Kehidupan Kristen Yang Alkitabiah
BAB I
PENDAHULUAN
Kehidupan Kristen yang sejati adalah kehidupan yang dibangun di atas dasar kebenaran Firman Tuhan/teologis, sedangkan sumber utama teologi kita ialah kitab-kitab kanonik, yaitu Kitab-Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang kebenarannya dapat diungkap melalui suatu penyelidikan secara mendalam dengan metode dan sarana yang tepat, dan tentunya juga menggunakan wawasan dari berbagai cabang pengetahuan lainnya. Dalam teologi kebenaran pernyataan itu disebut sebagai penyataan umum Allah, Sehingga dapatlah kita berkesimpulan bahwa teologi dan kehidupan Kristen unggul bukan terletak pada pembahasannya, warna teologinya dan kemampuan teolognya melainkan pada sumber teologinya, yaitu Alkitab.[1]
Teologi atau kebenaran doktrinal tidak hanya dimaksudkan untuk diinformasikan kepada pembaca saja, tapi melaluinya juga pembaca diharapkan juga menemukan aplikasi untuk kehidupan sehari-hari. Teologi Kristen bukan hanya untuk menemukan kebenaran yang sifatnya teoritis filosofis dan berhenti cukup di sana, tapi juga menuntun dan mengarahkan orang percaya untuk mampu mengaktualisasikan kebenaran iman Kristen tersebut dalam kehidupan keseharian seperti yang diungkapkan oleh Kenneth G.Howkins bahwa “the object of Christian theology is to explore, present and apply the Christian faith”[2]. Sangat disayangkan bahwa seringkali dari kaum Injili sendiri, dalam pergerakannya secara keseluruhan kebanyakan berorientasi bukan pada karakteristik spiritual, namun hanya pada masalah tugas-tugas teologi yang berfokus pada epistemology atau dimensi kognitif dari iman.[3] Jadi kebanyakan teolog Injili seringkali menghabiskan banyak waktunya hanya untuk mencari dan merumuskan dasar berpijak yang kuat bagi iman Kristen, tapi lupa memikirkan bagaimana mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehingga Gereja tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka sangat jelas bahwa kekristenan bukan sekedar perkumpulan pendirian yang tidak jelas terhadap dunia dan manusia, dan kekristenan bukan sekedar kumpulan perasaan dan emosi yang tidak terstruktur seperti yang diungkapkan oleh Alister McGrath bahwa kekristenan berpusat pada “Beliefs about Jesus Christ, which give rise to specific religious and moral attitudes to God, others human being, and the world. Jesus Christ is the beginning the center, and the end of the Christian message of Hope”[4] dan tujuan teologi Kristen juga sangat jelas yaitu untuk meyakinkan dunia tentang finalitas keselamatan yang hanya ada di dalam Kristus Yesus (sola gratia in Christo per fidem)[5] yang diaktualisasikan dalam pola hidup Kristen sehari-hari.
Kitab Roma, yang merupakan salah satu kitab Perjanjian Baru yang sangat kaya kebenaran doctrinal sebagai acuan bagi kehidupan Kristen, secara khusus pasal 12 yang merupakan peralihan dari pembahasan Paulus tentang doctrinal kepada kehidupan praktis. Pembahasan tentang eksposisi kitab Roma pasal 12 ini diharapkan memberikan sebuah landasan yang Alkitabiah bagi kehidupan Kristen yang dikehendaki oleh Allah.
BAB II
KEHIDUPAN KRISTEN YANG SEJATI
(EKSPOSISI ROMA PASAL 12)
A. LATAR BELAKANG KITAB ROMA
1. Sejarah Kota Roma
Didirikan oleh Romulus pada tahun 753
SM. Menjadi kota internasional karena di sana banyak berkumpul bangsa-bangsa
dari mancanegara. Juga menjadi kota kosmopolitan dan pusat dunia, baik secara
politik, keuangan maupun peradaban, tapi juga sekaligus kebobrokan moralnya.
Pada jaman PB, kota Roma juga menjadi target penginjilan yang tidak mudah
karena banyaknya para penentang/penganiaya orang Kristen, khususnya dari bangsa
Yahudi dan kafir.
2. Jemaat di Roma
Tidak diketahui secara jelas siapa yang mendirikan Jemaat Kristen di Roma. Namun demikian, ada kemungkinan penjelasannya adalah sebagai berikut. Pada peristiwa hari Pantekosta di Yerusalem ada juga penduduk Yahudi Roma yang hadir dan mendengar Injil dari kotbah Petrus lalu bertobat. Mereka itulah orang-orang yang akhirnya membawa Injil ke kota Roma. Atau bisa juga orang-orang Yahudi yang bertobat dan membawa Injil ke Roma, lalu membentuk Jemaat di Roma. Namun demikian yang jelas bukan Paulus yang mendirikan Jemaat Roma, karena Paulus sendiri tidak melakukan perjalanan misi ke Roma. Akwila dan Priskila adalah contoh Jemaat Roma yang diusir dari Roma pada masa pemerintahan Kladius (49M). Dan juga bukan oleh Petrus (Rom. 15:20). Tapi kemungkinan besar orang Yahudilah yang mendirikan, karena dari Surat Paulus diketahui banyak tradisi Yahudi yang sudah tertanam sejak pertama Jemaat itu berdiri.
Keadaan Jemaat pada waktu Paulus menulis Surat Roma keberadaan Jemaat Roma yang sebagian besar terdiri dari orang Yahudi akhirnya mengalami kesulitan besar karena penganiayaan yang dilakukan oleh Kaisar Cladius (41-54MM) terhadap orang-orang Yahudi, sehingga tinggallah jemaat non-Yahudi Kristen melanjutkan jemaat di Roma. Tapi setelah diganti oleh kaisar Nero, barulah jemaat Yahudi Kristen Roma kembali lagi ke Roma. Tapi justru karena kepulangan mereka itulah masalah di Jemaat mulai timbul. Jemaat Yahudi Kristen terkejut karena Jemaat Roma yang dilanjutkan oleh anggota non-Yahudi tidak lagi mengikuti tradisi Yahudi, misalnya Sunat. Timbullah pertanyaan besar: Apakah mungkin jemaat Kristen yang non-Yahudi harus melakukan "proselite" sebagai syarat untuk diselamatkan.
B. PENULIS, TAHUN DAN TEMPAT PENULISAN
Penulis Surat Roma adalah Paulus, seperti yang disebutkan dalam pembukaan Surat Roma (1:1). Juga kisah biografi Paulus yang terdapat dalam Rom. ps. 15 dan 16 cukup memberi bukti bahwa Pauluslah yang menulis Surat Roma. Tidak ada perlawanan terhadap pendapat ini. Hal yang sedikit dipertanyakan adalah keraguan terhadap keaslian penulisan Paulus atau kemungkinan bahwa Surat itu didektekan oleh Paulus kepada penulisnya. Namun alasan yang diajukan tidaklah cukup meyakinkan dan jarang orang memperdebatkannya.
Diperkirakan Surat Roma ditulis sekitar tahun 55-57 M, yaitu sebelum perjalanan kunjungannya ke Yerusalem untuk membawa persembahan/bantuan kepada orang-orang kudus di Yerusalem (Rom. 15:25; Kis. 24:17). Tapi baru selang beberapa waktu kemudian surat itu sampai ke jemaat di Roma, setelah melalui perjalanan panjang untuk sampai ke Roma (dibawa oleh Febe). Saat itu kemungkinan Paulus sedang mengarahkan perhatian ke Barat, itu sebabnya dalam suratnya Paulus juga menyebut keinginannya untuk mengunjungi jemaat di Roma (Rom. 15:24).
Kemungkinan besar pada waktu Paulus menulis Surat Roma ia sedang ada/menetap di Korintus, karena dalam suratnya Paulus menyebut tentang Febe yang adalah anggota gereja Korintus (Rom. 16:1) dan Gayus sebagai tuan rumah yang memberi tumpangan untuk Paulus di Korintus (Rom. 16:23; 1 Kor. 1:14).
C. PEMBACA/PENERIMA SURAT
Surat ini ditujukan Paulus untuk orang-orang Kristen di kota Roma (1:7) Karena Jemaat Roma memiliki 2 latar belakang golongan, maka Surat inipun terlihat kadang-kadang ditujukan khusus untuk orang Yahudi (4:1) tapi kadang jugaditujukan untuk orang non-Yahudi (1:5, 11:13, 11:28-31) Namun demikian ada keraguan mengenai hubungan Paulus dengan Jemaat Roma, karena Paulus sendiri belum pernah ke sana.
D. TEMA UTAMA
Tema utama Surat Roma adalah tentang Keselamatan. Sifat Allah yang suci dan adil menuntut manusia untuk dihukum sebagai upah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Manusia tidak mungkin terlepas dari hukuman kecuali Yesus menggantikan kedudukan manusia. Hanya Yesus sajalah, manusia benar yang dapat memenuhi tuntutan keadilan Allah itu (Rom 3:23-26).
Puncak kebaikan dan kasih Allah adalah
Kristus mati berkorban sekalipun kita masih berdosa. Kebaikan Allah menolak
kemungkinan bahwa Allah tidak adil (9:15) atau disalah gunakan (Rom. 6:14). Kedaulatan
Allah dalam menentukan umat pilihanNya (Rom. ps 8-10). Pernyataan Paulus
menimbulkan kesulitan, namun demikian hasilnya justru membawa kepujian kepada
Tuhan (11:33-36). Hukum Allah tetap berlaku, sebagai cermin bagi dosa (Rom. ps.
7), namun hukum Taurat tidak mungkin menyelamatkan, kecuali dijalankan secara
sempurna. Yesuslah yang telah memenuhi hukum Taurat.
E. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Polemik
Ditujukan secara khusus untuk jemaat Yahudi Kristen, sebagai sanggahan terhadap kesalahan dalam doktrin keselamatan
2. Tujuan Pendamaian
Masalah doktrinal itu akhirnya menjadi perselisihan antara jemaat Kristen Yahudi dan non- Yahudi, karena jemaat non-Yahudi dipaksa untuk mengikuti tradisi Yahudi untuk menjadi Kristen. Paulus dengan tegas memperingatkan bahaya yang mengancam kesatuan jemaat.
3. Penekanan Doktrin yang benar
Surat Roma sangat sarat dengan doktrin, khususnya doktrin tentang keselamatan hanya melalui iman, walaupun sebenarnya Paulus tidak seluruhnya mengkonsentrasikan pada doktrin. Tapi karena kebutuhan jemaat Roma saat itu, maka Paulus merasa perlu memberikan dasar bagi pemahaman yang benar.
4. Tujuan Urgensi
Mungkin masalah dalam Jemaat di Roma didapat dari laporan Akwila dan Priskila. Ketika mendengar hal itu Paulus ingin pergi ke Roma, tapi kemungkinan itu kelihatannya tidak mungkin (Rom. 15:23). Maka sebagai ganti kunjungannya ia menulis Surat Roma dan dititipkan kepada Febe yang saat itu sedang dalam perjalanan ke Roma (Rom. 16:1,2).
F. GARIS BESAR ISI SURAT ROMA
I. Rom 1:1-17 Pendahuluan
Rom 1:18-3:20 Kebutuhan Mendesak Manusia Akan Kebenaran
A. Rom 1:18-32 Kebutuhan Orang Bukan Yahudi
B. Rom 2:1-3:8 Kebutuhan Orang Yahudi
C. Rom 3:9-20 Kebutuhan Semua Orang
II. Rom 3:21-5:21 Penyediaan Kebenaran yang Mulia oleh Allah
A. Rom 3:21-31 Pembenaran oleh Iman Diringkaskan
B. Rom 4:1-25 Pembenaran oleh Iman Digambarkan Dalam Abraham
C. Rom 5:1-11 Berkat dan Keyakinan yang Menyertai Pembenaran
D. Rom 5:12-21 Adam dan Kristus Dibandingkan
1. Adam/Dosa/Penjatuhan Hukuman/Kematian
2. Kristus/Kasih Karunia/Pembenaran/Hidup
III. Rom 6:1-8:39 Kebenaran Berkarya Melalui Iman
A. Rom 6:1-23 Kebebasan dari Perbudakan Dosa
1. Rom 6:1-14 Mati Bersama Kristus terhadap Dosa
2. Rom 6:15-23 Hidup Bersama Kristus sebagai Hamba Kebenaran
B. Rom 7:1-25 Kebebasan dari Pertentangan di Bawah Hukum Taurat
C. Rom 8:1-39 Kebebasan Melalui Hukum Roh Kehidupan
IV. Rom 9:1-11:36 Kebenaran oleh Iman Berkaitan dengan Israel
A. Rom 9:1-10:21 Persoalan Penolakan Israel
B. Rom 11:1-36 Kemenangan Rencana Allah
V. Rom 12:1-15:13 Penerapan Praktis dari Kebenaran oleh Iman
A. Rom 12:1-2 Orang Percaya dan Penyerahan Diri
B. Rom 12:3-21 Orang Percaya dan Masyarakat
C. Rom 13:1-7 Orang Percaya dan Pemerintah
D. Rom 13:8-15:13 Orang Percaya dan Hukum Kasih
Rom 15:14-16:27 Penutup
G. EKSPOSISI KITAB ROMA PASAL 12
1. Konsep Ibadah Yang Benar & Perubahan Yang Mendasar (Rom 12: 1-2 )
Dua ayat pertama pada pasal 12 diawali dengan pengajaran penting Paulus tentang konsep ibadah sejati. Ajakan dan ajaran Paulus mengenai kehidupan Kristen diawali dengan kata sapaan : saudara-saudara…. Aku menasehatkan kamu… Kata-kata pembukaan yang sama kita temukan dalam I Kor 1:10 ; II Kor 10:1 ; Ef. 4:1 dll. Sapaan saudara-saudara ini biasa dipakai Paulus apabila mulai membicarakan perkara yang dianggapnya penting. (bnd. 10:1 ; 11:25 ; 15:30).
Ayat 1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Kata “Menasehatkan kamu” dalam ayat ini, Paulus mendesak jemaat Roma untuk melakukan ibadah sejati. Kata “menasihatkan” dalam terjemahan LAI terlalu halus. Terjemahan New American Standard Bible (NASB) menggunakan kata urgen (mendesak). Sedangkan banyak terjemahan Inggris menggunakan kata yang berarti memohon (beseech, pleased, dll) Dari struktur bahasa Yunani, kata ini menggunakan bentuk orang pertama, tunggal, waktu sekarang (present), aktif, dan indikatif. Lalu apa signifikansinya dari struktur bahasa Yunani ini?
Dari struktur bahasa Yunani ini, kita bisa belajar bahwa betapa pentingnya dorongan/desakan Paulus ini di dalam beberapa hal antara lain :
Pertama, permohonan/desakan Paulus bersifat langsung (bentuk kata ganti orang pertama). Kata menasehatkan kamu dalam bahasa Yunani Parakalein muncul dengan arti yang berbeda-beda, yaitu : Memohon (II Kor 12:8), Mendorong untuk bertobat (Kis 2:40) Menasihatkan (Ro. 12:8) Menghibur ( II Kor. 1:4,6) Kata “menasihatkan” di sini menggunakan bentuk kata ganti orang pertama. Di dalam bahasa Inggris, kita mengerti contohnya, yaitu penggunaan subjek I, you, dll sebagai bentuk kata ganti orang pertama. Nasihat yang menggunakan bentuk seperti ini adalah nasihat yang langsung ditujukan kepada jemaat Roma agar mereka menunaikan ibadah yang benar .
Kedua, permohonan Paulus ini bersifat tunggal. Artinya, nasihat ini berlaku untuk masing-masing individu jemaat Roma, bukan borongan. Dengan kata lain, Tuhan melalui Paulus mengajar masing-masing pribadi jemaat Roma agar mereka masing-masing beribadah dengan konsep yang benar kepada Tuhan. Ibadah sejati bukanlah ibadah borongan, tetapi ibadah pribadi kepada Tuhan (meskipun tentu tetap memperhatikan konsep persekutuan di dalam ibadah).
Ketiga, permohonan ini penting dan berlaku sekarang. Artinya, nasihat ini tidak berlaku untuk waktu mendatang, tetapi sekarang. Dengan kata lain, nasihat ini memiliki tingkat urgensi tinggi. Tuhan melalui Paulus mengingatkan agar jemaat Roma setelah mendapatkan banyak doktrin iman Kristen, mereka langsung mengaplikasikannya ke dalam kehidupan mereka sehari-hari di dalam ibadah. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita yang sudah banyak belajar theologi, kita makin dingin, kering, statis, dan tidak ada perubahan? Biarlah kita mengoreksi spiritualitas dan praktik hidup kita?
Keempat, permohonan ini bersifat aktif. Aplikasi doktrin bukanlah pasif, tetapi aktif. Aktif di sini harus diartikan bahwa kita bisa melakukan perbuatan/ibadah yang memuliakan Tuhan hanya karena anugerah Allah melalui Roh Kudus. Tetapi jangan salah mengerti dan dibalik bahwa kita tidak berbuat apa-apa dengan alasan menunggu Roh Kudus bekerja di dalam kita. Di sini, uniknya, Paulus menggunakan bentuk aktif di dalam kata “menasihatkan,” berarti nasihat ini harus dilakukan secara aktif, bukan menunggu pimpinan Roh Kudus atau yang lain.
Nasihat ini bukan nasihat biasa, tetapi Paulus mengatakan bahwa nasihat ini diberikan demi kemurahan Allah. Kemurahan Allah ini bukan hanya hiburan. Tetapi lebih dari pada itu Kemurahan Allah telah menyelamatkan manusia berdosa, Tuhan telah meneguhkan kembali haknya atas ciptaanNya itu. (telah dibahas dalam pasal 1-11).Kemurahan Allah bisa diterjemahkan belas kasihan Allah (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 862). Apa signifikansinya? Nasihat ini yang dikaitkan dengan belas kasihan Allah berarti Paulus ingin menasihati jemaat Roma agar mereka beribadah secara benar kepada Allah dengan mengingat belas kasihan-Nya yang telah memilih dan menetapkan mereka sebagai anak-anak-Nya. Seringkali para pemimpin gereja menasihati jemaatnya untuk memuliakan Tuhan, mereka menasihati sekaligus menakuti jemaat dengan murka Allah. Hal ini tidak salah, tetapi itu adalah separuh kebenaran. Paulus mendorong umat Tuhan untuk beribadah secara benar bukan dengan menakuti mereka, tetapi mengingatkan mereka akan belas kasihan-Nya kepada mereka. Hal ini juga berlaku bagi kita saat ini. Ingatlah, Tuhan telah menyelamatkan kita dari jurang kegelapan dan maut dengan mengangkat kita untuk bertemu dengan terang-Nya yang ajaib di dalam Kristus, oleh karena itu, biarlah kasih setia dan belas kasihan-Nya ini mendorong dan memimpin langkah hidup kita untuk makin memuliakan Tuhan selama-lamanya.
Lalu, nasihat apakah yang Paulus berikan sehingga nasihat ini begitu penting ?
Dari ayat 1, kita belajar beberapa konsep penting tentang makna ibadah yang sejati:
a. Ibadah sejati adalah ibadah totalitas. Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa ibadah sejati bukanlah ibadah fenomenal, kelihatan aktif di berbagai kegiatan gereja. Namun Ibadah sejati adalah ibadah totalitas, artinya menyeluruh di dalam seluruh aspek hidup kita. Hal ini diajarkan Paulus di dalam ayat ini dengan mengatakan bahwa kita harus “mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan/kurban yang hidup“. Kata “mempersembahkan” dalam bahasa Yunani Paristanai yang dipakai disini sudah kita temukan pula didalam 6:13,16,19. Disitu, pemakaiannya berkaitan dengan suasana lingkungan istana: menyediakan , mengabdikan kepada raja (bnd 6:13) Sebaliknya disini kata Paristanai merupakan istilah peribadatan dalam lingkungan Bait Allah : mempersembahkan (kurban). Artinya itu ditegaskan oleh pemakaian “persembahan” (kurban). Jadi gagasan dasar disini = yang terdapat dalam 6:12-14 (penyerahan diri kepada Allah secara total), namun penjabarannya berbeda.Kata Paristanai yang dipergunakan di sini menggunakan bentuk aktif. Berarti, ibadah sejati adalah ibadah yang terjadi ketika kita secara aktif mempersembahkan/menyembahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Itulah arti berserah total. Berserah adalah kita berani menyerahkan seluruh hidup kita dikuasai oleh Kristus sebagai Tuhan, Raja, dan Pemerintah hidup kita. Dengan kata lain, kita juga harus berani menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Ketika kita berserah, di saat yang sama kita menyangkal diri untuk mengatakan “tidak” kepada kehendak kita dan mengatakan “ya” kepada kehendak-Nya. Hal ini diteladani sendiri oleh penulis surat Roma, yaitu Paulus. Paulus adalah salah satu rasul Kristus yang sudah menyerahkan totalitas hidupnya kepada Kristus (Flp. 1:21), dan di saat yang sama, ia bisa mematikan kehendaknya yang berlawanan dengan kehendak Allah. Kapan Paulus berani mematikan kehendak dirinya sendiri? Ketika Paulus mendapatkan suatu hambatan (baca: II Kor. 12:7-9). Para penafsir tidak sepakat ketika menafsirkan arti “duri dalam daging” di dalam II Kor. 12:7 ini. Ada yang menafsirkan penyakit, ada juga yang menafsirkan hambatan/halangan dalam pelayanan Paulus. Intinya hanya satu: tantangan/hambatan dalam pelayanan Paulus (bisa berupa penyakit, dll). Ketika Tuhan menguji Paulus dengan “duri dalam daging”, Paulus pernah berdoa 3x memohon agar Tuhan mencabut duri itu, tetapi Tuhan menolaknya, dan Paulus taat (baca II Kor 12: 9-10). Bahkan di dalam penderitaan, Paulus pun dengan berani tetap percaya kepada-Nya (II Tim. 1:12). Biarlah kita meneladani Paulus sebagai rasul Kristus yang telah menjalankan apa yang diajarkannya sendiri di bagain ini. Adalah suatu yang tidak masuk akal jika orang yang menyanyikan “Aku Berserah”, tetapi masih percaya kepada kehendak diri yang lebih baik daripada kehendak Tuhan.
b. Ibadah sejati adalah ibadah yang kudus. Bukan saja sebagai kurban/persembahan yang hidup, Paulus juga menasihatkan jemaat Roma agar mereka juga mempersembahkan tubuh mereka sebagai kurban yang kudus. Kudus berarti dipisahkan (separated). Dengan kata lain, dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus, berarti kita memiliki keunikan yang lain dari dunia ini. Paulus bukan hanya mempersembahkan tubuh/hidupnya sebagai kurban yang hidup, tetapi ia juga mempersembahkan hidupnya sebagai kurban yang kudus. Dari manakah ia mempersembahkan kurban yang kudus itu? Dari Roh Kudus. Roh Kudus yang telah menguduskan hidup Paulus dan umat Tuhan, Ia menuntut kita untuk mempersembahkan tubuh yang telah dikuduskan-Nya itu untuk dipakai memuliakan Tuhan. Kepada jemaat Korintus, Paulus mengajarkan konsep ini di dalam 1Kor. 6:19-20, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Melalui dua ayat ini, kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau dikuduskan Roh Kudus di dalam penebusan Kristus, sehingga kita harus memuliakan Tuhan melalui tubuh kita. Kata “tubuh” baik di dalam Roma 12:1 maupun 1Kor. 6:19-20 sama-sama menggunakan kata Yunani soma. Karena Roh Kudus yang telah menguduskan tubuh/hidup kita, maka kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus bagi-Nya yang berbeda dari dunia.
c. Ibadah sejati adalah ibadah yang menyenangkan Allah. Bukan hanya hidup dan kudus, ibadah sejati adalah ibadah yang berkenan kepada Allah. Kata “berkenan kepada Allah” diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai “menyenangkan Allah” (hlm. 862). NASB, English Standard Version (ESV), Analytical-Literal Translation (ALT), Geneva Bible, Young’s Literal Translation (YLT), dll menerjemahkannya acceptable to God (dapat diterima/memuaskan bagi Allah). International Standard Version (ISV) menerjemahkannya pleasing to God (menyenangkan Allah). Dengan kata lain, ibadah yang berkenan kepada Allah adalah ibadah yang menyenangkan atau memuaskan Allah.
Bagaimana ibadah bisa dikatakan menyenangkan Allah? Ibadah bisa menyenangkan Allah ketika ibadah dilakukan (baik di gereja ataupun kehidupan sehari-hari) bukan memuliakan diri, tetapi memuliakan Tuhan (God-centered worship). Ibadah yang memuliakan diri adalah ibadah yang menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sebagai objek dan subjek ibadah. Ini dilakukan oleh orang-orang kafir di dalam Alkitab. Mereka beribadah untuk mencari keuntungan. Tetapi ibadah yang berpusat pada Allah yang menyenangkan-Nya adalah ibadah yang memuliakan Dia saja (Soli Deo Gloria). Bukan hanya ibadah, pelayanan kita kepada Tuhan pun juga demikian. Di dalam pelayanan, pelayanan yang menyenangkan Allah adalah pelayanan yang berpusat dari Allah, oleh Allah, dan bagi Allah saja (Rm. 11:36). Sehingga pelayanan yang berpusat pada Allah adalah pelayanan yang tidak mencari keuntungan sendiri. Di dalam 2Kor. 2:17, Paulus menyatakan konsep pelayanan palsu vs sejati, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.” Di dalam ayat ini, Paulus memaparkan pelayanan yang palsu adalah pelayanan yang mau cari untung sendiri, sedangkan pelayanan yang menyenangkan Allah adalah pelayanan yang memuliakan-Nya dengan memberitakan firman Tuhan dengan murni dan jujur sesuai apa yang difirmankan-Nya.
Di dalam pelayanan firman, jangan pernah mengkompromikan kebenaran firman Tuhan. Ketika firman Tuhan berbicara keras kepada jemaat, sebagai hamba-Nya yang memberitakan firman-Nya, kita harus tegas dan keras berbicara dengan murni sesuai apa yang difirmankan-Nya di dalam Alkitab. Jangan pernah membuatnya lunak atau bahkan menghapuskannya. Teladanilah Paulus yang tidak segan-segan menuding kemunafikan Petrus (Gal. 2:11-14). Semua itu dilakukan Paulus karena ia mau melayani dengan kemurnian hati dan ia tidak suka melihat kemunafikan. Ingatlah, kalau Paulus membenci kemunafikan, apalagi Tuhan, Ia lebih membenci hamba-Nya yang munafik yang memperhalus berita firman Tuhan yang keras, tetapi Ia memuji hamba-Nya yang setia, taat dan jujur menyampaikan berita firman Tuhan yang keras. Itu yang Tuhan melalui Paulus ajarkan di dalam 2Kor. 2:17 ini. Ingatlah, jangan pernah mengukur konsep pelayanan dari kuantitas, tetapi kualitas apakah pelayanan itu God-centered atau man-centered. Biarlah kita menyelidiki motivasi sedalam-dalamnya hati kita tentang konsep pelayanan kita yang kita jalani.
Lalu, bagaimana kita menjalankan ibadah dan pelayanan yang memuliakan Tuhan? Sebuah slogan terkenal dari Rev. Dr. John S. Piper adalah, “God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.” (=Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita dipuaskan di dalam-Nya). Seolah-olah, slogan ini antroposentris, tetapi jika diselidiki kita menemukan kelimpahan maknanya. Dr. Piper menegaskan bahwa Allah itu paling dimuliakan di dalam kita BUKAN ketika kita (merasa) dipuaskan saja, tetapi dipuaskan DI DALAM Dia. Artinya, Allah itu sebagai sumber kepuasan ultimat yang di dalam-Nya kita menemukan anugerah, belas kasihan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dll, dan di dalam Dia saja kita semakin memuliakan-Nya. Ini mirip dengan jawaban pertanyaan di dalam Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 yang mengajar bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya.
Jadi, ibadah dan pelayanan yang memuliakan Allah adalah ibadah dan pelayanan yang menikmati Allah. Bagaimana menikmati Allah? Apakah suatu pengalaman ekstase yang tidak sadarkan diri? TIDAK! Menikmati Allah adalah menikmati Pribadi Allah dan firman-Nya. Menikmati Pribadi Allah berarti
- ada suatu pengenalan yang mendalam tentang Pribadi Allah. Paulus menikmati Pribadi Allah, sehingga ia berani mengatakan bahwa hidup baginya adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Seorang yang tidak pernah menikmati Allah tak akan pernah mungkin mengatakan hal seagung itu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berani mengatakan seperti Paulus bahwa hidup kita adalah Kristus di mana Kristus bertahta dan bertitah mutlak dalam hidup kita?
- menikmati Pribadi Allah tidak bisa dilepaskan dari menikmati firman-Nya. Kita baru bisa mengenal Allah dengan benar melalui firman-Nya, Alkitab. Ibadah dan pelayanan kita tidak pernah menyenangkan Allah ketika ibadah dan pelayanan kita tidak didasari oleh konsep firman Tuhan yang beres. Berapa banyak kita melihat kekacauan konsep pelayanan? banyak orang yang mengklaim diri “melayani Tuhan,” tetapi sayangnya, ia aktif melayani Tuhan tanpa mengenal Pribadi yang dilayaninya. Mereka sibuk melayani sebagai panitia retret, kebaktian, KKR, seminar rohani, dll, tetapi ketika firman diberitakan pada saat acara-acara tersebut, dijamin kebanyakan mereka langsung mengambil posisi “saat teduh” (alias tidur). Mengapa? Karena mereka mau melayani “Tuhan”, tetapi tidak mau belajar firman Tuhan untuk lebih mengenal Pribadi yang mereka layani. Mari kita merombak konsep pelayanan kita. Ingatlah, ketika kita melayani Tuhan, perhatikanlah siapa yang kita layani dan kenalilah Pribadi yang kita layani itu melalui firman Tuhan.
Pelayanan tidak bisa dilepaskan dari firman Tuhan. Pelayanan yang mengabaikan konsep kebenaran firman Tuhan adalah pelayanan yang sia-sia dan antroposentris (berpusat kepada manusia), dan tentu saja, Tuhan muak dengan pelayanan tersebut, karena kita sebenarnya sedang melayani diri kita sendiri, bukan Tuhan (meskipun kita menggunakan topeng “Tuhan”). Bertobatlah dan introspeksilah diri kita masing-masing.
Ayat 2 : “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah ; apa yang baik, yang berkenan kepadas Allah dan yang sempurna”
Van den End dalam buku Tafsir Kitab Roma (2000-hal.567) menegaskan bahwa “Persembahan tubuh” dan “Ibadah” yang disebutkan dalam ayat 1 memiliki segi negative dan positif.
· Segi negatifnya ialah : Orang Kristen tidak boleh lagi membiarkan pola hidupnya ditentukan oleh dunia. Terjemahan harafiahnya : “Jangan lagi biarkan dirimu menjadi sepola dengan dunia ini”. Arti kata “Dunia” dalam bahasa Yunani aion sedangkan dalam kamus besar memakai kata eon yang berarti “masa yang panjang”, “masa hidup dunia” (bnd I Kor 1:20 ; 2:6). Tapi didalam Alkitab kita menemukan pula pandangan yang berakar dalam apokaliptik Yahudi, yaitu bahwa ada dua kata “eon”. Eon yang satu sedang berlangsung sekarang,dan yang lainnya akan datang. Yang satu dikuasai oleh dosa, kerusakan, kematian; yang lainnya ditandai oleh kesempurnaan dan kehidupan. Dalam Roma 12 : 2 tambahan kata ini menunjuk kepada pengertian yang pertama. Maka kita dapat melihat asal istilah “dunia” mengandung arti : “ dunia yang di kuasai dosa dan tidak sempurna”.
· Segi Positifnya ialah : anjuran Paulus berbunyi : berubahlah oleh pembaharuan budimu . Dengan kata lain, terjemahan yang lebih tepat : ”biarlah rupamu diubah terus”. Rupa itu bukan hanya segi manusia yang lahiriah.Seperti yang nampak dalam Filipi 3:21, baik pola ataupun rupa bagi Rasul Paulus mengandung pengertian : wujud yang menunjukkan hakikat.(Jadi perubahan yang diharapkan dari orang percaya itu bukan hanya lahiriahnya saja, tetapi lebih dari itu ialah perubahan hatinya, yang terwujud dalam seluruh kehidupan)
Kata yang dipakai untuk pembaharuan budimu : anakainosis nous. Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang dipakai unutkmenggambarkan sesuatu yang baru : Neos ( baru menurut batasan waktu) dan Kainos (baru menurut sifat / hakikatnya). Contoh : Sebuah pabrik pensil yang baru adalah Neos ; tetapi orang yang dulunya adalah orang berdosa dan sekarang berada dalam jalan orang kudus adalah : Kainos. Pada saat Yesus masuk dalam kehidupannya orang itu adalah baru; pikirannya berbeda, karena pikiran Kristus ada didalam dia. Sedangkan untuk kata budimu, perkataan Yunani Nous “diterjemahkan budimu” (muncul juga dalam 1:28 dan 7:23 dan 25).Terjemahan LAI memakai kata “pikiran”dan ”budi” .Kata “budi” yang dipakai karena dalam hubungan ini memang yang dimaksud ialah ; perubahan kelakuan manusia, bukan peubahan pada pikirannya saja. (Yang dimaksud ialah pusat dari kemauan kita, yang mengambil keputusan-keputusan yang menentukan tindakan kita ; bnd Amsal 4:23)
Ibadah yang sejati perlu diimbangi dengan perubahan yang radikal pula, untuk menyatakan gagasan ini William Barclay dalam PA Kitab Roma (2003 - hal. 235) Kata yang ia pakai untuk kalimat “menjadi serupa dengan dunia ini” kata yunani yang hampir tidak dapat di terjemahkan “Suskhematizesthai” adalah bentuk imperative (perintah).dari akar kata Skhema yang berarti ; “kerangka”, “pola” dan atau schema yang berarti : “bentuk luar yang selalu berubah-ubah, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun”. Schema seseorang tidak sama ketika ia berumur 17 thn dan ketika ia berumum 70 thn. Schema it uterus menerus berubah, oleh karena itu Paulus, berkata ; “Janganlah berusaha menyesuaikan kehidupanmu kepada kebiasaan-kebiasaan dunia; jangan menjadi seperti bunglon yang warnanya berubah-ubah,menurut lingkungannya.
