IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pengarang : Hilda Karli
Penerbit : Bina Media Informasi
Jumlah Halaman : 120
Garis Besar Isi :
Dalam tulisannya ini, Hilda karli berupaya untuk memaparkan beberapa metodologi pembelajaran yang saat ini sangat mempengaruhi dunia pendidikan secara umum. Beberapa metodologi tersebut meliputi :
Model Pembelajaran Kontruktivisme.
Model Kontruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintergrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan /modifikasi struktur kognitif(skemata) untuk mencapai keseimbangan. Model konstruktivisme dalam pembelajaran adalam suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuan, yang dilandasi oleh struktur kongnitif yang telah dimiliki.
Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyrakat (STM)
Model pembelajaran STM merupakan proses saat siswa berfikir dan berkerja untuk mencoba mengetahui lebih jauh masalah yang terjadi, saat siswa mengaplikasikan antara konsep dengan masalah serta ide untuk memecahkan masalah tersebut serta sikap positif terhadap masalah yang dihadapi. Suatu ide yang baik bila isu yang tengah terjadi di masyarakat dijadikan topik dalam pembelajaran di kelas yang berpusat pada siswa.
Metode Pembelajaran Belajar Kooperatif.
Metode belajar kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam berkerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih untuk memecahkan masalah. Beberapa karakteristik pendekatan belajar kooperatif, antara lain: individual accountability , social skills, positif interdependence, dan group processing.
Model Pembelajaran Interaktif.
Model pembelajaran interaktif memberikan struktur pengajaran sains yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan atas pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai cirri utamanya. Ciri utama pembelajaran ini adalah siswa diajak untuk berfikir tentang konsep yang akan dipelajarinya kemudian direfleksikan melalui perasaan ingin tahu dan diwujudkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan.
Interaksi/ Tanggapan :
Meskipun penjabaran dalam buku ini sangat singkat/ringkas namun secara umum buku ini sangat aplikatif karena dalam penyampaiannya disajikan juga contoh-contoh praktisnya baik dalam penyusunan kurikulum, materi, metodologi, media pembelajaran, maupun evaluasinya. Pembahasan yang ringkas dan lugas ini sangat membantu bagi para guru yang sedang diperhadapkan pada beberapa kesulitan dalam mengimplementasikan sebuah kurikulum yang relative masih baru, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Meskipun kurikulum ini perkenalkan sudah cukup lama namun teknis pelaksanaan dilapangan tidaklah semudah pemaparan teoritisnya dalam pelatihan-pelatihan, dengan beberapa contoh metodologi pembelajaran mutakhir tersebut seorang pendidik secara khusus guru-guru Kristen dituntun melakukan inovasi-inovasi model pembelajaran yang kreatif dan bermakna. Masih sangat sedikit sekolah dan guru yang memiliki kapabilitas untuk mengimplementasikan apa yang telag dipaparkan dalam buku ini.
Beberapa persoalan muncul ketika kita membaca buku ini, misalnya berkaitan dengan tingkat ketersediaan sumber daya manusia dan sarana prasarana penunjang pembelajaran karena hanya sebagian kecil sekolah, guru dan murid yang memiliki kesiapan untuk implementasi beberapa model tersebut. Konteks pendidikan di Indonesia yang masih sangat terbatas, berkaitan dengan ketersediaan sumber daya manusia terutama guru, system pendidikan yang masih konvensional, kurikulum yang cepat sekali mengalami perubahan, juga sarana dan prasarana penunjang pembelajaran yang sangat minim menjadikan implementasi metode ini menjadi sangat sulit. Beberapa pembenahan harus dimulai terlebih dahulu jika beberapa model pembelajaran tersebut ingin dilaksanakan, misalnya peningkatan kualitas SDM guru melalui pendidikan, pelatihan, maupun pembenahan kesejahteraannya. Dari aspek murid, pemerintah sudah harus sejak awal membentuk sebuah kurikulum terintegrasi bagi pendidikan sehingga sejak pendidikan usia dini anak sudah dilatih dengan beberapa model pembelajan kreatif karena jika tidak maka sebagaimanapun guru berhasrat untuk menerapakan metode-metode ini maka hal itu tidak akan berjalan efektif karena murid tidak siap dengan perubahan-perubahan itu. Dari segi kebijakan pemerintah berkaitan dengan kurikulum yang identic dengan “ganti menteri, ganti kurikulum” bahkan seringkali seorang menteri membuat kebijakan yang terus berubah, mejadikan kebingungan bagi semua pihak. Seringkali kurikulum yang satu belum sempat dipahami dan diimplementasikan secara tuntas, muncul kurikulum yang baru lagi. Kebijakan yang tidak konsisten ini menjadikan dunia pendidikan di Indonesia menjadi sangat fluktuatif.
Masalah lain yang seringkali muncul adalah lingkungan pendidikan yang cenderung anti perubahan. Paradigm stakeholder yang seringkali kurang reseptif terhadap inovasi-inovasi pembelajaran membuat terbatasnya ruang gerak perubahan, ditambah lagi dengan sarana penunjang yang sangat minim. Pemerintah dan masyarakat pendidikan masih mengkonsentrasikan seluruh daya upayanya untuk mengatasi keterbatasan sarana prasarana ini sehingga potensi-potensi masih terlalu banyak yang dicurahkan pada permasalahan ini. disparitas dunia pendidikan yang masih sangat kental memungkinkan terjadinya kesenjangan dalam implementasi beberapa metode pembelajaran karena di satu sisi ada satuan pendidikan yang sangat siap dalam segala hal dan bergerak maju secara cepat, namun di sisi lain ada sekolah yang sangat terpuruk dan sangat konvensional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar