Jumat, 07 Mei 2021

Menjadi Reformator Dalam Gereja

 

TEMA : SANG REFORMATOR SEJATI

NATS : EZRA 7

 

              kita berada pada momentum penting dlm sejarah gereja, yaitu peringatan atas peristiwa reformasi gereja yg ke 502 (1517) anda tentu masih ingat slogan dari gerakan reformasi gereja adalah “ekklesia reformata semper reformanda” maknanya adalah gereja harus terus mereformasi dirinya sendiri. Pemimpin tentu punya peran penting dlm hal ini, pemimpin haruslah seorang reformator yg terus dpt mengarahkan jemaat untuk terus memperbaiki diri. Hari ini kita akan belajar dr sosok reformator sejati dlm PL yaitu Ezra. Kita ketahui bahwa bangsa israel ditawan oleh kerajaan Babilonia cukup lama sekitar 70 thn dan baru diijinkan kembali dr pembuangan sekitar tahun 458 sm dibawah pimpinan Ezra dan Nehemia. Perjalanan menempuh 1260 km dalam kurun waktu 4 bln (8-9) yg berarti setiap hari harus berjalan sekitar 10 km.  Sosok Ezra menjadi penting karena dia selain mendapat hak istimewa dan sekaligus mandat dr raja Arthasasta 1 dari Persia utk memimpin bgs Yahudi pulang, membangun kembali Yerusalem dan sistem peribadatan bg umat Tuhan. Keistimewaan Ezra tentu lahir dr sebuah pribadi yg hebat, mari kita tilik kehebatannya :

Ayat 10 menjadi perhatian utama kita, kita melihat ada 3 kunci keberhasilan Ezra dlm menjadi sosok reformator sejati  yaitu tekatnya yg kuat dlm mendisiplin diri untuk melakukan 3M :

 

1. Meneliti Firman (10)

           meskipun Ezra adalah tokoh agama, seorang pakar dalam kitab suci, hal ini tdk membuatnya merasa cukup tau akan firman dan berpuas diri. Keahlian/kepakaran Ezra bukan hanya diakui oleh umat Israel namun juga di akui oleh raja Persia.

Ezra 7:6 (TB)  Ezra ini berangkat pulang dari Babel. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel. Dan raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia.

Ezra 7:11-12 (TB)  Inilah salinan surat, yang diberikan raja Artahsasta kepada Ezra, imam dan ahli kitab itu, yang ahli dalam perkataan segala perintah dan ketetapan TUHAN bagi orang Israel:

"Artahsasta, raja segala raja, kepada Ezra, imam dan ahli Taurat Allah semesta langit, dan selanjutnya. Maka sekarang,

 

Namun Ezra terus belajar, ia terus “meneliti” atau “darash” yaitu meneliti untuk menemukan implikasi. Bukan sekedar mengetahui makna namun untuk mengetahui apa yg harus dilakukan. Kadang kita begitu sibuk meneliti Firman hanya sekedar utk tahu, bukan untuk mengerti bgm bertindaknya.

2. Melakukan Firman

        bagian selanjutnya yang tdk kalah penting adalah, bahwa tidaklah cukup kita tahu, mengerti, fasih akan firman. Langkah lanjutannya adalah menjadi pelaku dari Firman. Ezra sangat paham bahwa bahwa ia harus “melakukan” firman itu dg setia. Kejujuran Ezra terbukti bahwa ia tdk menjadi imam yg korup meskipun ia dipercaya oleh Arthasasta 1 utk mengelola harta bawaan yg banyak  (15-17) . Kata melakukan “asah” mengindikasikan bahwa melakukan firman itu tindakan yang aktif.

Seorang reformator sejati adalah org yang paling proaktif dlm melakukan Firman, memberikan teladan dlm kehidupan nyata bukan hanya beretorika.

 

3. Memberitakan Firman

bagian akhir dr perjuangan reformator adl menjadi pemberita kabar baik kepada orang lain. Kata “ mengajar” atau “lamad” rupanya bukan hanya tindakan pekabaran semata2, namun adalah usaha utk membuat orang lain utk melakukan “exercise in” . Kadang kita cukup puas kalau kita sdh dpt berkotbah dg baik, semua jemaat menyalami kita dan mengatakan “ khotbah bpk luar biasa......sy sangat diberkati”. Tugas seorang reformator belum selesai sampai seluruh jemaat melakukan firman itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...