BAB I
PENDAHULUAN
Doktrin/pengajaran tentang Kristologi dan Soteriologi merupakan pusat dari seluruh sistem doktrinal dalam teologi Kristen. Konsep tentang siapa Kristus dan apa karya-Nya, terutama dalam konsep keselamatan merupakan dasar bagi seluruh tatanan Teologia Kristen sehingga dapatlah kiranya kita bayangkan betapa penting dan perlunya kedua pokok bahasan tersebut, bukan hanya bagi para teolog, tetapi juga bagi seluruh orang-orang percaya. Kekuatan pengajaran tentang keduanya ini juga sangat menentukan bagi eksistensi seluruh pengajaran lainnya, jika saja kedua pengajaran ini lemah, maka secara otomatis runtuhlah seluruh sistem doktrinal Kristen lainnya, dan sekaligus lenyap dan sia-sia pulalah iman dan pengharapan kita. Pengajaran tentang Yesus Kristus dan Keselamatan merupakan satu bagian integral yang tidak dapat dilepas pisahkan di antara satu dengan lainnya. Permasalahan yang timbul dalam doktrin Kristologi, secara otomatis juga merupakan bagian dari permasalahan soteriologi, Paul Tillich pernah menyatakan “the Christology we find here is not theoritical problem, rather, the christological problem is one side of the soteriological problem. The question of salvation is the basis of the christological problem”[1]. Oleh sebab itu masing-masing doktrin tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi, bukan hanya di antara dua pengajaran itu saja, melainkan juga dengan keseluruhan pengajaran-pengajaran/ doktrin Kristen lainnya. Ada begitu banyak alasan mengapa kedua doktrin yang akan dibahas ini harus menempati posisi sentral, dan perlu mendapatkan perhatian lebih di antara doktrin-doktrin lainnya, di antara begitu banyak argumentasi, dalam tulisan ini akan membahas beberapa poin saja :
1. Karena Tingkat Kepentingan Kristologi Itu Sendiri
“Tingkat kepentingan” dalam konteks ini maksudnya adalah bahwa doktrin itu sendiri adalah memang sangat penting dari dalam dirinya sendiri, tanpa ada unsure dan upaya eksternal yang mempengaruhi. Seluruh penyelidikan dalam Kekristenan dimulai dari diri pribadi Yesus Kristus yang histories tersebut, sebab apa yang dilakukan dan dikatakan/firmankan oleh Allah dinyatakan secara penuh di dalam diri pribadi Kristus. John R.W Stott mengemukakan dua alasan penting mengapa Kristologi itu sangat penting dan menjadi sentral dalam kekristenan
Pertama, essensi dari kekristenan adalah Yesus Kristus, pribadi dan karyaNya merupakan batu dimana agama Kristen dibangun. Jika Yesus bukanlah seperti yang Ia katakan tentang DiriNya, dan jika Dia tidak melakukan seperti yang Ia katakan tentang karya/maksud kedatanganNya, maka seluruh tatanan kekristenan akan hancur.
Kedua, jika Yesus mampu menunjukkan keunikanNya dibanding dengan pribadi lainnya maka seluruh masalah yang berkenaan dan menyerang kekristenan dengan sendirinya akan terpecahkan. Eksistensi Allah telah dibuktikan dan karakterNya juga dinyatakan jika Yesus benar-benar ilahi[2].
Meskipun masih begitu banyak alasan yang dapat dikemukakan dalam permasalahan ini, namun dua alasan ini merupakan alasan yang sangat fundamental bagi kita dalam menyimpulkan tingkat kepentingan doktrin Kristologi dan juga soteriologi.
2. Tantangan Dari Dunia Yang Semakin Merajalela
a. Banyaknya Pengajaran Sesat
Kita tidak dapat memungkiri bahwa tantangan Gereja masa kini banyak datang melalui pengajaran yang menyimpang dari filsafat dunia maupun dari orang-orang yang berusaha meraup keuntungan (komersialisasi) melalui memanipulasi kebenaran dasar iman Kristen, karena sesuatu yang sekiranya menyerang/meruntuhkan doktrin-doktrin Kristen selalu menjadi karya best seller di dunia ini, misalnya saja novel Holy blood and holy grail, yang sangat laris terjual pada era 80-90 an, dan yang terbaru adalah Da Vinci Code karya Dan Brown. Bahkan beberapa tahun yang lalu National Geographic juga melaporkan temuannya dan mempublikasikan temuan arkeologi tentang dugaan kubur Yesus dan keluarganya yang lengkap dengan peti serta kerangka manusia, juga temuan naskah Injil Yudas[3] dari sebuah bank di Amerika.
Hal- hal demikian pada dasarnya memiliki kesamaan nilai, yaitu berusaha untuk mengoyahkan, dan bahkan meruntuhkan sendi-sendi Kekristenan, yang sedikit banyak membuat orang percaya terus berusaha mempertanyakan kembali akan kebenaran hakiki dari pribadi Yesus yang mereka imani tersebut. Banyak orang Kristen menjadi lemah iman namun tidak sedikit pula yang imannya justru dibangkitkan karena dengan berupaya untuk mencari jawaban tentang kebenaran itu maka semakin mereka terangsang dalam belajar tentang Firman dan teologia. Permasalahan ini merangsang kita sebagai hamba Tuhan untuk memberikan suatu pertanggung jawaban iman melalui suatu pemahaman, penjelasan dan pengajaran yang sehat, Alkitabiah dan ilmiah.
b. Bergesernya Fokus Pengajaran Gereja Masa Kini.
Kebanyakan dari Gereja masa kini mulai kehilangan nilai orthodoksi dalam setiap pengajarannya, sebagian besar sangat dipengaruhi oleh filsafat dunia masa kini yang berkembang, Gereja mengalami suatu ketakutan (yang sebenarnya adalah ketakukan yang tak beralasan) menghadapi perkembangan dunia sehingga harus melarutkan diri dan pengajarannya demi memenuhi keinginan jemaat yang pola pikirnya sudah mulai terkontaminasi oleh racun filsafat. Dunia dikuasai oleh filsafat materialism sehingga Gereja hanya memberitakan masalah prosperity, dunia dikuasai Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) sehingga mengejar spiritisme, mujizat, dan perbuatan-perbuatan ajaib belaka tanpa diimbangi pertumbuhan iman yang benar, dunia dipengaruhi evidensialism sehingga jemaat selalu menuntut bukti darisetiap kuasa, kehendak dan anugerah Allah melalui mujizat dan peristiwa ajaib, yang secara tidak sadar jemaat sedang memaksa Allah untuk mengafirmasi segala keinginan hatinya, dunia dikuasai relativism yang membawa kepada pluralism sehingga kebenaran dan keselamatan ada pada semua agama sehingga karya Yesus sudak tidak penting lagi bagi jemaat, sehingga bukan lagi suatu berita baru jika beberapa teolog Kristen kita justru menjadi pelopor dari munculnya Grey theology atau yang sering disebut teologi pluralism.
BAB II
KONSEP KRISTOLOGI DALAM KITAB IBRANI
Pada bagian sebelumnya telah dikemukakan bahwa fakta ketika kita membahas tentang siapa Yesus dan apa yang dilakukanNya, maka kita berada pada suatu pusat dari seluruh teologia Kristen, hal itu juga diungkapkan oleh Millard J.Erickson bahwa
when we come to the study of person and work of Christ, we are at the very center of Christian Theology. For since Christian are definition believers in and followers of Christ, their understanding of Christ must be central and determinative of the very character of the Christian faith.[4]
Kristus merupakan sentral dari seluruh karakteristik iman Kristen, keunikan Kristus merupakan alasan yang paling mendasar mengapa begitu banyak orang menjadi pengikutNya/orang Kristen, jika Kristus tidak unik, atau dalam istilah lain tidak ada perbedaan yang mendasar dan istimewa antara Kristus dengan Nabi, Rasul, atau mungkin tokoh-tokoh lainnya, tentunya kita tidak akan berani mengambil suatu keputusan iman untuk mengikutiNya, dan tentunya keunikan tersebut tidak hanya bersifat subyektif dan individual, melainkan bersifat obyektif dan universal “The uniqueness of Jesus Christ is not an exclusive claim purely for the Christian community, or for the disciples of Jesus Christ. It has universal validity. In other words, Jesus Christ without universal validity is merely an illusion”.[5]
Jadi masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini tidak/bukanlah terletak pada seberapa penting doktrin Kristologi dalam kitab Ibrani ini dibandingkan doktrin-doktrin lainnya, melainkan seberapa jauh kita - sebagai orang Kristen, yang mengaku sebagai pengikut Kristus – memahami akan pribadi dan karya-Nya, karena melalui pemahaman terhadap hal-hal inilah yang akan menjadikan kita menyadari dan bahkan mengakui bahwa Kristologi merupakan pengajaran yang signifikan dan fundamental bagi semua orang Kristen.
A. PENGENALAN TERHADAP KITAB IBRANI
Pada permulaan petumbuhan kekristenan Injil diberitakan untuk orang-orang Yahudi dan banyak orang-orang Yahudi yang menerima Injil dengan gembira. Tapi mereka melihat tidak ada alasan untuk meninggalkan kebiasaan, tradisi dan hukum-hukum Yudaisme. Bahkan mereka juga masih berharap bahwa orang-orang non-Yahudi yang juga menerima Injil masih harus menjalankan "proselite". Hal inilah yang ditentang secara keras oleh Rasul Paulus. Pertumbuhan kekristenan terjadi sangat pesat, dan dari hari ke hari semakin banyak orang non-Yahudi yang menerima Injil sehingga ketegangan dengan orang-orang Yahudi semakin memuncak. Gagasan untuk hidup bersama bangsa-bangsa lain bagi orang-orang Yahudi sulit mereka terima. Larangan "proselite" dalam kekristenan menumbuhkan ketakutan, karena identitas Yahudi akan terancam luntur. Karena itulah lambat laun orang-orang Yahudi secara tegas mengundurkan diri dan menolak kekristenan, bahkan sebalikknya melancarkan serangan untuk menghentikan kekristenan demi kelangsungan tradisi Yahudi dan sifat nasionalisme mereka. Ini merupakan kesulitan yang dihadapi oleh pemimpin-pemimpin gereja, karena pada umumnya orang-orang Kristen dari golongan Yahudi mempunyai pengetahuan Kitab Suci (PL) yang jauh lebih kuat daripada orang non-Yahudi. Jadi pengunduran diri orang-orang Yahudi dari gereja merupakan kerugian besar dan kemajuan gereja pasti terpengaruh karenanya. Bagaimana gereja harus mengambil sikap terhadap keraguan orang-orang Kristen Yahudi dalam menerima Kekristenan ini? Surat Kiriman Ibrani memang ditulis untuk menjawab masalah ini?
Perpecahan yang tegas di antara orang Yahudi pada era-era para rasul dan generasi selanjutnya sebagai dampak perbedaan keyakinan keagamaan dan iman kepercayaan telah menimbulkan permasalahan-permasalahan yang sangat pelik, antara pengikut Kristus dan penganut Yahudi sejati. Kitab Ibrani lahir sebagai jawaban atas dilemma permasalahan tersebut, terutama masalah konsep-konsep teologis Kitab-Kitab Perjanjian Lama dan pengajaran Yesus. Meskipun format surat Ibrani tidak baku secara aturan formal penulisan surat pada era itu dan tujuannya pun juga tidak dicantumkan, namun sangat jelas jika kitab ini dialamatkan kepada orang-orang yang terdidik dengan baik dalam hukum-hukum Perjanjian Lama, namun juga menerima pengajaran Yesus sehingga harus banyak mengalami siksa dan penderitaan oleh karenanya.
Teka-teki besar yang menjadi bagian dalam proses penafsiran kitab ini adalah siapa penulis dan di mana kitab itu ditulis, sebab penulis kitab ini tidak mencantumkan identitasnya sama sekali. Namun yang jelas bahwa Kitab Ibrani ditulis oleh seorang teolog yang memiliki kemampuan sastra tinggi dengan gaya Yunani klasik, ia bukan rasul Kristus secara langsung (2:3), ahli perjanjian Lama dan bahasa Yunani, orang Yahudi asli.[6] Seluruh tema yang dibangun dalam kitab ini adalah tentang keunggulan Kristus sebagai Penyataan Allah yang lebih tinggi dari hukum, maupun penyataan yang lain. Semua nasihat ini menghimbau orang-orang percaya untuk menambah tingkat kematangan spiritualitas mereka sebagai wujud kesetiaan kepada Kristus dan karya SalibNya. Nilai yang tertinggi dari kitab Ibrani adalah pengajarannya tentang pelayanan dan imamat Kristus di masa sekarang.[7]
B. KONTEKS YANG MELATAR BELAKANGI KONSEP KRISTOLOGI DALAM KITAB IBRANI
Pengajaran tentang Yesus Kristus pada dasarnya telah diperkenalkan dengan sangat baik dan sistematis dalam kitab-kitab Injil sinoptik, maupun Injil Yohanes, namun demikian keagungan pengajaran tersebut seolah tidak ada habisnya untuk dikupas dan didiskusikan oleh siapapun juga. Tidak jarang konsep fundamental dalam iman Kristen tersebut menjadi inti problematika teologis di dalam kekristenan yang sering memantik perpecahan di dalam gereja, ataupun antara gereja dengan Yudaisme. Pertumbuhan kekristenan yang sangat pesat pada abad pertama membuat hubungan gereja dengan Yudaisme semakin memanas, bahkan perpisahan sudah semakin tegas terjadi. Perpecahan di antara jemaat Yahudi dengan non Yahudi yang tidak terelakkan lebih dominan dikarenakan ekslusivisme, arogansi dan fanatisme jemaat Yahudi yang masih berpegang teguh pada pelaksanaan hukum serta tradisi secara ketat meskipun mereka menaruh iman kepercayaannya kepada Yesus Kristus. Perpecahan ini diperparah oleh pengajaran lama dan sempit rasul Petrus kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem (Kis 2:39) yang seolah memupuk sifat ekslusivitas keyahudian. Kondisi lain yang juga turut memperparah keadaan ini adalah kejatuhan Yerusalem pada tahun 70, membuat yudaisme sebagai system politik, maupun agama menjadi hancur sehingga para penganutnya mencari alat pengungkapan lahiriah kepercayaannya dalam bentuk penyelidikan terhadap hukum secara ketat.
Dilematika antara mempertahankan tradisi nenek moyang yang menjunjung hukum Allah secara ketat, atau mengikuti pengajaran Yesus dengan kasih karunianNya menghantui orang-orang Kristen yahudi. Jika mereka harus mempertahankan keyahudiaannya, kehancuran Yerusalem sudah sangat jelas merupakan wujud dari hukuman Allah atas penolakan orang-orang Yahudi kepada Yesus dan sudah dinubuatkan oleh Yesus sebelumnya (Mat 24:2, Luk 19-41-44) tentu mereka tidak ingin mendapat murka Allah yang lebih dahsyat, namun disisi lain jika harus meninggalkannya demi kasih karunia Yesus dan berpaling dari bait Allah kepada Gereja mereka tidak ingin dianggap sebagai pengkhianat oleh rekan-rekan sebangsanya. Banyaknya orang Yahudi Kristen yang kembali kepada Yudaisme tentu berpengaruh terhadap kekristenan itu sendiri karena kebanyakan dari mereka telah mendapat pendidikan tentang Kitab Suci yang lebih baik dibanding non Yahudi, sehingga kitab Ibrani ditulis untuk menjawab dilematika ini. kegamangan orang-orang Yahudi baik yang ada di Palestina maupun di wilayah perserakan (diaspora) dalam kaitan dengan iman Kristen mereka memerlukan sebuah jaminan kepastian akan keyakinan mereka, oleh sebab itu kitab Ibrani dimaksudkan untuk membuktikan keunggulan Kristus dibandingkan dengan kepercayaan dan ritual/upacara yudaisme warisan Perjanjian Lama.[8]
C. KONSEP KRISTOLOGI DARI PERSPEKTIF KITAB IBRANI
1. Kristus Sebagai Penyataan Diri Allah Yang Sempurna
Konsep yang salah telah berkembang dalam masyarakat Yahudi karena sebagian besar di antara mereka beranggapan bahwa iman Kristen adalah bagian dari system Yudaisme yang memiliki fungsi sebagai pelengkap semata-mata, bukan sebagai penggenap seluruh hokum dan tuntutan yang ada dalam system keagamaan Yudaisme. Kitab Ibrani ditulis dalam rangka memberikan pencerahan dan klarifikasi sehingga masyarakat Yahudi yang telah menjadi Kristen memahami tentang Kristologi secara tepat. Yesus di jelaskan sebagai penggenapan dan penuntasan seluruh tuntutan penebusan sebagaimana ditulis dalam seluruh hokum Taurat.
Dalam sepanjang sejarah Allah telah berbicara dan menyatakan kehendakNya melalui berbagai macam cara, namun dalam konteks perjanjian Baru, Allah telah menyatakan diriNya secara penuh dan sempurna melalui inkarnasi Yesus Kristus sebagai AnakNya (ps 1-7), oleh sebab itu dalam pasal 1 dijelaskan bahwa Yesus lebih unggul dari para malaikat sebab Ia adalah pencipta, penguasa, dan sekaligus penganjur keselamatan (2:5,9,10). Kebesaran Kristus digambarkan bukan hanya melampaui malaikat, namun ia juga melampaui seluruh wakil manusia kepada Allah (Harun) maupun wakil Allah kepada manusia (Musa). Gambaran-gambaran atau uraian-uraian kronologis tersebut menunjukkan bahwa penyataan diri Allah kepada manusia telah lengkap dan sempurna, dan hal itu menunjukkan bahwa Injil Kristen lebih baik daripada seluruh hokum Yahudi yang di dasarkan pada perjanjian yang lama.[9]
Konsep kristologi Ibrani juga mengembangkan system soteriologi yang benar-benar baru karena salah satu tema terunik dalam kitab ini adalah berkaitan dengan perubahan dari yang lama menjadi baru dalam kaitan dengan hubungan Allah-manusia. Dalam Yesus Kristus perubahan yang menentukan dalam seluruh sejarah keselamatan telah terjadi menurut rencana Allah yang baru, sebab apa yang sementara dan tidak efektif dalam system korban perjanjian Lama telah digantikan oleh keselamatan final dan penuh oleh penyataan diri sang Anak.[10]penekanan ini yang dalam kitab Ibrani diungkapkan dengan penggunaan istilah “lebih baik”, yang mana penulis ingin menunjukkan keunggulan konsep soteriologi Perjanjian Baru melalui Kristus dengan system Lama dengan metode hokum dan korban.
2. Kristologi Ibrani Dan Konsep Kenabian Perjanjian Lama
Luasnya jangkauan rencana keselamatan pada hakikatnya telah dimulai sejak kekekalan, namun persiapannya yang actual dimulai sejak zaman Perjanjian Lama dengan cara memanggil dan mempersiapkan suatu umat melalui para nabi Allah. Konsep dan suksesi kenabian tidak akan dapat dilepaskan dalam tradisi dan kepercayaan umat Israel karena peran dan tugasnya yang sangat penting sebagai pembawa berita dari Allah.
Menjelang akhir zaman Allah tidak lagi mengirimkan nabi-nabiNya, melainkan mengutus anakNya sendiri sebagai perantaraan. Eksistensi dan kuasa Yesus jauh melampau para nabi Perjanjian Lama (Ibrani 1:1-3), bahkan Musa yang dianggap sebagai nabi terbesar Israel, maupun Yosua pun tidak berarti dibandingkan denganNya, Sidlow Baxter menyatakan bahwa
Demikian pula Yesus Kristus lebih mulia dari pada Musa, padahal Musa yang terbesar di antara para nabi, perantara dan pembawa hukum (ps 3). Musa perantara manusiawi bagi perjanjian Lama, sedangkan Yesus ahli bangunan ilahi yang mendirikan Perjanjian Baru (3:3-4). Musa setia sebagai pelayan, tapi Kristus setia sebagai “ANAK” (3:5-6). Musa saksi untuk hal-hal yang akan dating, tapi Kristus menggenapi hal-hal itu (3:5,6).[11] Demikian pula Yosua, meskipun dapat membawa Israel menuju Kanaan, namun tidak dapat membawa Israel kepada tempat perhentian yang tenang, namun Yesus sanggup membawa kepada tempat perhentian yang penuh damai sejati (4:3,8,9). Begitupun para malaikat yang menurut tradisi Yahudi selalu dikaitkan dengan pemberian hukum Taurat (Ibr 3:1-4:13).
Musa pernah menubuatkah bahwa akan datang seorang nabi yang seperti dirinya (Bil 18:5), meskipun banyak bermunculan nabi baru dalam suksesi nabi-nabi Perjanjian Lama, tetapi semuanya berpuncak pada pribadi Kristus sebagai nabi itu sendiri (Kis 3:22-24). Masyarakat Yahudi yang hidup pada masa Yesus Kristus mengakui Dia sebagai nabi, sehingga pengakuan ini memunculkan ketakutan bagi kaum Farisi dan Imam akan balas dendam jika mereka memperlakukan Yesus Kristus dengan keras (Mat 21:11,45; Yoh 7:40-53). Legitimasi kenabian Yesus Kristus juga muncul dari pernyataan dan pengakuan-Nya sendiri bahwa memang Ia seorang Nabi (Mat 13:57; Mark 6:4; Luk 4:24;13:33; Yoh 4:44).
Kenabian Yesus Kristus ditunjukkan melalui beberapa hal seperti Cara Mengajar & Berkhotbah[12], ada beberapa ciri yang membuatnya sama dengan nabi terdahulu,
Pertama, Pola mengajar yang tidak intens karena Ia mengajar hanya kadang-kadang saja jika ada kesempatan (Mark 1:21).
Kedua, Pengajarannya tidak sistematis, artinya Ia mengajar tidak direncanakan sesuai dengan kurikulum, tetapi begitu ada kesempatan Ia mengajar sesuai dengan konteks dan kebutuhan pendengar saat itu.
Ketiga, pengajarannya banyak disertai gambaran-gambaran atau ilustrasi (perhatikan Mat 24 :40-41; Luk 15:4,8).
Keempat, menggunakan pertanyaan-pertanyaan terutama saat situasi controversial (Mat 22).
Kelima, pengajaran-Nya mengandung kuasa. Tidak hanya sekedar mengeluarkan firman yang kosong, namun Firman itu penuh dengan kuasa.
Kenabian Kristus yang lebih besar dari Musa merupakan dampak dari personalitasNya yang unggul dibandingkan Musa ataupun nabi manapun di sepanjang sejarah keselamatan
Christ Is Greater in His Person (Heb. 3:1-2) That Christ is superior to Moses in His person is an obvious fact. Moses was a mere man, called to be a prophet and leader, while Jesus Christ is the Son of God sent by the Father into the world. The title apostle means "one sent with a commission." Moses was called and commissioned by God, but Jesus Christ was sent as God's "last Word" to sinful man. You may want to read some of the verses in the Gospel of John where Jesus is referred to as "sent from God" (John 3:17,34; 5:36,38; 6:29,57; 7:29; 8:42; 10:36; 11:42; 17:3; and note also 13:3).[13]
Meskipun Musa merupakan pengantara insani dari Perjanjian Lama yang dipanggil Allah dengan cara yang sangat spesifik sebagai hamba Allah, namun seharusnya orang Kristen mengarahkan pandangannya, segala keteguhannya kepada Yesus yang dipercayai sebagai Rasul dan imam besarnya,[14] sebab Kristus juga telah menampilkan perbedaan yang sangat penting dibandingkan Musa, yaitu berkaitan dengan pelayanan mapun relevansinya bagi kehidupan umat Allah
The word "house" is used six times in these verses. It refers to the people of God, not to a
material building. Moses ministered to Israel, the people of God under the Old Covenant. Today, Christ ministers to His church, the people of God under the New Covenant ("'whose house are we," Heb 3:6). You find an illustration of this dual use of "house" in 2 Sam 7. David wanted to build a temple for God, a house in which God could dwell. But God told David that He would build David's house (household, family) and make a covenant with David's descendants. The contrast between Moses and Christ is clear: Moses was a servant in the house, while Jesus Christ is a Son over the house. Moses was a member of the household, but Jesus built the house! By the way, the truth in these verses is a powerful argument for the deity of Jesus Christ. If God built all things, and Jesus Christ built God's house, then Jesus Christ must be God.[15]
Kendatipun secara spesifik keunggulan Kristus atas Musa dan konsep kenabianNya dibahas hanya dalam pasal 3:1-6, namun keenam ayat tersebut merupakan intisari yang menjiwai seluruh paparan dalam seluruh kitab Ibrani. Melalui bagian-bagian ini orang-orang percaya Yahudi diingatkan akan betapa pentingnya pemahaman dan respon akan kebenaran yang akan mengarahkan kehidupan mereka kepada kehidupan di masa kekekalan.
Era Perjanjian Baru merupakan sebuah momentum dimana Allah tidak lagi memakai nabi sebagai “penyambung lidahNya” karena dalam kenyataannya, umatNya banyak menolak berita-berita yang mereka bawa, sehingga pelayanan kenabian menjadi kurang efektif. Kehadiran Kristus sebagai sebagai penggenap seluruh suksesi kenabian ditopang dengan segala kuasa, bukan hanya kuasa dalam penciptaan, namun Yesus sendiri merupakan perwujudan gambar Allah.
3. Kristologi Dan Konsep Keimaman Yahudi
Tema utama kedua kitab Ibrani adalah Kristus sebagai imam besar (4:14-5:10), di sinilah peringatan-peringatan yang telah disampaikan dalam bagian sebelumnya ditambah dengan pemaparan konsep teologis yang positif, yaitu Yesus yang kita percayai adalah “imam besar yang agung” yaitu agung dalam kaitan dengan tabiatnya yang hakiki karena Yesus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah.[16] Dengan kemanusiaanNya itu Yesus memahami dan mengalami pengalaman duniawi sehingga hal ini berimplikasi pada pengenalanNya akan batas-batas kemampuan manusia dan pencobaan-pencobaan yang di hadapinya sehingga Ia mampu menjadi pengantara yang sejati.
Jika sebagai Nabi, Kristus menyampaikan amanat dan isi hati Allah kepada umat manusia (penyambung lidah Allah), maka sebagai Imam, Ia menyampaikan pergumulan umat kepada Allah (penyambung lidah umat). Sebenarnya menurut peraturan keimaman lama, Ia tidak memenuhi syarat untuk menjadi imam karena seorang imam harus dari keturunan Harun, sedangkan Kristus dari keturunan Yehuda, tetapi Allah membuka jalan melalui peraturan imam yang baru yaitu peraturan Melkisedek. Meskipun demikian Yesus memenuhi peraturan baik menurut peraturan Harun (Im 21; Ibr 5:1-7), maupun Melkisedek (Kej 14:18-20; Ibr 7:1-30). Penjelasan di atas tidak berarti keimaman Kristus diragukan, melainkan semakin mengokohkan sebab Kristus memenuhi kualifikasi keduanya dengan sempurna, baik secara geneological, maupun fungsional.
Kitab Ibrani juga mengemukakan sebuah kebenaran bahwa Yesus jauh lebih besar dari Harun, imam pertama dalam Perjanjian Lama (Ibr 1:4-2:18). Meskipun sosok Harun sangat diagung-agungkan oleh umat Israel namun kenyataannya Harun hanyalah manusia biasa yang dapat berdosa dan tidak mampu menyelesaikan dosa sama seperti orang lain.
Yesus Kristus lebih besar daripada Harun imam besar Israel (4:14-7:28). Ia melakukan pelayananya dalam tempat kudus di sorga, sedang Harun di dunia saja (4:14). Yesus meneguhkan keimaman yang lebih baik, yaitu keimaman Melkisedek bukan keimaman harun. Sifat-sifatNya terlebih baik, tidak berdosa, sempurna, sedangkan harus hanyalah manusia biasa yang berdosa, telah mati dan banyak kekurangannya (7:23-28). Ia mempersembahkan korban yang jauh lebih baik, yaitu diriNya sendiri…persembahan Tuhan Yesus sekali untuk sekalian, sedangkan Harun harus diulangi setiap hari dan tidak mencukupi segala manusia (7:27).[17]
Yesus Kristus adalah Anak Allah, namun pengalaman kemanusiaanNya melalui inkarnasi membuat Dia mampu mengerti perasaan dan pergumulan manusia dalam menghadapi dosa dan pencobaan (Ibr 2:17-18; 4:14-15). Yesus telah memberikan sebuah teladan hidup yang berkemenangan sehingga Ia dapat dianggap sebagai “imam besar agung” yang telah menjadi inti dari keselamatan abadi bagi semua orang besar (Ibr 4:14-5:10).
Gambaran keimaman Yesus juga dikaitkan dengan sosok Melkisedek yang keberadaannya sangat misterius (Ibr 5:11-7:28) karena sangat sedikit informasi yang dapat kita peroleh dalam Alkitab maupun karya tulisan sekuler karena kemunculannya hanya dijelaskan secara singkat dalam Kejadian 14:17-20 dan disinggung sedikit dalam Mazmur 110:4). Gambaran kemisteriusannya dan ketidakjelasan itulah yang dipakai oleh penulis Ibrani untuk menghubungkannya dengan Yesus secara berbeda.[18] Meskipun ada kekaburan dalam diri Melkisedek dari perspektif silsilah keluarga, sosiologis dan sebagainnya namun kenyataan bahwa Abraham begitu menghormati dan mengakuinya sebagai imam, dan itu terjadi jauh hari sebelum munculnya Harun, bahkan seluruh umat Israel juga mengakui keimaman Melkisedek maka hal ini sudah cukup untuk menunjukkan keunggulannya dibandingkan imam Harun. Suksesi keimaman menurut tradisi imam Harun terus turun temurun karena para imam Perjanjian Lama selalu meninggal dan harus digantikan orang lain, namun hakikat keimaman Yesus nampaknya seperti Melkisedek, karena Yesus hidup selama-lamanya.
Konsep keimaman Yesus memiliki jangkauan yang tak terbatas sebab jika imam-imam Perjanjian Lama harus melakukan ritual korban secara terus menerus dan berulang-ulang karena relevansi korban hanyalah untuk penebusan dosa masa lalu, tetapi korban dan persembahan Yesus (yaitu karya salib) berdampak universal dan kekal sehingga efektif bagi manusia di segala tempat dan zaman (Ibrani 9:25-28). John Calvin pernah menyatakan bahwa “I should never have done were I to quote all the passages. Indeed, the Apostles, with one consent, lead us back to this fountain; and assuredly, if he had not come to reconcile God, the honour of his priesthood would fall, seeing it was his office as priest to stand between God and men, and "offer both gifts and sacrifices for sins," (Heb 5:1).”[19] John Calvin menulis bahwa
Like the high priest, jesus mediates between God and us. As humanity representative, he intercedes for us before God. As God’s representative assures us for God’s forgiveness. Jesus has more authority than the jewish high priests because He is truly God anf truly man. Unlike the high priest who could go before God only once a year. Christ is always at God’s right hand, interceding for us. He is always available to hear us when we pray.[20]
Bagi Calvin keimaman Yesus sangat signifikan dan absolute karena memberikan persembahan yang berdampak pada pendamaian dengan Allah secara kekal dan berimplikasi pada pelayananNya terhadap umatNya dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi konsep keimaman perjanjian lama telah digenapi oleh kematian Kristus melalui salib yang telah menggenapi seluruh tuntutan perjanjian lama malaui Taurat.
BAB III
PENUTUP
Karakteristik kitab Ibrani yang kental bernuansa Yahudi, serta keunikan isinya tentang Kristologi dan soteriologi, serta implikasinya, layaklah jika para teolog menyebutnya sebagai kitab Injil ketiga setelah Injil Sinoptik dan Injil Yohanes. Kristologi yang unik dikembangkan oleh penulis untuk menunjukkan gambaran total tentang Kristus sebagai penyataan diri Allah secara lengkap yang menggenapi seluruh hokum Taurat dalam Perjanjian Lama. Orang-orang Kristen berlatar belakang Yudaisme diyakinkan akan keunggulan iman Kristen mereka karena dasar kepercayaan/iman dan doctrinal kekristenan dibangun diatas dasar pribadi dan karya Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang lebih unggul dari para malaikat, peran kenabianNya melebihi Musa sebagai bentuk kehadiran Allah di dunia secara actual (the visible Father), dan peran keimamanNya melebihi Harun oleh karena Ia telah mempersembahkan korban sempurna dan kekal yaitu diriNya sendiri bagi dosa manusia disepanjang abad, dan di segala tempat.
Kristologi kitab Ibrani juga mengimplikasikan konsep keselamatan yang didasarkan pada Perjanjian yang Baru, yaitu melalui penebusan Kristus melalui salib. Jangkauan perjanjian yang baru ini bersifat universal dan holistic sehingga seluruh “mitos, ritus dan ethic”[21]dari kekristenan lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan dengan Yudaisme, bahkan system agama manapun di muka bumi. Seluruh hokum dan nilai dalam Perjanjian Lama merupakan pengaturan sementara yang dirancang Allah menuju kepada Yesus, dan melalui kitab ini karya penyelamatan Allah melalui Yesus menjadi suatu kulminasi dalam sejarah keselamatan yang menandai penggenapan dan pembatalah Taurat dan menandai dimulainya era baru yaitu perjanjian yang baru. Soteriologi yang Kristosentris mengawali dimulainya babak baru dalam penggenapan rencana Allah secara progresif.
BIBLIOGRAFI
Adina Champman,Pengantar Perjanjian Baru, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Calvin's Institutes, PC Study Bible formatted electronic database Copyright © 1999, 2003, 2005, 2006 Biblesoft, Inc. All rights reserved
Donald Gutrie, Mengali Isi Alkitab 3, Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 2010
John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996
John RW Stott, Basic Christianity Illionis : Inter Versity Press, 1974
Ken Gnanakan, The Pluralistic Predicament, India : Theological Book Trust, 1992
Life Aplication Study Bible, Michigan : Zondervan Publishing House, 1997
Merryl C.Tenney, Survey Perjanjian Baru,Malang : Gandum Mas, 1997
Millard J.Ericson, Introduction Christian Doctrine, Michigan : Bakker Book House,1992
Paul Tillich, A History Of Christian Thought, New York : A Touchstone Book, 1968
Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 4, Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 2011
The Bible Exposition Commentary. Copyright © 1989 by Chariot Victor Publishing, and imprint of Cook Communication Ministries. All rights reserved. Used by permission
[1] Paul Tillich, A History Of Christian Thought, (New York : A Touchstone Book, 1968),p.22
[2]There are two principal reasons why our anquery into christianity should begin with the person of Christ. The first, is that essentially christianity is Christ. The person and work of Christ are the rock upon which thechristian religion is built. If He is not who he said he was, and if He did not do what he said he had come to do, the foundation is undermined and the whole superstucture will collaps… secon, if Jesus can be shown to have been a uniquely divine person, many other problems begin naturaly to be solved. The existence of Gos is proved and the character of God revealed if Jesus was divine… dalam ,John RW Stott, Basic Christianity (Illionis : Inter Versity Press, 1974)p.21
[3] Bahkan bukan hanya itu, masih begitu banyak lagi injil-injil lain yang bermunculan, yang oleh para teolog seringkali disebut sebagai Gnostic gospel atau injil gnostik, yaitu injil yang inti pemikirannya dipengaruhi oleh gnosticism, yang pada umumnya menolak sisi kemanusiaan Yesus Kristus.
[4] Millard J.Ericson, Introduction Christian Doctrine, (Michigan : Bakker Book House,1992).p207
[5] Ken Gnanakan, The Pluralistic Predicament, (India : Theological Book Trust, 1992),p.125
[6] Merryl C.Tenney, Survey Perjanjian Baru,(Malang : Gandum Mas, 1997)hlm.443
[7] Ibid,449
[8] Adina Champman,Pengantar Perjanjian Baru, (Jakarta :BPK Gunung Mulia),hlm.131
[9] Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 4, (Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 2011),hlm.190
[10] Donald Gutrie, ibid,hlm.455
[11] Menggali Isi Alkitab 4, (Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 2011),hlm.189
[12] Meskipun bukti-bukti itu lebih banyak ditulis oleh para penulis Injil sinoptik, namun penulis kitab Ibrani tidak menyangkal akan kebenaran tersebut, bahkan bukti-bukti itu juga menjadi landasan bagi tulisannya.
[13] (from The Bible Exposition Commentary. Copyright © 1989 by Chariot Victor Publishing, and imprint of Cook Communication Ministries. All rights reserved. Used by permission.)
[14] Donald Gutrie, Mengali Isi Alkitab 3 (Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 2010),hlm.738
[15] Ibid.
[16] Donald Gutrie, ibid.hlm.742
[17] Sidlow Baxter, ibid,hlm.190
[18] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996),hlm.474
[19] (from Calvin's Institutes, PC Study Bible formatted electronic database Copyright © 1999, 2003, 2005, 2006 Biblesoft, Inc. All rights reserved.)
[20] Life Aplication Study Bible, (Michigan : Zondervan Publishing House, 1997),p.2225
[21] Dalam ilmu sosiologi Agama ketiga hal itu disebut sebagai tiga unsure pembentuk (entitas) dari suatu agama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar