri “melayani Tuhan,” tetapi sayangnya, ia aktif melayani Tuhan tanpa mengenal Pribadi yang dilayaninya. Mereka sibuk melayani sebagai panitia retret, kebaktian, KKR, seminar rohani, dll, tetapi ketika firman diberitakan pada saat acara-acara tersebut, dijamin kebanyakan mereka langsung mengambil posisi “saat teduh” (alias tidur). Mengapa? Karena mereka mau melayani “Tuhan”, tetapi tidak mau belajar firman Tuhan untuk lebih mengenal Pribadi yang mereka layani. Mari kita merombak konsep pelayanan kita. Ingatlah, ketika kita melayani Tuhan, perhatikanlah siapa yang kita layani dan kenalilah Pribadi yang kita layani itu melalui firman Tuhan.

Pelayanan tidak bisa dilepaskan dari firman Tuhan. Pelayanan yang mengabaikan konsep kebenaran firman Tuhan adalah pelayanan yang sia-sia dan antroposentris (berpusat kepada manusia), dan tentu saja, Tuhan muak dengan pelayanan tersebut, karena kita sebenarnya sedang melayani diri kita sendiri, bukan Tuhan (meskipun kita menggunakan topeng “Tuhan”). Bertobatlah dan introspeksilah diri kita masing-masing.

Ayat 2 : “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah ; apa yang baik, yang berkenan kepadas Allah dan yang sempurna”

 

Van den End dalam buku Tafsir Kitab Roma (2000-hal.567) menegaskan bahwa “Persembahan tubuh” dan “Ibadah” yang disebutkan dalam ayat 1 memiliki segi negative dan positif.

·       Segi negatifnya ialah : Orang Kristen tidak boleh lagi membiarkan pola hidupnya ditentukan oleh dunia. Terjemahan harafiahnya : “Jangan lagi biarkan dirimu menjadi sepola dengan dunia ini”. Arti kata “Dunia”  dalam bahasa Yunani aion sedangkan dalam kamus besar memakai kata eon yang berarti “masa yang panjang”, “masa hidup dunia” (bnd I Kor 1:20 ; 2:6). Tapi didalam Alkitab kita menemukan pula pandangan yang berakar dalam apokaliptik Yahudi, yaitu bahwa ada dua kata “eon”.  Eon yang satu sedang berlangsung sekarang,dan yang lainnya akan datang. Yang satu dikuasai oleh dosa, kerusakan, kematian; yang lainnya ditandai oleh kesempurnaan dan kehidupan. Dalam Roma 12 : 2 tambahan kata  ini  menunjuk kepada pengertian yang pertama. Maka kita dapat melihat asal istilah “dunia” mengandung  arti : “ dunia yang di kuasai dosa dan tidak sempurna”.

 

·       Segi Positifnya ialah : anjuran Paulus berbunyi : berubahlah oleh pembaharuan budimu . Dengan kata lain, terjemahan yang lebih tepat : ”biarlah rupamu diubah terus”. Rupa itu bukan hanya segi manusia yang lahiriah.Seperti yang nampak dalam Filipi 3:21, baik   pola  ataupun rupa  bagi Rasul Paulus mengandung pengertian : wujud yang menunjukkan hakikat.(Jadi perubahan yang diharapkan dari orang percaya itu bukan hanya lahiriahnya saja, tetapi lebih dari itu ialah perubahan hatinya, yang terwujud dalam seluruh kehidupan)

 

 Kata yang dipakai untuk pembaharuan budimu : anakainosis  nous. Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang dipakai unutkmenggambarkan sesuatu yang baru : Neos  ( baru menurut batasan waktu) dan Kainos (baru menurut sifat / hakikatnya). Contoh : Sebuah pabrik pensil yang baru adalah Neos ; tetapi orang yang dulunya adalah orang berdosa dan sekarang berada dalam jalan orang kudus adalah : Kainos. Pada saat Yesus masuk dalam kehidupannya orang itu adalah  baru;  pikirannya berbeda, karena pikiran Kristus ada didalam dia. Sedangkan untuk kata budimu, perkataan Yunani Nous “diterjemahkan budimu”  (muncul juga dalam 1:28 dan 7:23 dan 25).Terjemahan LAI memakai kata “pikiran”dan ”budi” .Kata “budi” yang dipakai karena dalam hubungan ini memang yang dimaksud ialah ; perubahan kelakuan manusia, bukan peubahan pada pikirannya saja. (Yang dimaksud ialah pusat dari kemauan kita, yang mengambil keputusan-keputusan yang menentukan tindakan kita ; bnd Amsal 4:23)

 

Ibadah yang sejati perlu diimbangi dengan perubahan yang radikal pula, untuk menyatakan gagasan ini William Barclay dalam PA Kitab Roma (2003 - hal. 235)  Kata yang ia pakai untuk kalimat “menjadi serupa dengan dunia ini” kata yunani yang hampir tidak dapat di terjemahkan “Suskhematizesthai” adalah bentuk  imperative (perintah).dari akar kata Skhema yang berarti ; “kerangka”, “pola”  dan  atau schema  yang berarti : “bentuk luar yang selalu berubah-ubah, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun”. Schema  seseorang tidak sama ketika ia berumur 17 thn dan ketika ia berumum 70 thn. Schema it uterus menerus berubah, oleh karena itu Paulus, berkata ; “Janganlah berusaha menyesuaikan kehidupanmu kepada kebiasaan-kebiasaan dunia; jangan menjadi seperti bunglon yang warnanya berubah-ubah,menurut lingkungannya.

Kata yang Paulus pakai untuk “berubahlah  dari dunia” yaitu ; Metamorphousthai  dari akar kata : Morphe, yang berarti ; “suatu bentuk / unsure pokok yang tidak berubah-ubah”. Orang mempunyai schema yang tidak sama pada umur 17 th dan 70 th, tetapi ia mempunyai morphe yang sama (bentuk luarnya berubah, tetapi dalam dirinya ialah pribadi yang sama) oleh karena itu kata Paulus untuk dapat beribadah dan melayani Allah, kita harus melalui suatu perubahan, bukan bentuk luar kita tetapi kepribadian yang ada didalam diri kita.

Tujuan dari semua ini, kata Paulus adalah ; Sehingga kamu dapat membedakan  manakah Kehendak Allah. Kata Membedakan  kata kerja Yunaninya Dokimazein ; yang berarti ; Memeriksa, menguji. Hal ini penting menurut Rasul Paulus karena dua alasan :

1)     Karena dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen diperhadapkan dengan berbagai keadaan. Seringkali sulit baginya untuk begitu saja menentukan sikap. Terlebih lagi saat ini, perkembangan terjadi dalam segala bidang kehidupan.Dalam semuanya itu orang Kristen dituntut untuk lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan segala sesuatu sebelum memutuskan manakah kehendak Allah.

2)     Kita “diajak untuk mengusahakan budi kita”, dalam mencari kehendak Allah, karena Alkitab bukanlah kitab hukum. Alkitab tidak menyajikan kepada kita peraturan sebagai penunjuk jalan kepada orang Kristen sekaligus mengikatnya.Sebab Injil itu bukan hukum  yang baru, tetapi justru memberikan kepada kita kekebasan anak-anak Allah ( roma 8:15 ; 21)

 

II. Roma 12: 3-9 …Membahas Tentang Gereja sebagai tubuh Kristus. “Masing-masing untuk semua dan semua untuk masing-masing”.

Ini merupakan keyakinan terbesar dari Rasul Paulus bahwa sebenarnya Jemaat Kristus harus demikian, tiap bagian tubuh mempunyai tugas yang harus dilaksanakan; hanya dengan melaksanakan tugasnya masing-masing maka tubuh Kristus / Gereja berfungsi  sebagaimana mestinya. (bnd I Kor 12: 12-27)

Dalam pasal 12:3-8 ini, secara rinci Rasul Paulus memaparkan tentang pentingnya sebuah peraturan bagi kehidupan seorang Kristen.Mengapa peraturan itu begitu penting bagi Paulus ?

1)     Peraturan-peraturan itu mendorong  kita untuk mengenal diri sendiri (ay. 3), ini penting  menurut Paulus karena tidak mungkin kita dapat mencapai banyak hal didunia ini tanpa kita mengenal apa yang dapat dan apa yang tidak dapat kita kerjakan. Suatu penilaian yang jujur terhadap kemampuan diri kita sendiri.

2)     Peraturan –peraturan itu mendorong kita untuk menerima diri kita sendiri dan memakai karunia yang telah diberikan Tuhan kepada kita, dan tidak boleh iri akan karunia orang lain yang belum diberikan kepada kita (ay. 4-6)

3)     Paulus dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa karunia apapun yang dimiliki oleh manusia , semuanya itu berasal dari Allah (ay. 6) Paulus menyebut Karunia itu Charismata – dalam PB Charisma adalah “sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia, yang ia sendiri tidak mampu memperolehnya/ mencapainya dengan kekuatan sendiri”. Yang paling penting untuk diingat adalah bahwa apapun karunia seseorang, ia harus menggunakannya untuk memuliakan Allah.

 

III. Roma 12: 9-13…Orang Kristen dalam tindakan sehari-hari.

Dalam ayat ini, Paulus memberikan 12 prinsip hidup Kristen untuk kehidupan sehari-hari, antara lain :

  1. Kasih itu jangan pura-pura.
  2. Harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik.
  3. Harus saling mengasihi dalam kasih persaudaraan.Kata yang Paulus pakai untuk kata Mengasihi “ Philostorgos, dari akar kata ; storge, yaitu kata Yunani untuk kasih dalam keluarga.Kita harus saling mengasihi karena kita adalah anggota dari satu keluarga.
  4. Kita harus saling mendahului didalam memberikan hormat.
  5. Kerajinan kita harus tidak kendor.
  6. Harus memelihara roh kita supaya tetap bernyala-nyala.
  7. Pergunakanlah kesempatan-kesempatan yang ada.Kehidupan memberikan kepada kita berbagai kesempatan yang ada untuk mempelajari sesuatu yang baru / membuang sesuatu yang buruk ; kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata nasehat/ peringatan ; kesempatan untuk menolong / menguatkan, dll.
  8. Harus bersukacita dalam pengharapan
  9. Menghadapi kesesakan dengan kemenangan  kesabaran (bnd. Daniel 3:24-25)
  10. Harus bertekun dalam doa.
  11. Harus membantu mereka yang ada dalam kekurangan.
  12. Orang Kristen harus memberikan tumpangan.Berkali-kali PB menegaskan tentang kewajiban untuk membuka pintu (Ibr.13:2 ; I Tim 3:2 ; Titus 1:8)               Tyndale memakai satu kata yang tepat ketika ia menterjemahkannya, bahwa Orang Kristen harusnya mempunyai watak seperti pelabuhan. Rumah tangga tidak pernah akan bahagia apabila ia hidup untuk dirinya sendiri. Kekristenan adalah agama dari tangan-tangan yang terbuka, hati yang terbuka dan pintu yang terbuka.

 

IV. Roma 12: 14-21…Orang Kristen dan sesamanya

Paulus mengakhirinya dengan memberikan serangkaian peraturan dan prinsip yang diperlukan untuk menentukan hubungan  orang Kristen dengan sesamanya, antara lain ;

a)     Orang Kristen harus menghadapi siksaan dengan doa dan bagi mereka yang menyiksanya.

b)     Harus bersukacita dengan mereka yang bersukacita dan menangis dengan mereka yang menangis.

c)     Harus dapat hidup bersama.

d)     Harus emnghindarkan diri dari segala kesombongan dan kebanggaan pribadi.

e)     Kelakuan kita harus baik pada semua orang.

f)      Harus berdamai dengan semua orang (ay. 18)

g)     Harus menahan diri dari segala keinginan untuk membalas dendam;

karena ;

o   Pembalasan bukan milik kita melainkan milik Allah.

o   Memperlakukan orang dengan kemurahan hati dan tidak dengan keinginan membalas dendam, adalah jalan untuk mengubah orang itu (ay.20) Jika kita bisa bermurah hati kepada musuh-musuh kita, kata  Paulus ; kita akan menumpukkan bara api keatas kepalanya, Artinya :bukan memberikan hukuman yang lebih berat, melainkan dengan jalan ini akan mendorong mereka untuk merasa malu.

o   Membalas dendam berarti ; kita sendiri dikalahkan oleh kejahatan.

 

KESIMPULAN :

·       Rangkuman dari semua penjelasan diatas (4 point besar yang telah dijabarkan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...