Kata yang Paulus pakai untuk “berubahlah dari dunia” yaitu ; Metamorphousthai dari akar kata : Morphe, yang berarti ; “suatu bentuk / unsure pokok yang tidak berubah-ubah”. Orang mempunyai schema yang tidak sama pada umur 17 th dan 70 th, tetapi ia mempunyai morphe yang sama (bentuk luarnya berubah, tetapi dalam dirinya ialah pribadi yang sama) oleh karena itu kata Paulus untuk dapat beribadah dan melayani Allah, kita harus melalui suatu perubahan, bukan bentuk luar kita tetapi kepribadian yang ada didalam diri kita.
Tujuan dari semua ini, kata Paulus adalah ; Sehingga kamu dapat membedakan manakah Kehendak Allah. Kata Membedakan kata kerja Yunaninya Dokimazein ; yang berarti ; Memeriksa, menguji. Hal ini penting menurut Rasul Paulus karena dua alasan :
1) Karena dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen diperhadapkan dengan berbagai keadaan. Seringkali sulit baginya untuk begitu saja menentukan sikap. Terlebih lagi saat ini, perkembangan terjadi dalam segala bidang kehidupan.Dalam semuanya itu orang Kristen dituntut untuk lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan segala sesuatu sebelum memutuskan manakah kehendak Allah.
2) Kita “diajak untuk mengusahakan budi kita”, dalam mencari kehendak Allah, karena Alkitab bukanlah kitab hukum. Alkitab tidak menyajikan kepada kita peraturan sebagai penunjuk jalan kepada orang Kristen sekaligus mengikatnya.Sebab Injil itu bukan hukum yang baru, tetapi justru memberikan kepada kita kekebasan anak-anak Allah ( roma 8:15 ; 21)
2. Konsep Tentang Gereja Sebagai Tubuh Kristus ( Roma 12: 3-9)
Ini merupakan keyakinan terbesar dari Rasul Paulus bahwa sebenarnya Jemaat Kristus harus demikian, tiap bagian tubuh mempunyai tugas yang harus dilaksanakan; hanya dengan melaksanakan tugasnya masing-masing maka tubuh Kristus / Gereja berfungsi sebagaimana mestinya. (bnd I Kor 12: 12-27)
Dalam pasal 12:3-8 ini, secara rinci Rasul Paulus memaparkan tentang pentingnya sebuah peraturan bagi kehidupan seorang Kristen.Mengapa peraturan itu begitu penting bagi Paulus ?
1) Peraturan-peraturan itu mendorong kita untuk mengenal diri sendiri (ay. 3), ini penting menurut Paulus karena tidak mungkin kita dapat mencapai banyak hal didunia ini tanpa kita mengenal apa yang dapat dan apa yang tidak dapat kita kerjakan. Suatu penilaian yang jujur terhadap kemampuan diri kita sendiri.
2) Peraturan –peraturan itu mendorong kita untuk menerima diri kita sendiri dan memakai karunia yang telah diberikan Tuhan kepada kita, dan tidak boleh iri akan karunia orang lain yang belum diberikan kepada kita (ay. 4-6)
3) Paulus dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa karunia apapun yang dimiliki oleh manusia , semuanya itu berasal dari Allah (ay. 6) Paulus menyebut Karunia itu Charismata – dalam PB Charisma adalah “sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia, yang ia sendiri tidak mampu memperolehnya/ mencapainya dengan kekuatan sendiri”. Yang paling penting untuk diingat adalah bahwa apapun karunia seseorang, ia harus menggunakannya untuk memuliakan Allah.
3. Kehidupan Kekristen ( Roma 12: 9-13).
Dalam ayat ini, Paulus memberikan 12 prinsip hidup Kristen untuk kehidupan sehari-hari, antara lain :
- Kasih itu jangan pura-pura.
- Harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik.
- Harus saling mengasihi dalam kasih persaudaraan.Kata yang Paulus pakai untuk kata Mengasihi “ Philostorgos, dari akar kata ; storge, yaitu kata Yunani untuk kasih dalam keluarga.Kita harus saling mengasihi karena kita adalah anggota dari satu keluarga.
- Kita harus saling mendahului didalam memberikan hormat.
- Kerajinan kita harus tidak kendor.
- Harus memelihara roh kita supaya tetap bernyala-nyala.
- Pergunakanlah kesempatan-kesempatan yang ada.Kehidupan memberikan kepada kita berbagai kesempatan yang ada untuk mempelajari sesuatu yang baru / membuang sesuatu yang buruk ; kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata nasehat/ peringatan ; kesempatan untuk menolong / menguatkan, dll.
- Harus bersukacita dalam pengharapan
- Menghadapi kesesakan dengan kemenangan kesabaran (bnd. Daniel 3:24-25)
- Harus bertekun dalam doa.
- Harus membantu mereka yang ada dalam kekurangan.
- Orang Kristen harus memberikan tumpangan.Berkali-kali PB menegaskan tentang kewajiban untuk membuka pintu (Ibr.13:2 ; I Tim 3:2 ; Titus 1:8) Tyndale memakai satu kata yang tepat ketika ia menterjemahkannya, bahwa Orang Kristen harusnya mempunyai watak seperti pelabuhan. Rumah tangga tidak pernah akan bahagia apabila ia hidup untuk dirinya sendiri. Kekristenan adalah agama dari tangan-tangan yang terbuka, hati yang terbuka dan pintu yang terbuka.
4. Orang Kristen Dan Sesamanya (Roma 12: 14-21)
Paulus mengakhirinya dengan memberikan serangkaian peraturan dan prinsip yang diperlukan untuk menentukan hubungan orang Kristen dengan sesamanya, antara lain ;
- Orang Kristen harus menghadapi siksaan dengan doa dan bagi mereka yang menyiksanya.
- Harus bersukacita dengan mereka yang bersukacita dan menangis dengan mereka yang menangis.
- Harus dapat hidup bersama.
- Harus emnghindarkan diri dari segala kesombongan dan kebanggaan pribadi.
- Kelakuan kita harus baik pada semua orang.
- Harus berdamai dengan semua orang (ay. 18)
- Harus menahan diri dari segala keinginan untuk membalas dendam; karena ;
1.) Pembalasan bukan milik kita melainkan milik Allah.
2.) Memperlakukan orang dengan kemurahan hati dan tidak dengan keinginan membalas dendam, adalah jalan untuk mengubah orang itu (ay.20) Jika kita bisa bermurah hati kepada musuh-musuh kita, kata Paulus ; kita akan menumpukkan bara api keatas kepalanya, Artinya :bukan memberikan hukuman yang lebih berat, melainkan dengan jalan ini akan mendorong mereka untuk merasa malu.
3.) Membalas dendam berarti ; kita sendiri dikalahkan oleh kejahatan.
BAB III
KESIMPULAN
Dari beberapa pembahasan atau eksposisi pasal 12 tersebut paling tidak kita menemukan beberapa pengajaran yang sangat penting yang dapat dipakai sebagai pedoman prilaku Kristen yang benar, yang sekaligus berperan sebagai kesimpulan yaitu:
Pertama, bahwa ibadah yang benar harus didasarkan pada perubahan yang mendasar (rom 12: 1-2 ) sebab Ibadah sejati adalah ibadah yang bersifat totalitas, yang kudus, dan menyenangkan Allah, dan hal itu hanya dapat dimungkinkan dilakukan jika ada pembaharuan pemikiran, perasaan dan kehendak manusia secara integral dan komperehensif.
Kedua, adalah berkaitan dengan Konsep Tentang Gereja Sebagai Tubuh Kristus
( Roma 12: 3-9) yang terorganisir, teratur secara sinergis. Karena gereja adalah bersifat organis tentu ada peraturan dari Allah agar semua berperan dalam kapasitasnya masing-masing. Peraturan itu diberikan dengan maksud agar setiap individu mengenal diri sendiri dan mendorong kita untuk menerima diri kita sendiri serta memakai karunia yang telah diberikan Tuhan kepada kita, menggunakannya untuk memuliakan Allah.
Ketiga, Kehidupan Kekristenan yang harus dibangun di atas dasar kasih, didorong oleh kasih dan bertujuan untuk kasih. Kasih itu yang diejawantahkan dalam setiap aspek kehidupan, baik personal maupun komunal.
Keempat, Orang Kristen Dan Sesamanya merupakan perhatian dari Paulus bahwa beberapa prinsip harus dipegang dalam kehidupan Kristen meskipun harus diperhadapkan pada situasi sesulit apapun sehingga kebenaran Kristus akan terus terpancar dalam kehidupan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Alister McGrath, Studies in Doctrine, Grand Rapid : Zondervan, 1990
Cornelius Van Til, The Defense Of The Faith, (Philadelphia : The Presbyterian And Reformed Pumblishing Company, 1955
Donald Gutrie,et al, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 1998
Hendra Gunawan Mulia, Gereja, Teologi dan Pertumbuhan Rohani (dalam Jurnal Amanat Agung Vol 2 no1, 2006,
John B.Stackhouse, Evangelical Futures : A Conversation on Theological Method, Grand Rapid : Bakker Books, 2000
John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta : BPK Gunung Mulia,2000
John H.Leith, Introduction to The Reform Tradition, Atlanta : John Knox Press, 1981
Kenneth G Howkins, The Challenge of Religious Studies, (London : Tyndale Press, 1972
Leon Morris, The Cross in New Testament, Grand Rapids : Eerdemands, 1965
Merill C.Tenney, Survey
Perjanjian Baru, MALANG : Gandum Mas,2002
Peter Lewis, The Message of The Living God London :
Inter Varsity Press, 2000
RC Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, Malang
: SAAT, 2002
Stevri Lumintang, Theologia & Misiologia Reformed : menuju kepada pemikiran Reformed & menjawab Keberatan, Batu : Dep Lit PPII, 2006
Yohanes Calvin, Instituo pengajaran Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000
[1] Bandingkan dengan tulisan dari Dr. Stevri Lumintang dalam Theologia & Misiologia Reformed : menuju kepada pemikiran Reformed & menjawab Keberatan, (Batu : Dep Lit PPII, 2006),hlm.42
[2] Kenneth G Howkins, The Challenge of Religious Studies,p.12
[3] Hendra Gunawan Mulia, Gereja, Teologi dan Pertumbuhan Rohani (dalam Jurnal Amanat Agung Vol 2no1), 2006,hlm.153
[4] Alister McGrath, Studies in Doctrine, (Grand Rapid : Zondervan, 1990),p.1
[5] hal itu juga selaras dengan apa yang diungkapkan oleh J.I.Packer bahwa “Christian theology is not just for in house consumtion, it must ever be used to persuade the world” (John B.Stackhouse, Evangelical Futures : A Conversation on Theological Method, Grand Rapid : Bakker Books, 2000,p.188)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar