Selasa, 20 September 2022

HUBUNGAN PENYATAAN ALLAH, RASIO, TEOLOGI, DAN SPIRITUALITAS DALAM KEHIDUPAN KRISTEN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Permasalahan

Banyak orang Kristen yang menganggap rendah kedudukan firman Tuhan dan teologi dalam kehidupannya, bahkan muncul kecenderungan antipati terhadap hal itu. Orang-orang Kristen cenderung berfikir bahwa masalah firman Tuhan dan teologi bukan urusan jemaat awam, melainkan menjadi tugas pendeta atau hamba Tuhan untuk memikirkan, mempelajari dan mengajarkannya karena menurut sebagian dari mereka masalah ini adalah soal mitos dan ritus agamawi yang abstrak dan tidak bersangkut paut dengan masalah praktis di kehidupan nyata, bahkan ada yang secara ekstrim berpandangan bahwa lebih berguna memikirkan ilmu pengetahuan dan teknologi daripada memikirkan teologi.  Jemaat awam cenderung mementingkan masalah-masalah yang berkaitan secara langsung dengan konteks kehidupannya.

Pola pikir manusia sekarang ini sudah banyak terkontaminasi oleh pemikiran filsafat postmodernism yang cenderung pragmatis, sekuler, dan pluralis yang sangat anti dengan kemapanan/finalitas terutama dalam kaitan dengan religiusitas. Bagi mereka, Alkitab dan pengejawantahannya dalam bentuk apapun juga tidak penting karena kebenaran tidak ada yang absolut, dan dianggap sangat tidak berguna karena akan menciptakan manusia-manusia “kerdil”.

Perkembangan pemikiran akhir-akhir ini memang tidak terlepas dari beberapa pengaruh, diantaranya : Pertama, rasionalisme, yaitu filsafat yang sangat menjunjung tinggi dan bahkan cenderung mendewakan  kemampuan akal manusia, yang pernah ditanamkan di masa lalu, yaitu abad pertengahan yang ditandai dengan timbulnya Renaissance, dan dipupuk pada masa pencerahan (aufklarung) pada abad 18 yang menjadikan manusia seolah menjadi makhluk yang otonom, mampu berdiri sendiri tanpa ada institusi atau kuasa lain di atasnya, dan ujung-ujungnya adalah menolak segala bentuk perbudakan akal, dan tentunya hal itu salah satunya adalah  agama.

Kedua, adalah spiritisme yang telah menjadi nafas dari era postmodern sekarang ini. Gerakan New Age Movement telah meracuni dunia dengan menawarkan dan mendorong manusia mengejar hal-hal yang bersifat spiritual di luar agama, dengan istilah lain menjadikan manusia menjadi spiritual tanpa religius.

Oleh karena itu kekristenan sedang mengalami ancaman yang nyata dan harus siap melawan arus dunia dengan berperannya gereja dalam memperkaya wawasan jemaatnya dengan teologia yang sehat.

 

B.    Tujuan Penulisan

Tulisan ini berupaya mengkaji secara mendalam empat isu penting dalam kekeristenan, yaitu masalah Alkitab, iman, ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)[1], dan teologi.  Pemaparan ini diharapkan memberikan gambaran yang luas dan mendalam berkaitan dengan isu-isu di atas sehingga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kekristenan masa kini untuk menyusun strategi dalam melawan arus dunia yang berusaha menyeret kekristenan kepada kondisi yang lebih buruk.

 

C.    Ruang Lingkup Penulisan

Tulisan ini akan mengupas tentang empat variable penting yaitu tentang Alkitab, Iman,  IPTEK dan teologia. Masing-masing akan akan dijelaskan sebagai berikut :

1.     Istilah “Alkitab” dalam tulisan ini akan dipakai secara bertukaran dengan istilah “Penyataan Allah” dan “wahyu”.  Hal ini didasarkan pada kesesuaian maknanya.

2.     Istilah “iman” akan dipakai secara bertukaran dengan istilah “spiritualitas”.

3.     Istilah “IPTEK”, karena keluasan pembahasannya maka dalam tulisan ini akan dibatasi dengan penggunaan istilah “rasio” dan “rasionalisme” karena dasar pertimbangan bahwa nafas atau intisari dari IPTEK adalah rasio atau akal budi manusia dan rasionalisme sebagai suatu paham yang menjadikan rasio manusia sebagai sumber dari segala orientasi kehidupan manusia.

4.     Istilah “teologi” atau berteologia” dalam konteks ini tidak dipahami hanya sebagai sebuah topic spesifik pada bidang ilmu ketuhanan semata, namun juga mengacu kepada seluruh pemikiran yang berorientasi kepada Tuhan.

 

 

 

 

BAB II

HUBUNGAN PENYATAAN ALLAH, RASIO, TEOLOGI, DAN SPIRITUALITAS DALAM KEHIDUPAN KRISTEN

 

A. Prolegomena

Pembahasan ini akan dimulai dengan menampilkan asumsi bahwa topic di atas dapat dibagi ke dalam dua kelompok yang saling beroposisi, di satu sisi ada penyataan Allah, teologi dan spiritualitas, dan di sisi yang lain ada rasionalisme. Kedua sisi ini banyak dianggap sebagai dua dimensi yang tidak mungkin dipertemukan. Kadang beberapa orang mencoba membuat “folder” atau wadah yang berbeda untuk menempatkan topic-topik tersebut, misalnya penyataan Allah dan spiritualitas di kategorikan dalam wadah ilmu teologi, sedangkan rasionalisme dikategorikan sebagai filsafat. Pengkategorian ini memang masih harus dikaji ulang karena tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga terjadi perkawinan campur di antara kedua topic tersebut. Baiklah mari kita mulai kajian ini.

Pergulatan antara teologi dengan filsafat merupakan pergumulan abadi yang terus terjadi sepanjang sejarah Gereja, pemikiran-pemikiran filsafat sedikit banyak turut mempengaruhi pola pikir tokoh-tokoh Gereja dalam membangun suatu teologi, terutama filsafat, yang menempatkan rasio di atas segala-galanya (filsafat rasionalism). Pergulatan di antara keduanya berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang, bahkan sampai masa sekarang pengaruh pemikiran tersebut – rasionalism - masih terus berkembang dengan hebatnya, hal ini dapat kita perhatikan dalam pemikiran-pemikiran teolog Liberal. Perkembangan teologia Kristen sedikit banyak dipengaruhi oleh tantangan yang ditimbulkan oleh rasionalisme, dan hal itu terjadi dalam dua masa besar, yaitu abad ke 18 di Inggris dan Perancis  dan permulaan abad 19 di Jerman.[2]

Abad pencerahan, merupakan masa yang subur bagi perkembangan rasionalisme, hal itu ditandai dengan kemunculan pemikir Khatolik yang sangat terkenal, Rene Descartes yang mengemukakan prinsip “Never to accept anything for true which I did not clearly know to be such[3] dan akhirnya melahirkan suatu axioma “cogito ergo sum” (I think Therefore I am),[4]  langkah ini kemudian disusul oleh beberapa pemikir rasionalis lainnya di antaranya Spinosa (seorang pemikir Yahudi), dan Leibniz (pemikir Protestan).

Polemik tentang hubungan antara rasio manusia dengan Penyataan Allah di dalam berteologi merupakan suatu masalah klasik yang sekaligus masalah kontemporer dalam sepanjang sejarah Kekristenan. Perbedaan pandangan yang begitu tajam di antara keduanya sebenarnya terletak pada dari mana titik awal (starting point) teologi harus dimulai atau dibangun. Jika para tokoh reformasi abad 16 memulainya dari sudut pandang Allah sendiri melalui karya Kristus yang disaksikan melalui Alkitab untuk memahami dunia, tidaklah demikian kaum rasionalis yang justru memulainya dari sudut pandang dunia itu sendiri. Hal itulah yang diungkapkan oleh Collin Brown bahwa  The reformers of the sixteenth century were dominated a concern for God. The took as their starting point’s action in Christ, as withnessed to by the scripture. From there they proceeded to think about world. The rationalist of the seventeenth century were absorbed not so much by God but by the world.[5] Masalah  ini menjadi stimulus yang kuat bagi pencari kebenaran untuk terus berfikir, apa dan bagaimanakah seharusnya hubungan antara rasio dan penyataan Allah itu dalam suatu pekerjaan Teologi Kristen? Serta bagaimana peran keduanya dalam spiritualitas Kristen ? untuk menjawab hal itu kita akan akan memulainya dengan menjabarkannya satu persatu, dan kemudian menarik suatu pola hubungan atau keterkaitannya.

 

B.    Definisi Penyataan Allah (Alkitab) dan Rasio

Kedua topic ini dibahas dalam bagian awal karena biasanya kedua topic inilah yang seringkali dipertentangkan oleh kebanyakan para teolog dalam usaha berteologi

 

1.     Pemahaman Tentang Penyataan Allah

Ada keunikan tersendiri yang dimiliki oleh teologi Kristen dibandingkan dengan kepercayaan lain, yaitu bahwa Allah merupakan subyek, yang secara aktif mencari manusia dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dan manusia itu sendiri hanyalah sebagai obyek.[6] Dari bagian awal sampai penutup Alkitab menunjukkan bahwa Allah berperan secara aktif dalam mencari manusia.

Tindakan ini sangat penting oleh karena penyataan Allah merupakan cara Allah sendiri berkomunikasi dan menyatakan diri-Nya[7] kepada semua orang di segala waktu melalui penyataan umum-Nya dan kepada orang-orang tertentu pada waktu-waktu tertentu melalui penyataan khusus-Nya. Penyataan Allah tidak hanya dimaksudkan supaya manusia mengenal oknum Allah saja, tetapi juga apa yang telah Ia lakukan, tentang ciptaan-Nya dan hubungan antara Allah dan manusia. Hal ini merupakan informasi yang nyata, obyektif dan rasional dari Allah kepada manusia.

Jadi tujuan penyataan Allah adalah untuk mengkomunikasikan kebenaran kepada pikiran manusia. Melalui cara inilah Ia menyatakan kepada makhluk ciptaan-Nya, apa yang tidak mungkin diketahui oleh manusia dengan cara lain termasuk dengan kemampuan rasionya[8] oleh sebab itu sebagian penyataan Allah sulit diterima oleh rasio manusia bukan karena bertentangan dengan rasio, tetapi memang sebagian melampaui batas kemampuan rasio manusia seperti yang diungkapkan oleh John Lockpenyataan merupakan komunikasi dari proposisi-proposisi yang benar, sebagian melampaui apa yang ditemukan hanya oleh rasio[9]. Dari uraian tersebut maka sangat jelas bahwa penyataan Allah tidak sekali-kali dimaksudkan untuk memenuhi atau menjawab keragu-raguan manusia, bukan untuk sarana pemenuhan kesenangan manusia dan kepuasan akalnya.

 

2. Pengertian Tentang Rasio

Rasio dan rasionalisme seringkali dipahami sebagai suatu istilah yang identik, padahal dua istilah tersebut merupakan istilah yang berbeda tetapi memiliki hubungan erat dan hampir tak terpisahkan. Kata rasio adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Latin “ratio” yang memiliki arti pikiran. Pengertian secara umum, ratio merupakan kemampuan untuk melakukan abstraksi, memahami, menghubungkan, merefleksikan, memperhatikan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan dan sebagainya.[10] Sedangkan rationalisme sendiri merupakan prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan, dan juga bisa memiliki arti bahwa rasionalisme adalah pendekatan filosofis yang menekankan akal budi sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.[11] Rasionalisme merupakan inti dari pemikiran liberalisme[12] yang saat ini berkembang. Bagi rasionalisme, rasio manusia merupakan penentu segala sesuatu termasuk keberadaan dan cara kerja Allah.

Dalam teologia Kristen, ada banyak warisan filsafat yang menggambarkan bahwa rasio manusia merupakan ciri khas dan sekaligus wujud nyata keunggulan manusia sebagai gambar dan rupa Allah  sebagaimana Kejadian 1:26 yang membedakannya dari makhluk ciptaan yang lain, sehingga gambar dan rupa Allah dipahami sebagai kemampuan  rasio dari manusia itu sendiri. Mencermati paham yang demikian Arie Jan Plaisier[13] menyatakan keprihatinannya dengan menyatakan bahwa Rasio/pemikiran logis tidaklah sama dengan gambar Allah tetapi hanya bagian saja, jadi sangat naif jika menyatakan bahwa rasio atau akal budi manusia adalah satu-satunya atribut manusia yang membuktikan bahwa ia adalah gambar dan rupa Allah.

 

  1. Keadaan Rasio Manusia

Sejak manusia jatuh kedalam dosa maka seluruh aspek hidup manusia menjadi tercemar oleh dosa, termasuk di dalamnya adalah rasio dengan segala daya dan orientasinya. Kondisi rasio manusia akhirnya di bawah kuasa dosa (Roma 3:11), sehingga hal itu membuka celah bagi iblis untuk menguasainya dan bahkan membutakannya (2 Kor 4:4). Rasio manusia tidak lagi terisi dengan segala pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Allah, melainkan terisi oleh kesia-siaan (Ef 4:17). Namun demikian bukan berarti rasio itu tidak dapat dipercaya lagi, atau bahkan tidak berguna sama sekali. Dalam batas-batas dan kualifikasi tertentu rasio masih dapat dipercaya, namun sangat naif jika ada anggapan bahwa pengetahuan itu bersifat konklusif yang tidak dapat dikoreksi lagi, tetapi sebagai sebuah keyakinan bagi tujuannya sendiri memiliki pembenaran secara rasional.[14] Rasio merupakan pengetahuan yang memiliki pembenaran dalam penerapannya (untuk tujuannya sendiri).

 

  1. Keterbatasan-Keterbatasan Rasio

Oleh Karena rasio manusia itu sudah tercemari oleh dosa dan berada di bawah kuasa iblis, maka hal itu berdampak pada kemerosotan daya dan upayanya. Rasio tidak dapat lagi diandalkan sebagai suatu tolok ukur yang mutlak dapat dipercaya untuk menemukan suatu kebenaran, oleh sebab itu John Calvin mengatakan bahwa rasio telah dipengaruhi oleh “radix cardis” yaitu akar hati manusia yang terkorup (Yes 17:9), sehingga rasio manusia tidak mampu menangkap atau melihat wahyu yang sesungguhnya, selain itu rasio sebenarnya menunjukkan ketidak mampuannya untuk menemukan sesuatu yang benar.[15]

Dosa memang telah merusakkan kemampuan rasio manusia, tetapi kelemahan itu sendiri bukan hanya semata-mata disebabkan oleh dosa saja, tetapi perlu dipahami bahwa rasio tidak mampu bekerja dalam diri-nya sendiri, tetapi memerlukan sesuatu yang datang dari luar dirinya sendiri sebagai bahan perbandingan. Rasio hanya mampu mengerti sesuatu melalui perbandingan, mempertentangkan dan menarik kesimpulan, oleh sebab itu bila rasio manusia itu sendiri mau meneliti dan mengenali sesuatu maka titik-titik perbandingan itu harus ditemukan terlebih dahulu.[16] Oleh sebab itu rasio tidaklah independen melainkan bergantung pada pengalaman yang dimiliki oleh manusia dalam cara kerjanya dan tidak mampu menjangkau apa yang di luar pengalaman empiris manusia.

Kelemahan-kelemahan rasio semakin terbongkar melalui beberapa temuan-temuan besar dalam bidang science baik oleh Copernicus, Charles Darwin, maupun Sigmund Freud. Akibat temuan-temuan tersebut muncul kesadaran bahwa rasio yang dulu berpijak pada struktur alam semesta yang jelas, tetapi kini dari sudut pandang ruang, rasio telah kehilangan akar dan tempat berpijak,[17] sehingga temuan itu menghancurkan keunggulan yang dimiliki manusia yang mendasarkan diri pada kemampuan rasionya.

 

C. Hubungan Penyataan Allah & Rasio Dalam Berteologi

  1. Penyataan Allah Mengontrol Rasio Manusia

Seluruh kegiatan Teologi ilmiah yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi Eropa dibangun atas dasar asumsi bahwa rasio kritis yang berdisiplin dan dikendalikan oleh hukum-hukum yang berlaku dalam tiap-tiap bidang, inilah yang memiliki wewenang paling tinggi untuk menentukan mana kebenaran dan mana yang bukan kebenaran.[18] Pemahaman seperti ini merupakan warisan dari pandangan para filsuf yang menekankan rasio yang otonom, yaitu pandangan yang berkembang pada abad pencerahan

Mental pencerahan menuntut kebebasan manusia yang sungguh-sungguh merdeka, suatu alam yang otonom dimana fakta diceraikan dari arti sesuangguhnya di dalam Allah…sikap religius ini menghasilkan penilaian yang tinggi akan semua kecakapan manusia, khususnya rasionya sebagai otoritas tertinggi dan patokan yang menentukan kebenaran, rasio dan hanya rasio sajalah yang dianggap mampu dan tepat untuk menilai dunia fenomena dan dunia noumena.[19]

 

Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh rasio tidak memungkinkan teologi dibangun di atasnya, karena rasio tidak mampu menjangkau sesuatu yang melampaui pengalaman-pengalaman manusia, rasio hanya mampu beroperasi pada tingkatan yang dibatasi oleh kemampuan pengideraan manusiawi, sehingga di luar batasan itu rasio tidak berfungsi atau tidak dapat berbuat apa-apa  sama sekali.  Eta Linnemann mengatakan bahwa :

Dengan demikian revelation tak dapat dijangkau oleh rasio manusia karena melampaui pengalaman manusia pada umumnya. Rasio selalu bertitik tolak kepada hal-hal yang dapat dialami semua orang pada segala jaman itu berarti rasio yang menilai secara daging dan dari dirinya sendiri sama sekali tidak mampu untuk menilai perkara-perkara rohani.[20]

 

Kapasitas rasio yang serba terbatas tentu tidak akan mampu menjangkau pengetahuan tentang Allah yang tak terbatas, Penyataan Allah yang seringkali di luar kemampuan penginderaan manusia tidak mungkin bisa dipahami oleh manusia tanpa iman. V. Scheunemann mengatakan “rasio dengan daya tampungnya, daya jangkauannya seharusnya memberi diri dituntun oleh iman, oleh Penyataan Allah[21] pernyataan ini didasari dari satu pandangan Paulus dalam 2 Korintus 10:5 yang mengatakan bahwa segala pikiran harus ditaklukkan kepada Kristus.

Penolakan teologi terhadap pendewaan rasio tidak berarti bahwa teologi itu sendiri ataupun peranan rasio dalam bidang teologi ditolak, tetapi penyataan Allah harus menempati posisinya terlebih dahulu sehingga rasio bekerja sesuai dengan porsinya. Gene Edward mengatakan

Dalam kotroversi teologis kuno manusia tidak boleh mencoba “memahami supaya dapat percaya”, tetapi seperti yang dinyatakan santo Anselm, “manusia harus percaya supaya dapat memahami” ketika kebenaran Firman Allah diterima dengan iman, setiap butir pengetahuan yang lain akan menemukan tempatnya, seperti kepingan puzzle setelah disusun, atau seperti menemukan anak kunci yang cocok dengan gemboknya.[22]

 

Dalam teologi, iman harus mengendalikan intelektual manusia melalui Firman Allah. Firman itu mengontrol akal manusia dan rasio harus menempatkan diri di bawah Firman, sehingga ketika muncul keraguan dalam berteologi, maka rasio manusia harus mempertanyakan kemampuannya sendiri bukan meragukan kebenaran dari penyataan tersebut.

 

  1. Rasio Mengolah Penyataan Allah

Kemampuan rasio memang tidak dapat melakukan apapun dalam dirinya sendiri, tetapi rasio yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus sangat membantu dalam teologi sesuai dengan I Yohanes 5:2 bahwa Yesus Kristus (penyataan Allah) telah mengaruniakan pengertian kepada kita (dengan penggunaan rasio secara benar) sehingga rasio memiliki peran penting dalam teologi. Daniel Lukas Lukito mengatakan “secara positif rasio tetap berfungsi untuk mempertanyakan mengapa terdapat fenomena supranatural atau misteri religius dan ia juga dapat berfungsi untuk mengintegrasikan fenomena atau misteri tersebut dengan sejumlah misteri alami lainnya”[23]

Pernyataan ini mengimplikasikan bahwa rasio memiliki peranan dalam mengolah penyataan Allah, selanjutnya beliau menyumbangkan pikirannya dengan mengatakan bahwa “rasio berhak menginterpretasikan, merumuskan, dan menghubungkan data wahyu natural atau supranatural yang diterimanya”.[24]

Kemampuan rasio manusia diperlukan sekali dalam mengolah informasi yang telah disajikan melalui penyataan Allah sehingga informasi (penyataan Allah) tersebut dapat dipahami oleh segala keterbatasan manusia, oleh karena memang Penyataan Allah tersebut dianugerahkan/diwahyukan bukan sebagai sesuatu yang siap saji (ready use).  J.Wentzel Van Huyssteen mengatakan “maka kita dapat melihat hierarki pengolahan informasi dan juga hierarki pengolahan kognisi dalam dunia hidup, dan karena itu pengetahuan rasional manusia tampaknya menjadi tipe pengolahan informasi paling canggih yang kepadanya kita memiliki akses.”[25]

Meskipun pernyataan ini tidak sepenuhnya dapat diterima (tipe pengolahan yang paling canggih) dan masih mendatangkan polemic yang berpeluang untuk diperdebatkan, tetapi kita perlu menyadari bahwa Allah terus menerangi, menyingkapkan dan membuat kemampuan rasio manusia (orang percaya) bekerja secara benar sesuai dengan prinsip dan maksud Allah sendiri, bukan berdasarkan kemauan manusiawi sang teolog atau kemampuan/kehebatan rasio manusia itu sendiri.

  1. Penyataan Allah Berkoneksi Dengan Rasio

Dari penjabaran sebelumnya, kita menemukan suatu informasi penting tentang hubungan yang sangat erat antara penyataan Allah dengan rasio manusia dalam berteologi. Kita memang tidak bisa memungkiri bahwa rasio sangat diperlukan, karena berteologi sendiri merupakan suatu proses berfikir dengan suatu harapan bahwa melaluinya kita  diyakinkan dengan cara yang  rasional, meskipun kadang pemikiran manusia itu sendiri melanggar keagungan Allah dan penyataan-Nya yang melebihi atau di atas segala kemampuan konseptual manusia seperti yang diungkapkan oleh Pannenberg bahwa.

The relationship between faith and reason has been a problem since the beginning in Christian Theology. On one hand, theology is itself a process of thought and one must hope that it is persued in a rational manner. On the other hand, however “reason” as commonly understood, can scarcely have the last word in theology without violating the exaltedness of reality of God and His revelation above all human conceptualization.[26]

 

Sehingga antara rasio dan penyataan Allah, masing-masing harus ditempatkan pada porsinya, tanpa pemisahan sama sekali, atau dengan istilah lain antara wahyu dan rasio manusia saling berhubungan dan berkoneksi secara dekat tanpa harus dipisahkan, karena apa yang terdapat pada rasiopun terdapat penyataan Allah secara umum dalam porsi tertentu.[27] Rasio manusia sebagai bagian dari penyataan umum Allah perlu dipakai secara optimal dalam menjelaskan dan mengarahkan pemahaman/pemikiran manusia kepada penyataan khusus.

 

D. Kontribusi Pemikiran

Rasio manusia dan penyataan Allah merupakan dua aspek penting dalam suatu pekerjaan Teologi (rasio di pihak manusia, dan Penyataan atau wahyu dari pihak Allah). Polemik akan segera muncul ketika kita akan menyusun suatu rumusan teologi, dari mana seharusnya kita akan memulai pekerjaan ini, sebagaimana hal itu terjadi sejak permulaan perkembangan Teologi. Pemikiran bahwa bagaimanakah kita harus berteologi ? bagaimanakah seharusnya peran rasio dan Penyataan Allah dalam membangun suatu teologi yang Alkitabiah ? juga merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat semakin peliknya permasalahan ini.  Banyak Teolog yang berpendapat bahwa rasio merupakan kunci utama dalam berteologi karena pada hakekatnya teologi merupakan suatu proses berpikir dengan rasio, sehingga segala penyataan Allah ditundukkan oleh rasio, namun tidak sedikit pula Teolog yang terus berjuang mempertahankan keyakinan bahwa Teologi tidak mungkin dibangun atas dasar rasio manusia, karena pada hakekatnya rasio manusia sangat terbatas dan tidak mampu bekerja di luar pengalaman manusia itu sendiri, padahal Allah dan Penyataan-Nya memiliki dua dimensi yaitu natural dan supranatural yang tidak mungkin dipahami oleh manusia hanya dengan kemampuan rasionya saja.

Berdasarkan pada beberapa pertimbangan kekuatan dan kelemahan pada rasio, sifat dan hakekat dari Penyataan Allah, maka kita akan menemukan suatu jalan keluar bahwa dalam berteologi, rasio harus bersedia dikontrol dan diletakkan di bawah penyataan atau wahyu Allah, karena teologi tidaklah mungkin dibangun di atas pondasi yang rapuh dan penuh dengan keterbatasan karena hal itu akan menciptakan suatu teologi yang sifatnya relatif, rasio (yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus) memang tetap diperlukan untuk mengolah informasi yang disampaikan melalui penyataan Allah sehingga manusia mampu menginterpretasikan merumuskan, dan menghubungkan data wahyu natural atau supranatural yang diterimanya.

Dari penjelasan tersebut kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa rasio diperlukan dalam berteologi, tetapi tetap dalam porsinya sesuai dengan kapasitasnya, demikian pula Penyataan Allah terlebih penting sebagai informasi terlengkap yang Allah sendiri sampaikan kepada manusia.

 

 

D.    Kajian Terhadap  Penyataan Allah, Teologia, Dan Rasio Dalam Spiritualitas Kristen

Meskipun istilah spiritualitas bukanlah istilah asli dari Alkitab, namun hakikat dan substansi dari istilah tersebut menempati hampir di sebagian besar kitab-kitab dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam dunia ilmu pengetahuan ada tiga istilah spiritualitas yang dikenal seperti yang diungkapkan oleh Alfius Areng Mutak,[28] yaitu

a.      Dalam agama-agama, spiritualitas dimengerti sebagai search for transcendence by appeal to a higher powers. Ini dapat dilihat dari praktik-praktik spiritualitas dalam agama Hindu,Buddha, Islam dan agama suku.

b.     Spiritualitas sebagai personal fulfillment without God. Keyakinan ini timbul karena yakin bahwa spiritualitas tersedia bagi setiap orang. Ini dapat dilihat dari agama spiritisme, Zen, dan agama-agama politheisme.

c.      Dari pandangan Kristen spiritualitas adalah “the Manner by which individually and corporately we understand our existence and live in communion with Christ and in response to the Spirit.

 

1.     Pengertian terhadap Spiritualitas Kristen

            Ada perbedaan mendasar antara konsep spiritualitas agama-agama lain, ataupun spiritualitas yang filosofis dengan konsep spiritualitas Kristen, dan hal itu telah sedikit disinggung dalam pembahasan sebelumnya, namun dalam perspektif Kristen, menurut Chan, spiritualitas dipahami sebagai cara memasuki kesatuan, mendapatkan kebebasan sebagai ciptaan baru.[29] Berbeda dengan konsep yang dikembangkan oleh Chan yang lebih menyoroti spiritualitas dalam ranah ekspresi dari pembaharuan natur rohani orang percaya, McGrath justru menyorotinya dari aspek aktualisasi kehidupan iman. Ia berpandangan bahwa istilah spiritualitas berasal dari kata roh, dan roh itu memberikan hidup serta dorongan kepada seseorang untuk bertindak, sehingga spiritualitas Kristen berhubungan dengan hidup beriman yang mendorong atau memotivasi dan bagaimana seseorang mendapat pertolongan dan ketahanan serta semangat untuk mencapai kesempurnaan sesuai kebenaran Firman Tuhan.[30]

            Pada dasarnya spiritualitas bukanlah sebuah tindakan spontan sebagai reaksi terhadap dorongan roh, melainkan sebagai sebuah pola atau sikap hidup yang menampilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri,[31]demikian menurut Victor Tanja. Karena itu, spiritualitas Kristiani adalah pilihan yang  diambil untuk “mengenal dan bertumbuh” dalam hubungan sehari-hari dengan Tuhan Yesus Kristus dengan menaklukkan diri kepada pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan. Hal ini berarti bahwa sebagai orang-orang percaya,  ada komitmen yang kuat dengan memutuskan untuk menjaga agar komunikasi dengan Roh Kudus tetap terbuka melalui pengakuan dosa (1 Yohanes 1:9).[32] Jadi  spiritualitas Kristen merupakan sifat dan sikap hidup yang merupakan respon dan komitmen terhadap dorongan dari Roh Allah untuk hidup secara sempurna seperti Kristus (Christlikeness).

 

2.     Dinamika Spiritualitas Kristen

Kedewasaan rohani merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang Kristen sejati, sebab seorang Kristen sejati seharusnya bertumbuh secara rohani. Kedewasaan tidak terjadi melalui suatu proses yang instan dan bersifat konstan, namun merupakan sebuah gerak dinamis ( 2 Kor 3:18; 1 Tes 4:1,10; 2 Tes 1:3) yang tercermin melalui kesempurnaan yang berarti dewasa, lengkap bukan dalam arti yang sempurna sebagai orang yang tidak berdosa, melainkan pribadi Kristen yang matang, seimbang dan dewasa[33] atau dalam istilah lain “beralih pada perkembangan yang penuh”.[34] Kematangan rohani terjadi karena adanya upaya penyadaran diri secara penuh kepada Allah, unsur mengasihi dan memuji Allah, unsur kerja sama dengan Allah, dan unsur mengerti kendak Allah dan ciptaaNya, sehingga orang yang seperti inilah yang hidupnya mengandalkan Allah dan senantiasa bersekutu denganNya.[35]

Pertumbuhan rohani menyangkut banyak aspek, yang kesemuanya itu merupakan bagian integral dan tidak mungkin dilepaskan. Alkitab mengajarkan bahwa pertumbuhan rohani mencakup banyak segi karena pada dasarnya kehidupan Kristen terdiri dari banyak aspek, namun semuanya saling berhubungan. Paulus sering berbicara tentang pertumbuhan rohani dalam segala hal (Ef 4:15) yaitu dalam kaitannya dengan pengetahuan tentang Alkitab, pemikiran (aspek intelektualitas), kerendahan hati (aspek mentalitas), kejujuran (aspek moralitas), kesaksian (aspek perilaku Kristiani), doa (aspek spiritualitas), penatalayanan (aspek diakonia), kesabaran dan sebagainya.[36] kebutuhan dan kondisi yang demikian seharusnya tetap dan terus mendapat perhatian yang serius bagi seorang Kristen.

Segala daya upaya dalam mencapai pertumbuhan rohani bukan hal yang mudah  dilakukan, banyak cara yang ditawarkan, namun hal ini tidak mengindikasikan bahwa seorang Kristen merupakan obyek pasif, melainkan subyek yang harus secara aktif bekerja keras dan berusaha dengan berlandaskan pada suatu tekad yang bulat. Seorang Kristen yang spiritual harus melakukan sesuatu dan berupaya mentaati Tuhan dalam menerapkan FirmanNya disetiap langkah hidup dan tunduk sepenuhnya pada pimpinan Roh Kudus karena hal itulah tindakan dasar dari seluruh langkah menuju kepada kedewasaan rohani.

Pertumbuhan rohani hanya mungkin tercapai jika orang-orang percaya terus menjalin hubungan yang intim dengan Allah, dengan setia menghidupi kehidupan rohaninya dengan makanan rohani yang telah Allah sediakan, yaitu Firman.[37]pertumbuhan ini merupakan suatu proses yang dilandasi oleh kesadaran penuh untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup melalui Firman itu, sehingga secara sederhana orang Kristen yang bertumbuh adalah orang yang memilih dengan sengaja untuk bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang berarti menerima kehendak Tuhan meskipun itu mungkin bertentangan dengan kepentingan pribadi.[38]

Jadi pertumbuhan rohani atau spiritualitas Kristen merupakan suatu prinsip hidup yang dengan kesadaran dan kerelaan penuh bersedia untuk mentaati kehendak Allah dalam hidup melalui Firman dengan tuntunan Roh Kudus. Pertumbuhan rohani dapat terus semakin dimantapkan melalui keterlibatan secara aktif dalam kegiatan rohani (Kol 2:8-3:1). Melalui kegiatan-kegiatan inilah hidup seorang Kristen dituntun untuk secara dinamis mengalahkan kehidupan lama yang sarat dengan keinginan daging dan menyesatkan (Kolose 3:5-9).

 

3.     Dasar Dinamika Spiritualitas Kristen

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemahaman dan pengalaman hidup rohani merupakan bagian integral yang saling terkait dengan erat. John Walfoord menyatakan bahwa “faith is here taken from the sum of Christian doctrin and what he imidietly adds about good doctrin, is for the sake of explanation for he means, that all others doctrines, how plausikle so ever the may be, are not at all profitable”.[39] Menurutnya hakikat iman merupakan akumulasi dari sejumlah pemahaman tentang ajaran-ajaran Kristen dan ajaran-ajaran yang dianggapnya baik. Bertolak pada dasar pemikiran yang demikian, maka teologia menjadi sangat berperan dalam menyediakan dasar filosofis dalam setiap prilaku kehidupan Kristiani seseorang. Namun demikian tidak serta merta pengetahuan teologis sendiri cukup untuk menumbuhkan iman seseorang, diperlukan juga refleksi terhadap pengetahuan itu melalui pengalaman hidup.

            Kehidupan spiritualitas secara umum biasanya dibangun melalui proses pengalaman yang dinamis dan bersumber pada suatu kehidupan asketis.[40] Dalam konteks kekristenan pembentukan pengalaman rohani tidak hanya melalui mekanisme yang menjadikan sebuah kegiatan keseharian justru menjadi sebuah kebiasaan agamawi/habitus sebab kegiatan-kegiatan itu justru menjadi sebuah tindakan yang dilakukan tanpa kesadaran penuh atau penghayatan terhadap Tuhan. Oleh sebab itu orang-orang percaya memerlukan perjumpaan dengan Kristus secara personal atau yang oleh Hendra disebut sebagai  “lompatan imajinatif”  yang akan membangkitkan kesadaran diri dan menciptakan transformasi dalam hidup.[41]

            Perjumpaan dengan Kristus adalah dasar atau pondasi dimana pengalaman-pengalaman spiritual seseorang kemudian dibangun. Perjumpaan ini tidak selalu bersifat teofani sebab Yesus demikian kreatif dalam menyentuh setiap umatNya guna memunculkan kesadaran personal akan pentingnya sebuah kehidupan yang bertumbuh. Perjumpaan dengan kristus ini merupakan sebuah peristiwa yang unik dan rumit, disebut unik karena pengalaman rohani seseorang akan selalu berbeda dengan pengalaman orang lain, disebut rumit karena tidak akan ada sebuah kemampuan yang dapat menjelaskan fenomena itu secara akurat dan ilmiah. Namun demikian melalui perjumpaan personal dengan Kristus itu setiap orang percaya mengalami transformasi pengetahuan rohani yang dapat menuntun seseorang dalam menjalankan kehidupan praktisnya. Menurut Hendra G.Mulia,[42] transformasi akibat perjumpaan personal seseorang dengan Kristus berdampak pada tiga hal,

Pertama, seseorang akan mengalami krisis dalam hidupnya. Krisis dalam konteks ini adalah sebuah sentakan hidup yang ditimbulkan oleh masuknya sebuah pengetahuan atau paradigm baru di luar pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki selama ini. Pengalaman perjumpaan ini selalu berdampak pada perubahan paradigm yang terus bekerja dan mengarahkan perilaku seseorang sesuai dengan pengetahuan baru tersebut.

Kedua, adalah proses pertentangan antara tatanan berfikir dan pengalaman yang lama dengan paradigm baru. Ide atau gagasan baru yang ditimbulkan oleh perjumpaan tersebut menjadi sebuah refleksi yang menantang paradigm lama seseorang. Ide-ide baru yang mengarahkan dan menuntun kepada kehidupan yang menuju kesempurnaan penuh seperti Kristus (Christlikness).

Ketiga, akibat perjumpaan itu seseorang akan memiliki paradigm atau cara berfikir yang baru, yaitu cara Allah berfikir. Seorang Kristen akan melihat bagaimana Allah melihat, mendengar sebagaimana Allah mendengar dan bertindak sebagaimana Allah ingin seseorang itu lakukan.

            Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan sebagai landasan pembentukan spiritualitas Kristen oleh Bambang Wijaya dipahami melalui empat pancaran. Menurutnya Spiritualitas Kristen  tersebut berpijak kepada empat dasar. Pertama yaitu pengenalan terhadap pribadi Tuhan melalui pengungkapan diri-Nya dalam Kitab Suci dan Kristus yang adalah inkarnasi dari Tuhan itu sendiri. Kedua pengalaman dengan Tuhan melalui keterbukaan terhadap karya dan kehadiran Roh Kudus baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bersama sebagai umat. Ketiga perubahan kehidupan oleh karena pengenalan dan pengalaman bersama dengan Tuhan. Keempat adalah dampak dari relasi dengan Tuhan dalam dalam pemikiran maupun dalam perilaku kehidupan sehari-hari di dunia. Keempat pancaran tersebut dapat dijelaskan demikian,

·       Pertama, pengenalan terhadap pribadi Tuhan ini bukan bersifat sekedar suatu pengetahuan kognitif atau akademis, namun mencakup di dalamnya relasi yang menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan kita, Sehingga dengan demikian hubungan dengan Tuhan tersebut tidak bersifat parsial atau setengah-setengah, namun bersifat holistic atau menyeluruh. Pengenalan tersebut juga berdasarkan pada acuan obyektif yaitu kebenaran Kitab Suci dan pribadi Yesus Kristus yang bersifat historical, Sebab tanpa acuan obyektif, maka tak akan mungkin bagi kita untuk mengembangkan moralitas apalagi spiritualitas. Hal ini sangat mudah untuk dipahami, sebab tanpa acuan kebenaran yang obyektif dan absolut tidak mungkin dikembangkan suatu moralitas dan spiritualitas yang universal

·       Kedua, pengalaman dengan Tuhan ini tak dapat diabaikan, sebab secara praksis dalam konteks masyarakat postmodem faktor pengalaman sangatlah penting. Di sisi lain pengalaman ini juga menegaskan bahwa Tuhan yang dari padanya kehidupan manusia bersumber bukanlah sekedar suatu “impersonal power”, konsep ataupun imajinasi, namun benar-benar suatu pribadi yang eksis dan masih terus berkarya di dunia sampai saat sekarang, Pengalaman tersebut haruslah dalam konteks pribadi, sebab Tuhan menghargai manusia sebagai pribadi individual, namun juga harus dalam konteks komunal, sebab bukan saja hal tersebut merefleksikan sifat Trinitarian Tuhan namun juga hanya melaluinya transformasi kehidupan dapat terjadi.

·       Ketiga, transformasi kehidupan oleh karena pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan tersebutlah yang akan membawa perubahan trancendental dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, melaluinya manusia akan mengalami perubahan untuk mencapai panggilan dirinya yang sejati

·       Keempat, relasi dengan Tuhan baik oleh pengenalan dan pengalaman bersama dengan Dia tersebut harus termanifestasikan dalam pola pikir dan kehidupan sehari-hari, sebab hanya dengan demikian barulah dapat dikatakan bahwa relasi tersebut bersifat otentik. Manifestasi spiritualitas ini bukan hanya dalam sebatas kehidupan beribadah, namun dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, dalam dunia kerja, dalam dunia berumah tangga, juga dalam dunia politik dan budaya.[43]

Dinamika pertumbuhan spiritualitas Kristen yang sejati harus dibangun di atas dasar yang tepat, karena spiritualitas yang dikembangkan melalui upaya-upaya mekanis, asketis, maupun mistis di luar konsep yang diajarkan oleh Allah akan membawa manusia semakin jauh dari Allah. Oleh karenanya pengalaman perjumpaan dengan Tuhan (personal encounter with Christ) adalah secara signifikan dan mutlak menjadi prasyarat utamanya.

 

4.     Karakteristik Dinamika Spiritualitas Kristen

            Spiritualitas Kristen dibangun di atas dasar penyataan Allah dan pemahaman teologis yang Alkitabiah, sehingga hal ini membedakannya dengan spiritualitas yang ditemukan di luar kekristenan. Meskipun pancaran dari spiritualitas Kristen dengan spiritualitas lain hampir mirip, namun hal itu tidak mengindikasikan kesamaan substansi dan nilainya, oleh sebab itu karakteristik spiritualitas Kristen yang membedakannya dengan yang lain adalah :

 

a). Bersyaratkan Kelahiran Baru

            Perbedaan mendasar antara orang-orang Kristen dengan orang lain adalah perbedaan naturnya. Natur itu pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap tujuan dan orientasi hidup manusia, termasuk spiritualitasnya. Orang percaya merupakan “ciptaan baru” di dalam Kristus sedangkan di luar itu semua manusia adalah berdosa, naturnya adalah budak-budak dosa (enslaved sinner) sehingga orientasi hidupnya tidak akan pernah sesuai dengan kekudusan Allah, demikian pula spiritualitasnya berkembang di luar lingkup anugerah dan hukum Allah.

            Proses kelahiran baru dilatar belakangi oleh masuknya masalah terbesar manusia ke dunia dan menghantuinya sepanjang masa yaitu kematian, hal ini merupakan dampak kematian manusia dalam kesalahan dan dosa-dosanya (Ef 2:1; 1 Kor 15:22). Solusi dari permasalahan ini adalah penanaman kembali kehidupan yang ilahi yang disebut sebagai regenerasi atau kelahiran kembali secara rohani. Dalam upaya mendapatkan pemahaman tentang konsep ini, kita harus melakukan suatu penelitian terhadap istilah Yunaninya dan juga hubungan antara konsep-konsep tersebut, karena kita tidak akan pernah menemukan latar belakang ataupun istilah lahir baru dalam Kitab-Kitab Perjanjian Lama “ a biblical theological approach to regenaration begins with an examination of the New Testament word and its related concepts; there is no word for regenaration in the Old Testament.[44]

            Istilah kelahiran baru berasal dari istilah genethe anothen yang artinya lahir kembali (Yoh 3:3,5), dan dari kata paliggenesia yang memiliki dua makna, secara umum  menunjuk kepada pembaharuan segala sesuatu, pembaharuan alam semesta yang terjadi pada Kedatangan Kristus kedua kali (Mat 19:28, Tit 3:5), dan secara khusus menunjuk pada karya Tuhan yang dikerjakan secara langsung dengan perantaraan Roh Kudus untuk mencurahkan hidup baru dalam diri seorang manusia, yang semula mati secara rohani sehingga hidup kembali dengan esensi yang baru.

           Secara teologis istilah ini memiliki makna bahwa kelahiran baru adalah aktifitas Roh Allah yang memberikan kodrat baru kepada seseorang didasari oleh karena ia telah menerima Yesus Kristus, sehingga secara prinsip kelompok reformed dan injili berpandangan (melalui pengakuan yang termaktub dalam Westminster Confession) bahwa kelahiran baru merupakan “Regenaration an act of God, Regenaration an act of God’s Power, Regeneration is a new life (in regeneration a new life is communicated to the soul, man is the subject of new birth, he receives a new nature or new heart and becomes a new creature)”.[45]

            Berdasarkan latar belakang inilah dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Kristen dapat menghasilkan buah-buak perbuatan yang baik dan benar, serta berkenan kepada Allah karena hanya orang-orang yang sudah lahir barulah yang memiliki kuasa dan mampu berbuat yang demikian (Yoh 1:12), Sedangkan spiritualitas yang dibangun di luar konsep itu adalah kesesatan (Efesus 2:1).

 

b). Berfokus Pada Kristus (Kristosentris)

Seluruh orientasi kekristenan berpusat pada Kristus, sehingga dasar, prosedur, tujuan dan mekanisme pertumbuhan spiritualitas Kristen diarahkan kepada pribadi Yesus. Pada studi teologi sistematika dan dogmatika dikemukakan bahwa fakta ketika kita membahas tentang siapa Yesus dan apa yang dilakukanNya, maka kita berada pada suatu pusat dari seluruh teologia dan kehidupan Kristen, hal itu juga diungkapkan oleh Millard J.Erickson bahwa “when we come to the study of person and work of Christ, we are at the very center of Christian Theology. For since Christian are definition believers in and followers of Christ, their understanding of Christ must be central and determinative of the very character of the Christian faith.”[46]

Kristus merupakan sentral dari seluruh karakteristik iman Kristen, keunikan Kristus merupakan ciri yang paling mendasar dari seluruh doktrin/iman Kristen, dan tentunya keunikan tersebut tidak bersifat subyektif dan individual, melainkan bersifat obyektif dan universal “The uniqueness of Jesus Christ is not an exclusive claim purely for the Christian community, or for the disciples of Jesus Christ. It has universal validity. In other words, Jesus Christ without universal validity is merely an illusion.”[47]

            Pembentukan spiritualitas Kristen bukan hanya sekedar berorientasi pada pribadi dan pengajaran Kristus, semata, namun spiritualitas bertujuan membangun kehidupan orang-orang percaya menuju kematangan pada tingkat tertentu yaitu suatu proses menuju kepada keserupaan dengan Kristus (Christlikeness). Kesimpulannya bahwa ciri khusus dari spiritualitas Kristen adalah didasari oleh pengorbanan Kristus, dikerjakan melalui keteladanan dan perkataan Kristus, sasarannya supaya terjadi transformasi menuju keserupaan dengan Kristus (Christlikeness) dan diarahkan/bertujuan akhir  untuk kemulyaan Kristus, dan itu semua bersumber pada Penyataan Allah dan teologia yang Alkitabiah.

 

c). Bersifat Biblical Dogmatis

Ada keunikan tersendiri yang dimiliki oleh kepercayaan Kristen (doctrinal maupun praxis)   dibandingkan dengan kepercayaan lain, yaitu bahwa Allah merupakan subyek, yang secara aktif mencari manusia dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dan manusia itu sendiri hanyalah sebagai obyek.[48] Dari bagian awal sampai penutup Alkitab menunjukkan bahwa Allah berperan secara aktif dalam mencari manusia. Tindakan ini sangat penting oleh karena penyataan Allah merupakan cara Allah sendiri berkomunikasi dan menyatakan diri-Nya[49] kepada semua orang di segala waktu melalui penyataan umum-Nya dan kepada orang-orang tertentu pada waktu-waktu tertentu melalui penyataan khusus-Nya. Penyataan Allah tidak hanya dimaksudkan supaya manusia mengenal oknum Allah saja, tetapi juga apa yang telah Ia lakukan, tentang ciptaan-Nya dan hubungan antara Allah dan manusia. Hal ini merupakan informasi yang riil, obyektif dan rasional dari Allah kepada manusia.

Oleh karena Alkitab merupakan sarana yang dipakai Allah secara khusus untuk mengkomunikasikan kehendakNya kepada manusia maka melaluinya pula spiritualitas Kristen dibangun, diawasi dan diuji. Demikian pula masalah tradisi dan nilai-nilai yang dipegang oleh Gereja menjadi bagian penting bagi spiritualitas Kristen sebab, melalui tradisi Gereja itu orang percaya mendapat gambaran dan referensi bagaiman para pendahulu mereka menghayati Firman itu dalam konteks mereka. Kebenaran-kebenaran fundamental yang diajarkan  Tuhan melalui Alkitab tidak boleh dikompromikan dengan nilai-nilai apapun, baik itu budaya maupun kepentingan, artinya Alkitab menjadi acuan dalam pembentukan spiritualitas Kristen.

 

d). Berlingkupkan  Ministry Ekklesiologis

Alkitab secara konsisten memaparkan kebenaran bahwa setiap umat Allah terpanggil untuk melayaniNya. Panggilan pelayanan ini bukan hanya didasari oleh kebaikan Tuhan yang telah menyediakan jalan keselamatan bagi semua orang percaya, namun juga oleh karena keteladanan Yesus yang telah terlebih dahulu merendahkan diriNya sendiri untuk melayani ketika hadir ke dunia melalui karya inkarnasi. Keteladanan hidup Yesus secara eksplisit mengarahkan orang percaya untuk memberikan diri secara sukarela dan penuh kesadaran untuk melayani orang lain, secara khusus saudara-saudara seiman. Yesus tidak sekalipun mengajarkan agar orang percaya hanya mengikuti teladan etisnya semata-mata, namun lebih dari itu semua, Yesus mengharapkan agar menghayati eksistensi baru yang telah diciptakan pada saat kelahiran baru.[50] Penghayatan  terhadap natur yang baru inilah seharusnya terimplementasi melalui kehidupan yang melayani Tuhan.

            Spiritualitas Kristen saling terkait dengan pelayanan gerejawi. Pelayanan ini merupakan pelayanan yang holistic atau menyeluruh sehingga melampaui batas-batas atau segi-segi kehidupan manusia. Abineno berpandangan bahwa diakonia atau pelayanan Kristen bukan hanya merupakan pelayanan tambahan saja dari Gereja, melainkan pelayanan yang penuh menyeluruh,[51] maksudnya suatu pelayanan merupakan pelayanan yang universal, bukan hanya ditujukan pada diri sendiri, kelompok/golongan gereja tertentu saja, melainkan untuk seluruh umat manusia. Secara praktis, ada begitu banyak bentuk pelayanan gerejawi, namun kesemuanya itu dapat diklasifikasikan ke dalam empat bentuk pelayanan saja, yaitu Pemberitaan Firman, Konseling pastoral, Persekutuan (koinonia), Pemberian bantuan atau diakonia (pelayanan social)[52]

Keempat jenis pelayanan tersebut merupakan bagian yang integral, saling berdampingan, dan melengkapi karena dasar pelaksanaannya adalah kebenaran Kitab Suci (Alkitab) dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab memberikan berita dan isi yang utama bagi semua pelayanan Kristen, entah itu dalam pelayanan yang berbentuk pemberitaan, pengajaran, konseling, maupun dalam bentuk lainnya, sedangkan Allah Roh Kudus memberikan dan menyediakan segala daya rohani (spiritual drive) bagi pelayanan tersebut.

            Pelayanan Kristen memiliki sasaran yang jelas dalam pengaturan dan pelaksanaan misi Allah terhadap GerejaNya, secara khusus melalui gereja local untuk pembangunan tubuh Kristus. Tujuan pelayanan Kristen adalah untuk memberlakukan ketuhanan Yesus Kristus, membangun tubuhNya, yaitu gereja agar menjadi dewasa dalam kasih, keesaan dan kekudusan, sehingga semua orang percaya dapat bersaksi melalui penginjilan dan pengabdian penuh kasih kepada dunia yang dirundung kegelapan dan kesengsaraan.[53]

            Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, jelaslah bahwa sasaran dari pelayanan Kristen adalah keselamatan bagi manusia dan pertumbuhan rohani/spiritualitas bagi umat Allah, Alkitab secara konsisten memberikan arah dan isi dari pelayanan, sedangkan Roh Kudus secara aktif bertindak memberikan dorongan dan kekuatan dalam mencapai tujuan tersebut. Orang  Kristen yang ingin terus bertumbuh spiritualitasnya tidak seharusnya terkungkung dalam batasan-batasan pelayanan tertentu, namun berkarya secara luas untuk melakukan kebaikan secara luas.

 

e). Berimplikasi  Universal

Dengan bercermin pada Firman Tuhan, dapatlah ditemukan sebuah kesimpulan umum, bahwa kekristenan mengemban misi bagi dunia dan hal ini sinergi dengan amanat Agung Tuhan Yesus (Mat 28:19-20). Artinya kekristenan harus memberikan terang dan menggarami dunia secara universal agar dunia mengenal dan memulyakan Allah.  Orang Kristen dipilih secara ekslusif namun mengemban tugas dan tanggung jawab yang inklusif.

Kebaikan yang Yesus perintahkan, bukanlah bersifat ekslusif, komunal apalagi bersifat etnis. Alkitab secara jelas memberikan landasan konseptual dan praktik yang cukup memadai untuk masalah-masalah ini sebab Yesus seringkali mengajarkan agar iman Kristen harus dinikmati oleh sesama manusia sebagaimana maksud dan tujuan inkarnasinya (Yoh 3:16). Konsep  mengenai sesama manusia bersifat sangat umum sebagaimana di tuliskan dalam Lukas 10:29-37).   Dalam Bible Knoledge Commentary dijelaskan mengenai hal ini bahwa sesama manusia adalah siapa saja yang memerlukan tindakan baik dari orang percaya.

The Samaritans were scorned by the Jews because of their mixed Jewish and Gentile ancestry. It is ironic, then, that a Samaritan helped the half-dead man, dressing his wounds, taking him to an inn, and paying his expenses. By askingWhich... was his neighbor? (Luke 10:36) Jesus was teaching that a person should be a neighbor to anyone he meets in need. The ultimate Neighbor was Jesus, whose compassion contrasted with the Jewish religious leaders who had no compassion on those who were perishing. Jesus wrapped up His teaching with the command that His followers were to live like that true neighbor .[54]

 

Demikianlah spiritualitas Kristen idealnya diejawantahkan dalam perbuatan baik yang dapat dinikmati oleh siapa saja, tanpa batasan status sosial ataupun ekonomi.

 

E.    Relasi Antara Teologia dan Spiritualitas Kristen

            Pertanyaan penting yang hendak dibahas dalam bagian ini adalah, apakah teologia atau pengetahuan teologis seseorang secara signifikan turut mempengaruhi pertumbuhan spiritualitasnya? berdasarkan pada beberapa sumber literature dan penelitian ilmiah dapatlah dismpulkan bahwa ada hubungan yang saling terkait dan saling mempengaruhi di antara kedua hal tersebut.

            Gereja masa kini tidak hanya membutuhkan para pelayan yang cakap dalam kemampuan akademis kognitif atau dalam istilah lain memiliki kecerdasan rasional dan teologia yang baik semata-mata, namun juga perlu pelayan yang saleh dan berkarakter. Saleh dalam hal ini memiliki pengertian bahwa kehidupan spiritualitasnya dapat menjadi teladan bagi jemaat. Pemahaman teologia yang baik jika tidak diimbangi dengan kehidupan spiritualitas yang baik pula maka pelayanannya tidak akan menjadi berkat, melainkan menjadi kutuk.[55] Dalam seluruh kesaksian tokoh iman yang dicatat dalam Alkitab menunjukkan para pelayan yang berhasil dalam pelayanannya adalah mereka yang memiliki spiritualitas yang unggul.

Pertumbuhan spiritualitas ini merupakan prasyarat utama yang tidak dapat digantikan dan digeser oleh apapun meski dunia dan tuntutannya terus mengalami arus perubahan. Pedoman untuk pelayan yang memiliki spiritualitas tinggi ini merupakan prinsip fundamental. Sekolah teologia terpanggil untuk mencetak lulusan yang mampu melayani secara ekklesiatikal namun juga ditopang oleh mutu spiritualitas yang baik sebab bagaimanapun kesaksian hidupnya berteriak lebih keras dari pada suara khotbahnya di mimbar.

Pada dasarnya spiritualitas seorang pelayan dan profesionalismenya dalam pelayanan sangat sulit dibedakan, atau bahkan dipisahkan karena dua bagian ini merupakan entitas yang tidak mungkin dilepaskan, Barlow berpandangan bahwa  kepribadian dan profesionalisme begitu tumpang tindih, namun keduanya sangat diperlukan dan saling terkait.[56] Kepribadian seorang pelayan menentukan profesionalismenya, dan profesionalismenya ditentukan dan membentuk karakter dan spiritualitasnya.

 Di dalam bidang tugasnya sebagai seorang pelayan Tuhan, seseorang tidak hanya mengajarkan disiplin ilmu  dengan harapan jemaat memiliki pemahaman-pemahaman yang bersifat kognitif semata, melainkan harus menanamkan sikap dan sifat atau mentalitas yang baik, serta keterampilan hidup yang kaya. Kedua hal tersebut tidak dapat diajarkan dengan metodologi yang sama seperti dengan metodologi ketika mengajarkan pengetahuan, melainkan harus diempartasikan melalui keteladanan hidup dari seorang pelayan Tuhan.

Bagi jemaat, contoh atau keteladanan spiritualitas dari hamba Tuhan lebih bermakna dari pada rangkaian kata-kata yang indah,

Kita mengajarkan jauh lebih banyak dengan contoh hidup kita dari pada kata-kata kita, sebab itu contoh yang kita perlihatkan dalam hidup kita selamanya jauh lebih penting dari pada metode-metode yang kita pakai. Sikap dan kelakuan guru akan mempengaruhi murid-muridnya lebih dari kata-katanya. Ini berarti bahwa contoh hidup guru yang tidak memperkuat dan menekankan pengajaran yang disampaikannya akan membantah ajaranya sendiri.[57]

 

Keteladanan hidup dari seorang pelayan Tuhan lebih mudah diterima dan tertanam dengan kuat dari pada sekedar untaian kata-kata, sehingga kualitas pribadi Hamba Tuhan merupakan komponen yang sangat penting dalam sebuah pelayanan gerejawi.  Sikap, paradigma, dan prilaku  menjadi unsur yang mempengaruhi dalam profesionalisme pelayanan seorang Hamba Tuhan karena hal ini akan turut menentukan arah pelayanan gereja karena menjadi pelayan tidak cukup dengan pengetahuan saja, melainkan harus memiliki pola hidup yang baik dan dewasa. Seseorang dikatakan sebagai Hamba Tuhan tidak cukup dengan hanya tahu sesuatu materi yang hendak diajarkan tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki kepribadian seorang Hamba dengan segala ciri dan tingkat kedewasaannya.         

Pelayanan yang efektif perlu diimbangi dengan contoh-contoh perilaku dan spiritualitas yang baik. Sebuah pengajaran dan pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung pada berbagai disiplin ilmu pengetahuan jika dibarengi dengan keteladanan hidup dari seorang pelayan lebih signifikan dalam mengembang tumbuhkan sikap mental pada diri jemaat.

            Selain kepribadian seorang pelayan merupakan bagian yang turut mempengaruhi prilaku jemaat, kepribadian Hamba Tuhan yang menarik sangat mempengaruhi suasana atau atmosfir pelayanannya “ …teacher may shy away from the idea that the effectiveness of what he teachers depens on the kind of person he is, nevertheless it is true, a happy, adequate, sincere personality will make the christian message attractive to his pupils[58], bagi Karen kepribadian guru atau pelayan Tuhan yang menarik sangat mempengaruhi dalam proses transformasi informasi dari seorang pengajar terhadap pembelajar, bahkan mungkin tingkat kepentinganya melebihi dari seberapa banyak pengetahuan kita “Though a happy, attractive personality is more important than being a storehouse of information, yet the amount of knowledge we posses is important[59]. Berupaya menjadi pribadi yang menarik (bukan dalam arti bersandiwara) menjadi penyeimbang dalam upaya seorang pelayan Tuhan dalam mempersiapkan segala informasi atau materi yang hendak diajarkan kepada jemaat sehingga tercipta proses pembelajaran yang efektif.

            Oleh karena alasan-alasan di atas maka Sekolah teologia dituntut untuk memfasilitasi para pelayan ini secara holistic, yaitu pembentukan intelektualitas maupun spiritualitas. Kedua aspek ini merupakan bagian yang integral yang harus dilakukan secara simultan. Semua program dan implementasinya harus diarahkan pada kedua sasaran tersebut. Perkuliahan yang bersifat sangat akademispun harus selalu dikaitkan dan sinergikan dengan upaya pembentukan spiritualitas.

 

 

BAB III

PENUTUP

Bagian ini akan akan dibagi menjadi dua pembahasan, yaitu kesimpulan dan kontribusi/saran :

A.    Kesimpulan

 

B.    Kontribusi Gagasan

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Alfius Areng Mutak, Diktat kuliah Pascasarjana Formasi Spiritualitas, Malang : Institut

Teologi Aletheia, 2012

Alister McGrath, Christian Spirituality, UK: Blackwell Publishing Ltd,2003

Arie Jan Plaisier, Manusia Gambar Allah, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999

Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah, Surabaya :Momentum, 2000

Bambang H.Widjaja dalam http://www.gkpb.net/index.php/component/k2/item/931-spiritualitas-

kristen-kontemporer

Bible Knowledge Commentary/New Testament Copyright © 1983, 2000 Cook Communications

Ministries. All rights reserved.

BJ. Boland, Intisari Iman Kristen, Jakarta : BPK Gunugn Mulia, 1984

Charles Hodge, Systematic Theology,Abridge Edition, Grand Rapid : Bakker Book Publisher

Colin Brown, Philosophy and The Christian Faith, London : Tyndale Press, 1969

Daniel Lucas Lukito, Pengantar Teologi Kristen I, Bandung:Yayasan Kalam Hidup,t.t

Desmond Alexander, et al, New Dictionary of Biblical Theology, Illionis : Interversity Press,

2000  

Eta Linnemann, Teologi Kontemporer,Ilmu atau Praduga, Malang : Institut Injil

Indonesia,1991

G.Christian Weiss, Bagaimana Menjadi Seorang Kristen Sejati, Jakarta : Memori Press, 1951

Gene Edward Veith,Jr, Dengan Segenap Akal Budi, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003

Gottfried, Pemimpin Yang Menjadi Pelayan, Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 1998

Harvie M.Conn, Teologia Kontemporer, Malang : SAAT, 1988

Hendra G.Mulia, Menjadi Religius dan Spiritual, Dalam Integrated Life, Jogjakarta : Yayasan

ANDI,2006

Henry C.Thiessen, Teologi Sistematika, Malang : Gandum Mas, 1992

http://www.gotquestions.org/Indonesia/spiritualitas-Kristiani.html#ixzz0Ro841aaM

J.Wentzel Van Huyssteen, Teologi dan Sains Dalam Dunia Post Modern, Duet atau Duel ?,

Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002

J.Wesley Brill, Dasar Yang Teguh, Bandung : Kalam Hidup, 1978

JL.Ch.Abineno, Jemaat, Peraturan, Susunan Pelayanan, dan Pelayanan-Pelayanannya, Jakarta

: BPK Gunung Mulia, 1988

____________, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, Jakarta : BPK Gunung Mulia,

2000

John F Walfoord, Roy B.Zuck, The Bible Knowledge of New Testament Commentary, USA :

Victor Book, 1983

John Haughey, The Faith That Does Justice, New York : Paulist Press, 1977

John Lei, Perjuangan Iman, Jakarta : PT Buana Ilmu Populer, 1976

Karen Anderson, Ways of Teaching, Pensylvania : The Muhlenberg Press, 1952

Ken Gnanakan, The Pluralistic Predicament, India : Theological Book Trust, 1992

Kreamer, Teologia Kaum Awam, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1981

Loren Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2002

Millard J.Ericson,  Introduction Christian Doctrine, Michigan : Bakker Book House,1992

Millard J.Ericson, Teologi Kristen 1,  Malang : Gandum Mas, 1999

Purnawan Tenibemas, Spiritualitas di Sekolah Teologi. Dalam Jurnal Teologi STT Tiranus ,

Bandung : STAS, 2010

Ronald W.Leigh, Effective Christian Ministry, illionis : Tyndalle House Publisher, 1988

Simon Chan, A Dictionary Of Asian Christianity, Grand Rapid : Eerdemans Publishing House,

2001

Soemarto Martowirjono, Pendidikan PAK Pada SD, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi,

Jakarta : CV Paripurna,t.tp

Team Penyusun, Ensiklopedia Americana International, USA :Grolier Incorporated, 1985

V.Schunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen, Malang : YPPII, 1988

Viktor I Tanja, Spiritualitas, Dan Pembangunan di Indonesia, Jakarta : BPK Gunung

Mulia,1996

Wolfhart Pannenberg, Basic Questions in Theology, Volume 2, London : SCM Press LTD, 1971

Yakub B.Susabda, Teologi Modern I, Jakarta : LRII, 1990

 



[1] Pada tulisan selanjutnya akan disingkat dengan istilah IPTEK

[2] Team Penyusun, Ensiklopedia Americana International, (USA :Grolier Incorporated, 1985),P.268

[3] Colin Brown, Philosophy and The Christian Faith, (London : Tyndale Press, 1969),P.51

[4] Ibid.50

[5] ibid.49

[6] V.Schunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen, (Malang:YPPII,1988), Hlm.18

[7] Millard J.Ericson, Teologi Kristen 1, (Malang : Gandum Mas, 1999),Hlm.194

[8] Henry C.Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang : Gandum Mas, 1992),hlm11

[9] Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah, (Surabaya :Momentum, 2000),h.128

[10] Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2002),hlm.925

[11]Loren ibid, hlm.929

[12] Yakub B.Susabda, Teologi Modern I, (Jakarta : LRII, 1990),Hlm.42

[13] Arie Jan Plaisier, Manusia Gambar Allah, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999,Hlm.16

[14] Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah, (Surabaya : Momentum, 2000)Hlm.146

[15] Daniel Lucas Lukito, Pengantar Teologi Kristen I, (Bandung:Yayasan Kalam Hidup,t.t)Hlm.60

[16] Eta Linnemann, Teologi Kontemporer,Ilmu atau Praduga, (Malang : Institut Injil Indonesia,1991)hlm.168

[17] Arie Jan Plaisier, Op Cit,Hlm.18.

[18] Eta Linemann, Op Cit, hlm.167

[19] Harvie M.Conn, Teologia Kontemporer,(Malang : SAAT, 1988)hlm.17

[20] Eta,Op Cit,.h.168

[21] V.Scheunemann, Op Cit,hlm.

[22] Gene Edward Veith,Jr, Dengan Segenap Akal Budi, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003),hlm.126

[23] Daniel Lukas Lukito, Pengantar Teologi Kristen I, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, t.t),hlm.61

[24] Ibid, hlm.62

[25] J.Wentzel Van Huyssteen, Teologi dan Sains Dalam Dunia Post Modern, Duet atau Duel ?, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002),hlm.120

[26] Wolfhart Pannenberg, Basic Questions in Theology, Volume 2, (London : SCM Press LTD, 1971).P.46

[27] Daniel Lucas Lukito, op cit,hlm.62

[28] Diktat kuliah Pascasarjana Formasi Spiritualitas, (Malang : Institut Teologi Aletheia, 2012),hlm.1

[29] Simon Chan, A Dictionary Of Asian Christianity, (Grand Rapid : Eerdemans Publishing House, 2001),p.790

[30] Alister McGrath, Christian Spirituality, (UK: Blackwell Publishing Ltd,2003),p.2

[31] Viktor I Tanja, Spiritualitas, Dan Pembangunan di Indonesia, (Jakarta : BPK Gunung Mulia,1996)hlm.89

[33] BJ. Boland, Intisari Iman Kristen, (Jakarta : BPK Gunugn Mulia, 1984) hlm.37

[34] J.Wesley Brill, Dasar Yang Teguh, (Bandung : Kalam Hidup, 1978) hlm.287

[35] John Haughey, The Faith That Does Justice, (New York : Paulist Press, 1977) p.10-16

[36] Ronald W.Leigh, Effective Christian Ministry, (illionis : Tyndalle House Publisher, 1988) p.20-22

[37] G.Christian Weiss, Bagaimana Menjadi Seorang Kristen Sejati, (Jakarta : Memori Press, 1951)hlm.51

[38] John Lei, Perjuangan Iman, (Jakarta : PT Buana Ilmu Populer, 1976)hlm.130

[39] John F Walfoord, Roy B.Zuck, The Bible Knowledge of New Testament Commentary, (USA : Victor Book, 1983),p.740

[40] Hendra G.Mulia, Menjadi Religius dan Spiritual, Dalam Integrated Life (Jogjakarta : Yayasan ANDI,2006)Hlm294

[41] Ibid, hlm.295

[42] Ibid, hlm.17-18

[43] Bambang H.Widjaja dalam http://www.gkpb.net/index.php/component/k2/item/931-spiritualitas-kristen-kontemporer

[44] Desmond Alexander, et al, New Dictionary of Biblical Theology, (Illionis : Interversity Press, 2000), p.721     

[45] Charles Hodge, Systematic Theology,Abridge Edition, (Grand Rapid : Bakker Book Publisher),P.436

[46] Millard J.Ericson,  Introduction Christian Doctrine, (Michigan : Bakker Book House,1992).p207

[47] Ken Gnanakan, The Pluralistic Predicament, (India : Theological Book Trust, 1992),p.125

[48] V.Schunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen, (Malang:YPPII,1988), Hlm.18

[49] Millard J.Ericson, Teologi Kristen 1, (Malang : Gandum Mas, 1999),Hlm.194

[50] Kreamer, Teologia Kaum Awam, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1981)hlm.103

[51]Jemaat, Peraturan, Susunan Pelayanan, dan Pelayanan-Pelayanannya (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1988)hlm.130

[52] JL.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000)hlm.20

[53] Gottfried, Pemimpin Yang Menjadi Pelayan, (Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 1998)hlm.53-54

[54]  Bible Knowledge Commentary/New Testament Copyright © 1983, 2000 Cook Communications Ministries. All rights reserved.)

[55] Purnawan Tenibemas, Spiritualitas di Sekolah Teologi. Dalam Jurnal Teologi STT Tiranus , (Bandung : STAS, 2010)Hlm.3

[56] P.468

[57] Soemarto Martowirjono, Pendidikan PAK Pada SD, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi,(Jakarta : CV Paripurna,t.tp)hlm.12-13

[58] Karen Anderson, Ways of Teaching, (Pensylvania : The Muhlenberg Press, 1952) p.47-48

[59] Ibid,p.48

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...