Selasa, 20 September 2022

HUBUNGAN PENYATAAN ALLAH, RASIO, TEOLOGI, DAN SPIRITUALITAS DALAM KEHIDUPAN KRISTEN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Permasalahan

Banyak orang Kristen yang menganggap rendah kedudukan firman Tuhan dan teologi dalam kehidupannya, bahkan muncul kecenderungan antipati terhadap hal itu. Orang-orang Kristen cenderung berfikir bahwa masalah firman Tuhan dan teologi bukan urusan jemaat awam, melainkan menjadi tugas pendeta atau hamba Tuhan untuk memikirkan, mempelajari dan mengajarkannya karena menurut sebagian dari mereka masalah ini adalah soal mitos dan ritus agamawi yang abstrak dan tidak bersangkut paut dengan masalah praktis di kehidupan nyata, bahkan ada yang secara ekstrim berpandangan bahwa lebih berguna memikirkan ilmu pengetahuan dan teknologi daripada memikirkan teologi.  Jemaat awam cenderung mementingkan masalah-masalah yang berkaitan secara langsung dengan konteks kehidupannya.

Pola pikir manusia sekarang ini sudah banyak terkontaminasi oleh pemikiran filsafat postmodernism yang cenderung pragmatis, sekuler, dan pluralis yang sangat anti dengan kemapanan/finalitas terutama dalam kaitan dengan religiusitas. Bagi mereka, Alkitab dan pengejawantahannya dalam bentuk apapun juga tidak penting karena kebenaran tidak ada yang absolut, dan dianggap sangat tidak berguna karena akan menciptakan manusia-manusia “kerdil”.

Perkembangan pemikiran akhir-akhir ini memang tidak terlepas dari beberapa pengaruh, diantaranya : Pertama, rasionalisme, yaitu filsafat yang sangat menjunjung tinggi dan bahkan cenderung mendewakan  kemampuan akal manusia, yang pernah ditanamkan di masa lalu, yaitu abad pertengahan yang ditandai dengan timbulnya Renaissance, dan dipupuk pada masa pencerahan (aufklarung) pada abad 18 yang menjadikan manusia seolah menjadi makhluk yang otonom, mampu berdiri sendiri tanpa ada institusi atau kuasa lain di atasnya, dan ujung-ujungnya adalah menolak segala bentuk perbudakan akal, dan tentunya hal itu salah satunya adalah  agama.

Kedua, adalah spiritisme yang telah menjadi nafas dari era postmodern sekarang ini. Gerakan New Age Movement telah meracuni dunia dengan menawarkan dan mendorong manusia mengejar hal-hal yang bersifat spiritual di luar agama, dengan istilah lain menjadikan manusia menjadi spiritual tanpa religius.

Oleh karena itu kekristenan sedang mengalami ancaman yang nyata dan harus siap melawan arus dunia dengan berperannya gereja dalam memperkaya wawasan jemaatnya dengan teologia yang sehat.

 

B.    Tujuan Penulisan

Tulisan ini berupaya mengkaji secara mendalam empat isu penting dalam kekeristenan, yaitu masalah Alkitab, iman, ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)[1], dan teologi.  Pemaparan ini diharapkan memberikan gambaran yang luas dan mendalam berkaitan dengan isu-isu di atas sehingga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kekristenan masa kini untuk menyusun strategi dalam melawan arus dunia yang berusaha menyeret kekristenan kepada kondisi yang lebih buruk.

 

C.    Ruang Lingkup Penulisan

Tulisan ini akan mengupas tentang empat variable penting yaitu tentang Alkitab, Iman,  IPTEK dan teologia. Masing-masing akan akan dijelaskan sebagai berikut :

1.     Istilah “Alkitab” dalam tulisan ini akan dipakai secara bertukaran dengan istilah “Penyataan Allah” dan “wahyu”.  Hal ini didasarkan pada kesesuaian maknanya.

2.     Istilah “iman” akan dipakai secara bertukaran dengan istilah “spiritualitas”.

3.     Istilah “IPTEK”, karena keluasan pembahasannya maka dalam tulisan ini akan dibatasi dengan penggunaan istilah “rasio” dan “rasionalisme” karena dasar pertimbangan bahwa nafas atau intisari dari IPTEK adalah rasio atau akal budi manusia dan rasionalisme sebagai suatu paham yang menjadikan rasio manusia sebagai sumber dari segala orientasi kehidupan manusia.

4.     Istilah “teologi” atau berteologia” dalam konteks ini tidak dipahami hanya sebagai sebuah topic spesifik pada bidang ilmu ketuhanan semata, namun juga mengacu kepada seluruh pemikiran yang berorientasi kepada Tuhan.

 

 

 

 

BAB II

HUBUNGAN PENYATAAN ALLAH, RASIO, TEOLOGI, DAN SPIRITUALITAS DALAM KEHIDUPAN KRISTEN

 

A. Prolegomena

Pembahasan ini akan dimulai dengan menampilkan asumsi bahwa topic di atas dapat dibagi ke dalam dua kelompok yang saling beroposisi, di satu sisi ada penyataan Allah, teologi dan spiritualitas, dan di sisi yang lain ada rasionalisme. Kedua sisi ini banyak dianggap sebagai dua dimensi yang tidak mungkin dipertemukan. Kadang beberapa orang mencoba membuat “folder” atau wadah yang berbeda untuk menempatkan topic-topik tersebut, misalnya penyataan Allah dan spiritualitas di kategorikan dalam wadah ilmu teologi, sedangkan rasionalisme dikategorikan sebagai filsafat. Pengkategorian ini memang masih harus dikaji ulang karena tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga terjadi perkawinan campur di antara kedua topic tersebut. Baiklah mari kita mulai kajian ini.

Pergulatan antara teologi dengan filsafat merupakan pergumulan abadi yang terus terjadi sepanjang sejarah Gereja, pemikiran-pemikiran filsafat sedikit banyak turut mempengaruhi pola pikir tokoh-tokoh Gereja dalam membangun suatu teologi, terutama filsafat, yang menempatkan rasio di atas segala-galanya (filsafat rasionalism). Pergulatan di antara keduanya berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang, bahkan sampai masa sekarang pengaruh pemikiran tersebut – rasionalism - masih terus berkembang dengan hebatnya, hal ini dapat kita perhatikan dalam pemikiran-pemikiran teolog Liberal. Perkembangan teologia Kristen sedikit banyak dipengaruhi oleh tantangan yang ditimbulkan oleh rasionalisme, dan hal itu terjadi dalam dua masa besar, yaitu abad ke 18 di Inggris dan Perancis  dan permulaan abad 19 di Jerman.[2]

Abad pencerahan, merupakan masa yang subur bagi perkembangan rasionalisme, hal itu ditandai dengan kemunculan pemikir Khatolik yang sangat terkenal, Rene Descartes yang mengemukakan prinsip “Never to accept anything for true which I did not clearly know to be such[3] dan akhirnya melahirkan suatu axioma “cogito ergo sum” (I think Therefore I am),[4]  langkah ini kemudian disusul oleh beberapa pemikir rasionalis lainnya di antaranya Spinosa (seorang pemikir Yahudi), dan Leibniz (pemikir Protestan).

Polemik tentang hubungan antara rasio manusia dengan Penyataan Allah di dalam berteologi merupakan suatu masalah klasik yang sekaligus masalah kontemporer dalam sepanjang sejarah Kekristenan. Perbedaan pandangan yang begitu tajam di antara keduanya sebenarnya terletak pada dari mana titik awal (starting point) teologi harus dimulai atau dibangun. Jika para tokoh reformasi abad 16 memulainya dari sudut pandang Allah sendiri melalui karya Kristus yang disaksikan melalui Alkitab untuk memahami dunia, tidaklah demikian kaum rasionalis yang justru memulainya dari sudut pandang dunia itu sendiri. Hal itulah yang diungkapkan oleh Collin Brown bahwa  The reformers of the sixteenth century were dominated a concern for God. The took as their starting point’s action in Christ, as withnessed to by the scripture. From there they proceeded to think about world. The rationalist of the seventeenth century were absorbed not so much by God but by the world.[5] Masalah  ini menjadi stimulus yang kuat bagi pencari kebenaran untuk terus berfikir, apa dan bagaimanakah seharusnya hubungan antara rasio dan penyataan Allah itu dalam suatu pekerjaan Teologi Kristen? Serta bagaimana peran keduanya dalam spiritualitas Kristen ? untuk menjawab hal itu kita akan akan memulainya dengan menjabarkannya satu persatu, dan kemudian menarik suatu pola hubungan atau keterkaitannya.

 

B.    Definisi Penyataan Allah (Alkitab) dan Rasio

Kedua topic ini dibahas dalam bagian awal karena biasanya kedua topic inilah yang seringkali dipertentangkan oleh kebanyakan para teolog dalam usaha berteologi

 

1.     Pemahaman Tentang Penyataan Allah

Ada keunikan tersendiri yang dimiliki oleh teologi Kristen dibandingkan dengan kepercayaan lain, yaitu bahwa Allah merupakan subyek, yang secara aktif mencari manusia dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dan manusia itu sendiri hanyalah sebagai obyek.[6] Dari bagian awal sampai penutup Alkitab menunjukkan bahwa Allah berperan secara aktif dalam mencari manusia.

Tindakan ini sangat penting oleh karena penyataan Allah merupakan cara Allah sendiri berkomunikasi dan menyatakan diri-Nya[7] kepada semua orang di segala waktu melalui penyataan umum-Nya dan kepada orang-orang tertentu pada waktu-waktu tertentu melalui penyataan khusus-Nya. Penyataan Allah tidak hanya dimaksudkan supaya manusia mengenal oknum Allah saja, tetapi juga apa yang telah Ia lakukan, tentang ciptaan-Nya dan hubungan antara Allah dan manusia. Hal ini merupakan informasi yang nyata, obyektif dan rasional dari Allah kepada manusia.

Jadi tujuan penyataan Allah adalah untuk mengkomunikasikan kebenaran kepada pikiran manusia. Melalui cara inilah Ia menyatakan kepada makhluk ciptaan-Nya, apa yang tidak mungkin diketahui oleh manusia dengan cara lain termasuk dengan kemampuan rasionya[8] oleh sebab itu sebagian penyataan Allah sulit diterima oleh rasio manusia bukan karena bertentangan dengan rasio, tetapi memang sebagian melampaui batas kemampuan rasio manusia seperti yang diungkapkan oleh John Lockpenyataan merupakan komunikasi dari proposisi-proposisi yang benar, sebagian melampaui apa yang ditemukan hanya oleh rasio[9]. Dari uraian tersebut maka sangat jelas bahwa penyataan Allah tidak sekali-kali dimaksudkan untuk memenuhi atau menjawab keragu-raguan manusia, bukan untuk sarana pemenuhan kesenangan manusia dan kepuasan akalnya.

 

2. Pengertian Tentang Rasio

Rasio dan rasionalisme seringkali dipahami sebagai suatu istilah yang identik, padahal dua istilah tersebut merupakan istilah yang berbeda tetapi memiliki hubungan erat dan hampir tak terpisahkan. Kata rasio adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Latin “ratio” yang memiliki arti pikiran. Pengertian secara umum, ratio merupakan kemampuan untuk melakukan abstraksi, memahami, menghubungkan, merefleksikan, memperhatikan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan dan sebagainya.[10] Sedangkan rationalisme sendiri merupakan prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan, dan juga bisa memiliki arti bahwa rasionalisme adalah pendekatan filosofis yang menekankan akal budi sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.[11] Rasionalisme merupakan inti dari pemikiran liberalisme[12] yang saat ini berkembang. Bagi rasionalisme, rasio manusia merupakan penentu segala sesuatu termasuk keberadaan dan cara kerja Allah.

Dalam teologia Kristen, ada banyak warisan filsafat yang menggambarkan bahwa rasio manusia merupakan ciri khas dan sekaligus wujud nyata keunggulan manusia sebagai gambar dan rupa Allah  sebagaimana Kejadian 1:26 yang membedakannya dari makhluk ciptaan yang lain, sehingga gambar dan rupa Allah dipahami sebagai kemampuan  rasio dari manusia itu sendiri. Mencermati paham yang demikian Arie Jan Plaisier[13] menyatakan keprihatinannya dengan menyatakan bahwa Rasio/pemikiran logis tidaklah sama dengan gambar Allah tetapi hanya bagian saja, jadi sangat naif jika menyatakan bahwa rasio atau akal budi manusia adalah satu-satunya atribut manusia yang membuktikan bahwa ia adalah gambar dan rupa Allah.

 

  1. Keadaan Rasio Manusia

Sejak manusia jatuh kedalam dosa maka seluruh aspek hidup manusia menjadi tercemar oleh dosa, termasuk di dalamnya adalah rasio dengan segala daya dan orientasinya. Kondisi rasio manusia akhirnya di bawah kuasa dosa (Roma 3:11), sehingga hal itu membuka celah bagi iblis untuk menguasainya dan bahkan membutakannya (2 Kor 4:4). Rasio manusia tidak lagi terisi dengan segala pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Allah, melainkan terisi oleh kesia-siaan (Ef 4:17). Namun demikian bukan berarti rasio itu tidak dapat dipercaya lagi, atau bahkan tidak berguna sama sekali. Dalam batas-batas dan kualifikasi tertentu rasio masih dapat dipercaya, namun sangat naif jika ada anggapan bahwa pengetahuan itu bersifat konklusif yang tidak dapat dikoreksi lagi, tetapi sebagai sebuah keyakinan bagi tujuannya sendiri memiliki pembenaran secara rasional.[14] Rasio merupakan pengetahuan yang memiliki pembenaran dalam penerapannya (untuk tujuannya sendiri).

 

  1. Keterbatasan-Keterbatasan Rasio

Oleh Karena rasio manusia itu sudah tercemari oleh dosa dan berada di bawah kuasa iblis, maka hal itu berdampak pada kemerosotan daya dan upayanya. Rasio tidak dapat lagi diandalkan sebagai suatu tolok ukur yang mutlak dapat dipercaya untuk menemukan suatu kebenaran, oleh sebab itu John Calvin mengatakan bahwa rasio telah dipengaruhi oleh “radix cardis” yaitu akar hati manusia yang terkorup (Yes 17:9), sehingga rasio manusia tidak mampu menangkap atau melihat wahyu yang sesungguhnya, selain itu rasio sebenarnya menunjukkan ketidak mampuannya untuk menemukan sesuatu yang benar.[15]

Dosa memang telah merusakkan kemampuan rasio manusia, tetapi kelemahan itu sendiri bukan hanya semata-mata disebabkan oleh dosa saja, tetapi perlu dipahami bahwa rasio tidak mampu bekerja dalam diri-nya sendiri, tetapi memerlukan sesuatu yang datang dari luar dirinya sendiri sebagai bahan perbandingan. Rasio hanya mampu mengerti sesuatu melalui perbandingan, mempertentangkan dan menarik kesimpulan, oleh sebab itu bila rasio manusia itu sendiri mau meneliti dan mengenali sesuatu maka titik-titik perbandingan itu harus ditemukan terlebih dahulu.[16] Oleh sebab itu rasio tidaklah independen melainkan bergantung pada pengalaman yang dimiliki oleh manusia dalam cara kerjanya dan tidak mampu menjangkau apa yang di luar pengalaman empiris manusia.

Kelemahan-kelemahan rasio semakin terbongkar melalui beberapa temuan-temuan besar dalam bidang science baik oleh Copernicus, Charles Darwin, maupun Sigmund Freud. Akibat temuan-temuan tersebut muncul kesadaran bahwa rasio yang dulu berpijak pada struktur alam semesta yang jelas, tetapi kini dari sudut pandang ruang, rasio telah kehilangan akar dan tempat berpijak,[17] sehingga temuan itu menghancurkan keunggulan yang dimiliki manusia yang mendasarkan diri pada kemampuan rasionya.

 

C. Hubungan Penyataan Allah & Rasio Dalam Berteologi

  1. Penyataan Allah Mengontrol Rasio Manusia

Seluruh kegiatan Teologi ilmiah yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi Eropa dibangun atas dasar asumsi bahwa rasio kritis yang berdisiplin dan dikendalikan oleh hukum-hukum yang berlaku dalam tiap-tiap bidang, inilah yang memiliki wewenang paling tinggi untuk menentukan mana kebenaran dan mana yang bukan kebenaran.[18] Pemahaman seperti ini merupakan warisan dari pandangan para filsuf yang menekankan rasio yang otonom, yaitu pandangan yang berkembang pada abad pencerahan

Mental pencerahan menuntut kebebasan manusia yang sungguh-sungguh merdeka, suatu alam yang otonom dimana fakta diceraikan dari arti sesuangguhnya di dalam Allah…sikap religius ini menghasilkan penilaian yang tinggi akan semua kecakapan manusia, khususnya rasionya sebagai otoritas tertinggi dan patokan yang menentukan kebenaran, rasio dan hanya rasio sajalah yang dianggap mampu dan tepat untuk menilai dunia fenomena dan dunia noumena.[19]

 

Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh rasio tidak memungkinkan teologi dibangun di atasnya, karena rasio tidak mampu menjangkau sesuatu yang melampaui pengalaman-pengalaman manusia, rasio hanya mampu beroperasi pada tingkatan yang dibatasi oleh kemampuan pengideraan manusiawi, sehingga di luar batasan itu rasio tidak berfungsi atau tidak dapat berbuat apa-apa  sama sekali.  Eta Linnemann mengatakan bahwa :

Dengan demikian revelation tak dapat dijangkau oleh rasio manusia karena melampaui pengalaman manusia pada umumnya. Rasio selalu bertitik tolak kepada hal-hal yang dapat dialami semua orang pada segala jaman itu berarti rasio yang menilai secara daging dan dari dirinya sendiri sama sekali tidak mampu untuk menilai perkara-perkara rohani.[20]

 

Kapasitas rasio yang serba terbatas tentu tidak akan mampu menjangkau pengetahuan tentang Allah yang tak terbatas, Penyataan Allah yang seringkali di luar kemampuan penginderaan manusia tidak mungkin bisa dipahami oleh manusia tanpa iman. V. Scheunemann mengatakan “rasio dengan daya tampungnya, daya jangkauannya seharusnya memberi diri dituntun oleh iman, oleh Penyataan Allah[21] pernyataan ini didasari dari satu pandangan Paulus dalam 2 Korintus 10:5 yang mengatakan bahwa segala pikiran harus ditaklukkan kepada Kristus.

Penolakan teologi terhadap pendewaan rasio tidak berarti bahwa teologi itu sendiri ataupun peranan rasio dalam bidang teologi ditolak, tetapi penyataan Allah harus menempati posisinya terlebih dahulu sehingga rasio bekerja sesuai dengan porsinya. Gene Edward mengatakan

Dalam kotroversi teologis kuno manusia tidak boleh mencoba “memahami supaya dapat percaya”, tetapi seperti yang dinyatakan santo Anselm, “manusia harus percaya supaya dapat memahami” ketika kebenaran Firman Allah diterima dengan iman, setiap butir pengetahuan yang lain akan menemukan tempatnya, seperti kepingan puzzle setelah disusun, atau seperti menemukan anak kunci yang cocok dengan gemboknya.[22]

 

Dalam teologi, iman harus mengendalikan intelektual manusia melalui Firman Allah. Firman itu mengontrol akal manusia dan rasio harus menempatkan diri di bawah Firman, sehingga ketika muncul keraguan dalam berteologi, maka rasio manusia harus mempertanyakan kemampuannya sendiri bukan meragukan kebenaran dari penyataan tersebut.

 

  1. Rasio Mengolah Penyataan Allah

Kemampuan rasio memang tidak dapat melakukan apapun dalam dirinya sendiri, tetapi rasio yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus sangat membantu dalam teologi sesuai dengan I Yohanes 5:2 bahwa Yesus Kristus (penyataan Allah) telah mengaruniakan pengertian kepada kita (dengan penggunaan rasio secara benar) sehingga rasio memiliki peran penting dalam teologi. Daniel Lukas Lukito mengatakan “secara positif rasio tetap berfungsi untuk mempertanyakan mengapa terdapat fenomena supranatural atau misteri religius dan ia juga dapat berfungsi untuk mengintegrasikan fenomena atau misteri tersebut dengan sejumlah misteri alami lainnya”[23]

Pernyataan ini mengimplikasikan bahwa rasio memiliki peranan dalam mengolah penyataan Allah, selanjutnya beliau menyumbangkan pikirannya dengan mengatakan bahwa “rasio berhak menginterpretasikan, merumuskan, dan menghubungkan data wahyu natural atau supranatural yang diterimanya”.[24]

Kemampuan rasio manusia diperlukan sekali dalam mengolah informasi yang telah disajikan melalui penyataan Allah sehingga informasi (penyataan Allah) tersebut dapat dipahami oleh segala keterbatasan manusia, oleh karena memang Penyataan Allah tersebut dianugerahkan/diwahyukan bukan sebagai sesuatu yang siap saji (ready use).  J.Wentzel Van Huyssteen mengatakan “maka kita dapat melihat hierarki pengolahan informasi dan juga hierarki pengolahan kognisi dalam dunia hidup, dan karena itu pengetahuan rasional manusia tampaknya menjadi tipe pengolahan informasi paling canggih yang kepadanya kita memiliki akses.”[25]

Meskipun pernyataan ini tidak sepenuhnya dapat diterima (tipe pengolahan yang paling canggih) dan masih mendatangkan polemic yang berpeluang untuk diperdebatkan, tetapi kita perlu menyadari bahwa Allah terus menerangi, menyingkapkan dan membuat kemampuan rasio manusia (orang percaya) bekerja secara benar sesuai dengan prinsip dan maksud Allah sendiri, bukan berdasarkan kemauan manusiawi sang teolog atau kemampuan/kehebatan rasio manusia itu sendiri.

  1. Penyataan Allah Berkoneksi Dengan Rasio

Dari penjabaran sebelumnya, kita menemukan suatu informasi penting tentang hubungan yang sangat erat antara penyataan Allah dengan rasio manusia dalam berteologi. Kita memang tidak bisa memungkiri bahwa rasio sangat diperlukan, karena berteologi sendiri merupakan suatu proses berfikir dengan suatu harapan bahwa melaluinya kita  diyakinkan dengan cara yang  rasional, meskipun kadang pemikiran manusia itu sendiri melanggar keagungan Allah dan penyataan-Nya yang melebihi atau di atas segala kemampuan konseptual manusia seperti yang diungkapkan oleh Pannenberg bahwa.

The relationship between faith and reason has been a problem since the beginning in Christian Theology. On one hand, theology is itself a process of thought and one must hope that it is persued in a rational manner. On the other hand, however “reason” as commonly understood, can scarcely have the last word in theology without violating the exaltedness of reality of God and His revelation above all human conceptualization.[26]

 

Sehingga antara rasio dan penyataan Allah, masing-masing harus ditempatkan pada porsinya, tanpa pemisahan sama sekali, atau dengan istilah lain antara wahyu dan rasio manusia saling berhubungan dan berkoneksi secara dekat tanpa harus dipisahkan, karena apa yang terdapat pada rasiopun terdapat penyataan Allah secara umum dalam porsi tertentu.[27] Rasio manusia sebagai bagian dari penyataan umum Allah perlu dipakai secara optimal dalam menjelaskan dan mengarahkan pemahaman/pemikiran manusia kepada penyataan khusus.

 

D. Kontribusi Pemikiran

Rasio manusia dan penyataan Allah merupakan dua aspek penting dalam suatu pekerjaan Teologi (rasio di pihak manusia, dan Penyataan atau wahyu dari pihak Allah). Polemik akan segera muncul ketika kita akan menyusun suatu rumusan teologi, dari mana seharusnya kita akan memulai pekerjaan ini, sebagaimana hal itu terjadi sejak permulaan perkembangan Teologi. Pemikiran bahwa bagaimanakah kita harus berteologi ? bagaimanakah seharusnya peran rasio dan Penyataan Allah dalam membangun suatu teologi yang Alkitabiah ? juga merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat semakin peliknya permasalahan ini.  Banyak Teolog yang berpendapat bahwa rasio merupakan kunci utama dalam berteologi karena pada hakekatnya teologi merupakan suatu proses berpikir dengan rasio, sehingga segala penyataan Allah ditundukkan oleh rasio, namun tidak sedikit pula Teolog yang terus berjuang mempertahankan keyakinan bahwa Teologi tidak mungkin dibangun atas dasar rasio manusia, karena pada hakekatnya rasio manusia sangat terbatas dan tidak mampu bekerja di luar pengalaman manusia itu sendiri, padahal Allah dan Penyataan-Nya memiliki dua dimensi yaitu natural dan supranatural yang tidak mungkin dipahami oleh manusia hanya dengan kemampuan rasionya saja.

Berdasarkan pada beberapa pertimbangan kekuatan dan kelemahan pada rasio, sifat dan hakekat dari Penyataan Allah, maka kita akan menemukan suatu jalan keluar bahwa dalam berteologi, rasio harus bersedia dikontrol dan diletakkan di bawah penyataan atau wahyu Allah, karena teologi tidaklah mungkin dibangun di atas pondasi yang rapuh dan penuh dengan keterbatasan karena hal itu akan menciptakan suatu teologi yang sifatnya relatif, rasio (yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus) memang tetap diperlukan untuk mengolah informasi yang disampaikan melalui penyataan Allah sehingga manusia mampu menginterpretasikan merumuskan, dan menghubungkan data wahyu natural atau supranatural yang diterimanya.

Dari penjelasan tersebut kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa rasio diperlukan dalam berteologi, tetapi tetap dalam porsinya sesuai dengan kapasitasnya, demikian pula Penyataan Allah terlebih penting sebagai informasi terlengkap yang Allah sendiri sampaikan kepada manusia.

 

 

D.    Kajian Terhadap  Penyataan Allah, Teologia, Dan Rasio Dalam Spiritualitas Kristen

Meskipun istilah spiritualitas bukanlah istilah asli dari Alkitab, namun hakikat dan substansi dari istilah tersebut menempati hampir di sebagian besar kitab-kitab dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam dunia ilmu pengetahuan ada tiga istilah spiritualitas yang dikenal seperti yang diungkapkan oleh Alfius Areng Mutak,[28] yaitu

a.      Dalam agama-agama, spiritualitas dimengerti sebagai search for transcendence by appeal to a higher powers. Ini dapat dilihat dari praktik-praktik spiritualitas dalam agama Hindu,Buddha, Islam dan agama suku.

b.     Spiritualitas sebagai personal fulfillment without God. Keyakinan ini timbul karena yakin bahwa spiritualitas tersedia bagi setiap orang. Ini dapat dilihat dari agama spiritisme, Zen, dan agama-agama politheisme.

c.      Dari pandangan Kristen spiritualitas adalah “the Manner by which individually and corporately we understand our existence and live in communion with Christ and in response to the Spirit.

 

1.     Pengertian terhadap Spiritualitas Kristen

            Ada perbedaan mendasar antara konsep spiritualitas agama-agama lain, ataupun spiritualitas yang filosofis dengan konsep spiritualitas Kristen, dan hal itu telah sedikit disinggung dalam pembahasan sebelumnya, namun dalam perspektif Kristen, menurut Chan, spiritualitas dipahami sebagai cara memasuki kesatuan, mendapatkan kebebasan sebagai ciptaan baru.[29] Berbeda dengan konsep yang dikembangkan oleh Chan yang lebih menyoroti spiritualitas dalam ranah ekspresi dari pembaharuan natur rohani orang percaya, McGrath justru menyorotinya dari aspek aktualisasi kehidupan iman. Ia berpandangan bahwa istilah spiritualitas berasal dari kata roh, dan roh itu memberikan hidup serta dorongan kepada seseorang untuk bertindak, sehingga spiritualitas Kristen berhubungan dengan hidup beriman yang mendorong atau memotivasi dan bagaimana seseorang mendapat pertolongan dan ketahanan serta semangat untuk mencapai kesempurnaan sesuai kebenaran Firman Tuhan.[30]

            Pada dasarnya spiritualitas bukanlah sebuah tindakan spontan sebagai reaksi terhadap dorongan roh, melainkan sebagai sebuah pola atau sikap hidup yang menampilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri,[31]demikian menurut Victor Tanja. Karena itu, spiritualitas Kristiani adalah pilihan yang  diambil untuk “mengenal dan bertumbuh” dalam hubungan sehari-hari dengan Tuhan Yesus Kristus dengan menaklukkan diri kepada pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan. Hal ini berarti bahwa sebagai orang-orang percaya,  ada komitmen yang kuat dengan memutuskan untuk menjaga agar komunikasi dengan Roh Kudus tetap terbuka melalui pengakuan dosa (1 Yohanes 1:9).[32] Jadi  spiritualitas Kristen merupakan sifat dan sikap hidup yang merupakan respon dan komitmen terhadap dorongan dari Roh Allah untuk hidup secara sempurna seperti Kristus (Christlikeness).

 

2.     Dinamika Spiritualitas Kristen

Kedewasaan rohani merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang Kristen sejati, sebab seorang Kristen sejati seharusnya bertumbuh secara rohani. Kedewasaan tidak terjadi melalui suatu proses yang instan dan bersifat konstan, namun merupakan sebuah gerak dinamis ( 2 Kor 3:18; 1 Tes 4:1,10; 2 Tes 1:3) yang tercermin melalui kesempurnaan yang berarti dewasa, lengkap bukan dalam arti yang sempurna sebagai orang yang tidak berdosa, melainkan pribadi Kristen yang matang, seimbang dan dewasa[33] atau dalam istilah lain “beralih pada perkembangan yang penuh”.[34] Kematangan rohani terjadi karena adanya upaya penyadaran diri secara penuh kepada Allah, unsur mengasihi dan memuji Allah, unsur kerja sama dengan Allah, dan unsur mengerti kendak Allah dan ciptaaNya, sehingga orang yang seperti inilah yang hidupnya mengandalkan Allah dan senantiasa bersekutu denganNya.[35]

Pertumbuhan rohani menyangkut banyak aspek, yang kesemuanya itu merupakan bagian integral dan tidak mungkin dilepaskan. Alkitab mengajarkan bahwa pertumbuhan rohani mencakup banyak segi karena pada dasarnya kehidupan Kristen terdiri dari banyak aspek, namun semuanya saling berhubungan. Paulus sering berbicara tentang pertumbuhan rohani dalam segala hal (Ef 4:15) yaitu dalam kaitannya dengan pengetahuan tentang Alkitab, pemikiran (aspek intelektualitas), kerendahan hati (aspek mentalitas), kejujuran (aspek moralitas), kesaksian (aspek perilaku Kristiani), doa (aspek spiritualitas), penatalayanan (aspek diakonia), kesabaran dan sebagainya.[36] kebutuhan dan kondisi yang demikian seharusnya tetap dan terus mendapat perhatian yang serius bagi seorang Kristen.

Segala daya upaya dalam mencapai pertumbuhan rohani bukan hal yang mudah  dilakukan, banyak cara yang ditawarkan, namun hal ini tidak mengindikasikan bahwa seorang Kristen merupakan obyek pasif, melainkan subyek yang harus secara aktif bekerja keras dan berusaha dengan berlandaskan pada suatu tekad yang bulat. Seorang Kristen yang spiritual harus melakukan sesuatu dan berupaya mentaati Tuhan dalam menerapkan FirmanNya disetiap langkah hidup dan tunduk sepenuhnya pada pimpinan Roh Kudus karena hal itulah tindakan dasar dari seluruh langkah menuju kepada kedewasaan rohani.

Pertumbuhan rohani hanya mungkin tercapai jika orang-orang percaya terus menjalin hubungan yang intim dengan Allah, dengan setia menghidupi kehidupan rohaninya dengan makanan rohani yang telah Allah sediakan, yaitu Firman.[37]pertumbuhan ini merupakan suatu proses yang dilandasi oleh kesadaran penuh untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup melalui Firman itu, sehingga secara sederhana orang Kristen yang bertumbuh adalah orang yang memilih dengan sengaja untuk bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang berarti menerima kehendak Tuhan meskipun itu mungkin bertentangan dengan kepentingan pribadi.[38]

Jadi pertumbuhan rohani atau spiritualitas Kristen merupakan suatu prinsip hidup yang dengan kesadaran dan kerelaan penuh bersedia untuk mentaati kehendak Allah dalam hidup melalui Firman dengan tuntunan Roh Kudus. Pertumbuhan rohani dapat terus semakin dimantapkan melalui keterlibatan secara aktif dalam kegiatan rohani (Kol 2:8-3:1). Melalui kegiatan-kegiatan inilah hidup seorang Kristen dituntun untuk secara dinamis mengalahkan kehidupan lama yang sarat dengan keinginan daging dan menyesatkan (Kolose 3:5-9).

 

3.     Dasar Dinamika Spiritualitas Kristen

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemahaman dan pengalaman hidup rohani merupakan bagian integral yang saling terkait dengan erat. John Walfoord menyatakan bahwa “faith is here taken from the sum of Christian doctrin and what he imidietly adds about good doctrin, is for the sake of explanation for he means, that all others doctrines, how plausikle so ever the may be, are not at all profitable”.[39] Menurutnya hakikat iman merupakan akumulasi dari sejumlah pemahaman tentang ajaran-ajaran Kristen dan ajaran-ajaran yang dianggapnya baik. Bertolak pada dasar pemikiran yang demikian, maka teologia menjadi sangat berperan dalam menyediakan dasar filosofis dalam setiap prilaku kehidupan Kristiani seseorang. Namun demikian tidak serta merta pengetahuan teologis sendiri cukup untuk menumbuhkan iman seseorang, diperlukan juga refleksi terhadap pengetahuan itu melalui pengalaman hidup.

            Kehidupan spiritualitas secara umum biasanya dibangun melalui proses pengalaman yang dinamis dan bersumber pada suatu kehidupan asketis.[40] Dalam konteks kekristenan pembentukan pengalaman rohani tidak hanya melalui mekanisme yang menjadikan sebuah kegiatan keseharian justru menjadi sebuah kebiasaan agamawi/habitus sebab kegiatan-kegiatan itu justru menjadi sebuah tindakan yang dilakukan tanpa kesadaran penuh atau penghayatan terhadap Tuhan. Oleh sebab itu orang-orang percaya memerlukan perjumpaan dengan Kristus secara personal atau yang oleh Hendra disebut sebagai  “lompatan imajinatif”  yang akan membangkitkan kesadaran diri dan menciptakan transformasi dalam hidup.[41]

            Perjumpaan dengan Kristus adalah dasar atau pondasi dimana pengalaman-pengalaman spiritual seseorang kemudian dibangun. Perjumpaan ini tidak selalu bersifat teofani sebab Yesus demikian kreatif dalam menyentuh setiap umatNya guna memunculkan kesadaran personal akan pentingnya sebuah kehidupan yang bertumbuh. Perjumpaan dengan kristus ini merupakan sebuah peristiwa yang unik dan rumit, disebut unik karena pengalaman rohani seseorang akan selalu berbeda dengan pengalaman orang lain, disebut rumit karena tidak akan ada sebuah kemampuan yang dapat menjelaskan fenomena itu secara akurat dan ilmiah. Namun demikian melalui perjumpaan personal dengan Kristus itu setiap orang percaya mengalami transformasi pengetahuan rohani yang dapat menuntun seseorang dalam menjalankan kehidupan praktisnya. Menurut Hendra G.Mulia,[42] transformasi akibat perjumpaan personal seseorang dengan Kristus berdampak pada tiga hal,

Pertama, seseorang akan mengalami krisis dalam hidupnya. Krisis dalam konteks ini adalah sebuah sentakan hidup yang ditimbulkan oleh masuknya sebuah pengetahuan atau paradigm baru di luar pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki selama ini. Pengalaman perjumpaan ini selalu berdampak pada perubahan paradigm yang terus bekerja dan mengarahkan perilaku seseorang sesuai dengan pengetahuan baru tersebut.

Kedua, adalah proses pertentangan antara tatanan berfikir dan pengalaman yang lama dengan paradigm baru. Ide atau gagasan baru yang ditimbulkan oleh perjumpaan tersebut menjadi sebuah refleksi yang menantang paradigm lama seseorang. Ide-ide baru yang mengarahkan dan menuntun kepada kehidupan yang menuju kesempurnaan penuh seperti Kristus (Christlikness).

Ketiga, akibat perjumpaan itu seseorang akan memiliki paradigm atau cara berfikir yang baru, yaitu cara Allah berfikir. Seorang Kristen akan melihat bagaimana Allah melihat, mendengar sebagaimana Allah mendengar dan bertindak sebagaimana Allah ingin seseorang itu lakukan.

            Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan sebagai landasan pembentukan spiritualitas Kristen oleh Bambang Wijaya dipahami melalui empat pancaran. Menurutnya Spiritualitas Kristen  tersebut berpijak kepada empat dasar. Pertama yaitu pengenalan terhadap pribadi Tuhan melalui pengungkapan diri-Nya dalam Kitab Suci dan Kristus yang adalah inkarnasi dari Tuhan itu sendiri. Kedua pengalaman dengan Tuhan melalui keterbukaan terhadap karya dan kehadiran Roh Kudus baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bersama sebagai umat. Ketiga perubahan kehidupan oleh karena pengenalan dan pengalaman bersama dengan Tuhan. Keempat adalah dampak dari relasi dengan Tuhan dalam dalam pemikiran maupun dalam perilaku kehidupan sehari-hari di dunia. Keempat pancaran tersebut dapat dijelaskan demikian,

·       Pertama, pengenalan terhadap pribadi Tuhan ini bukan bersifat sekedar suatu pengetahuan kognitif atau akademis, namun mencakup di dalamnya relasi yang menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan kita, Sehingga dengan demikian hubungan dengan Tuhan tersebut tidak bersifat parsial atau setengah-setengah, namun bersifat holistic atau menyeluruh. Pengenalan tersebut juga berdasarkan pada acuan obyektif yaitu kebenaran Kitab Suci dan pribadi Yesus Kristus yang bersifat historical, Sebab tanpa acuan obyektif, maka tak akan mungkin bagi kita untuk mengembangkan moralitas apalagi spiritualitas. Hal ini sangat mudah untuk dipahami, sebab tanpa acuan kebenaran yang obyektif dan absolut tidak mungkin dikembangkan suatu moralitas dan spiritualitas yang universal

·       Kedua, pengalaman dengan Tuhan ini tak dapat diabaikan, sebab secara praksis dalam konteks masyarakat postmodem faktor pengalaman sangatlah penting. Di sisi lain pengalaman ini juga menegaskan bahwa Tuhan yang dari padanya kehidupan manusia bersumber bukanlah sekedar suatu “impersonal power”, konsep ataupun imajinasi, namun benar-benar suatu pribadi yang eksis dan masih terus berkarya di dunia sampai saat sekarang, Pengalaman tersebut haruslah dalam konteks pribadi, sebab Tuhan menghargai manusia sebagai pribadi individual, namun juga harus dalam konteks komunal, sebab bukan saja hal tersebut merefleksikan sifat Trinitarian Tuhan namun juga hanya melaluinya transformasi kehidupan dapat terjadi.

·       Ketiga, transformasi kehidupan oleh karena pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan tersebutlah yang akan membawa perubahan trancendental dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, melaluinya manusia akan mengalami perubahan untuk mencapai panggilan dirinya yang sejati

·       Keempat, relasi dengan Tuhan baik oleh pengenalan dan pengalaman bersama dengan Dia tersebut harus termanifestasikan dalam pola pikir dan kehidupan sehari-hari, sebab hanya dengan demikian barulah dapat dikatakan bahwa relasi tersebut bersifat otentik. Manifestasi spiritualitas ini bukan hanya dalam sebatas kehidupan beribadah, namun dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, dalam dunia kerja, dalam dunia berumah tangga, juga dalam dunia politik dan budaya.[43]

Dinamika pertumbuhan spiritualitas Kristen yang sejati harus dibangun di atas dasar yang tepat, karena spiritualitas yang dikembangkan melalui upaya-upaya mekanis, asketis, maupun mistis di luar konsep yang diajarkan oleh Allah akan membawa manusia semakin jauh dari Allah. Oleh karenanya pengalaman perjumpaan dengan Tuhan (personal encounter with Christ) adalah secara signifikan dan mutlak menjadi prasyarat utamanya.

 

4.     Karakteristik Dinamika Spiritualitas Kristen

            Spiritualitas Kristen dibangun di atas dasar penyataan Allah dan pemahaman teologis yang Alkitabiah, sehingga hal ini membedakannya dengan spiritualitas yang ditemukan di luar kekristenan. Meskipun pancaran dari spiritualitas Kristen dengan spiritualitas lain hampir mirip, namun hal itu tidak mengindikasikan kesamaan substansi dan nilainya, oleh sebab itu karakteristik spiritualitas Kristen yang membedakannya dengan yang lain adalah :

 

a). Bersyaratkan Kelahiran Baru

            Perbedaan mendasar antara orang-orang Kristen dengan orang lain adalah perbedaan naturnya. Natur itu pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap tujuan dan orientasi hidup manusia, termasuk spiritualitasnya. Orang percaya merupakan “ciptaan baru” di dalam Kristus sedangkan di luar itu semua manusia adalah berdosa, naturnya adalah budak-budak dosa (enslaved sinner) sehingga orientasi hidupnya tidak akan pernah sesuai dengan kekudusan Allah, demikian pula spiritualitasnya berkembang di luar lingkup anugerah dan hukum Allah.

            Proses kelahiran baru dilatar belakangi oleh masuknya masalah terbesar manusia ke dunia dan menghantuinya sepanjang masa yaitu kematian, hal ini merupakan dampak kematian manusia dalam kesalahan dan dosa-dosanya (Ef 2:1; 1 Kor 15:22). Solusi dari permasalahan ini adalah penanaman kembali kehidupan yang ilahi yang disebut sebagai regenerasi atau kelahiran kembali secara rohani. Dalam upaya mendapatkan pemahaman tentang konsep ini, kita harus melakukan suatu penelitian terhadap istilah Yunaninya dan juga hubungan antara konsep-konsep tersebut, karena kita tidak akan pernah menemukan latar belakang ataupun istilah lahir baru dalam Kitab-Kitab Perjanjian Lama “ a biblical theological approach to regenaration begins with an examination of the New Testament word and its related concepts; there is no word for regenaration in the Old Testament.[44]

            Istilah kelahiran baru berasal dari istilah genethe anothen yang artinya lahir kembali (Yoh 3:3,5), dan dari kata paliggenesia yang memiliki dua makna, secara umum  menunjuk kepada pembaharuan segala sesuatu, pembaharuan alam semesta yang terjadi pada Kedatangan Kristus kedua kali (Mat 19:28, Tit 3:5), dan secara khusus menunjuk pada karya Tuhan yang dikerjakan secara langsung dengan perantaraan Roh Kudus untuk mencurahkan hidup baru dalam diri seorang manusia, yang semula mati secara rohani sehingga hidup kembali dengan esensi yang baru.

           Secara teologis istilah ini memiliki makna bahwa kelahiran baru adalah aktifitas Roh Allah yang memberikan kodrat baru kepada seseorang didasari oleh karena ia telah menerima Yesus Kristus, sehingga secara prinsip kelompok reformed dan injili berpandangan (melalui pengakuan yang termaktub dalam Westminster Confession) bahwa kelahiran baru merupakan “Regenaration an act of God, Regenaration an act of God’s Power, Regeneration is a new life (in regeneration a new life is communicated to the soul, man is the subject of new birth, he receives a new nature or new heart and becomes a new creature)”.[45]

            Berdasarkan latar belakang inilah dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Kristen dapat menghasilkan buah-buak perbuatan yang baik dan benar, serta berkenan kepada Allah karena hanya orang-orang yang sudah lahir barulah yang memiliki kuasa dan mampu berbuat yang demikian (Yoh 1:12), Sedangkan spiritualitas yang dibangun di luar konsep itu adalah kesesatan (Efesus 2:1).

 

b). Berfokus Pada Kristus (Kristosentris)

Seluruh orientasi kekristenan berpusat pada Kristus, sehingga dasar, prosedur, tujuan dan mekanisme pertumbuhan spiritualitas Kristen diarahkan kepada pribadi Yesus. Pada studi teologi sistematika dan dogmatika dikemukakan bahwa fakta ketika kita membahas tentang siapa Yesus dan apa yang dilakukanNya, maka kita berada pada suatu pusat dari seluruh teologia dan kehidupan Kristen, hal itu juga diungkapkan oleh Millard J.Erickson bahwa “when we come to the study of person and work of Christ, we are at the very center of Christian Theology. For since Christian are definition believers in and followers of Christ, their understanding of Christ must be central and determinative of the very character of the Christian faith.”[46]

Kristus merupakan sentral dari seluruh karakteristik iman Kristen, keunikan Kristus merupakan ciri yang paling mendasar dari seluruh doktrin/iman Kristen, dan tentunya keunikan tersebut tidak bersifat subyektif dan individual, melainkan bersifat obyektif dan universal “The uniqueness of Jesus Christ is not an exclusive claim purely for the Christian community, or for the disciples of Jesus Christ. It has universal validity. In other words, Jesus Christ without universal validity is merely an illusion.”[47]

            Pembentukan spiritualitas Kristen bukan hanya sekedar berorientasi pada pribadi dan pengajaran Kristus, semata, namun spiritualitas bertujuan membangun kehidupan orang-orang percaya menuju kematangan pada tingkat tertentu yaitu suatu proses menuju kepada keserupaan dengan Kristus (Christlikeness). Kesimpulannya bahwa ciri khusus dari spiritualitas Kristen adalah didasari oleh pengorbanan Kristus, dikerjakan melalui keteladanan dan perkataan Kristus, sasarannya supaya terjadi transformasi menuju keserupaan dengan Kristus (Christlikeness) dan diarahkan/bertujuan akhir  untuk kemulyaan Kristus, dan itu semua bersumber pada Penyataan Allah dan teologia yang Alkitabiah.

 

c). Bersifat Biblical Dogmatis

Ada keunikan tersendiri yang dimiliki oleh kepercayaan Kristen (doctrinal maupun praxis)   dibandingkan dengan kepercayaan lain, yaitu bahwa Allah merupakan subyek, yang secara aktif mencari manusia dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dan manusia itu sendiri hanyalah sebagai obyek.[48] Dari bagian awal sampai penutup Alkitab menunjukkan bahwa Allah berperan secara aktif dalam mencari manusia. Tindakan ini sangat penting oleh karena penyataan Allah merupakan cara Allah sendiri berkomunikasi dan menyatakan diri-Nya[49] kepada semua orang di segala waktu melalui penyataan umum-Nya dan kepada orang-orang tertentu pada waktu-waktu tertentu melalui penyataan khusus-Nya. Penyataan Allah tidak hanya dimaksudkan supaya manusia mengenal oknum Allah saja, tetapi juga apa yang telah Ia lakukan, tentang ciptaan-Nya dan hubungan antara Allah dan manusia. Hal ini merupakan informasi yang riil, obyektif dan rasional dari Allah kepada manusia.

Oleh karena Alkitab merupakan sarana yang dipakai Allah secara khusus untuk mengkomunikasikan kehendakNya kepada manusia maka melaluinya pula spiritualitas Kristen dibangun, diawasi dan diuji. Demikian pula masalah tradisi dan nilai-nilai yang dipegang oleh Gereja menjadi bagian penting bagi spiritualitas Kristen sebab, melalui tradisi Gereja itu orang percaya mendapat gambaran dan referensi bagaiman para pendahulu mereka menghayati Firman itu dalam konteks mereka. Kebenaran-kebenaran fundamental yang diajarkan  Tuhan melalui Alkitab tidak boleh dikompromikan dengan nilai-nilai apapun, baik itu budaya maupun kepentingan, artinya Alkitab menjadi acuan dalam pembentukan spiritualitas Kristen.

 

d). Berlingkupkan  Ministry Ekklesiologis

Alkitab secara konsisten memaparkan kebenaran bahwa setiap umat Allah terpanggil untuk melayaniNya. Panggilan pelayanan ini bukan hanya didasari oleh kebaikan Tuhan yang telah menyediakan jalan keselamatan bagi semua orang percaya, namun juga oleh karena keteladanan Yesus yang telah terlebih dahulu merendahkan diriNya sendiri untuk melayani ketika hadir ke dunia melalui karya inkarnasi. Keteladanan hidup Yesus secara eksplisit mengarahkan orang percaya untuk memberikan diri secara sukarela dan penuh kesadaran untuk melayani orang lain, secara khusus saudara-saudara seiman. Yesus tidak sekalipun mengajarkan agar orang percaya hanya mengikuti teladan etisnya semata-mata, namun lebih dari itu semua, Yesus mengharapkan agar menghayati eksistensi baru yang telah diciptakan pada saat kelahiran baru.[50] Penghayatan  terhadap natur yang baru inilah seharusnya terimplementasi melalui kehidupan yang melayani Tuhan.

            Spiritualitas Kristen saling terkait dengan pelayanan gerejawi. Pelayanan ini merupakan pelayanan yang holistic atau menyeluruh sehingga melampaui batas-batas atau segi-segi kehidupan manusia. Abineno berpandangan bahwa diakonia atau pelayanan Kristen bukan hanya merupakan pelayanan tambahan saja dari Gereja, melainkan pelayanan yang penuh menyeluruh,[51] maksudnya suatu pelayanan merupakan pelayanan yang universal, bukan hanya ditujukan pada diri sendiri, kelompok/golongan gereja tertentu saja, melainkan untuk seluruh umat manusia. Secara praktis, ada begitu banyak bentuk pelayanan gerejawi, namun kesemuanya itu dapat diklasifikasikan ke dalam empat bentuk pelayanan saja, yaitu Pemberitaan Firman, Konseling pastoral, Persekutuan (koinonia), Pemberian bantuan atau diakonia (pelayanan social)[52]

Keempat jenis pelayanan tersebut merupakan bagian yang integral, saling berdampingan, dan melengkapi karena dasar pelaksanaannya adalah kebenaran Kitab Suci (Alkitab) dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab memberikan berita dan isi yang utama bagi semua pelayanan Kristen, entah itu dalam pelayanan yang berbentuk pemberitaan, pengajaran, konseling, maupun dalam bentuk lainnya, sedangkan Allah Roh Kudus memberikan dan menyediakan segala daya rohani (spiritual drive) bagi pelayanan tersebut.

            Pelayanan Kristen memiliki sasaran yang jelas dalam pengaturan dan pelaksanaan misi Allah terhadap GerejaNya, secara khusus melalui gereja local untuk pembangunan tubuh Kristus. Tujuan pelayanan Kristen adalah untuk memberlakukan ketuhanan Yesus Kristus, membangun tubuhNya, yaitu gereja agar menjadi dewasa dalam kasih, keesaan dan kekudusan, sehingga semua orang percaya dapat bersaksi melalui penginjilan dan pengabdian penuh kasih kepada dunia yang dirundung kegelapan dan kesengsaraan.[53]

            Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, jelaslah bahwa sasaran dari pelayanan Kristen adalah keselamatan bagi manusia dan pertumbuhan rohani/spiritualitas bagi umat Allah, Alkitab secara konsisten memberikan arah dan isi dari pelayanan, sedangkan Roh Kudus secara aktif bertindak memberikan dorongan dan kekuatan dalam mencapai tujuan tersebut. Orang  Kristen yang ingin terus bertumbuh spiritualitasnya tidak seharusnya terkungkung dalam batasan-batasan pelayanan tertentu, namun berkarya secara luas untuk melakukan kebaikan secara luas.

 

e). Berimplikasi  Universal

Dengan bercermin pada Firman Tuhan, dapatlah ditemukan sebuah kesimpulan umum, bahwa kekristenan mengemban misi bagi dunia dan hal ini sinergi dengan amanat Agung Tuhan Yesus (Mat 28:19-20). Artinya kekristenan harus memberikan terang dan menggarami dunia secara universal agar dunia mengenal dan memulyakan Allah.  Orang Kristen dipilih secara ekslusif namun mengemban tugas dan tanggung jawab yang inklusif.

Kebaikan yang Yesus perintahkan, bukanlah bersifat ekslusif, komunal apalagi bersifat etnis. Alkitab secara jelas memberikan landasan konseptual dan praktik yang cukup memadai untuk masalah-masalah ini sebab Yesus seringkali mengajarkan agar iman Kristen harus dinikmati oleh sesama manusia sebagaimana maksud dan tujuan inkarnasinya (Yoh 3:16). Konsep  mengenai sesama manusia bersifat sangat umum sebagaimana di tuliskan dalam Lukas 10:29-37).   Dalam Bible Knoledge Commentary dijelaskan mengenai hal ini bahwa sesama manusia adalah siapa saja yang memerlukan tindakan baik dari orang percaya.

The Samaritans were scorned by the Jews because of their mixed Jewish and Gentile ancestry. It is ironic, then, that a Samaritan helped the half-dead man, dressing his wounds, taking him to an inn, and paying his expenses. By askingWhich... was his neighbor? (Luke 10:36) Jesus was teaching that a person should be a neighbor to anyone he meets in need. The ultimate Neighbor was Jesus, whose compassion contrasted with the Jewish religious leaders who had no compassion on those who were perishing. Jesus wrapped up His teaching with the command that His followers were to live like that true neighbor .[54]

 

Demikianlah spiritualitas Kristen idealnya diejawantahkan dalam perbuatan baik yang dapat dinikmati oleh siapa saja, tanpa batasan status sosial ataupun ekonomi.

 

E.    Relasi Antara Teologia dan Spiritualitas Kristen

            Pertanyaan penting yang hendak dibahas dalam bagian ini adalah, apakah teologia atau pengetahuan teologis seseorang secara signifikan turut mempengaruhi pertumbuhan spiritualitasnya? berdasarkan pada beberapa sumber literature dan penelitian ilmiah dapatlah dismpulkan bahwa ada hubungan yang saling terkait dan saling mempengaruhi di antara kedua hal tersebut.

            Gereja masa kini tidak hanya membutuhkan para pelayan yang cakap dalam kemampuan akademis kognitif atau dalam istilah lain memiliki kecerdasan rasional dan teologia yang baik semata-mata, namun juga perlu pelayan yang saleh dan berkarakter. Saleh dalam hal ini memiliki pengertian bahwa kehidupan spiritualitasnya dapat menjadi teladan bagi jemaat. Pemahaman teologia yang baik jika tidak diimbangi dengan kehidupan spiritualitas yang baik pula maka pelayanannya tidak akan menjadi berkat, melainkan menjadi kutuk.[55] Dalam seluruh kesaksian tokoh iman yang dicatat dalam Alkitab menunjukkan para pelayan yang berhasil dalam pelayanannya adalah mereka yang memiliki spiritualitas yang unggul.

Pertumbuhan spiritualitas ini merupakan prasyarat utama yang tidak dapat digantikan dan digeser oleh apapun meski dunia dan tuntutannya terus mengalami arus perubahan. Pedoman untuk pelayan yang memiliki spiritualitas tinggi ini merupakan prinsip fundamental. Sekolah teologia terpanggil untuk mencetak lulusan yang mampu melayani secara ekklesiatikal namun juga ditopang oleh mutu spiritualitas yang baik sebab bagaimanapun kesaksian hidupnya berteriak lebih keras dari pada suara khotbahnya di mimbar.

Pada dasarnya spiritualitas seorang pelayan dan profesionalismenya dalam pelayanan sangat sulit dibedakan, atau bahkan dipisahkan karena dua bagian ini merupakan entitas yang tidak mungkin dilepaskan, Barlow berpandangan bahwa  kepribadian dan profesionalisme begitu tumpang tindih, namun keduanya sangat diperlukan dan saling terkait.[56] Kepribadian seorang pelayan menentukan profesionalismenya, dan profesionalismenya ditentukan dan membentuk karakter dan spiritualitasnya.

 Di dalam bidang tugasnya sebagai seorang pelayan Tuhan, seseorang tidak hanya mengajarkan disiplin ilmu  dengan harapan jemaat memiliki pemahaman-pemahaman yang bersifat kognitif semata, melainkan harus menanamkan sikap dan sifat atau mentalitas yang baik, serta keterampilan hidup yang kaya. Kedua hal tersebut tidak dapat diajarkan dengan metodologi yang sama seperti dengan metodologi ketika mengajarkan pengetahuan, melainkan harus diempartasikan melalui keteladanan hidup dari seorang pelayan Tuhan.

Bagi jemaat, contoh atau keteladanan spiritualitas dari hamba Tuhan lebih bermakna dari pada rangkaian kata-kata yang indah,

Kita mengajarkan jauh lebih banyak dengan contoh hidup kita dari pada kata-kata kita, sebab itu contoh yang kita perlihatkan dalam hidup kita selamanya jauh lebih penting dari pada metode-metode yang kita pakai. Sikap dan kelakuan guru akan mempengaruhi murid-muridnya lebih dari kata-katanya. Ini berarti bahwa contoh hidup guru yang tidak memperkuat dan menekankan pengajaran yang disampaikannya akan membantah ajaranya sendiri.[57]

 

Keteladanan hidup dari seorang pelayan Tuhan lebih mudah diterima dan tertanam dengan kuat dari pada sekedar untaian kata-kata, sehingga kualitas pribadi Hamba Tuhan merupakan komponen yang sangat penting dalam sebuah pelayanan gerejawi.  Sikap, paradigma, dan prilaku  menjadi unsur yang mempengaruhi dalam profesionalisme pelayanan seorang Hamba Tuhan karena hal ini akan turut menentukan arah pelayanan gereja karena menjadi pelayan tidak cukup dengan pengetahuan saja, melainkan harus memiliki pola hidup yang baik dan dewasa. Seseorang dikatakan sebagai Hamba Tuhan tidak cukup dengan hanya tahu sesuatu materi yang hendak diajarkan tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki kepribadian seorang Hamba dengan segala ciri dan tingkat kedewasaannya.         

Pelayanan yang efektif perlu diimbangi dengan contoh-contoh perilaku dan spiritualitas yang baik. Sebuah pengajaran dan pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung pada berbagai disiplin ilmu pengetahuan jika dibarengi dengan keteladanan hidup dari seorang pelayan lebih signifikan dalam mengembang tumbuhkan sikap mental pada diri jemaat.

            Selain kepribadian seorang pelayan merupakan bagian yang turut mempengaruhi prilaku jemaat, kepribadian Hamba Tuhan yang menarik sangat mempengaruhi suasana atau atmosfir pelayanannya “ …teacher may shy away from the idea that the effectiveness of what he teachers depens on the kind of person he is, nevertheless it is true, a happy, adequate, sincere personality will make the christian message attractive to his pupils[58], bagi Karen kepribadian guru atau pelayan Tuhan yang menarik sangat mempengaruhi dalam proses transformasi informasi dari seorang pengajar terhadap pembelajar, bahkan mungkin tingkat kepentinganya melebihi dari seberapa banyak pengetahuan kita “Though a happy, attractive personality is more important than being a storehouse of information, yet the amount of knowledge we posses is important[59]. Berupaya menjadi pribadi yang menarik (bukan dalam arti bersandiwara) menjadi penyeimbang dalam upaya seorang pelayan Tuhan dalam mempersiapkan segala informasi atau materi yang hendak diajarkan kepada jemaat sehingga tercipta proses pembelajaran yang efektif.

            Oleh karena alasan-alasan di atas maka Sekolah teologia dituntut untuk memfasilitasi para pelayan ini secara holistic, yaitu pembentukan intelektualitas maupun spiritualitas. Kedua aspek ini merupakan bagian yang integral yang harus dilakukan secara simultan. Semua program dan implementasinya harus diarahkan pada kedua sasaran tersebut. Perkuliahan yang bersifat sangat akademispun harus selalu dikaitkan dan sinergikan dengan upaya pembentukan spiritualitas.

 

 

BAB III

PENUTUP

Bagian ini akan akan dibagi menjadi dua pembahasan, yaitu kesimpulan dan kontribusi/saran :

A.    Kesimpulan

 

B.    Kontribusi Gagasan

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Alfius Areng Mutak, Diktat kuliah Pascasarjana Formasi Spiritualitas, Malang : Institut

Teologi Aletheia, 2012

Alister McGrath, Christian Spirituality, UK: Blackwell Publishing Ltd,2003

Arie Jan Plaisier, Manusia Gambar Allah, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999

Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah, Surabaya :Momentum, 2000

Bambang H.Widjaja dalam http://www.gkpb.net/index.php/component/k2/item/931-spiritualitas-

kristen-kontemporer

Bible Knowledge Commentary/New Testament Copyright © 1983, 2000 Cook Communications

Ministries. All rights reserved.

BJ. Boland, Intisari Iman Kristen, Jakarta : BPK Gunugn Mulia, 1984

Charles Hodge, Systematic Theology,Abridge Edition, Grand Rapid : Bakker Book Publisher

Colin Brown, Philosophy and The Christian Faith, London : Tyndale Press, 1969

Daniel Lucas Lukito, Pengantar Teologi Kristen I, Bandung:Yayasan Kalam Hidup,t.t

Desmond Alexander, et al, New Dictionary of Biblical Theology, Illionis : Interversity Press,

2000  

Eta Linnemann, Teologi Kontemporer,Ilmu atau Praduga, Malang : Institut Injil

Indonesia,1991

G.Christian Weiss, Bagaimana Menjadi Seorang Kristen Sejati, Jakarta : Memori Press, 1951

Gene Edward Veith,Jr, Dengan Segenap Akal Budi, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003

Gottfried, Pemimpin Yang Menjadi Pelayan, Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 1998

Harvie M.Conn, Teologia Kontemporer, Malang : SAAT, 1988

Hendra G.Mulia, Menjadi Religius dan Spiritual, Dalam Integrated Life, Jogjakarta : Yayasan

ANDI,2006

Henry C.Thiessen, Teologi Sistematika, Malang : Gandum Mas, 1992

http://www.gotquestions.org/Indonesia/spiritualitas-Kristiani.html#ixzz0Ro841aaM

J.Wentzel Van Huyssteen, Teologi dan Sains Dalam Dunia Post Modern, Duet atau Duel ?,

Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002

J.Wesley Brill, Dasar Yang Teguh, Bandung : Kalam Hidup, 1978

JL.Ch.Abineno, Jemaat, Peraturan, Susunan Pelayanan, dan Pelayanan-Pelayanannya, Jakarta

: BPK Gunung Mulia, 1988

____________, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, Jakarta : BPK Gunung Mulia,

2000

John F Walfoord, Roy B.Zuck, The Bible Knowledge of New Testament Commentary, USA :

Victor Book, 1983

John Haughey, The Faith That Does Justice, New York : Paulist Press, 1977

John Lei, Perjuangan Iman, Jakarta : PT Buana Ilmu Populer, 1976

Karen Anderson, Ways of Teaching, Pensylvania : The Muhlenberg Press, 1952

Ken Gnanakan, The Pluralistic Predicament, India : Theological Book Trust, 1992

Kreamer, Teologia Kaum Awam, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1981

Loren Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2002

Millard J.Ericson,  Introduction Christian Doctrine, Michigan : Bakker Book House,1992

Millard J.Ericson, Teologi Kristen 1,  Malang : Gandum Mas, 1999

Purnawan Tenibemas, Spiritualitas di Sekolah Teologi. Dalam Jurnal Teologi STT Tiranus ,

Bandung : STAS, 2010

Ronald W.Leigh, Effective Christian Ministry, illionis : Tyndalle House Publisher, 1988

Simon Chan, A Dictionary Of Asian Christianity, Grand Rapid : Eerdemans Publishing House,

2001

Soemarto Martowirjono, Pendidikan PAK Pada SD, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi,

Jakarta : CV Paripurna,t.tp

Team Penyusun, Ensiklopedia Americana International, USA :Grolier Incorporated, 1985

V.Schunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen, Malang : YPPII, 1988

Viktor I Tanja, Spiritualitas, Dan Pembangunan di Indonesia, Jakarta : BPK Gunung

Mulia,1996

Wolfhart Pannenberg, Basic Questions in Theology, Volume 2, London : SCM Press LTD, 1971

Yakub B.Susabda, Teologi Modern I, Jakarta : LRII, 1990

 



[1] Pada tulisan selanjutnya akan disingkat dengan istilah IPTEK

[2] Team Penyusun, Ensiklopedia Americana International, (USA :Grolier Incorporated, 1985),P.268

[3] Colin Brown, Philosophy and The Christian Faith, (London : Tyndale Press, 1969),P.51

[4] Ibid.50

[5] ibid.49

[6] V.Schunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen, (Malang:YPPII,1988), Hlm.18

[7] Millard J.Ericson, Teologi Kristen 1, (Malang : Gandum Mas, 1999),Hlm.194

[8] Henry C.Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang : Gandum Mas, 1992),hlm11

[9] Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah, (Surabaya :Momentum, 2000),h.128

[10] Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2002),hlm.925

[11]Loren ibid, hlm.929

[12] Yakub B.Susabda, Teologi Modern I, (Jakarta : LRII, 1990),Hlm.42

[13] Arie Jan Plaisier, Manusia Gambar Allah, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999,Hlm.16

[14] Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah, (Surabaya : Momentum, 2000)Hlm.146

[15] Daniel Lucas Lukito, Pengantar Teologi Kristen I, (Bandung:Yayasan Kalam Hidup,t.t)Hlm.60

[16] Eta Linnemann, Teologi Kontemporer,Ilmu atau Praduga, (Malang : Institut Injil Indonesia,1991)hlm.168

[17] Arie Jan Plaisier, Op Cit,Hlm.18.

[18] Eta Linemann, Op Cit, hlm.167

[19] Harvie M.Conn, Teologia Kontemporer,(Malang : SAAT, 1988)hlm.17

[20] Eta,Op Cit,.h.168

[21] V.Scheunemann, Op Cit,hlm.

[22] Gene Edward Veith,Jr, Dengan Segenap Akal Budi, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003),hlm.126

[23] Daniel Lukas Lukito, Pengantar Teologi Kristen I, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, t.t),hlm.61

[24] Ibid, hlm.62

[25] J.Wentzel Van Huyssteen, Teologi dan Sains Dalam Dunia Post Modern, Duet atau Duel ?, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002),hlm.120

[26] Wolfhart Pannenberg, Basic Questions in Theology, Volume 2, (London : SCM Press LTD, 1971).P.46

[27] Daniel Lucas Lukito, op cit,hlm.62

[28] Diktat kuliah Pascasarjana Formasi Spiritualitas, (Malang : Institut Teologi Aletheia, 2012),hlm.1

[29] Simon Chan, A Dictionary Of Asian Christianity, (Grand Rapid : Eerdemans Publishing House, 2001),p.790

[30] Alister McGrath, Christian Spirituality, (UK: Blackwell Publishing Ltd,2003),p.2

[31] Viktor I Tanja, Spiritualitas, Dan Pembangunan di Indonesia, (Jakarta : BPK Gunung Mulia,1996)hlm.89

[33] BJ. Boland, Intisari Iman Kristen, (Jakarta : BPK Gunugn Mulia, 1984) hlm.37

[34] J.Wesley Brill, Dasar Yang Teguh, (Bandung : Kalam Hidup, 1978) hlm.287

[35] John Haughey, The Faith That Does Justice, (New York : Paulist Press, 1977) p.10-16

[36] Ronald W.Leigh, Effective Christian Ministry, (illionis : Tyndalle House Publisher, 1988) p.20-22

[37] G.Christian Weiss, Bagaimana Menjadi Seorang Kristen Sejati, (Jakarta : Memori Press, 1951)hlm.51

[38] John Lei, Perjuangan Iman, (Jakarta : PT Buana Ilmu Populer, 1976)hlm.130

[39] John F Walfoord, Roy B.Zuck, The Bible Knowledge of New Testament Commentary, (USA : Victor Book, 1983),p.740

[40] Hendra G.Mulia, Menjadi Religius dan Spiritual, Dalam Integrated Life (Jogjakarta : Yayasan ANDI,2006)Hlm294

[41] Ibid, hlm.295

[42] Ibid, hlm.17-18

[43] Bambang H.Widjaja dalam http://www.gkpb.net/index.php/component/k2/item/931-spiritualitas-kristen-kontemporer

[44] Desmond Alexander, et al, New Dictionary of Biblical Theology, (Illionis : Interversity Press, 2000), p.721     

[45] Charles Hodge, Systematic Theology,Abridge Edition, (Grand Rapid : Bakker Book Publisher),P.436

[46] Millard J.Ericson,  Introduction Christian Doctrine, (Michigan : Bakker Book House,1992).p207

[47] Ken Gnanakan, The Pluralistic Predicament, (India : Theological Book Trust, 1992),p.125

[48] V.Schunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen, (Malang:YPPII,1988), Hlm.18

[49] Millard J.Ericson, Teologi Kristen 1, (Malang : Gandum Mas, 1999),Hlm.194

[50] Kreamer, Teologia Kaum Awam, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1981)hlm.103

[51]Jemaat, Peraturan, Susunan Pelayanan, dan Pelayanan-Pelayanannya (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1988)hlm.130

[52] JL.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000)hlm.20

[53] Gottfried, Pemimpin Yang Menjadi Pelayan, (Jakarta : Yayasan Bina Kasih, 1998)hlm.53-54

[54]  Bible Knowledge Commentary/New Testament Copyright © 1983, 2000 Cook Communications Ministries. All rights reserved.)

[55] Purnawan Tenibemas, Spiritualitas di Sekolah Teologi. Dalam Jurnal Teologi STT Tiranus , (Bandung : STAS, 2010)Hlm.3

[56] P.468

[57] Soemarto Martowirjono, Pendidikan PAK Pada SD, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi,(Jakarta : CV Paripurna,t.tp)hlm.12-13

[58] Karen Anderson, Ways of Teaching, (Pensylvania : The Muhlenberg Press, 1952) p.47-48

[59] Ibid,p.48

Kamis, 23 September 2021

Pelayanan Eksorsisme Dalam Gereja Masa Kini

PELAYANAN EKSORSISME DI GEREJA MASA KINI oleh : Adrianus Zebua Bimbingan dari : Didik Sulistyoadi Pemahaman Tentang Pelayanan Eksorsisme Pengertian Pelayanan Eksorsisme Eksorsisme atau dikenal dengan pelepasan lebih identik dengan kegiatan pengusiran setan, merupakan istilah yang digunakan dalam pelayanan terhadap orang yang kerasukan setan karena keduanya memang dimaksudkan untuk mengusir atau melepaskan setan dari hidup seseorang. Istilah pengusiran setan juga dipakai dalam dunia di luar Kristen, namun istilah pelayanan pelepasan pada kenyataannya lebih diterima di kalangan Kristen. Dalam gereja Katolik, eksorsisme dipahami sebagai tata cara pengusiaran roh jahat dengan menyebut nama Allah. Eksorsisme sering dipakai untuk pelayanan pengusiran setan Karen istilah itu berasal dari kata dasar exorcise yang berarti mengusir setan, membebaskan dari roh jahat. Sutoyo menjelaskan bahwa: Istilah eksorsisme berasal dari bahasa Latin exorcismus, yang diapdosi dari bahasa Yunani exorkizein mendesak, adalah sebuah praktik untuk mengusir setan atau makhluk halus (roh) jahat lainnya dari seseorang atau suatu tempat yang dipercaya sedang kerasukan setan. Mengenai pengusiran setan ini, Derek Prince mengatakan to exorcise diartikan sebagai mengusir roh jahat dari seseorang atau suatu tempat dengan berdoa, melakukan desakan dan ritual agamawi. Soekahar mengistilahkannya dengan exorcisme, yang artinya adalah pengusiran keluar roh-roh jahat dalam diri seseorang, dari suatu tempat, atau dari dalam suatu barang. Bagi kalangan gereja beraliran Pentakosta dan Kharismatik, arti pengusiran setan atau eksorsisme, sebagaimana dikatakan oleh McClung bahwa eksorsisme itu adalah tindakan mengusir roh-roh jahat atau setan dengan mengandalkan nama Yesus Kristus dan melalui kuasa-Nya. Secara ringkas Sutoyo mengatakan bahwa pengusiran setan yang sering disebut exorcisme tersebut adalah suatu usaha melepaskan atau membebaskan orang atau tempat dari pengaruh dan dirasuk oleh kuasa roh-roh jahat. Dari beberapa pengertian mengenai pengusiran setan di atas, masing-masing memiliki kesamaan dan unsur yang saling melengkapi yaitu adanya upaya untuk mengusir setan yang menguasai orang, tempat atau benda dengan mengandalkan nama Yesus dan kuasaNya. Akan tetapi, Peter Wagner menjelaskan bahwa ia lebih memilih istilah pelepasan dari pada mengusir setan dengan alasan bahwa ia mendapati orang-orang yang masuk dalam pelayanan ini tidak menyukai istilah mengusir setan sebab istilah itu mengandung hal-hal yang berkaitan dengan cara orang non Kristen menghadapi roh jahat. Mereka semua lebih suka istilah pelepasan. Dalam perkembangan pemakaian metode ini selanjutnya istilah “pelayanan pelepasan‟ (deliverance ministry) sebagai istilah yang lebih luas pemahamannya daripada eksorsisme. Dalam pelayanan pelepasan ini, penolong tidak hanya melakukan pengusiran setan-setan, melainkan juga berusaha membuat analisis kehidupan konseli (riwayat hidupnya). Misalnya, diselidiki apakah ia atau keluarganya terdekat terlibat okultisme atau tidak. Jika ada, harus diadakan doa pemutusan atau penyangkalan, dan kadangkala disertai pembakaran jimat-jimat. Klien kemudian dibimbing untuk memiliki hubungan secara pribadi dengan Tuhan Yesus. Eksorsime termasuk dalam kategori sakramentali dan bukan sakramen, yaitu tanda-tanda suci (signa sacra) yang diadakan dan dibentuk oleh Gereja dimana cara melakukannya memiliki kemiripan dengan sakramen yang memberikan efek terutama spiritual bagi yang menerimanya dengan perantaraan Gereja. Namun perlu disadari bahwa efektifitas spiritual yang dihasilkannya bukan hanya karena disposisi dari eksorsis maupun orang yang kerasukan melainkan terutama doa-doa yang dilambungkan oleh Gereja kepada Allah sebagai pengantara. Dengan kata lain sebagai tanda suci, eksorsisme mengandung daya efektifnya ex opera operantis ecclesiae, yang artinya melalui doa-doa Gereja. Dan hal ini harus selalu dikondisikan seturut kehendak Allah sendiri oleh karena Allah sendirilah yang menentukan efektivitas dari doa-doa yang dipanjatkan oleh eksorsis dalam melakukan eksorsisme. Pelayanan eksorsisme merupakan salah satu ciri khas dalam pelayanan gereja terutama pentakosta atau kharismatik karena memegang teguh pola pelayanan Yesus Kristus dan para rasul yang sering sekali melakukan pengusiaran setan sehingga dalam agama Kristiani, eksorsisme dilakukan dengan menggunakan "kuasa Kristus" atau "dalam nama Yesus". Hal ini berdasar pada kepercayaan bahwa Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk mengusir roh-roh jahat dalam nama-Nya (Matius 10:1; 10:8; Markus 6:7; Lukas 9:1; 10:17; Markus 16:17). Yesus mengusir setan sebagai sebuah tanda akan Kuasa Penyelamatan-Nya dan memberikan kuasa itu kepada para murid-Nya untuk melakukan hal yang sama. Eksorsisme biasanya dilakukan dengan berkata, demi nama Yesus Kristus, segala kuasa dalam bentuk atau manifestasi yang memperbudak orang ini diperintah keluar dari orang tersebut. Kalimat ini diucapkan dengan iman dan keyakinan penuh bahwa ketika Setan mendengarnya ia pasti pergi dari orang yang dirasukinya. Dalam hal ini penekanannya terletak pada iman bahwa nama Yesus sungguh berkuasa dan berotoritas untuk mengusir setan dan nama Yesus pulalah yang memberi kuasa pada hamba-Nya untuk mengusir setan agar keluar. Iman dan kepercayaan ini timbul oleh karena nama Yesus dan Firman Nya sungguh menjadi bagian hidup dan dihidupi oleh sang pelayan setiap hari dalam segala aspek kehidupannya (Rm. 10:17) sehingga dalam praktik pelayanannya, iman yang sama pulalah yang diyakini dan didemonstrasikan. Beberapa contoh Alkitab tentang pelayanan eksorsime, antara lain: Matius 8:16, kata-kata Yesus berkuasa, Yesus dapat mengusir roh-roh jahat dengan sepatah kata. Sudah sangat jelas bahwa Yesus melakukan pengusiran Setan, ini merupakan bagian penting pelayanan Yesus. Orang-orang dirasuk oleh Setan diusir. Yesus mengusir mereka dengan sepatah kata, ini menunjukkan supremasi kuasa Yesus. Para murid diberi otoritas untuk melakukan pengusiran Setan (Mat. 10:8; Mark. 6:6b-13; Luk. 9:1-6). Dalam teks ini menjelaskan bahwa, Yesus Kristus memberikan kuasa kepada para murid untuk menguasai Setan-Setan, untuk mengenyahkan dan mengusir mereka, sekalipun mereka itu begitu banyak, begitu licik, begitu garang dan begitu keras kepala. Kristus bertujuan untuk mengalahkan dan menghancur-leburkan kerajaan kegelapan, dan oleh sebab itu Ia memberi mereka kuasa atas semua Setan. Kisah Para Rasul 16:16-18. Ketika Paulus dan Silas pelayanan di Filipi, ia dibuntuti oleh seorang hamba perempuan sambil berseru, orang-orang ini adalah hamba Allah yang mahatinggi. Paulus tidak tahan dengan kelakuan hamba perempuan itu. Ia menghardik roh tenung itu dan berkata,demi nama Yesus Kristus! Seketika itu juga keluarlah roh tenung itu. Yakobus 4:7, tunduk kepada Allah. Suatu penyerahan total kepada Allah serta taat melakukan perintah Nya maka Allah menyertai sehingga orang Kristen dimenangkan dalam menghadapi kuasa Setan. Setan berusaha sedemikian rupa sehingga orang Kristen tidak taat kepada Allah dan mengikuti keinginannya, karena itu perlu hati-hati dan sungguh-sungguh melawannya. Jangan membiarkan Setan menakuti-nakuti dan membuat menyerah. Melainkan sungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidup kepada Allah, dan melawan karena mengetahui strategi-strateginya serta yakin bahwa Setan yang telah diusir pasti pergi atau keluar. Markus 16:17, Pada waktu Yesus mengutus kepada murid-murid dalam memberitakan Injil. Salah satu tanda yang menyertai para murid berdasarkan janji-Nya yaitu para murid akan mengusir Setan demi nama Yesus Kristus. Artinya penggunaan nama Yesus Kristus memiliki otoritas dalam melakukan pengusiran Setan. Setan menjadi tunduk dan pergi karena para murid menyebutnya dalam doa, dengan menyebut nama Yesus Kristus. Lukas 10:17, pada waktu 70 murid diutus untuk memberitakan Injil dan kembali dengan gembira dan memberikan laporan kepada Yesus Bahwa Setan keluar dan ini terjadi karena kuasa yang diberikan. F. F. Bruce berkata, ketika utusan-utusan Tuhan Yesus melihat bahwa setan-setan itu keluar dari orang-orang yang mereka rasuki, maka inilah tanda bahwa Kerajaan Allah mengalahkan kerajaan si jahat. Sejarah Munculnya Pelayanan Eksorsisme Konsep kerasukan setan atau roh jahat dan praktik eksorsisme telah berusia sangat tua dan tersebar dimana-mana, dan mungkin berasal dari berbagai kepercayaan perdukunan prasejarah. Kitab-kitab Perjanjian Baru Kristiani mengikut-sertakan eksorsisme di antara keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Yesus karena hal ini, kerasukan setan ada dalam sistem kepercayaan Kristiani semenjak agama ini lahir, dan eksorsisme masih merupakan praktik yang dikenal di dalam agama Katolik, Ortodoks Timur dan beberapa denominasi Protestan. Gereja Inggris juga memiliki seorang eksorsis resmi di tiap keuskupannya. Menurut Ensiklopedi gereja tahun 1991, Eksorsisme ialah upacara pengusiran roh-roh jahat dari orang kerasukan atau kerasukan. Pada dasarnya pengusiran telah dimulai oleh Yesus kristus sendiri, dan pengusirannya tanpa upacara dan bacaan-bacaan, kecuali oleh kekuatan imannya sendiri. Sesudah setan atau roh jahat terusir maka terjadilah ketenangan hati dan kesadaran diri jelasnya Yesus telah mulai meneladani peperangan dengan setan dan Yesus menang dan roh jahat akan kalah. Pada gereja Katolik pengusiran roh jahat dipimpin oleh imam yang saleh atas izin uskup setempat. Eksorsisme adalah praktek untuk mengusir setan atau entitas spiritual jahat lainnya dari seseorang atau tempat yang diyakini telah dimiliki (diambil kontrol). Praktek ini cukup kuno dan merupakan sistem kepercayaan di banyak negara. Orang yang melakukan eksorsisme dikenal sebagai eksorsis atau pengusir setan yang merupakan dari anggota pendeta dengan keterampilan yang khusus. Eksorsisme dapat menggunakan doa-doa dan materi agama seperti gerak tubuh, air suci atau holy water, simbol agama dan lain-lain. Seorang eksorsis sering memanggil Tuhan, Yesus dan atau beberapa malaikat yang berbeda untuk melakukan eksorsisme. Secara umum orang yang dimiliki atau dirasuki tidak dianggap sebagai kejahatan diri mereka sendiri atau sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Oleh karena itu praktek eksorsisme lebih sebagai obat dari pada sebagai hukuman. Ritual pertama biasanya akan memastikan benar-benar bahwa tidak ada kekerasan jika pun ada potensi kekerasan maka hanya diikat saja. Konsep kepemilikan oleh roh-roh jahat dan praktek eksorsisme sangatlah kuno dan tersebar luas dan kemungkinan berasal dari jaman prasejarah atau kepercayaan shamanistic. Dalam perjanjian baru pengusiran setan merupakan keajaiban yang dilakukan oleh Yesus oleh karenanya kerasukan setan itu merupakan bagian dari sistem kepercayaan Kristen sejak awal dan eksorsisme merupakan praktek yang masih diakui oleh Katolik, Orthodoks Timur dan beberapa sekte protestan. Setelah masa renaissance (renaisan) atau pencerahan, praktek pengusiran setan berkurang bagi sebagian kelompok agama dan penggunaanya telah menurun, terutama masyarakat barat. Umumnya pada abad ke-20 penggunaan eksorsisme terutama ditemukan di Eropa Timur dan Afrika, dengan beberapa kasus mendapatkan media yang mencukupi seperti kasus Annalise Michel. Ini terutama karena studi psikologi dari fungsi dan struktur otak atau pikiran manusia, banyak kasus sebelum dilakukan eksorsisme sering dijelaskan sebagai produk penyakit mental. Pada tahun 1973 dengan rilisnya film The Exorcist pengusiran setan menjadi pusat perhatian dan mendapat respon besar dari masyarakat Amerika Serikat dan Eropa dan kepercayaan akan eksorsisme menemukan tempat di masyarakat. Eksorsisme bermula dari masa pelayanan Tuhan Yesus, ini terbukti dengan banyaknya ayat-ayat dan cerita-cerita mengenai Yesus mengusir sendiri setan dengan kuasa- Nya yang diberikan Tuhan, kemudian kepada murid-murid Yesus atau kedua belas Rasul. Dalam Matius 8:28-34 bdk., Markus 5: 1-20; Lukas 8: 26-39 diceritakan setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak ada seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itupun berteriak, katanya: Apa urusan- Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya? Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya. Katanya: jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu. Yesus berkata kepada mereka: pergilah! lalu keluarlah mereka dan masuk kedalam babi babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceritakannyalah segala sesuatu, juga tentang orangorang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya ia meninggalkan daerah mereka. Dalam upaya menambah kemanjuran kuasa yang diberikan oleh Kristus dan untuk melindungi orang beriman dari para tukang sihir dan dukun, Gereja mendirikan sakramentali yang khusus, yaitu Eksorsisme. Eksorsisme hanya dapat diberikan secara eksklusif oleh uskup dan imam (oleh karenanya tidak pernah oleh umat awam) yang telah menerima ijin secara khusus dan langsung untuk melakukan eksorsisme Hukum Kanonik (Kanon 1172), yang mengatur mengenai eksorsisme, mengingatkan kita bahwa sakramentali itu, yang berbeda dengan doa pribadi (kanon 1166) juga dikaruniai dengan kuasa petisi Gereja. Kanon 1167 juga menjelaskan bagaimana sakramentali-sakramentali harus diberikan dan dengan ritus dan formula yang telah disetujui Gereja. Dahulu ritual eksorsisme dilakukan dengan menggunakan obat-obatan dengan ekstrak akar beracun atau lainnya dengan menggunakan pengorbanan. Gereja Katolik merevisi ritus eksorsisme pada januari 1999, meskipun ritus tradisisonal diperbolehkan sebagai pilihan. Tindakan pengusiran setan dianggap sebagai tugas spiritual yang berbahaya, dalam Anglikanisme pada tahun 1974 Gereja Inggris mendirikan Pelayanan Pelepasan dan menciptakan di setiap keuskupan di negara itu sebuah tim yang terlatih dalam eksorsisme dan psikiatri, meskipun kasus yang membutuhkan eksorsisme cukup langka kadang dalam perjalannnya dapat dijelaskan sebagai penyakit psikologi. Dalam Protestanisme juga mengakui eksorsisme meskipun pada prakteknya kurang formal seperti dalam Gereja Katolik. Mereka juga menunjuk orang-orang di tempat untuk digunakan dalam keadan seperti ini. Beberapa denominasi melakukan eksorsisme sangat cermat dan hati-hati beberapa mungkin melakukannya secara rutin dan sebagai bagian dari ibadah rutin. Tujuan dari eksorsisme ada dua, salah sataunya adalah pelepasan bagi orang yang terobsesi (Obsession). Namun demikian hal awal dan tujuan yang pertama adalah untuk mendiagnosa sering diabaikan. Hal yang benar adalah sebelum dilakukan eksorsisme pelaku eksorsis terlebih dahulu bertanya kepada pasien atau keluarganya apakah perlu untuk dilakukan eksorsisme. Namun hanya melalui eksorsisme lah yang dapat secara pasti diketahui apakah ada kekuatan setan. Setiap fenomena yang di alami baik itu gejala aneh atau tidak dapat dijelaskan pasti memiliki suatu penjelasan alami. Bahkan saat berhadapan dengan fenomena kejiwaan dan parapsikolog mungkin tidak ada yang memiliki data yang cukup untuk dapat mendiagnosa. Hanya melalui eksorsisme yang sesungguhnyalah dapat yakin apakah sedang berhadapan dengan kekuatan setan atau tidak. Jadi tujuan yang paling utama dan yang terpenting dari eksorsisme adalah untuk mendiagnosa, yaitu harus yakin apakah gejala-gejala yang terjadi disebabkan oleh kekuatan setan atau sebab-sebab yang alami. Dalam hal kepentingan tujuan akhir yang spesifik dari eksorsisme adalah pelepasan dari kehadiran atau penyakit yang disebabkan oleh kekuatan yang jahat. Merupakan hal yang sangat penting untuk mengingat urutan yang logis ini (pertama-tama untuk mendiagnosa kemudian untuk penyembuhan) yang harus diterapkan oleh eksorsis untuk menentukan tanda-tanda dengan tepat. Juga sangan penting untuk mengenali dan mengingat tandatanda yang terjadi sebelum eksorsisme, saat eksorsisme, dan setelah eksorsisme dan perkembangan dari tanda-tanda selama masa proses eksorsisme. Tidak dipungkiri bahwa pengusiran setan atau eksorsisme di luar Kristen memang ada dan bahkan sudah ada pada jaman Babel kuno, orang Mesir, orang Yunani dan Yahudi. Soekahar menjelaskan seperti yang dikutipnya dari William Barclay bahwa ada beberapa hal yang diperbuat oleh para exorcist dalam mengusir setan dari seseorang, yaitu dengan berusaha mengetahui nama iblis atau setan yang merasuk orang itu dengan maksud supaya setelah mengetahui namanya maka excorcist akan mencari nama roh yang lebih kuat dari setan-setan yang merasuk orang itu agar roh yang lebih kuat tadi mengusir roh yang lebih lemah itu. Demikian perkembangannya, tetapi dewasa ini praktiknya memang berubah, karena selama beberapa dekade terakhir, dalam Gereja berkembang paham rasionalisme yang berlebihan, sehingga eksistensi roh jahat kurang disadari bahkan diragukan. Tetapi tentunya hal ini merupakan ekses, karena dianggap tidak ada, maka ekses ini membuat roh jahat bekerja secara bebas dan merajalela. Dan ada juga ekses yang lain yang justru kebalikannya, bukannya tidak percaya adanya roh jahat, tetapi justru melebih-lebihkan keberadaan roh jahat, yaitu ekses melihat setan di mana-mana, tentunya ekses ini menunjukkan ketidakseimbangan. Oleh karena itu menghadapi realitas kehadiran roh jahat perlu sikap seimbang dan kebijaksanaan. Realitas roh jahat ini ada dan hanya dapat diatasi oleh kuasa Allah saja, tetapi dalam praktik pelayanan eksorsisme/pelepasan diperlukan sikap yang seimbang dan discernment (pembedaan roh) yang sungguh-sungguh. Tujuan Pelayananan Eksorsisme Di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa, manusia dewasa ini banyak yang tidak memahami tujuan hidupnya, meskipun dunia dengan berbagai semaraknya menawarkan gaya hidup dengan isme-isme tertentu, seperti gaya hidup yang hedonisme, materialisme dan konsumerisme, akan tetapi semua itu tidak dapat memuaskan hati manusia, sebab hati manusia diciptakan untuk Allah, sehingga dalam hati manusia yang terdalam ada suatu kerinduan yang mendasar, yaitu kerinduan akan Allah. Akan tetapi pada kenyataannya dalam pencariannya, manusia tidak selalu menemukan Allah, bahkan tidak jarang disesatkan dari tujuan hidupnya. Di sinilah dapat dilihat peranan si jahat yang selalu berusaha menjauhkan manusia dari tujuan hidupnya, berusaha menjauhkan manusia dari Allah, bahkan bila mungkin ia akan berusaha sekuat tenaga agar manusia kehilangan keselamatan jiwanya. Satu realitas dalam kehidupan Kristiani yang akan selalu dijumpai ialah adanya pengaruh roh jahat, hal ini terdapat dalam Kitab Suci, ajaran Gereja, pengalaman para kudus dan orang Kristen sepanjang sejarah Gereja. Dan dari apa yang dinyatakan oleh Kitab Suci, jelaslah bahwa roh-roh jahat mempunyai pengaruh yang nyata dalam kehidupan manusia dan tempat-tempat tertentu. Semua pengaruh roh jahat bersifat negatif destruktif, karena tujuan roh jahat hanya satu, yaitu berusaha menghancurkan manusia seluruhnya, terutama menghancurkan keselamatan jiwanya. Akan tetapi, satu hal yang harus disadari bahwa Tuhan Yesus Kristus melalui wafat dan kebangkitan-Nya telah menang atas kuasa dosa, maut dan kuasa kegelapan. Sehingga walaupun secara kodrat, roh jahat lebih kuat dari manusia, karena seperti yang dinyatakan bapa-bapa Gereja, bahwa roh jahat adalah para malaikat yang telah jatuh dan memberontak kepada Allah. Walaupun roh jahat lebih kuat, tetapi harus disadari bahwa ia tidak berdaya bila berhadapan dengan Allah, oleh karena itu asalkan bersama Yesus dan tetap bersatu dengan Kristus, maka roh jahat tidak dapat berbuat apa-apa dan dapat dipatahkan kuasanya. Pelayanan eksorsisme senantiasa mempunyai tujuan. Dari paparan di atas, tujuan utama dari pelayanan eksorsisme untuk mendekatkan orang peraya kepada Allah sehingga tidak lagi hidup dalam dunia kegelapan dan percaya terhadap kuasa dil uar kekristenan karena dipuaskan oleh kebenaran Allah. Adapun poin-poin misi yang menjadi tujuan pelayanan eksorsisme antara lai: Melepaskan Diri Dari Ikatan Iblis Ada begitu banyak ikatan-ikatan yang bisa menjerat kehidupan orang percaya. Ikatan ini membentuk sebuah benteng-benteng pertahanan (kubu pertahanan diri) sehingga seseorang bisa memeprcayai dausta dan hal yang diluar kepercayaannya sebagi orang Kristen. 2 Tesalonika 2:11-12 mengatakan Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. Maka dari itu, orang Kristen perlu menyadari banhwa Yesus memberikan jalan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, jika seseorang sungguh-sungguh berada dalam jalan-jalanNya maka orang tersebut pasti mendapatakan kelepasan, kedamaian, kebahagiaan bahkan kesejahteraan yang dijanjikanNya. Itulah yang menjadi tujuan dari pada pelayanan eksorsisme yang dilakukan oleh hamba-hamaba Tuhan di masa sekarang, yaitu dengan melepaskan dari ikatan Iblis. Memulihkan Rohani Semenjak manusia jatuh dalam dosa, iblis dengan semangatnya menguasai kehidupan manusia dan berusaha menjauhkan manusia dengan Allah, sehingga manusia terus hidup dalam kegelapan dan kemualiaan Allah yang ada dalam diri manusia telah hilang (Roma 3:23). Dengan keaadaan inilah manusia mengalami kehancuran baik secara jasmani maupun secara Rohani karena roh jahat atau iblis telah menguasai dan merasuki kehidupan manusia serta engambil otoritas dalam kehidupan manusia. Betapa Tuhan berduka atas kehancuran yang dialami oleh manusia akibat muslihat dari iblis. Tuhan rindu memulihkan bagian-bagian yang hancur dengan menyatukannya kembali dan merekatnya dengan kasih dan anugrah (Roma 3:24) melalui datangnya Yesus sebagi perantaran untuk menjadikan manusia yang sudah rusak untuk dipulihkan. Maka dari itu, manusia perlu menyadari dan memikirkan apa artinya menjadi utuh. Pertama-tama manusia perlu memahami bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagi makhluk trikotomi (tiga bagian)yang terdiri dari Roh, jiwa dan tubuh. Roh membuat seseorang dapat berhubungan dan bergaul dengan Allah. Jiwa adalah bagian dalam diri manusia yang terdiri dari pikiran, kehendak dan perasaan. Sementara tubuh adalah bagian diri manusia secara fisik. Ketika Yeus melayani manusia, Dia menangani ketiga aspek dalam diri mansuia ini. Itulah yang menjadi tujuan pelayanan eksorsisme yaitu memulihkan setiap rohani manusia. Mendewasakan Dan Memuridkan Mendewasakan dan memuridkan merupakan tujuan utama dari pada kebenaran Firman Tuhan. Dalam Alkitab ditekankan melalui amanat agung yang ada agar Firman Allah dapat tergenapi. Berangkat dari pelayanan Yesus disaat Dia menyembuhkan orang yang kerasukan (Lukas 8:26-39), ada suatu indikasi bahwa Yesus ingin memuridkan mereka dengan berkata kepada orang yang disembuhkan suapaya dia bisa mebmeritakan tentang Yesus kepada semua orang. Jenis-jenis Pelayanan Eksorsime Dengan semakin berkembangnya pelayanan eksorsime di kalangan keKristenan masa kini, pelayanan eksorsime dikelompokan ke dalam dua kelompok bentuk pelayanan yaitu, eksorsisme pribadi dan eksorsisme agung. Dalam teologi moral semenjak Konsili Trente, di temukan ajaran yg selalu konsisten mengenai peran eksorsisme dalam pelayanan pastoral. Santo Alfonsus Ligouri menjelaskan, "eksorsisme pribadi diperbolehkan bagi semua orang kristen; eksorsisme agung hanya diperbolehkan bagi para pelayan yang ditunjuk unutk itu, dan hanya dengan izin langsung dari uskup." Adapun jenis jenis dari eksorsisme yang berbeda secara mendasar adalah eksorsisme agung atau besar (solemn exorcism) dan eksorsisme pribadi (private exorcism). Namun, Noldim dalam teologi moralnya membuat pembedaan lebih jauh antara eksorsisme agung dan eksorsisme sederhana (simple exorcism). Menurutnya, ada empat macam eksorsisme; Eksorsisme agung, yakni dilakukan dengan maksud mengusir iblis. Eksorsisme sederhana yakni yang dilakukan dengan maksud mengekang kuasa iblis supaya tidak mengganggu orang atau benda. Eksorsisme publik yakni yang dilakukan oleh pelayan Gereja, atas nama Gereja, dan dengan autoritas Gereja. Eksorsisme pribadi, yakni yang dilakukan oleh seseorang atas namanya sendiri. Pembedaan anatara eksorsisme agung dan eksorsisme sederhana didasarkan pada kebutuhan pastoral. Eksorsisme agung diperlukan bilamana ada orang yang dikuasai iblis, sedangkan eksorsisme sedrhana mencukupi untuk mengekang iblis. Pembedaan antara eksorsisme publik dan eksorsisme pribadi didasarkan pada autoritas yang digunakan. Eksorsime publik dilakukan dengan autoritas Gereja, sedangkan dalam eksosrsisme pribadi seseorang bertindak atas namanya sendiri sebagai orang Kristen. Model-model Pelayanan Eksorsisme Sejak permulaan, Gereja selalu menyadari betapa pentingnya suatu perlindungan dari Allah, yaitu perlindungan dari segala gangguan dan serangan kuasa kegelapan. salah satu kebutuhan terbesar Gereja ialah perlindungan terhadap kejahatan yang disebut Iblis. Kejahatan bukanlah hanya kekurangan akan sesuatu hal (absentia boni), melainkan suatu kekuatan yang aktif, suatu makhluk yang hidup, yang bersifat rohani, yang sesat dan menyesatkan. Suatu realitas yang dahsyat, misterius dan mengerikan. Maka dari pada itu beberapa model pelayananan eksorsisme yang bisa dilakukan oleh gereja masa kini dalam memberikan perlindungan bagi gereja untuk menhghadapi kejahatan Iblis yang akan mengganggu kehidupan orang percaya. Berikut adalah model pelayananan eksorsisme: Pelayanan Terhadap Orang Yang Kerasukan Istilah kerasukan setanberasal dari kata Yunani daimonizomai. Kata ini telah diterjemahkan ke dalam kata Inggris aemonpossession (KJV). Kata Possessionmenurut Oxford Inglish Dictionary, berarti the visible possibility of exercising over a thing such control as attaches to lowful ownership. Dari defenisi tersebut, maka kerasukan merupakan suatu keadaan dimana iblis sedang menguasai kehidupan orang yang dirasukinya dan menempatkannya secara penuh dibawah kontrolnya. Perlu dipahami bahwa setiap orang di dunia ini bisa dikuasai oleh roh jahat bahkan orang yang sudah Kristen pun juga bisa dikuasai roh jahat. Memiliki agama Kristen, sering ke gereja tidak menjamin seorang itu bebas dari kuasa setan. Apabila orang itu masih belum percaya serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, belum hidup dalam pertumbuhan rohani, belum mau hidup dalam pimpinan Roh Kudus, masih suka melakukan dosa, maka jelas bahwa kuasa roh kegelapan yaitu setan sangat mudah menguasai atau merasukinya. Mc Candlish Phillips mengatakan: Roh-roh jahat mendatangi seseorang dan seolah-olah berdiri pada pintu gerbang hati nuraninya. Roh-roh jahat mempunyai kuasa untuk memperkenalkan usul-usul secara langsung kepada pikiran manusia, dengan menghubungkannya dari imajinasi-imajinasinya yang jahat kepada pikiran manusia. Dengan cara-cara ini mereka mencobai seseorang atau mereka menanamkan pemikiran mereka atau dusta mereka dalam pikirannya. Dari keterangan Phillips tersebut menegaskan bahwa strategi atau cara-cara setan menguasai manusia baik mulai dengan mempengaruhi pikiran manusia, mengikat bagian-bagian dari kehidupannya dan kenudian menguasai untuk seluruh kehidupan seseorang. Ada beberapa ciri orang kerasukan menurut Anneliese Michel, yaitu: Ketika berdoa muncul bayangan wajah yang menyeringai yaitu Fratzen (sudah terjadi beberapa kali) dan disertai rasa takut,  mengalami sejumlah ketidaksadaran yang pendek disertai rasa depresi, mulai mencium bau busuk yang mengerikan yang tidak dicium oleh orang lain, mulai mendengar ketukan pintu di kamarnya membuatnya kejang dan menggeliat dan berteriak, menghalanginya makan dan minum dan tidur, ketika diperecik air suci, dia mulai berteriak dan mengamuk, dan apa yg kudus dijadikan profan : para setan membenci air suci dan semua benda suci. Adapun cara dalam melayani orang kerasukan, yaitu Seoarang eksoris, tidak bisa melawan iblis dengan ikut-ikutan cara orang lain (Kis. 19:13). Harus sudah percaya kepada Tuhan. Setan diusir dalam nama Tuhan Yesus disertai dengana puji-pujian. Bergantung penuh kepada kuasa Tuhan. Dalam pelayanan melepaskan orang yang kerasukan, sebisa mungkin jangan sendiri tetapi lakukanlah dengan tim. Meminta Tuhan menutup bungkus dengan kuasa-Nya untuk melindungi keluarga (baik keluarga yang dilayani maupun yang melayani). Harus mempunyai kehidupan yang holistik (terutama yang melayani pelepasan) Pelayanan Terhadap Orang Yang Memegang Okultisme Menurut pendapat H. Soeakhar dalam buku yang berjudul Santanisme dalam pelayanan Pastoral mengatakan: Okultisme sebenarnya berasal dari kata latin Occultus, artinya: tersembunyi, rahasia, sial, celaka, gaib, gelap. Dan misterius. Jadi okultisme berarti penglibatan diri dengan kuasa, kegelapan, gaib, agar mengalami hal-hal rahasia aneh, dan misterius. Dalam kenyataannya, banyak manusia pada terlibat kuasa kegelapan, baik yang aktif maupun yang pasif. Dalam perjalanan hidup dan kehidupan manusia, seolah-olah didominasi oleh kegelapan. Pada masa manusia masih dalam kandungan, manusia sudah diserahkan kepada kekuasaan yang tidak dikenal (3 bulan, 7 bulan, dan pada saat lahir). Begitu pula setelah lahir pada massa anak-anak, masa remaja (masa pergaulan), masa muda (masa pemantapan), hidup berkeluarga (masa perjuangan), masa tua, masa kematian, dan sebagainya sepintas perjalanan hidup manusiadengan adanya kuasa yang tak dikenal. Keterlibatan dalam penggunaan okultisme bukan saja memandang kesediaan manusia atau tidak. Mau tidak mau mereka pasti menerimanya, sebab ini akan masuk melalui garis keturunan. Dalam Keluaran 20:5 dan Ulangan 5:9 berkata Jangan sujut menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunanya yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Ayat ini masih berlaku dan relevan. Hal tersebut berbicara menegenai kekafiran dan kefasikan nenek moyang yang diturunkan kepada keturunannya. Maka dari itu, pelayanan terhadap orang yang masih memegang okultisme perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan memerlukan waktu yang tidak sedidkit. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk pelayanan terhadap orang yang masih memegang okultisme, yaitu Harus disadari bahwa saat melakukan doa pelepasan, seorang konselor/hamba Tuhan sudah persiapn dengan matang. Dalam melakukan doa pelepasan, tidak harus menumpang tangan. Dalam doa pelepasan, seorang konselor/hamba Tuhan tidak selamanya harus tetap tutup mata, bisa sewaktu-waktu buka mata. Isi doa pelepasan adalah pengakuan terhadap semua dosa okultisme, dengan memohon pengampunan kepada Tuhan atas segala dosa yang berkaitan dengan okultisme dan menolak serta mematahkan segal intervensi pekerjaan iblis dan menyerahkan hidup secara total kepada Yesus Kristus Setelah dilakukan doa pelepasan, harus ada aksi/atau tindakan dari seseorang yang telah dilepaskan dari kuasa okultisme. Dan perlu disadari juga bahwa pelepasan seseorang dari ikatan kuasa gelap atau belenggung okultisme bukanlah tujuan akhir pelayanan pelepasan, akan tetapi tujuan akhir pelayanan pelepasan adalah kemuliaan Tuhan, pelipatgandaan dan pertumbuhan Rohani. Untuk itu, setelah pelepasan pembinaan Rohani harus dilakukan sebagai tindak lanjut. Pelayanan Terhadap Orang Yang Terlibat Ilmu Ramal Kata ramal diambil dari bahasa Arab yaitu raml yang artinya adalah suatu ilmu untuk menafsir, menilik, melihat atau memprediksi nasib seseorang, atau apa yang akan terjadi di masa depan. Ramalan adalah usaha-usaha untuk memperoleh pengetahuan atas pertanyaan atau situasi melalui cara-cara okultisme atau ritual tertentu. Ramalan digunakan juga untuk mengetahui masa depan melalui cara-cara yang umumnya dipandang tidak rasional. Orang yang melakukan ramalan biasa disebut sebagai peramal, tukang/juru ramal, atau ahli nujum. Dikalangan kekristenan masa kini, masih banyak orang Kristen yang masih membaca ramalan bintang, padahal Alkitab dengan tegas melarang ramalan, sihir dan nujum (Ul. 18:10-14). Umat Allah harus taat kepada Allah saja (Ulangan 18:15). Setiap sumber petunjuk, informasi, atau pewahyuan yang tidak datang dari Allah, harus ditolak mentah-mentah (Lihat Kisah Rasul 16:16-18). Alkitab secara jelas meujuk kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya fokus iman yang benar (Kis. 4:12; Ibr. 12:2). Iman percaya Kristen hanya didalam Allah saja dan menyadari bahwa hanya Dia yang mengarahkan jalan kehidupan manusia (Amsal 3:5-6). Iman percaya yang tidak ditujukan kepada Allah merupakan sebuah kesalahan. Oleh sebab itu, ramalan merupakan sesuatu yang harus ditolak oleh orang Kristen. Maka dari itu, orang Kristen harus dilepaskan dari keterlibatan terhadap ilmu ramalan ini. Ini adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan, namun sebagi orang percaya mau tidak mau, harus dilepaskan dari hal ini, sebab hanya Tuhan lah yang bisa dipercayai. Dengan demikian, cara melakukan pelepasan unttuk menolong orang yang terlibat didalamnya adalah sebagi berikut: Hamba Tuhan sebisa mungkin menganalisa setiap masalah yang terjadi, dengan melihat masalah tersebut dari dua hal yaitu masalah natural (masalah yang dapat dianalisis secara rasio) dan masalah supranatural (masalah yang tidak dapat dianalisis secara rasio). Jikalau analisi salah, maka pertolongannya pun bisa salah. Tidak semua masalh ditimbulkan oleh iblis, tetapi kalau iblis terlihat, pasti menimbulkan masalah. Oleh sebab itu seorang eksorisharus bijak dalam hal ini. Seorang eksoris membongkar berdasarkan Firman Tuhan dengan mendorong pihak yang dilayani untuk tidak malu menceritakan keterlibatannya dengan kuasa kegelapan (Ulangan 18:9-13), serta mengakui dengan jujur dihadapan Allah (Yohanes 1:9; I Timotius 1:13). Berdoa (Yohanes 20:23; Matius16:19) dan menuntun orang yang dialayani untuk menerima Yesus sebagi Tuhan dan Juru Selamatnya (Mat. 12:43-45; Wahyu 3:20). Cara-cara Pelayanan Eksorsisme Melakukan pelayanan eksorsisme, bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan oleh seorang hamba Tuhan atau seorang eksorsis. Maka dari pada itu, diperlukan sautu strategi atau cara dalam melakukan pelayanan ini. Ada pun cara pelayanan eksorsisme secara umum yang dapat dipraktikkan oleh gereja Tuhan atau orang percaya, yaitu: Menghardik Praktik pelayanan eksorsisme yang ditunjukkan dalam Lukas 4:35 menyebutkan Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Perlu dicatat di sini bahwa Yesus mengusir setan yang merasuki orang di dalam rumah ibadat itu dengan cara menghardiknya. Kata menghardik dalam versi BGT dipakai evpeti,mhsen (epetim sen)) dari evpitima,w (epitimao) yang berarti: menghardik; berbicara dengan serius; memperingati; melarang; menghukum. Sedangkan kata menghardik ini menurut Kamus Besar Bahasa Indo-nesia (selanjutnya disebut KBBI) berarti mengata-ngatai dengan kata-kata yang keras; membentak-bentak.” Dengan demikian ketika di hadapanNya ada orang yang dirasuk Iblis maka Yesus menggunakan otoritas dan kuasa ilahi dan meng-ekspresikannya dengan kata-kata yang keras mengusir keluar setan atau pun roh-roh kegelapan untuk pergi meninggalkan orang yang dirasuki itu sehingga pergilah setan itu. Tindakan yang sama yaitu menghardik ini dilakukan oleh Yesus juga untuk mengusir sakit demam pada ibu mertua Simon dan seketika itu juga sembuhlah ia (Luk 4:39). Jadi dapat diketahui bahwa untuk megusir setan dari orang yang kerasukan itu Yesus tidak melakukannya dengan kata-kata yang bersifat memohon tetapi dengan tegas dan keras yaitu menghardiknya dan yang terjadi berikutnya adalah setan pun keluar dari orang yang dirasukinya. Inilah mujizat pertama yang dicatat dalam Injil Lukas dan yang kemudian diikuti mujizat-mujizat berikutnya. Bahwa apa yang diperbuat Yesus dengan menghardik setan itu bukan tanpa kuasa. Sudah barang tentu banyak orang lain yang ketika disinggung emosinya juga akan berbuat serupa dengan ungkapan menghardik, bedanya mereka hanya emosional manusiawi. Ketika Yesus menghardik jelas Dia menyatakan otoritas ilahiNya sehingga tidak ada satu pun di alam semesta ini yang tidak tunduk perintahNya. Memerintahkan Keluar Selanjutnya, dengan menghardik tersebut Yesus mengatakan Diam, keluarlah dari padanya!" (Luk. 4: 35). Pada kasus ini Yesus memerintah setan supaya diam tetapi pada kasus yang lain seperti pengusiran setan dari orang yang di Gerasa Yesus menanyakan dahulu pertanyaan Siapakah namamu? Jawabnya: Legion, (Luk. 8:30). Dilanjutkan dalam ayat 32: lalu setan-setan itu meminta kepada Yesus, supaya Ia memperkenankan mereka memasuki babi-babi itu. Yesus mengabulkan permintaan mereka. Dengan demikian adakalanya Yesus tidak perlu memberi kesempatan dialog sama sekali namun ada kalanya berdialog dengan setan, itupun hanya singkat seperlunya. Ketika Yesus menyuruh diam pada setan yang merasuki orang di rumah ibadat di Kapernaum itu, Yesus bermaksud supaya menghentikan segala perkataan setan mengenai kedudukan Yesus, Dia mau supaya semua orang menerima sendiri dari apa yang ajarkan Yesus dan bukan dari setan. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Boland dan Naipospos: Dan dengan segera Yesus menengking (menghardik) dia, sebab Ia menolak bantuan dan propaganda untuk kedudukanNya sebagai Mesias dari pihak kuasa-kuasa setan!. Kemudian setelah Yesus menyuruh diam setan itu, maka Yesus memerintahkan supaya setan keluar dari orang itu dengan perkataan keluarlah dari padanya!" Dalam BGT disebutkan e;xelqe dari kata evxe,rcomai ekserkhomai yang berarti go out, come out, get out, go away (keluarlah, pergilah). Yang terjadi berikutnya adalah setan itupun keluar dari orang itu. Dalam Injil istilah yang biasa dipakai untuk meggambarkan tindakan melepaskan seseorang dari setan dalam kata kerja bahasa Yunani adalah evkba,llw (ekballo) yang berarti 1. drive out, 2. send out, 3. take out. Menurut Hasan Sutanto, kata ekballo terditri dari beberpa arti yaitu melempar ke luar; mengusir; membawa ke luar; menyuruh pergi; membawa; mengucilkan; menghina; memfitnah. Istilah ini dalam Alkitab bahasa Inggris sering dierjemahkan sebagai to drive out, namun KJV menterjemahkannya dengan istilah to cast out. Sebagai contoh bisa didapati dalam Matius 7: 22, LAI menterjemahkan dengan mengusir, NIV menggunakan istilah drive out tetapi KJV cast out. Jadi mengusir setan dengan menyuruhnya keluar didalam nama Tuhan Yeus kristus, maka setan tersebut akan keluar sebab nama Tuhan lebih berkuasa dan bisa mengalahkan kuasa roh jahat yang adala didlam diri manusia. Syarat-syarat Pelayanan Eksorsisme Pelayanan eksorsisme merupakan hal yang tidak dapat dilakukan tanpa sebuah persiapan dan persyaratan yang cukup matang. Alkitab pun merujuk beberapa catatan pendekatan untuk memahami persyaratan dalam melakukan pelayanan tersebut. Yang harus dimengerti dari bagian ini adalah bukan syarat yang bersifat formulatif apalagi teknis, tetapi lebih bersifat syarat normatif, karena Yesus tidak mengajukan syarat spesifik apapun kepada para muridNya untuk melakukan pelayanan sepeti yang Ia lakukan tersebut. Beberapa ayat menyatakan mereka yang Yesus maksud untuk dapat melakukan pelayanan pengusiran setan adalah : orang yang percaya (Mrk. 9: 23). Dan contoh figur orang yang percaya pada waktu itu adalah kedua belas muridNya (Mat. 10: 8), tujuh puluh murid yang lain (Luk. 10: 17-19), Para Rasul juga Paulus (Kis. 19: 11-12), setiap orang yang percaya (Mrk. 16: 17). Dengan demikian jelas bahwa menurut Yesus sendiri mereka yang bisa melakukan pelayanan pengusiran setan atau pelepasan ini adalah orang percaya dan yang diberi perintah atau mandat oleh Yesus. Ada lima syarat-sayarat untuk menjadi pelayananan eksorsisme, yaitu kehidupan rohani yang baik, memiliki kemampuan dasar konseling pastoral, memahami prinsip dasar pelayanan eksorsisme, perlengkapan senjata rohani dan kuasa dan senjata rohani. Berikut adalah penjelasannya. Kehidupan Rohani Yang Baik Yang dimaksud dengan memiliki kehidupan rohani yang baik di sini tentunya si pembimbing atau konselor harus sudah bertobat dan lahir baru serta memiliki disiplin rohani baik dalam ibadah, doa, dan bertumbuh dalam kasih serta firman. Menurut penulis, karena konselor atau pembimbing itu termasuk hamba Tuhan, pelayan Tuhan, dan sekaligus sebagai pemimpin rohani, maka sudah semestinya memenuhi syarat yang disebutkan oleh rasul Paulus di dalam 1 Timotius 3: 1-7, seperti berikut ini : Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. Memiliki Kemampuan Dasar Pastoral Konseling Yang dimaksud di sini adalah kemampuan dari pelayan atau hamba Tuhan dalam hubungannya dengan berbagai pengetahuan yang erat dengan permasalahan konseling. March seperti dikutip oleh Soekahar mengatakanKesalahan seorang pembimbing Kristen sebenarnya sering berasal dari kekurangan pengetahuan si pembimbing dalam bidang psikologi, kedokteran, dan pedagogi. Allah memberi hikmat bagi setiap hambaNya untuk dapat meolong sesama sehingga segala daya upaya dapat membantu konseli dalam pelayanan pelepasan ini. hal tersebut juga akan membantu konselor atau pembimbing untuk dapat mengantisipasi sesuatu hal yang dimungkinkan terjadi akibat dari kondisi konseli, dan juga membantu konselor untuk tidak mudah kebingungan mengatasi masalah dalam pelayanan ini. Memahami Prinsip Dasar Pelayanan Eksorsisme Sutoyo menjelaskan dalam prinsip pelayanan pelepasan dibutuhkan beberapa hal dalam hubungannya dengan pelaku atau pelayannya, antara lain : Pertobatan yang sejati yaitu pertobatan yang sungguh-sungguh, memiliki hubungan pribadi dengan Yesus, dan penuh dengan Roh Kudus. Otoritas Tuhan yaitu bahwa Tuhan Yesus sudah memberikan otoritasnya atas setan kepada para muridNya (Mat. 10:1; Luk. 9:1; 10:17,19) juga kepada mereka yang bukan rasul (Kis. 8:7), juga Paulus sendiri (Kis. 16:18). Kunci kemenangan atas setan terletak pada otoritas yang Allah berikan kepada muridNya. Ada iman yaitu bahwa otoritas itu bukanlah sesuatu yang otomatis dalam diri manusia. Otoritas itu berdasar status manusia di hadapan Allah dan hubungan dengan Dia. Yakobus 4:7 menyebutkan bahwa Iblis akan mundur kalau kita ada iman, mau tunduk pada Allah dan taat kepada Allah. Dijelaskan pula bahwa kuasa atas setan tidak berasal dari kekudusan hidup manusia, namun kuasa tersebut bersumber dari Allah dan status kita di hadapan Allah. Memeperlengkapi Diri Dengan Perlengkapan Senjata Rohani Dari Kitab Efesus 6: 10-18 kita dapat memperoleh beberapa poin penting untuk dapat melakukan peperangan melawan kuasa kegelapan : 1. Berikatpinggangkan kebenaran; 2. Berbajuzirahkan keadilan; 3. Berkasutkan kerelaan memberitakan Injil; 4. Perisai iman; 5. Ketopong keselamatan; 6. Pedang Roh. Kemudian selain semua senjata rohani itu yang harus kita milki maka syarat yang harus dimiliki dan dilakukan adalah berdoa. Berdoa untuk pelayanan ini, memiliki kehi-dupan doa baik pribadi maupun kelompok, berdoa baik dalam Roh maupun syafaat, selain itu juga perlu dalam doa pujian penyembahan. Lebih dari itu Yesus pernah mengatakan dalam Matius 17:21 Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa." Dengan demikian berdoa dengan berpuasa sangat mendukung sekali dalam pelayanan pelepasan ini. Jika unsur-unsur atau syarat-syarat prinsip di atas dapat dimiliki, maka pasti akan memberikan keyakinan, keberanian dan kuasa untuk dapat menghadapi roh-roh jahat atau kuasa kegelapan. Memiliki Kuasa dan Karuania Rohani Janji Tuhan yang dinyatakan dalam Kisah Para Rasul 1:8 mutlak harus dipegang dan dialami oleh semua orang yang rindu menjadi saksi Tuhan, menjadi pelayan Tuhan. Menerima Roh Kudus berarti menerima kuasa dalam hidup setiap orang yang percaya. Menerima kuasa tidak berarti tanpa tujuan dan aktifitas pelayanan. Justru dalam pelayanan pelepasan ini akan sangat tampak pentingnya kuasa dari Roh Kudus ini. Belajar dari Yesus sendiri dalam pelayananNya, seperti ditunjukkan dalam Kisah Para Rasul 10:38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. Setiap hamba Tuhan yang hendak masuk dalam pelayanan pelepasan mutlak bertindak dengan kuasa Roh Kudus. Roberts Liardon mengatakan: Anda tidak dapat memerangi setan-setan dengan kekuatan manusia alami. Itu tidak akan berhasil, sebab itu jangan mencobanya. Anda hanya akan diolok-olok dan babak belur. Dalam melakukan pelayanan pelepasan, ketika berhadapan dengan roh-roh setan yang pada ha kekatnya adalah roh-roh pendusta yang najis dan jahat, hendaknya para hamba Tuhan diperlengkapi dengan karunia membedakan roh.1 Korintus 12: 10 kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan ber-macam-macam roh Selanjutnya 1 Yohanes 4:1 mengatakan Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa dalam pelayanan pelepasan para hamba Tuhan hendaknya diperlengkapi dengan karunia membedakan roh. Wagner tentang hal ini menyatakan: Karunia membedakan bermacam-macam roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus yang memungkinkan mereka mengetahui dengan pasti apakah perilaku tertentu yang mengaku berasal dari Tuhan itu, sungguh-sungguh dari Tuhan, dari manusia, atau dari Iblis. Contoh peristiwa dalam Perjanjian Baru yang jelas menngisahkan adanya karunia membedakan bermacam roh ini sekaligus pengusiran setan terdapat dalam Kisah Para Rasul 16:16-18, dimana ada perempuan yang mengikuti Paulus sambil berseru, katanya: "Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan." Sepertinya tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu, namun akhirnya Paulus mengetahui bahwa roh jahat sedang berbicara melalui perempuan itu dan Paulus pun mengusir roh jahat tersebut darinya. Contoh ini yang semestinya juga diwaspadai oleh para hamba Tuhan ketika melakukan pelayanan pelepasan. Memiliki karunia membedakan bermacam roh akan sangat membantu dalam pelayanan ini. Dasar Pelayanan Eksorsime Segala sesuatu yang dikerjakan pasti ada dasarnya. Sama halnya dengan pelayanan eksorsisme, dimana pelayanan ini bukanlah suatu pelayanan yang sembarangan untuk dilakukan. Adanya pelayanan ini didasraka atas kebenaran firman Tuhan yang ada didalama Alkitab. Berikut adalah dasar dari pelayanan Eksorsisme: Perjanjian Lama Dalam Perjanjian Lama memang banyak diungkap data mengenai praktek-praktek penyembahan berhala atau okultisme, dan juga pekerjaan setan-setan, namun mengenai praktek pengusiran setan Peranjian Lama tidak banyak mengungkapnya. Allah berkali-kali memberi peringatan keras dan dengan tegas melarang umatNya melakukan praktik penyembahan berhala seperti yang dinyatakan dalam Keluaran 20:3-5. Selain dari ayat di atas, dapat juga dilihat dalam Imamat 19:31; 20:6; Ulangan 18:9-12; Yesaya 8:19;19:3 dimana dalam ayat-ayat tersebut dinyatakan bahwa Allah melarang dan akan menghukum mereka yang melakukan segala bentuk okultisme karena hal-hal itu merupakan kekejian di mata Tuhan. Dalam 1 Samuel 15:23 dikatakan Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja." Hal ini menunjukkan bagaimana Tuhan sangat membenci segala bentuk penyembahan berhala. Sebaliknya Tuhan disenangkan apabila umatNya bertobat dan menjauhkan atau membuang segala bentuk penyembahan berhala dari hidup mereka, seperti yang dilakukan oleh raja Yosia dalam 2 Raja-raja 23. Yosia menghancurkan tempat dan sarana pemujaan atau penyembahan berhala untuk gerakan pembaruan di Yehuda dan Yerusalem (2Raja 23). Bukan hanya Allah membenci penyembahan berhala, namun Ia juga melindungi umatNya dari segala serangan kuasa kegelapan. Bilangan 23:23 menga-takan Sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat Allah. Hal ini adalah jaminan perlindungan dari Allah agar supaya umatNya tidak takut akan serangan-serangan setan dalam bentuk apapun. Selain itu ada suatu kisah pengusiran roh jahat yang tercatat dalam 1 Samuel 16:23 Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya. Harus dicatat bahwa Daud yang walaupun hanya seorang gembala namun referensi mengenai dirinya adalah Tuhan menyertai dia (1Sam. 16: 18) dan juga Daud adalah seorang yang sangat suka menyembah Allah yang dibuktikan dengan Mazmur-mazmurnya sehingga Allah sendiri mengatakan tentang dia seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku (1Sam 13: 14; Kis. 13: 22). Untuk menjelaskan pengusiran setan dalam Perjanjian Lama ini Sutoyo mengatakan: Jadi dalam Perjanjian Lama pengusiran setan langsung dari Allah dengan cara Allah sendiri yaitu menghukum umat Allah. Dan orang yang hidup menyenangkan hati Tuhan tidak akan pernah dirasuk setan. Berkenaan dengan dasar pelayanan pastoral yang berhubungan dengan satanisme ini Soekahar memaparkan ada enam (6) poin dimana lima diambil dari ayat-ayat Perjanjian Baru dan satu di antaranya diambil dari ayat Perjanjian Lama. Lima ayat yang dikutip Sukahar tersebut adalah Markus 16:15,17 dimana Yesus memberi kuasa untuk memberitakan Injil dan mengusir setan-setan, Ibrani 2:14 bahwa Yesus datang ke dunia untuk menghancurkan pekerjaan setan, I Yohanes 4:4 yang mengatakan bahwa Roh Allah yang meyertai anak-anakNya lebih besar dari roh Iblis, Yakobus 4:7 tentang adanya janji Allah bahwa dalam bersandar kepada Allah dan melawan Iblis maka ia akan dikalahkan, dan kemudian Kisah Para Rasul 19:19 dimana murid-murid melakukan pelayanan menghancurkan pekerjan setan. Perjanjian Baru Dalam Perjanjian Baru banyak data yang mencatat tentang pengusiran setan. Dalam Perjanjian Baru mencatat dengan jelas bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menebus manusia dari dosa dengan mengalahkan kuasa kegelapan yang dipelopori oleh Setan. Dari keterangan selanjutnya Sutoyo memaparkan data-data peristiwa pengusiran setan yang memang tercatat dalam kitab-kitab Injil dan beberapa dari Kisah Para Rasul. Dengan demikian semua peristiwa yang berkaitan dengan pengusiran setan khususnya di Perjanjian Baru dapat diambil sebagai dasar dari pelayanan pelepasan. Kitab Perjanjian Baru menjadi bukti sahih yang tidak bisa dibantah bahwa kedatangan Yesus adalah menyatakan Kerajaan Allah. Matius 12: 28 mengatakan Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Dari perkataan Yesus tersebut menyiratkan bahwa dengan kedatangan atau kehadiran Yesus maka konfrontasi Keraja-an Allah dengan Kerajaan Iblis atau Kerajaan Terang dengan Kerajaan Kegelapan pasti terjadi. Namun Alkitab tidak pernah menyebutkan tentang kemenangan Kerajaan Iblis, sebaliknya Kerajaan Allahlah yang berkuasa atas segala sesuatu utamanya terhadap Kerajaan Iblis. Inilah yang dilakukan dalam pelayanan Yesus yang juga dilakukan oleh para murid, dan yang kemudian dilakukan juga dalam bentuk pelayanan pelepasan bagi gereja Tuhan masa kini. Peristiwa-peristiwa dimana Yesus mengusir setan, yaitu ketika Yesus mengusir setan dari orang yang kerasukan roh jahat di dalam rumah ibadat, terdapat Markus 1: 21-28; Lukas 4: 31-3, Yesus mengusir setan yang merasuk orang di Gadara, terdapat dalam Matius 8: 28-32; Markus 5: 1-20; Lukas 8: 26-39, Yesus mengusir setan dari anak perempuan Siro Fenesia, terdapat dalam Matius 15: 21-28; Markus 7: 24-30, Yesus mengusir setan dalam dari seorang anak laki-laki, terdapat dalam Matius 17: 14-21; Markus. 9: 14-29; Lukas 9: 37-42, Yesus mengusir setan dari orang bisu, terdapat dalam Matius 9: 32-34, Yesus mengusir setan dari orang buta dan bisu, terdapat dalam Matius 12: 22-30. Bukan hanya Yesus sendiri yang melakukannya namun Yesus juga memberi kuasa kepada para muridNya untuk mengusir setan, hal ini ditunjukkan ketika kedua belas muridNya diberi kuasa untuk megusir setan-setan, dapat dilihat dalam Markus 3: 14-15; Matius 10: 1-4; Lukas 6: 12-16, juga dalam rangka melaksana-kan amanat agungNya, para murid diperintahkan untuk mengusir setan-setan, dapat dilihat dalam Markus 16: 15-17, Tujuh puluh murid yang lain mengusir setan-setan demi nama Tuhan Yesus, terdapat dalam Lukas 10: 1-20, rasul Petrus mengusir serta dari dalam orang-orang, terdapat dalam Kis. 5: 16, Filipus mengusir setan di Samaria, dalam Kis. 8: 4-8, rasul Paulus mengusir setan yang merasuk seorang perempuan, dalam Kis. 16: 16-18, rasul Paulus mengusir setan dari seorang di Efesus, dalam Kis. 19: 11-21. Hal-hal ini menjadi fakta kebenaran yang harus dipahami dan dipercaya bahwa pengusiran setan yang memang identik dengan pelayanan pelepasan ini alkiabiah. Dari hal-hal tersebut di atas dapat ditegaskan bahwa pelayanan eksorsime itu memiliki landasan alkitabiah, karena: Pertama, Yesus sendiri melakukan pengusiran setan. Kedua, Yesus mengutus murid-muridNya dan memerintahkan mereka untuk melakukan pengusiran setan. Ketiga, dengan dilakukannya pengusiran setan maka Kerajaan Allah datang. Keempat, pengusiran setan dilakukan dalam rangka melaksanakan tugas Amanat Agung dari Tuhan Yesus seperti dipe-rintahkan dalam Matius 28: 18-20 dan Markus 16: 15-18. Praktik/Pelaksanaan Pelayanan Eksorsime Pentingnya Pelayanan Eksorsisme Mengapa Pelayanan Eksorsime Dilakukan Pelayanan eksorsisme itu harus dilakukan sebab pelayanan ini merupakan perintah dari Tuhan Yesus Kristus (Mat. 10:1-2,7-8; 12:28-30, Luk. 9:1-2,10:18-19; 11:20-22), dan bahkan semakin banyak orang terikat iblis. Setan bisa masuk karena manusia itu berbuat dosa, contohnya adalah Ananias (Kis 5:3), manusia sering lemah rohani, tidak mempunyai pertahanan rohani, manusia menjadi korban kutuk-kutuk iblis yang bersifat warisan dari nenek moyang mereka.Sebelum akhir jaman, iblis masih diijinkan Tuhan bercokol di bumi ini (1 Yoh 5:19) sehingga peperangan rohani masih akan terus terjadi.Iblis akan terus-menerus melakukan perlawanan sehingga peperangan rohani masih harus terus dilancarkan (Ef 6:12). Setan ada dan orang Kristen harus bertarung melawannya. Pertempuran melawan pencobaan bukanlah dengan hal-hal kecil atau sepele, tetapi dengan kerajaan dan kekuatan penguasa dunia ini, yang berakar pada iblis dan pengikutnya. Iblis dengan berbagi cara dan strategi untuk menghacurkan orang-orang yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Maka dari pada itu, orang percaya perlu suatu stigmen yang kuat untuk menghadapi dan melawan kuasa dari Iblis. Stigmen ini hanya bisa diperoleh dari kuasa Tuhan kita di dalam Yesus Kristus yang hidup melalui praktek dan pelayanan pelepasan atau Eksorsime. Kapan Pelayanan Eksorsisme Dilakukan Pada prinsipnya, pelayanan eksorsisme bisa dilakukan di mana saja, karena Tuhan itu Maha hadir (omnipresent). Yesus mengatakan bahwa jika dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, Ia hadir (Mat 18 :20). Roh Kudus menyertai orang percaya kapan pun dan di mana pun. Jadi, pelayanan eksorsisme/pelepasan bisa dilakukan di rumah, di kampus, di sekolah, di kantor, di dalam perjalanan mobil, dan di mana saja, bahkan bisa dilakukan di tempat ibadah. Yesus pun mengusir setan di dalam sinagoge (Luk 4 :31-37). Adalah hal biasa jika terjadi pelepasan pada waktu kita beribadah. Mengenai tempat khusus yang disediakan untuk pelayanan eksorsisme/pelepasan, itu ada baiknya. Karena pelepasan merupakan proses peperangan rohani, kita memerlukan persiapan khusus dan juga dukungan fasilitas. Secara fisik, itu akan membantu intensitas pelayanan. Secara spiritual, peperangan akan lebih ringan dan terfokus jika dilakukan di kawasan yang relatif bersih dari kontaminasi roh-roh jahat. Tempat yang khusus itu juga membuat orang (konseli) yang dilayani merasa nyaman dan aman untuk sharring. Apalagi jika terjadi manifestasi-manifestasi yang demonstratif dan atraktif, tempat khusus yang tertutup sangat membantu proses pelepasan. Pelayanan eksorsisme, sama seperti pelayanan-pelayanan lainnya dimana tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Apalagi, pelayanan ini membawa kita pada konfrontasi langsung dengan setan. Kita harus menanganinya dengan serius, hati-hati, penuh kewaspadaan, konsentrasi penuh, dan benar-benar mengandalkan Roh Kudus Kristus. Objek Pelayanan Eksorsisme (Yang Membutuhkan Pelayanan Eksorsisme) Pelayanan eksorsime tentu saja hanya dilakukan terhadap orang yang terikat oleh setan, iblis, atau roh-roh jahat. Prinsipnya, manusia bisa diserang, dimasuki, dirasuki, dan dikuasai oleh setan-setan. Manusia itu ibarat rumah yang bila tidak dijaga maka akan didiami oleh iblis. Dalam Mat 12 :43-45 Yesus menjelaskan dengan gamblang bagaimana manusia bisa dikuasai setan. Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersir tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula. Penjelasan itu memberikan beberapa poin penting, pertama, manusia itu seperti sebuah rumah. Kedua, iblis dapat masuk, tinggal, dan menguasai rumah itu. Iblis dapat diusir keluar dari rumah itu (Mrk 16:17; Yak 4:7). Ketiga, iblis akan masuk kembali dan merebut manusia itu kembali karena memang ingin menghancurkan manusia (Yoh 10:10). Keempat, maka rumah itu jangan dibiarkan kosong, harus diisi dengan Penghuni baru (Roh Kudus) sehingga manusia percaya menjadi rumah Tuhan, Bait Roh Kudus (1 Kor 6:19). Bagaimana setan bisa masuk dalam diri manusia? Pertama, bisa karena kutuk garis keturunan. Seorang anak bisa terikat iblis sejak lahir karena faktor orangtua yang juga terikat kuasa gelap. Makanya ada penyakit turunan, kutuk turunan, kutuk warisan, dan juga ilmu gaib warisan. Kedua, keterlibatan pada okultisme. Ketiga, sakit-penyakit yang menyebabkan pertahaan jasmani-rohani kita lemah sehingga iblis bisa menerobos masuk. Keempat, kelemahan jiwa (stress, depresi, ketakutan, marah, benci, patah hati, dst) menyebabkan pertahanan rohani lemah dan iblis pun masuk. Kelima, serangan kuasa gelap (misalnya terkena sihir, tenung, guna-guna). Keenam, diserang iblis yang berkuasa atas wilayah tertentu (misalnya diserang iblis yang ada di kuburan atau tempat angker, rumah angker, dll). Ketujuh, dimasuki iblis karena belajar ilmu gaib, tenaga dalam, dll. Kedelapan, dikuasai iblis karena sengaja menyembah iblis (misalnya mengikuti ritual seks, ritual gereja setan, dll). Kesembilan, dikuasai iblis karena hidup dalam dosa (perzinahan menyebabkan orang terikat roh najis, pembunuhan membuat si pembunuh dikuasai roh jahat, dst). 2.3.1.4 Subjek Pelayanan Eksorsisme Eksorsisme adalah sebuah praktik untuk mengusir setan atau mahluk halus lainnya dari tubuh seseorang yang dipercaya tengah kerasukan setan atau dari suatu tempat yang dikuasai roh jahat. Orang yang melakukan eksorsisme, dikenal dengan sebutan eksorsis, seringkali adalah seorang rohaniwan atau seseorang yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual atau kemampuan khusus. Eksorsis dilakukan dengan mendaraskan doa-doa eksorsis yang isinya tentang permohonan bantuan kepada Tuhan untuk memulangkan setan kerumahnya di neraka dan disertai dengan peralatan-peralatan rohani yang dibutuhkan, seperti Stola, Salib, Buku Manual Eksorsis, Air Suci dan Minyak Suci. Doa yang dipanjatkan bukan untuk membuat setan bertobat, tapi justru untuk menggebahnya pergi. Dan biasanya setan tidak dengan sukarela pergi dari orang yang dirasukinya. Pelayanan eksorisime pada dasarnya terbuka untuk setiap orang percaya. Tetapi harus ada persiapan dan pelatihan sebelum seseorang itu benar-benar melakukannya. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan kamu akan menerima kuasa jika Roh Kudus turun atas kamu. Ayat ini jelas memberikan suatu pernyataan bahwa orang yang melakukan pelayanan eksorsisme bukanalah orang yang belum lahir baru atau yang belum menerima kuasa dari Roh kudus. Yesus itu sangat Jelas. Alkitab mencatat pelayanan pelepasasn atau eksorsisme yang dialakukan-Nya (misalnya Markus (:14-28). Selain Yesu, juga para murid Yesus melakukan pelayanan eksorsisme (Mat. 10:8; Luk. 10:17-19) dan juga para Rasul misalnya Rasul Paulus (Kis. 19:11-12). Jadi sangat jelaslah bahwa yang bisa melakukan pelayanan eksorsime atau pelayanan pelapasan adalah orang yang hidupnya telah menerima Kristus dan percaya kepad Kristus. Pelayanan eksorsime atau pelapasan itu merupakan tanda tanda yang menyertai setiap orang percaya (Markus 16:17). Dalam Roma 12:7-8 dikatakan jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasehati, baiklah kita menasehati... Kata Yunani untuk melayani yang digunakan dalam Roma 12:7 dibakai tiga kali dalam Perjanjian Baru. Kata ini ditemukan dalam 2 Korintus 8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang Kudus. Disini, sekelompok orang dari jemaat Makedonia mengehendaki agar Paulus dan orang-orang yang bekerja bersama dengan dia, akan bergabung dengan mereka dalam menyediakan kebeutuhan orang yang beriman yang sedang mengalami kesukaran. Hal itu sama seperti dalam pelayanan-pelayanan lainnya. Semua orang bisa berkhotbah, tetapi ada hamba-hamba Tuahan yang khusus diurapi sebagi pengkhotbah. Semua harus memebritakan Injil, tetapi ada yang diurapi secara khusus sebagi penginjil. Semua orang percaya bisa memuji dan memuliakn Tuahan, tetapi tetapi ada orang yang diberi urapan khusus untuk menjadi worshipers (pemuja). Begitu jga dengan peelayanan. Semua orang bisa melayani akan tetapi hanya sedikit orang yang mampu meelayani khusunya pelayanan eksorsisme (pelayanan pelepassan). Karena Alkitab juga sudah menegaskan bahwa setiap orang yang memeliki kuasa ataupun karunia-karunia, merekalah yang layak untuk melayani dan itu ditempatkan dalam tempat-tempat yang khusu. Tata Cara Praktik/Pelaksanaan Pelayanan Eksorsisme Memang pada umumnya bahwa tata cara praktik/pelaksanaan pelayanan Eeksorsisme dan doa pelepasan secara spesifik tidak tertulis di dalam Alkitab, dan untuk itu para hamba Tuhan telah menyusun dengan inti secara kronologis dari doa pelepasan yang dapat digunakan sebagai standar yang Alkitabiah dalam praktik/pelaksanakan pelayanan eksorsisme ini. Berikut adalah tata cara praktik/pelaksanan pelayanan eksorsisme yang bisa diterpakan oleh hamab Tuah atau seorang eksorsis: Persiapan Melakukan Pelayanan Eksorsisme Didalam melakukan pelayanan eksorsisme, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan konseling terlebih dahulu terhadap koraban yang akan dilepasana. Konseling dalam pelayanan pelepasan oleh para hamba Tuhan, memegang peranan yang sangat penting karena hal ini merupakan langkah awal bagi para hamba Tuhan untuk mengetahui latar belakang pergumulan permasalahan yang dihadapi oleh jemaat atau korban yang dilayaninya. Pelayanan eksorsime tidaklah efektif dilakukan, bahkan cenderung hanya akan menambah persoalan saja, ketika dilakukan tanpa mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya. Rasul Paulus pernah menasihati Timotius agar ia tidak sembarangan mengadakan penumpangan tangan atas seseorang. Secara implisit pesan itu juga berhubungan dengan hal ini. Dengan didahului oleh konseling pastoral, sekiranya tidak bersifat menghakimi dan tidak secara sembarangan menuduh atau menentukan penyebab dari suatu masalah. Konseling merupakan kunci keberhasilan pelayanan pelepasan, karena melalui konseling hamba Tuhan akan dapat mengenali secara lebih akurat tentang permasalahan yang dihadapi oleh korban yang dilayaninya. Hal ini sering tidak disadari oleh para hamba Tuhan atau para pengerja yang membantu pelayanan eksorsisme/pelepasan, terutama di dalam pelayanan yang bersifat massal. Untuk menghancurkan benteng-benteng pertahanan si jahat, hamba Tuhan harus mengenali dengan baik serta secara lebih spefisik, roh jahat jenis apa yang akan dilepaskan dari orang yang dilayaninya. Pelayanan konseling yang baik hendaknya dilakukan menurut suatu sistimatika yang baku. Ini adalah tugas Gereja untuk membakukan prosedur dimaksud agar pelayanan pelepasan berlangsung secara baik dan mencapai hasil maksimal. Oleh sebab itu, langkah-langkah konseling dalam pelayanan eksorsisme adalah sebagai berikut: Berdoa bersama antara hamba Tuhan yang melayani dengan jemaat yang dilayaninya sebelum pelayanan konseling dilaksanakan dengan pokok doa agar Tuhan membimbing mengungkapkan secara jelas, akurat dan spesifik permasalahan serta pergumulan yang dialami oleh jemaat yang dilayani. Di dalam Alkitab, Tuhan Yesus tidak melakukan hal ini karena Tuhan Mahatahu, tetapi sebagaia hamba Tuhan sebagai manusia biasa, pengetahuannya terbatas. Maka doa mengundang Tuhan untuk hadir di dalam pelayanan konseling adalah penting agar urapan Tuhan hadir untuk membimbing yang melayani dan yang dilayani agar informasi yang akurat kuasa kegelapan yang hendak dilepaskan dari orang yang dilayani dapat dikenali dengan baik dan akurat. Pelayanan pelepasan akan efektif melalui pengenalan yang baik tentang kuasa kegelapan yang hendak dilepaskan dari orang yang terikat dengannya. Mencatat dengan baik semua informasi yang diperoleh, baik dari orang yang dilayani, maupun oleh hikmat pengertian dari Roh Kudus. Kemudian menyusun secara sistimatis dan berurutan untuk memudahkan pokok doa. Catatan ini semacam pemeriksaan laboratorium bagi seorang pasien; seperti pemeriksaan darah, rontgen, MRI, CT scan, dan lain sebagainya untuk melakukan diagnosa klinis masalah kesehatan pasien. Hal yang sama dilakukan pada pelayanan konseling. Pelayanan konseling yang asal-asalan mirip dengan laboratorium klinis yang asal-asalan juga, artinya hasil pemeriksaannya tidak dapat dipercaya/diandalkan. Tahap selanjutnya adalah tindakan medis yang diakukan oleh seorang dokter, atau pelayanan pelepasan yang dilakukan oleh seorang hamba Tuhan. Semakin baik dan teliti hasil pemeriksaan di laboratorium klinis, semakin tepat pula tindakan medis dan obat yang diberikan oleh seorang dokter. Demikian pula hal yang sama yang dilakukan oleh hamba Tuhan yang melayani pelepasan, berdasarkan masukan dari pengerja yang melayani konseling. Saat Melakukan Pelayanan Eksorsisme Pada saat melakukakan pelayanan eksorsisme, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: Dimulai dengan doa Dimulai dengan memuji Tuhan dan mengucap syukur atas Kuasa dan Kasih karunia Nya. Memohon perlindungan dari serangan balik, bukan hanya untuk tim pelayanan, tetapi juga untuk keluarga eksoris dan orang yang di layani serta keluarganya, dengan memohon perlindungan secara fisik. Memohon supaya Tuhan membimbing, membuka segala rahasia, dan menelanjangi semua kegelapan yang ada di dalam kehidupan orang yang di layani. Di wawancarai secara terperinci sambil berdoa Apakah ia (korban) sudah menerima Yesus ? Apakah ia (korban) sudah meyakini keselamatanya? Apakah ia (korban) terlibat kuasa gelap? Mencari tahu latar belakang spiritual kakek nenek korban. Memutuskan ikatan-ikatan yang kurang baik antara ia (korban) dengan orangtuanya dan dengan generasi-generasi sebelumnya Mengakui dosa yang dilakukan olehnya dan oleh nenek moyangnya. Biasanya dipimpin dengan mengatakan saya mengakui bahwa saya dan nenek moyang saya sudah berdosa dalam melakukan. sekalipun ia sendiri tidak pernah melakukan dosa-dosa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Mengampuni orangtuanya dan generasi-generasi sebelumnya atas dampak dosa mereka dalam kehidupannya. Memutuskan dan mengatakan didalam nama Yesus Kristus saya memutuskan semua ikatan yang tidak baik antara ia (korban) dengan bapaknya dan generasi-generasi sebelumnya. Di batalkannya semua kutuk yang mempengaruhi kehidupan dan keluarganya dari nenek moyangnya Dipimpin dalam hal-hal yang perlu ia lepaskan Menolak semua tipuan dan kebohongan yang sedang dipakai oleh iblis untuk mengganggu hubungannya dengan Tuhan, menghalangi pertumbuhan rohaninya, dan membatasi pelayanannya. Mengakui dosa-dosa yang pernah atau yang sedang ia lakukan serta semua keterlibatan dengan kuasa gelap. Menerima pengampunan dari Tuhan atas dosa-dosa diatas. Adapun yang perlu mengampuni dirinya sendiri. Bertobat dari segala macam dosa dan menolak segala macam kuasa gaib di luar Kristus. Mengusir roh-roh jahat memerintahkan mereka keluar dari tubuh dan kehidupannya. Mulai dengan mengikat roh yang ingin di tantang dan melarangnya untuk mengganggu baik tim eksoris atau orang lain yang di layani dan tidak memperbolehkan untuk menyakiti, mempermalukan, atau menyerang orang yang di layani. Memerintahkan meninggalkan orang tersebut (korban). Isi Doa Eksorsisme Pelayanan eksorsime adalah suatu pelayanan yang sangat penting untuk dilakukan sebab pelayanan eksorsime merupakan kebutuhan bagi orang yang mengalami banyak persoalan hidup karena penyembahan berhala dan kebiasaan buruk. Namun, sepenting apa pun pelayanan ini, bukan berarti pelaksanaannya boleh dilakukan secara sembarangan dan membabi buta. Praktik doa eksorsime seharusnya dilakukan dengan motivasi, maksud, dan metode yang benar, yang sesuai dengan pesan-pesan Alkitab. Sekalipun hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, namun bukan berarti tidak bisa. Terlebih ketika orang tersebut mau meneriman Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi; mengundang Dia untuk hadir dalam hidupnya, yang ditandai dengan kemauan berdoa kepada-Nya dan mempercayai firman-Nya. Oleh sebeb itu, doa yang dipanjatakan harus berpusat kepada otritasnya Tuhan dan kuasa Allah yang sanggup mengalahakan segala kuasa roh jahat. Dalam bagian ini, penulis hanya memberikan suatu contoh atau acuan doa dalam pelayanan eksorsisme. Akan tetapi yang terpenting dalam isi doa eksorsime adalah adalah iman kepada Tuhan dengan meminta didalam nama Tuhan Yeus Kristus dan memohon belas kasihnya untuk melepaskan korban roh jahat/iblis yang telah menguasai hidupnya. Berikut adalah contoh isi doa pelayanan eksorisme: Ya Yesus, Penyelamat kami, Tuhanku dan Allahku, dan segalanya bagiku, Engkau menebus kami dengan sengsara Salib-Mu Dan menghancurkan kuasa setan. Kami memuji-Mu Bapa dan Putera bersama dengan Roh Kudus, kami memuliakan dan menjunjung tinggi Engkau sepanjang segala masa. Engkaulah harapan kami, keselamatan kami, kehormatan kami. Ya Tuhan Yesus Kristus hambaMu menyerahkan anakamu kedalam tanganMu yang pada saat ini telah dikuasia oleh kuasa roh jahat. Bebaskanlah anakmu, selamatkanlah anakmu, perbaharuilah hidupk anakmu. Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala kuasa, yang ada dahulu, sekarang, dan yang akan datang. Kepada-Mu kehormatan dan kekuasaan, kepada-Mu kemuliaan dan kekuatan sepanjang segala masa. KepadaMu pujian, kemuliaan, ucapan syukur sepanjang segala masa, Allah kudus, Allah kuat, Allah kekal, Kasihanilah anakmMu, Engkau yang telah datang ke dunia, kasihanilah anakMu. Engkau yang telah membebaskan yang tertindas dari Setan, kasihanilah anakMu. Didalam nama Tuhan Yesus segala kuasa jahat yang telah merasuki tubuh.. (sebut nama…) kelur! Kelur! Di dalam Nama Yeus ku perintahkan engkau keluarlah! Kelurlah! Halelluyah!!! Haleluyah!!! Keluarlah!! Hanya didalam nama Tuhan yesus hambaMu berdoa, Amin..! Setelah/Sesudah Melakukan Pelayanan Eksorsisme Setelah melakukan pelayanan eksorsisme terhadap korban, ada hal-hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh seorang pelayan eksosis. Hal tersebut adalah antara lain sebgai berikut: Memeriksa berulang kali untuk memastikan bahwa iblis benar-benar telah pergi (memastikan dengan teliti). Bertanyalah pada si korban (yang dilayani) apa dia sudah merasakan bahwa ia telah bebas (karna ia yang paling tau) bagaimana perasaannya. Hati-hati terhadap intimidasi dan tuduhan iblis bahwa si korban belum bebas sepenuhnya dengan menyerang pikiran (berupa ilusi-ilusi). Rajin membaca Firman dan berdoa. Ikut dalam persekutuan orang percaya, ibadah dan komsel/pembimbingan pribadi. Menjauhkan diri terhadap godaan dan harus berani  mengusir/melawan setan yang berusaha menjerat  mereka (lari dari pencobaan) Perlu diketahui juga bahwa setan atau roh jahat (Iblis) sewaktu-waktu bisa saja kembali kepada tubuh si korban ketika sudah selesai melakukan pelayanan eksorsime/pelepasan. Hal ini disebakan karena ada alasan yang sah yang masih tertinggal (misal ada dosa yang belum diakui), si korban tak berhasil mengisi hidupnya dengan Roh kudus dan Firman Tuhan dan si korban kembali melakukan dosa yang dulu memungkinkan iblis masuk kembali. Oleh sebab itu, seorang eksorsis harus benar-benar sudah memahami keadan dan kondisi korban disaat melakukan praktik eksorsisme, sehingga korban sudah merasa aman dan tenang tanpa ada gangguan dari roh jahat yang telah merasuki tubuhnya. Kendala Dalam Pelayanan Eksorsisme Beberapa hal kendala dalam pelayanan eksorsisme yang penulis teliti dan temukan berdasarkan bagian Firman Tuhan antara lain: Kurang Iman Iman adalah penyerahan total kepada Allah di dalam Yesus Kristus dan meyakini bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil serta Allah dapat melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Jadi iman adalah mempertaruhkan hidup pada kelayakan Allah untuk dipercaya. Matius 17:17-20, teks ini dijelaskan oleh Leon Morris bahwa para murid memiliki kualitas iman yang jelek atau para murid memiliki kualitas iman yang rendah akibatnya tidak memiliki keyakinan untuk mengusir setan. Iman dibutuhkan para murid dalam melakukan pengusiran setan. Yesus telah memberikan para murid kuasa, namun faktanya para murid tidak dapat melakukan pengusiran setan karena kurang percaya. Selanjutnya Yesus berkata, jika memiliki iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata gunung ini: pindah dari tempat ini ke sana, - maka gunung ini akan pindah dan tak akan ada yang mustahil bagimu. Jadi dalam pengusiran setan, ada iman atau keyakinan bahwa setan yang diusir pasti keluar atau pergi meninggalkan orang yang dirasukinya. Tidak Menjaga Kekudusan Hidup Tidak menjaga kekudusan hidup berarti membiarkan atau tidak berani menolak atau menjauhkan diri dari prilaku-prilaku yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Dalam Alkitab, dapat ditemukan bahwa sumber dosa berasal dari manusia dan setan. Artinya jika manusia tidak bisa menahan atau menguasai diri dalam berbagai pencobaan maka manusia akan terperangkap dan hidup dalam kenikmatan dosa (bdk. Yak. 1:13-14). Selain itu, setan berusaha agar manusia melakukan berbagai keinginan setan (bdk. 1 Pet. 5:8) sehingga manusia tidak dapat menjaga kekudusan hidup. Alkitab menjelaskan bahwa orang Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh darah Yesus Kristus dan salah satu bentuk pertanggungjwaban iman yaitu hidup dalam kekudusan (bdk. Im. 19:2; Ibr. 12:1-2; 1 Pet. 1:16). Salah satu cara Allah mempermalukan orang Kristen yang tidak dapat melawan kuasa setan yaitu dengan membiarkannya dikuasai roh jahat dan dapat merasukinya, hal ini bertujuan untuk menunjukkan sebuah hukuman atas ketidakmampuan menjaga kekudusan hidup. Petrus 2:5, berbunyi, dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. teks ini menjelaskan bahwa orang Kristen perlu menjaga kekudusan hidup agar Yesus Kristus memakainya sebagai alat yang mempermuliakan nama-Nya. Jadi Yesus Kristus tidak dapat memakainya karena tidak menjaga kekudusan hidup. Tidak Berdoa Doa adalah sebuah tindakan iman dalam mempercayai Allah sehingga seseorang dapat mengungkapkan kerinduannya atau harapannya kepada Allah. tindakan ini tidak akan efektif jika tidak mempercayai Allah dan hanya sebuah rutinitas. Sebagai orang yang percaya, tidak ada alasan untuk tidak berdoa sebab sebagai bagian dari sebuah tindakan ketika diperhadapkan dengan kesulitan hidup. Dalam Markus 9:28-29, menceritakan tentang murid-murid yang tidak dapat mengusir roh jahat karena tidak berdoa. Setan tidak dapat mengganggu orang Kristen karena dapat menolaknya dalam doa, misalnya ketika setan datang dan mau menyerang atau mengintimidasi maka yang dapat dilakukannya dengan berdoa dalam nama Yesus Kristus, kalimat yang bisa diungkapkan yaitu di dalam nama Yesus Kristus, engkau setan pergi saat ini. Prinsipnya bahwa Setan hanya takut jika diusir dalam nama Yesus Kristus dan takut melawan atau menghadapi orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebab hidupnya ada Roh Kudus (Ef. 1:13-14; 1 Yoh. 4:4). Ketidak Tahuan Tentang Alkitab Alkitab adalah Firman Allah yang berkuasa menuntun jalan hidup orang Kristen. Pada umumnya ketidaktahuan Alkitab disebabkan karena tidak tekun atau malas mempelajarinya. Prinsipnya, semua yang terjadi dalam hidup orang Kristen sudah diuraikan atau dijelaskan dalam Alkitab. Salah satu buktinya yaitu ketidaktahuan tentang status setan. Banyak orang Kristen yang tidak mengetahui tentang status setan yang sedang bekerja saat ini, itu sebabnya orang Kristen belajar agar mengetahui beberapa hal antara lain: Kuasa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sudah mengalahkan kuasa setan. Kuasa Yesus Kristus sudah melumpuhkan kuasa setan. Artinya setan yang sedang bekerja yang bertujuan untuk merusak kehidupan orang Kristen sudah dikalahkan oleh Yesus Kristus (bdk. Ibr. 2:14). Penjelasan ini ditegaskan juga oleh John Piper dan Justin Taylor bahwa penaklukan dosa, dan maut, dan Iblis, dan penegakan pemerintahan Allah tidak perlu menunggu sampai realisasi kiamat di masa yang akan datang. Sesungguhnya itu sudah dimulai walaupun kehadirannya tidak begitu kentara. Seperti yang dicatat oleh Oscar Cullman, peristiwa di atas kayu salib itu bersama dengan kebangkitan yang mengikuti-Nya, merupakan pertempuran menentukan yang sudah diakhiri. Banyak orang Kristen belum menyadari bahwa telah diberi otoritas dari Yesus Kristus di dalam kehidupannya untuk mendemonstrasikan. Orang Kristen sudah diberi iman, tetapi belum menyadari bahwa telah diberi urapan atau kuasa Roh Kudus di dalam kehidupan, akibatnya tidak dapat melawan Setan dengan efektif. Hak dalam menerima otoritas ini bukan hasil dari usaha manusia, tetapi secara otomatis ketika orang Kristen beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Efesus 2:5-6, dijelaskan bahwa orang Kristen diberi otoritas atas kuasa Setan, sehingga tidak perlu takut terhadap roh-roh jahat, orang Kristen menikmati posisinya yang istimewa, perlindungan dan keamanan yang terus-menerus seperti yang dijelaskan dalam 1 Yohanes 5:18 bahwa, Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya, sebaliknya dapat memberi perintah dan mengusir di dalam nama Yesus Kristus, namun setan memang berusaha agar orang Kristen ragu tentang posisi atau kuasa yang diberikan, sehingga perlu percaya dan menghidupi ajaran Alkitab. Tidak Melawan Setan Dengan Pedang Roh Yaitu Firman Allah (Efesus 6:11) Firman Allah menjadi senjata rohani yang digunakan oleh orang Kristen dalam menghadapi setan. Tanpa Firman Allah sama saja dengan berperang melawan musuh tanpa senjata atau tangan kosong maka tidak bisa melawan setan. Alkitab memberitahukan bahwa setan menjadi takut jika orang Kristen melawannya dengan Firman Allah. Caranya, dengan memperkatakan Firman Allah pada saat melawannya, seperti pada saat seseorang melawan musuh dengan menggunakan senjata atau pedang, tanpa menggunakannya, maka sudah dipastikan akan mengalami kekalahan dan resiko-resiko lainya seperti diintimidasi, tidak tenang, ketakutan yang berlebihan dan akhirnya kalah. Jadi pengusiran Setan yang benar berdasarkan Alkitab yaitu mengusir Setan dengan memperkatakan dan mengimani Firman Allah serta memakai nama Yesus Kristus. Setan tidak akan memiliki kuasa dan pengaruh atas kehidupan orang Kristen jika orang Kristen hidup dalam kuasa Firman Allah, contoh pada waktu Yesus dicobai di Padang Gurun, Ia menggunakan Firman Allah untuk melawan Setan. Dampak Pelayanan Eksorsisme Kehidupan Kristiani merupakan kehidupan peperangan (Efesus 6:12-13). Iblis berusaha menipu manusia dengan caranya yang licik sehingga tanpa sadar, manusia telah terjebak didalamnya. Oleh karena itu rasul Petrus dalam menggembalakan dengan menulis harus selalu Sadarlah dan berjagajagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8). Iblis dengan begitu banyak cara menghancurkan kehidupan manusia. Di dalam 1 Petrus 5:8-9, menjelaskan bahwa Setan perlu diwaspadai dan dihadapi dengan segala kewaspadaan dan kesadaran akan eksistensinya karena ia digambarkan seperti binatang buas yang berbahaya, monster yang melawan siapa saja, yang berkeliaran ke mana saja, dan yang membuat dunia ini tidak nyaman oleh karena memberikan tawaran-tawaran dunia yang kelihatannya memberikan kenyaman tetapi dapat menghancurkan hidup manusia seperti yang pernah dialami oleh Adam dan Hawa (Kej. 3:6). Di tegaskan oleh John Piper dan Justin Taylor, bahwa, oleh karena peperangan rohani memiliki konsekuensi-konsekuensi yang nyata, kita harus sungguh-sungguh memperjuangkan iman sebab Iblis dan roh-roh jahat benar-benar ada dan sedang bekerja di dalam dunia saat ini sebagaimana telah terus mereka lakukan sampai saat ini. Dalam Lukas 4:35-37 ada beberapa hal yang menyatakan sebagai dampak pengusiran setan yang dilakukan Yesus. Ayat 35 mengatakan dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Lukas sangat detail menjelaskan bagaimana setan pergi meninggalkan orang itu dan dengan ditambahi frasa dan sama sekali tidak menyakitinya, padahal sebelumnya dijelaskan bahwa setan itu pun menghempaskan orang itu artinya bahwa setan berusaha dengan amarahnya menyakiti orang itu. Dengan demikian kuasa pengusiran setan oleh Yesus itu memberi juga dampak kesembuhan dan pemulihan dengan seketika bagi orang itu. Lukas sang dokter pasti tidak sekedar menuliskan hal itu tanpa maksud apa-apa. Dia pasti tahu bahwa pada kasus-kasus lain setan sering kali menyakiti khususnya secara fisik pada seseorang. Ada kasus-kasus lain yang terjadi dimana setelah setan diusir keluar maka terjadi jugalah kesembuhan pada si penderita. Sebagai contoh dalam Lukas 8:2 yang menyebukan bagaimana Maria Magdalena telah dibebaskan dari tujuh roh jahat yang setelah pulih kemudian menjadi pengikut setia Yesus. Dalam Lukas 8:35 diceritakan bagaimana setelah Yesus mengusir setan dari padanya maka orang di Gerasa itu duduk di kaki Yesus; ia telah berpakaian dan sudah waras. Kemudian dalam Lukas 13:10-17 dikisahkan bagaimana setan telah membuat seorang perempuan sakit bungkuk selama delapan belas tahun, dan ketika Yesus mengusir setan dari padanya maka sembuhlah perempuan itu. Juga pada Markus 9:14-20 (lihat juga Luk. 9:37-42) dikisahkan bagaimana seorang anak yang sangat menderita ketika dirasuk setan, bahkan membuat dia bisu dan tuli, namun ketika Yesus mengusir keluar setan dari padanya maka sembuhlah anak itu dari semua sakitnya. Dari beberapa kisah di atas dapat diketahui bahwa ketika setan diusir keluar dari seseorang maka sakit-penyakit yang dari kuasa setan itupun disembuhkan serta megalami pemulihan dalam hidupnya, sehingga memiliki hati dan niat selalalu mengasihi, semakin berkomitmen terhadap Firman Tuhan, mempersembahkan hidupnya sebagia anaka Allah dan berusaha mendekatkan diri dan berserah penuh kepada Tuhan. Inilah yang menjadi dampak dari pelayanan eksorsime yang sesungguhnya.

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...