Kristologi
A. PENDAHULUAN
Doktrin/pengajaran tentang Kristologi dan Soteriologi merupakan pusat dari seluruh sistem doktrinal dalam teologi Kristen. Konsep tentang siapa Kristus dan apa karya-Nya, terutama dalam konsep keselamatan merupakan dasar bagi seluruh tatanan dogmatika Kristen sehingga dapatlah kiranya kita bayangkan betapa penting dan perlunya kedua pokok bahasan tersebut, bukan hanya bagi para teolog, tetapi juga bagi seluruh orang-orang percaya. Kekuatan pengajaran tentang keduanya ini juga sangat menentukan bagi eksistensi seluruh pengajaran lainnya, jika saja kedua pengajaran ini lemah, maka secara otomatis runtuhlah seluruh sistem doktrinal Kristen lainnya, dan sekaligus lenyap dan sia-sia pulalah iman dan pengharapan kita. Pengajaran tentang Yesus Kristus dan Keselamatan merupakan satu bagian integral yang tidak dapat dilepas pisahkan di antara satu dengan lainnya. Permasalahan yang timbul dalam doktrin Kristologi, secara otomastis juga merupakan bagian dari permasalahan soteriologi, Paul Tillich pernah menyatakan “the Christology we find here is not theoritical problem, rather, the christological problem is one side of the soteriological problem. The question of salvation is the basis of the christological problem”[1]. Oleh sebab itu masing-masing doktrin tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi, bukan hanya di antara dua pengajaran itu saja, melainkan juga dengan keseluruhan pengajaran-pengajaran/ doktrin Kristen lainnya.
Ada begitu banyak alasan mengapa kedua doktrin yang akan kita bahas ini harus menempati posisi sentral, dan perlu mendapatkan perhatian lebih di antara doktrin-doktrin lainnya, di antara begitu banyak argumentasi, dalam tulisan ini akan membahas beberapa poin saja :
1. Karena tingkat kepentingan doktrin itu sendiri
“Tingkat kepentingan” dalam konteks ini maksudnya adalah bahwa doktrin itu sendiri adalah memang sangat penting dari dalam dirinya sendiri, tanpa ada unsure dan upaya eksternal yang mempengaruhi. Seluruh penyelidikan dalam Kekristenan dimulai dari diri pribadi Yesus Kristus yang histories tersebut, sebab apa yang dilakukan dan dikatakan/firmankan oleh Allah dinyatakan secara penuh di dalam diri pribadi Kristus. John R.W Stott mengemukakan dua alasan penting mengapa Kristologi itu sangat penting dan menjadi sentral dalam kekristenan
Pertama, essensi dari kekristenan adalah Yesus Kristus, pribadi dan karyaNya merupakan batu dimana agama Kristen dibangun. Jika Yesus bukanlah seperti yang Ia katakan tentang DiriNya, dan jika Dia tidak melakukan seperti yang Ia katakan tentang karya/maksud kedatanganNya, maka seluruh tatanan kekristenan akan hancur.
Kedua, jika Yesus mampu menunjukkan keunikanNya dibanding dengan pribadi lainnya maka seluruh masalah yang berkenaan dan menyerang kekristenan dengan sendirinya akan terpecahkan. Eksistensi Allah telah dibuktikan dan karakterNya juga dinyatakan jika Yesus benar-benar ilahi[2].
Meskipun masih begitu banyak alasan yang dapat dikemukakan dalam permasalahan ini, namun dua alasan ini merupakan alasan yang sangat fundamental bagi kita dalam menyimpulkan tingkat kepentingan doktrin Kristologi dan juga soteriologi.
2. Tantangan dari dunia yang semakin merajalela
a. Banyaknya pengajaran sesat
Kita tidak dapat memungkiri bahwa tantangan Gereja masa kini banyak datang melalui pengajaran yang menyimpang dari filsafat dunia (topik ini akan dibahas dalam bagian selanjutnya) maupun dari orang-orang yang berusaha meraup keuntungan (komersialisasi) melalui memanipulasi kebenaran dasar iman Kristen, karena sesuatu yang sekiranya menyerang/meruntuhkan doktrin-doktrin Kristen selalu menjadi karya bestseller di dunia ini, misalnya saja novel Holy blood and holy grail, yang sangat laris terjual pada era 80-90 an, dan yang terbaru adalah Da Vinci Code karya Dan Brown. Bahkan beberapa tahun yang lalu National Geographic juga melaporkan temuannya dan mempublikasikan temuan arkeologi tentang dugaan kubur Yesus dan keluarganya yang lengkap dengan peti serta kerangka manusia, juga temuan naskah Injil Yudas[3] dari sebuah bank di Amerika.
Hal- hal demikian pada dasarnya memiliki kesamaan nilai, yaitu berusaha untuk mengoyahkan, dan bahkan meruntuhkan sendi-sendi Kekristenan, yang sedikit banyak membuat orang percaya terus berusaha mempertanyakan kembali akan kebenaran hakiki dari pribadi Yesus yang mereka imani tersebut. Banyak orang Kristen menjadi lemah iman namun tidak sedikit pula yang imannya justru dibangkitkan karena dengan berupaya untuk mencari jawaban tentang kebenaran itu maka semakin mereka terangsang dalam belajar tentang Firman dan teologia. Permasalahan ini merangsang kita sebagai hamba Tuhan untuk memberikan suatu pertanggung jawaban iman melalui suatu pemahaman, penjelasan dan pengajaran yang sehat, Alkitabiah dan ilmiah.
b. Bergesernya fokus pengajaran Gereja masa kini.
Kebanyakan dari Gereja masa kini mulai kehilangan nilai orthodoksi dalam setiap pengajarannya, sebagian besar sangat dipengaruhi oleh filsafat dunia masa kini yang berkembang, Gereja mengalami suatu ketakutan (yang sebenarnya adalah ketakukan yang tak beralasan) menghadapi perkembangan dunia sehingga harus melarutkan diri dan pengajarannya demi memenuhi keinginan jemaat yang pola pikirnya sudah mulai terkontaminasi oleh racun filsafat. Dunia dikuasai oleh filsafat materialism sehingga Gereja hanya memberitakan masalah prosperity, dunia dikuasai Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) sehingga mengejar spiritisme, mujizat, dan perbuatan-perbuatan ajaib belaka tanpa diimbangi pertumbuhan iman yang benar, dunia dipengaruhi evidensialism sehingga jemaat selalu menuntut bukti darisetiap kuasa, kehendak dan anugerah Allah melalui mujizat dan peristiwa ajaib, yang secara tidak sadar jemaat sedang memaksa Allah untuk mengafirmasi segala keinginan hatinya, dunia dikuasai relativism yang membawa kepada pluralism sehingga kebenaran dan keselamatan ada pada semua agama sehingga karya Yesus sudak tidak penting lagi bagi jemaat, sehingga bukan lagi suatu berita baru jika beberapa teolog Kristen kita justru menjadi pelopor dari munculnya Grey theology atau yang sering disebut teologi pluralism.
B. Suatu Pendekatan yang Tepat
Tiga kata pertama dalam Alkitab “Pada mulanya Allah…”, lebih dari sekedar sebuah pengantar kepada cerita penciptaan atau bahkan seluruh penjabaran kitab Kejadian, tetapi kalimat itu menyediakan kunci untuk membuka cakrawala berpikir kita kepada Alkitab dan pengajaran yang ada di dalamnya. Kalimat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa keyakinan agama dalam Alkitab adalah suatu agama atau keyakinan yang merupakan inisiatif dari Allah sendiri. Kita tidak pernah menduga atau bahkan mengantisipasi Allah, justru Dialah yang pertama sekali bertindak/proaktif. Ia selalu yang memulai. Sebelum manusia ada/diciptakan, Allah terlebih dahulu bertindak.
Sebagian orang menggambarkan Allah sebagai yang duduk dengan nyaman di tahtaNya yang jauh, mengatur, cuek, dan sangat tidak tertarik terhadap kefanaan (seperti pandangan Deisme), namun pandangan ini salah. Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Allah yang ada sebelum segala sesuatunya ada, bahkan ketika manusia ada dalam kuasa kegelapan karena kejatuhannya, Ia mengambil inisiatif, Ia bangkit dari tahtaNya, meninggalkan seluruh kebesaranNya dan mencari manusia sampai ditemukan.
KemahakuasaanNya inilah menjadikan Ia bertindak mengantisipasi segala sesuatunya dan hal ini terlihat dalam berbagai jalan. Ia telah berinisiatif dalam penciptaan dan juga berinisiatif dalam pewahyuan/penyataan, membuat manusia mengenal Dia, yaitu nature dan kehendakNya. Allah berbicara melalui banyak cara, dalam Perjanjian Lama Allah memakai para Patriakh, Nabi dan beberapa orang pilihanNya, tetapi dikemudian hari Ia berbicara secara langsung melalui AnakNya, Yesus Kristus. Melalui AnakNya tersebut Ia berinisiatif dalam karya keselamatan.
Jadi melalui dan berdasarkan pendekatan inilah kita menemukan beberapa hal penting dalam melakukan pembelajaran, yaitu melalui Apa yang dikatakan oleh Allah, Apa yang dilakukan oleh Allah, dan respon manusia dalam menanggapi kedua hal tersebut, itulah sebabnya Yesus pernah berkata “carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan baginya.
C. Pengertian Kristologi
Pada bagian sebelumnya telah dikemukakan bahwa fakta ketika kita membahas tentang siapa Yesus dan apa yang dilakukanNya, maka kita berada pada suatu pusat dari seluruh teologia Kristen, hal itu juga diungkapkan oleh Millard J.Erickson bahwa
when we come to the study of person and work of Christ, we are at the very center of Christian Theology. For since Christian are definition believers in and followers of Christ, their understanding of Christ must be central and determinative of the very character of the Christian faith.[4]
Kristus merupakan sentral dari seluruh karakteristik iman Kristen, keunikan Kristus merupakan alasan yang paling mendasar mengapa begitu banyak orang menjadi pengikutNya/orang Kristen, jika Kristus tidak unik, atau dalam istilah lain tidak ada perbedaan yang mendasar dan istimewa antara Kristus dengan Nabi, Rasul, atau mungkin tokoh-tokoh lainnya, tentunya kita tidak akan berani mengambil suatu keputusan iman untuk mengikutiNya, dan tentunya keunikan tersebut tidak hanya bersifat subyektif dan individual, melainkan bersifat obyektif dan universal
The uniqueness of Jesus Christ is not an exclusive claim purely for the Christian community, or for the disciples of Jesus Christ. It has universal validity. In other words, Jesus Christ without universal validity is merely an illusion.[5]
Jadi masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini tidak/bukanlah terletak pada seberapa penting doktrin Kristologi ini dibandingkan doktrin-doktrin Kristen lainnya, melainkan seberapa jauh kita - sebagai orang Kristen, yang mengaku sebagai pengikut Kristus – memahami akan pribadi dan karya-Nya, karena melalui pemahaman terhadap hal-hal inilah yang akan menjadikan kita menyadari dan bahkan mengakui bahwa Kristologi merupakan pengajaran yang signifikan dan fundamental bagi semua orang Kristen.
Dalam bagian awal pembahasan ini kita akan mencoba merumuskan kembali definisi atau pengertian tentang Kristologi itu sendiri. Mendefinisikan suatu istilah secara filosofis tidaklah semudah dengan apa yang kita pikirkan, karena sebenarnya melalui definisi itulah diharapkan orang mampu mendapatkan suatu pemahaman yang cukup memadai tentang sesuatu hal, oleh sebab itu suatu definisi yang baik seharusnya tercakup di dalamnya subyek, obyek, metode, signifikansi atau relevansi atau implikasi. Oleh karena itu secara sederhana Kristologi dapat didefinisikan sebagai suatu studi Alkitab tentang pribadi dan karya Yesus Kristus melalui iman, sehingga membawa umat untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus secara pribadi dan terjadi transformasi pola pikir yang kemudian terimplementasi kepada seluruh aspek hidup dan pelayanan. Dari pengertian di atas maka unsur-unsur yang terdapat dalam definisi Kristologi dapat dijabarkan sebagai berikut :
- Subyek dalam Kristologi adalah Allah sendiri, karena Ialah yang menyingkapkan tabir/rahasia-Nya yang belum diketahui oleh manusia sehingga rahasia itu terbuka bagi manusia yang serba terbatas.
- Obyek dan Sumbernya adalah Alkitab sebagai penyataan/wahyu khusus dari Allah yang akan memberikan pemahaman secara komperehensif, proporsional dan dapat dipercaya.
- Tujuannya membawa umat mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Karena demikianlah sejatinya semua pembelajaran apapun yang kita lakukan haruslah berakhir pada kemulyaan Allah (Soli Deo Gloria).
- Signifikasi dari Kristologi adalah transformasi pola pikir.
D. Seberapa Penting Kehadiran Kristus/Mesias Bagi Israel
Mesias yang dalam keyakinan iman Kristen adalah Yesus Kristus, memang dipercayai, diajarkan dan diimani sebagai juru selamat manusia oleh sebagian besar umat manusia di dunia, namun tidak berarti atau tidak serta merta semua orang percaya, atau bahkan menjadi Kristen, karena pemahaman akan Mesias memang sangat multi tafsir, sehingga sangat tidak mengherankan jika muncul banyak perbedaan-perbedaan pandangan di antara penganut agama-agama samawi, yaitu Yudaisme, Kristen dan Islam. Misalnya saja bagi penganut Yudaisme, kehadiran Mesiah masih terus dinantikan dan dengan setia, mereka terus berdoa memohon kehadiran-Nya secepatnya direalisasikan agar mereka segera terlepas dari belenggu permasalahan yang sedang melilit hidup mereka, baik secara politis, social, ekonomi, ataupun religius, dan menjadikan Israel sebagai bangsa yang sungguh-sungguh merdeka dan adidaya. Seberapa penting pribadi Kristus/Mesias bagi bangsa Israel tercermin melalui keyakinan dan pengharapan mereka yang kokoh dan telah teruji selama kurun waktu ribuan tahun. Kita bisa menemukan betapa mereka sangat kuat memegang janji Allah tentang akan bangkitnya seorang Mesias yang akan membebaskan mereka dari setiap penindasan, bukan hanya Alkitab yang memberikan kesaksian akan hal ini, tetapi beberapa dokumen arkheologi yang telah ditemukan pada abad XX salah satunya adalah The Dead Sea Scrolls/naskah Laut Mati juga menunjukkan suatu fakta yang sama bahwa betapa mereka sedang haus akan kehadiran sang pembebas itu, untuk memahami masalah tersebut alangkah baiknya kita membaca artikelnya dalam www.ChristianAnswers.Net/indonesia, Kristus dinantikan bukan hanya oleh karena Allah telah berjanji, melainkan juga karena mereka merindukan kelepasan dari segala ketertindasan hidup.
E. Beberapa Pandangan Mengenai Kristus Dalam Sejarah Gereja
Sepanjang sejarah Kekeristenan banyak bermunculan penafsiran maupun pandangan dalam menilai jati diri Yesus Kristus, dari yang sangat dipengaruhi oleh filsafat sekuler, sampai pada pandangan yang didasarkan pada telaah teologis yang berlandaskan pada data-data internal Kitab Suci. Sebagian besar pandangan tersebut direspon oleh Gereja melalui beberapa Konsili dan telah dinyatakan sebagai bidat. Beberapa pandangan tersebut misalnya :
a. Golongan Ebionit
Golongan ini merupakan sisa sekte Yahudi fanatik yang menekankan kepada kepatuhan mutlak kepada Taurat. Golongan ini berpandangan bahwa Yesus telah menggenapi Taurat sehingga Allah memilih dia untuk menjadi Mesias. Kesadaran bahwa Allah memilih dia sebagai Mesias terjadi ketika dia dibaptis, dan menerima Roh Kudus. Golongan ini menolak ketuhanan Yesus dan kelahiranNya dari perawan karena hal itu bertentangan dengan monotheisme Yahudi.
b. Golongan Gnostik
Gnostik merupakan filsafat kafir yang menganut dualistic mendasar. Karena daging dianggap jahat, terbatas, lemah, dan kotor, sedangkan roh itu mulia, maka sangat tidak mungkin bahwa Allah itu berinkarnasi menjadi manusia yang hidup dalam darah dan daging. Pandangan gnostik dibagi menjadi dua :
Cerintian : berpandangan bahwa Kristus yang ilahi mendatangi Yesus yang manusiawi ketika dibaptis dan meninggalkannya kembali sesaat sebelum Yesus meninggal.
Docetisme : berpandangan bahwa Yesus sebenarnya semacam hantu yang kelihatannya memiliki tubuh jasmani. Ajaran ini mulai disinggung di Surat Kolose, Tesalonika, I Yohanes, dan wahyu.
c. Golongan Arius
Arius adalah seorang teolog dari Alexandria yang berpandangan bahwa sekalipun Yesus disebut Allah, namun dia tidak sama, tidak sehakikat, dan tidak kekal. Yesus (logos) adalah ciptaan pertama sebelum Allah menciptakan segala sesuatu dan kemudian ia menjadi pelaksana dalam penciptaan. Ketika menjelma logos memasuki tubuh manusia dan menggantikan roh manusia.
d. Golongan Apolinaris
Apolinaris berpandangan bahwa Yesus memiliki tubuh sejati dan jiwa hewani, tetapi tidak memiliki roh atau pikiran yang rasional. Logos itulah yang telah mengisi tempat inteligensi pada manusia Yesus. Pandangan ini terlalu menghormati keilahian Kristus tetapi merendahkan sisi kemanusiaan.
e. Golongan Nestorius
Nestorius memadukan kedua sisi tabiat Kristus dalam satu pribadi sehingga ia mengajarkan adanya dua kepribadian kristus dalam satu pribadi. Pandangan ini dikemudian hari disebut sebagai faham duofisit, dan dianut oleh Gereja-Gereja Timur seperti Gereja Nestorian, Koptik, Yakobit, dan Gereja Ortodoks Syria.
f. Pandangan Ortodoks
Pandangan ini yang ditetapkan dalam konsili Chalcedon (451) sebagai pengakuan dari Gereja secara resmi, Yesus Kristus adalah satu pribadi yang memiliki dua sifat, illahi dan manusiawi. Ia Allah sejati sekaligus manusia sejati, sehakikat dengan Allah dalam keallahan-Nya dan kemanusiaan-Nya kecuali dosa. Keduanya tidak tercampur, juga tidak terpisah, namun ada dalam satu pribadi.
g. Pandangan Eutikianisme
Eutikes (378-454) memberikan reaksi melawan Nestorianisme dan mengajarkan bahwa hanya ada satu sifat Kristus (monofisit), sifat ilahinya tidak sempurna, demikian juga sifat manusiawinya tidak sejati tetapi merupakan perpaduan menjadi sifat tunggal.
F. Pra-eksistensi
Yesus / Sebelum Inkarnasi
1. Pengertian Pra-eksistensi
Praeksistensi Kristus dapatlah kita pahami sebagai suatu kebenaran bahwa Ia (Yesus Kristus), telah ada sebelum Ia dilahirkan di dunia, bahkan sebelum dunia dan waktu itu sendiri ada, Ia sudah ada. Praeksistensi menunjukkan bahwa Ia adalah kekal dan tak terbatas. Pengakuan iman Gereja-Gereja Reformed pada artikel X menjabarkanya demikian :
We believe that Jesus Christ. According to his divine nature is the begotten son of God, begotten from eternity, not made nor created (for then He would be a creature), but co-essential and co-eternal with Father, the express image of his person, and the brightness of his glory, equal unto him in all things, who is the son of God, not only from the time that he assumed our nature, but from all eternity...therefore it must needs follow that he-who is called God, the word, the son, and Jesus Christ-did exist at that time when all things were created by Him. Therefore the prophet Micah saith: “His goings forth have been from of old, from everlasting.” And the apostle “he hath neither beginning of days nor end of life”.he therefore is that true, eternal, and almighty God, whom we invoke, whorship and served.[6]
Secara sederhana inti pernyataan iman itu mengungkapkan bahwa Yesus, sebagaimana kodrat ilahinya (nature sebagai Allah yang sejati) adalah Anak Allah yang hadir dari dalam kekekalan, tidak dibentuk demikian juga tidak diciptakan, namun akhirnya menjadi makhluk tetapi satu esensi dan sama-sama kekal dengan Bapa, ia mencerminkan gambaran pribadi Bapa, dan kecemerlangan dari kemulyaan, sejajar dalam segala hal.
2. Pentingnya Praeksistensi Kristus
Pemahaman tentang konsep praksistensi Kristus memiliki jangkauan nilai yang sangat luas sekali dalam berbagai aspek dan tentu saja hal itu sangat bersifat fundamental. Beberpa nilai tersebut adalah :
Pertama, Eksistensi Tritunggal Kekal, jika Kristus ada hanya ketika Ia lahir, maka tidak ada Tritunggal kekal.
Kedua Berkaitan dengan ke-Allah-an Yesus, jika Kristus ada hanya ketika Ia lahir, maka Ia bukanlah Allah karena hakikat Allah adalah kekal adanya.
Ketiga, Masalah Konsistensi Pernyataan Yesus, jika Kristus tidak ada sebelum kelahirnyaNya atau dalam istilah lain, ada hanya ketika Ia lahir maka Ia adalah pembohong karena bertentangan dengan beberapa pengakuanNya yang tertulis dalam kitab suci.
3. Bukti Praeksistensi Kristus
Berdasarkan beberapa nats kitab, membuktikan bahwa keberadaan Yesus Kristus tidak hanya sebatas pada waktu kelahiran-Nya ke dunia saja. Dari beberapa bukti yang berkaitan dengan asal, perbuatan, hakikat, kelar dan kesaksian beberapa nabi dan Rasul maka kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa manusia Yesus sangat unik, karena :
- Asal-Nya : Yohanes 3:13,31 dengan jelas menyatakan bahwa Yesus berasal dari surga yang kekal.
- Karya-Nya : Yesus telah terlibat dalam penciptaan sehingga Ia ada sebelum dunia ini ada ( Yoh 1:3; Kol 1:16; Ibr 1:2).
- Hakikat-Nya : Ia mengaku sehakikat dengan Allah (Yoh 10:30) Ia mengaku memiliki kemulyaan yang sama dengan Bapa sebelum dunia ada (17:5), Paulus juga menyatakan bahwa Yesus memiliki sifat yang sama dengan Bapa (Fil 2:6).
- Gelar-Nya : dalam diri Kristus diam segala kepenuhan keallahan (Kol 2:9).
- Pernyataan Yohanes pembaptis : Yohanes mengatakan bahwa Yesus yang ia beritakan telah ada sebelum kelahirannya (Yoh 1:15,30).
Sagala kualifikasi yang melekat pada diri Yesus memberikan suatu tekanan bahwa keberadaanNya sejak kekekalan dan keallahanNya menjawab segala keraguan bahwa Ia adalah Allah yang sejati.
G. Kristus Dalam Perjanjian Lama
Pemahaman akan keberadaan Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama memberikan latar belakang yang kokoh bagi doktrin Kristologi maupun soteriologi dalam Perjanjian Baru. Dalam bagian ini kita akan mencermati aspek-aspek Kristologi dari segi theophani dalam Perjanjian Lama dan nubuatan tentang inkarnasi Yesus Kristus.
1). Nama-nama Yesus Kristus dalam PL
Ada beberapa nama yang dipakai oleh penulis Perjanjian Lama yang menunjuk pada pribadi kedua dari Trinitas, yaitu
Ø Elohim (Allah yang perkasa dan kuat) : tidak sulit menemukan bahwa dalam Perjanjian Lama, Yesus Kristus dinyatakan sebagai Elohim :
a. Nubuatan tentang penjelmaan-Nya (Yes 9:5-6)
- Ia yang dijanjikan (Yes 40:3) dan dinantikan oleh Israel.
- Mazmur 82:5 : mazmur mesianik
Ø Yahweh (Allah penyelamat)
a. Yahweh menyatakan sendiri bahwa Mesias yang akan datang adalah Yahweh sendiri (Zakharia 12:8-10).
- Mazmur 68 :19, Pernyataan bahwa Yahweh dalam PB dinyatakan sebagai suatu kenyataan yang dialami oleh Yesus Kristus (Ef 4:8-10).
- Maleakhi 3:1 menyatakan sikap Allah terhadap Bait Suci yang digenapi dalam Mat 12:6; 21:12-13.
- Septuaginta menggunakan istilah “kurios” , yaitu kata yang digunakan bagi Yesus Kristus sebagai ganti kata Yahweh dalam PL.
Ø Adonia,
Nama ini sering digunakan untuk menunjukkan pengertian tentang Tuhan atau tuan. Maz 110:1 adalah nubuatan yang berhubungan dengan kemenangan Kristus atas musuh-musuh-Nya. (Mat 22:44, Mark 12:36, Luk 20:43,dsb).
Ø Malaikat Yahweh,
Dalam Perjanjian Lama, nama ini seringkali muncul sebagai sosok malaikat yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan malaikat lainnya, oleh karenanya Charles Hodge menjelaskannya demikian
we accordingly find throughout the Old Testament constant mention made of a person to whom, though distinct from Jehovah as a person, the titles, attributes, and work of Jehovah are nevertheless ascribed. This person is called the Angel of God, the Angel of Jehovah, Adonai, Jehovah, and Elohim. He claims divine authority, exercises divine prerogatives, and receives divine homage…[7]
malaikat tersebut memiliki kepribadian, gelar, dan segala atribut, dan bahkan pekerjaan Allah sendiri. Malaikat itu memiliki otoritas, dan hak prerogatif keallahan. Itulah Malaikat Yahweh yang sebenarnya adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal.
Di samping konsep ini membuktikan keillahian dan praeksistensi dari Anak Allah, sekaligus juga menyatakan pekerjaan-Nya dalam PL melalui pribadi kedua dari Tri Tunggal (Kej 16:7-13; 22:15-18; 24:7,40; Zak 1:12-13 ).
2). Theophany Yesus Kristus Lainnya dalam Perjanjian Lama
Theophany merupakan suatu karya Allah dalam menyatakan diriNya sendiri dalam bentuk atau rupa yang dapat diindera oleh manusia (sensible) sehingga manusia menyadari keberadaan dan kehadiranNya. Beberapa contoh penyataan Yesus melalui theophany lain adalah
Ø Kejadian 18:1-33 ketika Yahweh dilihat sebagai manusia bersama dua orang yang adalah mungkin malaikat-malaikat.
Ø Kejadian 32:24-32 ketika Yakub bergumul dengan Allah, Ia tentunya bukan Allah Bapa tetapi Yesus sendiri.
Ø Yosua 5:13-15 & Yehezkiel 1:1-28 merupakan penyataan Allah dalam bentuk yang kelihatan.
H. Inkarnasi Yesus Kristus
- Makna Inkarnasi Yesus Kristus
Istilah inkarnasi memang bukanlah kata asli dari Alkitab, tetapi maknanya tersirat dalam ungkapan “dalam” dan “daging” (Yohanes 1:14) dan dinyatakan juga dalam beberapa ayat misalnya Yoh 4:2; 2 Yoh 7. Maksudnya ialah Pribadi kedua dari Allah Tri Tunggal mengambil rupa manusia bagi diri-Nya sendiri. Ia tidak memiliki kemanusiaan sampai kelahiran-Nya, namun demikian kemanusiaan-Nya tersebut tidak dicemari oleh dosa. Kemanusiaan merupakan wujud realitas Kristus dalam sejarah dunia yang sejati seperti yang Paul Tillich nyatakan bahwa “the son came into the realm of flesh, ‘flesh” here always means historical reality”. Artinya Anak datang ke dalam daging yang nyata, yaitu suatu realitas yang histories (manusia yang sejati).
Kata inkarnasi terdiri dari dua komponen, in carne (en sarki) yang beberapa kali dipakai dalam PB dengan kata kerja yang menguraikan/menjabarkan inkarnasi itu sendiri, atau pekerjaan dari inkarnasi Kristus. Dalam bahasa inggris dipakai beberapa istilah :
a. Coming in flesh (I Yoh 4:2; II Yoh 7).
b. Sent in flesh (Rom 8:3)
c. Suffered in the flesh (I Tim :16)
d. Appearing in the flesh (I Pet 4:1).
e. Died in the flesh (I Pet 3:18).
f. In his flesh the enmity (Eph 2:15).
g. In the body of his flesh (Col 1:21-22)
Tetapi ayat pusat dan yang paling jelas dalam menjelaskan hal tersebut adalah dalam Johanes 1:14 “and the word become flesh” yang dalam bahasa Yunaninya “ kai ho logos sarx egeneto” kalimat ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Ho logos
Subyek dari kalimat adalah ho logos yang keduanya menerima makna dan substansi dari obyeknya, yaitu sarx. Dan dari penjabaran ayat-ayat, Istilah logos ini dapat dijelaskan demikian :
Kekekalan :
“pada mulanya adalah Firman”
Hubungan kemahakuasaan
: “dan firman itu bersama-sama dengan Allah”
Ketuhanannya :
“dan Firman itu adalah Allah”
Ia adalah pencipta segala
sesuatu : semua diciptakan olehNya”
Ia adalah pemilik dan pengempartasi
hidup : “di dalamnya adalah hidup dan hidup itu terang manusia”
Jadi kata ho logos yang menjadi daging, di dalam diriNya ada kekekalan, keAllahan, karya penciptaan, Hidup dan terang, dan Logos itu sendiri adalah Allah.
2. Sarx
Dalam konteks bagian ini kita tidak dapat dengan mudah memperoleh pemahaman yang cukup memadai atau lengkap tentang makna kata “sarx” karena dalam PB istilah ini dipakai untuk beberapa makna, misalnya
a. Substansi fisik apa adanya seperti halnya tubuh binatang (I Kor 15:39)
b. Semua kehidupan yang diciptakan di bumi ini (I Pet 1:24)
c. Eksistensi manusia berdosa (Rom 8:3).
Tidak ada keraguan lagi bahwa “sarx” dalam Yoh 1:14 mengandung makna pertama dan kedua. Kata “menjadi manusia” dalam istilah lain adalah, Dia menjadi - sebagaimana inkarnasi - tubuh manusia seperti tubuh binatang dan juga jiwa manusia. Eksistensi inkarnasi merupakan subyek pada segala ketuhanan, keterbatasan dan sensasi dari hidup manusia.
3. Egeneto
Kata “en” dalam posisi berbeda diulangi sebanyak 4 kali dalam ayat 1-2. “in the beginning the word was” and was with God, and was God. Firman itu “menjadi” daging. Kata egeneto menurut THL.Parker
Expresses the activity of the word not was made as in the AV, but “become” in complete and joyful obidence to the will of the Father, the word freely become flesh for the sake of His loved creation. No external compulsion moved the word to become flesh. He took our flesh of His own free will and deliberately, to accomplish our salvation.[8]
Menjadi daging menunjukkan aktifitas dari Firman yang bukan karena paksaan, melainkan oleh karena kehendak bebasnya yang disadari dan di dasari oleh kasihnya untuk mengenapi karya keselamatan yang telah direncanakan oleh Bapa.
Masih berkaitan dengan teks yang sama J.I.Packer[9] juga menafsirkan tulisan Yohanes 1:1-7 sebagai teks yang paling representatif dan lengkap untuk menjabarkan tentang inkarnasi Kristus, oleh sebab itu berdasarkan pada analisa teks maka ia berkesimpulan bahwa :
1. Pada mulanya adalah Firman (ayat 1), menunjukkan kekekalan dari Firman yang tak berawal dan tidak berakhir.
2. Dan Firman itu bersama-sama dengan Allah (ayat 1), menjelaskan tentang kepribadian Firman, suatu kekuatan/kuasa yang menggenapi tujuan-tujuan Allah, yang adalah suatu pribadi, berdiri pada hubungan kekal dalam persekutuan aktif Allah.
3. Dan Firman itu adalah Allah (Ay 1), menjelaskan keillahian dari Firman. Pribadi dari Firman secara jelas dibedakan dari Allah Bapa, ia bukan ciptaan, Ia adalah ilahi dalam diriNya sendiri, sebagaimana Allah Bapa. Suatu misteri yang melalui ayat ini dikonfrontasikan kepada kita adalah sebuah rahasia pribadi Firman yang dibedakan/dipisahkan dari ketunggalan Allah/monotheism.
4. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (ayat 3), Bagian ini menjelaskan tentang karya penciptaan dari Firman. Ia adalah agent Bapa dalam setiap perbuatan/karya yang telah Bapa lakukan. Semua yang telah Bapa ciptakan, diciptakan melalui Dia/Firman. (jadi, secara tidak langsung hal ini membuktikan bahwa Ia adalah pencipta, bukanlah bagian dari kelas yang diciptakan oleh Bapa).
5. Di dalam Dia ada hidup (ayat 4), bagian ini menunjukkan bahwa Firman adalah sang pemberi Hidup. Tidak ada kehidupan fisik dalam realitas kehidupan seluruh ciptaan yang tidak di dalam dan melalui Dia karena kehidupan adalah pemberian dari sang Firman, seluruh ciptaan tidak memiliki hidup dalam dirinya sendiri, melainkan hidup oleh Firman, pribadi kedua dari Allah.
6. Dan hidup itu adalah terang manusia (ay 4). Teks ini menunjukkan Firman yang menyatakan, selain memberikan hidup, Ia juga memberikan terang yang mampu membawa seluruh manusia kepada hubungan yang intim dengan Allah.
7. Dan Firman itu menjadi manusia (ay 14), menunjukkan Firman yang Berinkarnasi, Firman yang memiliki karakteristik, kuasa, dan eksistensi kekekalan itu menjadi manusia yang sejati dalam diri Yesus Kristus, yang lahir di Betlehem, dari perawan Maria.
Inkarnasi sekaligus bukti dari kasih Bapa kepada seluruh ciptaan, kemahatahuanNya akan kebutuhan manusia akan seorang penolong, dan sekaligus konsistensi terhadap janji yang telah dibuatNya. Gereja Reformed/Calvinis menyadari dan mempercayai akan hal tersebut sehingga menyatakannya melalui pengakuan iman yang demikian
We confess, therefore, that God fulfill the promise which He made to the fathers by the mouth of his holy prophets when he sent into the world, at the time appointed by him. His own only-begotten and eternal son, who took upon him the form of a servant, and become like unto men, really assuming the true human nature, with all its infirmities, sin excepted, the being conceived in the womb of the blessed virgin Mary, by the power of Holy Ghost, without the means of man, and did not only assume human nature as to the body, but also a true human soul, that he might be a real man…[10]
Pengakuan iman tersebut sekaligus menjadi suatu konklusi dari penjabaran panjang mengenai inkarnasi Yesus Kristus, yang sebenarnya tidak pernah dapat diuraikan secara terang benderang karena segala keterbatasan manusia yang tidak mampu menggambarkan ketidak terbatasan/keagungan dari karya Allah tersebut.
2. Beberapa Istilah
Ada beberapa istilah yang dipakai oleh beberapa Bapa Gereja ataupun teolog untuk menggambarkan konsep inkarnasi tersebut, masing-masing mengambarkan suatu pemahaman dari sudut pandang yang sangat berbeda, beberapa di antaranya adalah istilah:
a) Proton Pneuma (the first Spirit), istilah ini yang dipakai oleh Ignatius untuk menggambarkan inkarnasi tersebut, ia menyatakan “Christ is God and perfect man at the some time he comes from spirit and the seed of David. This means that He is not only some spiritual power which has accepted flesh, but that He as the spiritual power has become flesh”. Inkarnasi merupakan suatu fakta bahwa Yesus sebagai Tuhan yang sejati, sekaligus manusia sejati, merupakan Pribadi yang hadir dari Roh melalui keturunan Daud, Dia bukanlah roh yang menerima daging/tubuh, melainkan Roh yang menjadi daging/tubuh.
b) Aposiges, artinya Kristus memecahkan keheningan abadi dari surga untuk datang ke dunia ini menjadi manusia (the Christ breaks the eternal silence of divine ground). Ignatius juga menyatakan bahwa “for there is one God who made Himself manifest through Jesus Christ his son, who is his logos, proceeding from his silence”, istilah ini juga dipakai dalam kitab apokripha seperti dalam II Clement ‘being the first spirit, the head of angels, he became flesh. Being he who appears in human form, Christ is the word proceeding out of the silence”.
c) A diplon kerygma (double message) yang dapat diungkapkan dengan satu kalimat the message that this same being is both God and man.
3. Nubuatan Tentang Inkarnasi
1). Nubuatan Tentang akan hadirnya Mesias
Ada beberapa bagian dalam Perjanjian Lama yang secara eksplisit, maupun implisit menyatakan janji dan berita tentang akan hadirnya sang Mesias ke dunia ini misalnya :
a. Protoevangelium.
Ketika manusia pertama jatuh dalam dosa, Allah telah memberitakan bahkan melakukan karya keselamatan mula-mula (protoevangelium) dengan membuat suatu permusuhan antara keturunan perempuan dan ular (iblis) yang dijelaskan bahwa ular itu akan melukai tumit keturunan wanita, dan keturunan wanita itu akan meremukkan ular tersebut.Charles Hodge menafsirkan hal ini demikian
The meaning of this promise and prediction is to be determined by subsequent relations. When interpreted in the light of the Scripture them selves, it is manifest that the seed of the women means the redeemer and that bruising the serpent’s head menas his final triumph over the power of darkness.[11]
Menurutnya keturunan perempuan adalah janji Allah akan datangnya sang pendamai/penebus dan meremukkan kepala ular adalah suatu bentuk kemenangan sang penebus tersebut atas segala kekuatan iblis/kegelapan.
b. Jahweh & Malak Jahweh
Penjabaran tentang dua pribadi ini dapat dilihat dalam penjabaran sebelumnya (Kristus dalam PL).
c. Nubuatan Dalam Mazmur
Ada begitu banyak ayat dalam kitab Mazmur yang menjelaskan akah kehadiran Mesias, yang sering kita sebut sebagai Mazmur Mesianik, misalnya
1. Mazmur 2 : yang menunjukkan maksud Allah mengutus Mesias hadir ke dunia, yaitu : untuk menunjukkan kesejajarannya dengan Allah, Ia pemilik alam semsta dan segala kuasa di bumi, ia adalah Yehovah sendiri yang harus disembah seperti yang diperintahkan dalam ay 11, dan Ia mengumumkan berkan bagi yang percaya, dan kutuk bagi yang menolakNya.
2. Mazmur 22:1-21
3. Mazmur 72 : menggambarkan pribadi Messias yang akan datang sebagai pribadi yang ilahi karena kerajaanNya akan kekal, menyeluruh, melalui kasih semua manusia di bawa untuk menyembah Dia, Ialah tempat yang aman bagi semua manusia, dan melaluinya segala bangsa di dunia akan diberkati.
4. Mazmur 110
- Kitab Nabi-Nabi
Para Nabi dalam Perjanjian Lama telah banyak menubuatkan kehadiran Mesias tersebut, misalnya dalam
1. Yesaya 4;2; 7-9; 40-66
2. Mikha 5:1-5
3. Yeremia 23
4. Daniel 2:44; 9:24-27
5. Zakharia 9& 11
6. Maleakhi 3:1-4
2). Nubuatan tentang Manusia-Allah
Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa Keallahan akan menyatu dengan Kemanusiaan dalam Dia (Yesaya 9:6), bahwa seorang anak akan dilahirkan (sisi kemanusiaan) dengan sifat-sifat yang sedemikian rupa sehingga Ia ditunjuk sebagai el gibbor (sisi keallahan). Perhatikanlah bahwa dalam konteks Kitab ini, Yesaya selalu menggunakan kata el hanya untuk menunjukkan kepada Allah.
3). Nubuatan Kelahiran dari Perawan
Dalam Yesaya 7:14 pemakaian istilah “perempuan muda” (Almah) mendatangkan banyak penafsiran terutama dari kalangan kaum liberal, sehingga memunculkan berbagai debat teologi yang berimplikasi terhadap banyak hal dalam teologi. Terlepas dari perdebatan teologis mengenai perbedaan konsep perempuan muda dengan perawan dalam konteks Yahudi, tidak dapat disangkal lagi nubuatan tersebut telah digenapi secara sempurna dalam kelahiran Yesus melalui Maria.
4. Sifat Inkarnasi Kristus
Ada banyak pengajaran Firman Tuhan yang sangat jelas menerangkan masalah mengenai bagaimanakah sifat dari inkarnasi dan implikasinya bagi konsep keallahan sekaligus kemanusiaan Yesus :
- Kristus Mengosongkan diri :
Filipi 2:7 menyatakan bahwa Ia telah “mengosongkan dirinya (kenosis) artinya Kristus merendahkan diri dalam satu atau lain cara kemuliaan ilahi-Nya terselubung, tetapi tidak melepaskannya (Yoh 1:14, 2:11; 17:5), dengan rela Ia meninggalkan kekayaan surgawi untuk menerima kemelaratan manusiawi (II Kor 8:9). John Walvoord menjelaskan makna kenosis ini dengan menyatakan bahwa “tindakan kenosis ... dapat… dengan tepat diartikan bahwa Kristus tidak melepaskan satupun sifat ilahi-Nya, tetapi bahwa Ia dengan rela membatasi penggunaan bebas sifat tersebut sesuai dengan tujuan-Nya untuk hidup di antara manusia dengan segenap keterbatasan mereka”[12]
- Menjadi Sama dengan Manusia
Kristus tetap dalam rupa Allah, tetapi Ia kini menjadi sama dengan manusia (Fil 2:7) seperti juga yang dikatakan oleh Yohanes bahwa “Firman itu menjadi manusia” (Yoh 1:14; I Yoh 4:2,3; II Yoh 7), kepada-Nya telah diberikan tubuh yang manusiawi (Ibr 10:5) sehingga Allah dapat tinggal di antara manusia (Yo 1:14). Di dalam diri Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke Allahan (Kol 2:9). Ia telah menjadi manusia yang sejati, namun tanpa tercemar oleh dosa.
5. Tujuan Inkarnasi Kristus
Inkarnasi Kristus bukanlah suatu tindakan spontan tanpa disengaja dan tanpa maksud, tetapi ada suatu rencana Allah dengan tujuan yang mulia :
a. Menyingkapkan Allah Bapa kepada manusia
Allah memang telah menyatakan diri-Nya melalui berbagai cara salah satunya melalui penyataan umum, tetapi melalui Kristus, Ia ingin menyatakan hakikatnya meskipun tidak secara penuh (Yoh 1:18; 14:7-11). Ireneaus pernah menuliskan bahwa “the invisible of the son is the father, the visible of father is the son” artinya Kristus (yang adalah anak) yang tak tampak adalah Bapa itu sendiri, sedangkan Bapa yang kelihatan adalah Yesus itu sendiri.
b. Menggenapi Janji dan mengukuhkannya
Allah menjadi manusia untuk menggenapi janji kepada leluhur Israel serta menunjukkan kemurahan kepada orang-orang non Yahudi (Rom 15:8-12). Allah telah berjanji sejak dalam Kejadian 3:15 , berlanjut melalui Yesaya (9:5; 7:14), Mikha 5:1 dan sebagainya. Gabrielpun juga telah mengatakannya kepada Maria bahwa anak yang dilahirkannya akan mewarisi tahta Daud (Luk 1:31-33).
c. Tuhan datang agar memenuhi syarat untuk bertindak selaku imam besaryang setia.
Kristus datang untuk mengalami semua pengalaman manusia, kecuali dosa, sehingga Ia berhak menjadi imam besar bagi umat milikNya (Ibr 5:4,5; 2:10).
d. Menghapus Dosa
Inkarnasi Kristus untuk menebus dosa manusia dari maut, karena menjadi manusia, Kristus dapat mati melunasi hutang dosa, kesempurnaan-Nya sebagai Allah membuat hutang itu lunas dibayar secara abadi (Ibr 10:1-10).
- Memberikan keteladanan hidup :
Yesus secara tersirat mengungkapkan suatu harapan besar supaya manusia meneladani apa yang telah Ia lakukan (Mat 11:29 ; I Pet 2:21; I Yoh 2:6).
- Menghancurkan pekerjaan iblis
Iblis harus dihancurkan/dikalahkan di daerah kekuasaannya yaitu dunia ini, sehingga kedatangan Kristus lah yang mengalahkan iblis bukan dalam kebangkitannya (I Yoh 3:8). Kedatangan-Nya khususnya karya salib mengalahkan iblis (Yoh 12:31; 14:30), sehingga iblis sekarang adalah musuh yang sebenarnya telah dikalahkan.
- Mempersiapkan kedatangan-Nya kedua :
Keselamatan dari Kristus terdiri dari dua bagian yaitu penyediaan yang telah digenapi pada kedatangan yang pertama, dan penerapannya yang akan terjadi kemudian pada kedatangan-Nya yang kedua (Ibr 9:28).
I. Pribadi Kristus : Dua Sifat & Watak Kristus
Pengakuan Gereja tentang keunikan pribadi Yesus Kristus secara resmi telah dirumuskan melalui konsili Chalcedon (451 M) oleh bapa-bapa Gereja, keputusan ini menjadi pedoman bagi Gereja-Gereja di dunia dan sifatnya tidak boleh dirubah oleh siapapun, bahwa Yesus Kristus adalah manusia sejati, dan sekaligus juga Allah yang sejati, keduanya menyatu, tetapi tidak tercampur, seperti ysang juga diungkapkan oleh Tertullianus “we see a double essence, not confused but united in one person, in God and The man Jesus”. Yesus adalah pribadi yang sangat unik karena di dalamNya berdiam seluruh kepenuhan keallahan, sekaligus juga kemanusiaan yang sempurna tanpa dosa, hal ini juga didukung oleh pandangan Charles Hodge yang menyatakan bahwa
We have seen that the elements united or cobined in the person of Christ are two distinct substances, humanity and divinity; He has in His constitution both the same essence or substance which constitutes us men and the same substance which makes God infinite, eternal and immutable in all his perfection. Our second point is that this union is not by mixture so that a thirth substance is produced which is neither humanity nor divinity but possesses the propertiesof both.[13]
Ia bukanlah manusia yang dikultuskan/dituhankan, ataupun Tuhan yang dimanusiakan, atau bahkan percampuran di antara keduanya seperti mitos Yunani yang berkembang. Paul Tillich menyatakannya bahwa “ Jesus as man is not a transformed God, He is a real man, true man, He can be true God also, but He is not a mixture of both”.[14]
Pengakuan iman Gereja-Gereja Reformed telah memberikan suatu pernyataan iman yang sangat memadai untuk menjelaskan keunikan dari dua nature Yesus yang berada dalam satu pribadi yang utuh dan sejati tersebut
We believe that by this conception of the person of the Son is inseparably united and connected with the human nature, so that there are not two son of God, nor two persons, but two nature united in one single person; yet each nature retain its own distinct properties. As the the divine nature hath always remained uncreated, without beginning of days or end of life, filling heaven and earth, so also hath the human nature not lost its properties, but remains a creature, having beginning of days, being a finite nature, and retaining all the properties of real body. And though he hath by his resurrection given immortality to the same, nevertheless he hath not changed the rality of his human nature….[15]
1. Kemanusiaan Kristus
Sisi kemanusiaan Kristus memang tidak banyak dipersoalkan oleh baik orang percaya sendiri, maupun orang-orang di luar Gereja, karena pada umumnya semua orang mengakui bahwa Yesus adalah benar-benar manusia, meskipun ada juga beberapa pandangan yang menyerang pengajaran Gereja tentang masalah ini, misalnya gnostisisme dan Eutikhes, tetapi pada umumnya mereka justru mengakui kemanusiaan Kristus dan menyerang sisi keallahan-Nya. Bukti kemanusiaan Kristus ditunjukkan melalui beberapa hal :
1. Kelahiran-Nya seperti manusia
Yesus lahir selayaknya manusia normal, yaitu lahir dari seorang wanita (Gal 4:4), realita ini dikuatkan oleh peristiwa-peristiwa kelahiran-Nya dari seorang perawan dalam kitab-kitab Injil, sehingga tepatlah kalau Ia dikatakan sebagai “anak Daud, anak Abraham” (Mat 1:1) karena memang secara daging Yesus diperanakkan dari keturunan Daud (Rom 1:3).
2. Pertumbuhan-Nya sebagai manusia
Selayaknya manusia secara normal, semenjak kelahiran-Nya Yesus bertumbuh dan berkembang melalui suatu proses yang alami, bahkan beberapa kali dalam Alkitab mengungkapkan bahwa “Ia bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia ada pada-Nya” (Luk 2:40; 2:52). Pertumbuhan Kristus ini bukanlah dampak dari unsure keallahan yang Ia miliki, tetapi tidak lain karena hukum-hukum perkembangan insani secara normal.
3. Memiliki Unsur hakiki sifat manusia
Dalam beberapa bagian Firman Tuhan dijelaskan bahwa Kristus memiliki tubuh jasmani, sehingga bisa disentuh/jamah maupun diurapi (Mat 26:12), bahkan setelah kebangkitan-Nya Ia pernah mengatakan “rabalah dan lihatlah, karena hatu tidak ada daging dan tulang, seperti yang kau lihat ada pada-Ku” (Luk 24:39).
Bukan hanya itu saja, Yesus juga memiliki unsure sifat manusiawi seperti kecerdasan, pikiran, memiliki jiwa &/ roh (Mat 26:38; Mark 8:12; Yoh 12:27, dsb).
4. Memiliki Nama-Nama Manusia
Yesus memiliki banyak nama manusia di antaranya :
a. Yesus : berarti juru selamat (Mat 1:21)
b. Anak Abraham (Mat 1:1)
c. Anak Daud (Mat 1:1; 9:27;12:23; dsb)
d. Anak Manusia : disebutkan lebih dari 80 kali.
5. Memiliki Berbagai Kelemahan yang Tidak Berdosa dari Sifat Manusia
Dalam sejarah kehidupan-Nya kita sering menemukan fakta bahwa Yesus juga memiliki kelemahan seperti halnya manusia yang lain (kecuali dosa) :
a. Kelelahan (Yoh 4:6).
b. Lapar (Mat 4:2; 21:18)
c. Haus (Yoh 19:28).
d. Ia pernah tidur (Mat 8:24)
e. Dsb
Chrales Hodge memberikan penjelasan bahwa kelemahan yang dimiliki oleh Yesus, tidak mengurangi sedikitpun dari sisi keallahan-Nya, melainkan menunjukkan dan meyakinkan kita akan kesejatian dari kemanusiaan-Nya
a soul which was troubled, joyful, and sorrowful, which increased in wisdom and was ignorant of certain things-God intends and requires that we should believed that Jesus Christ was a true man. He was not a phantom, not an abstraction, not a complex of properties without the substances of humanity, but a true or real man like other man, yet without sin.[16]
6. Memiliki sebutan Sebagai Manusia
Yesus seringkali menyebut diri-Nya sebagai manusia (Yoh 8:40), demikian juga para Rasul dan tokoh lain seperti : Yohanes pembaptis (Yoh 1:30), Petrus (Kis 2:22) dan Paulus (I Korintus 15:21,47; Fil 2:8). Keberadaan Kristus sungguh-sungguh diakui oleh banyak orang sebagai manusia sehingga Ia juga disebut sebagai “orang Yahudi” (Yoh 4:9) bahkan pernah dikira lebih tua dari usia sebenarnya (Yoh 8:57). Saat inipun Ia berada di sorga sebagai manusia (I Tim 2:5) dan akan datang kembali (Mat 16:27,28; 25:31; 26:64,65), serta menghakimi dunia ini sebagai manusia (Kis 17:31).
7. Implikasi dari Kemanusiaan Yesus
Jika Yesus adalah nyata-nyata manusia yang sejati, menurut Millard jelas hal ini berimplikasi pada banyak hal, yaitu
1. The atoning death of Jesus can truly avail for us. It was not outsider to the human race who died on the cross. He was one of us, and thus could truly offer a sacrifice on our behalf.
2. Jesus can truly sympatized with and intercede for us. He was experienced all that we might undergo.
3. Jesus manifests the true nature of humanity.
4. Jesus can be our example.[17]
2. Keillahian Kristus
Kristus bukan hanya sekedar manusia sejati, tetapi Ia juga Allah sejati hal ini ditunjukkan oleh beberapa pembuktian bahwa :
a. Ia memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah
1) Kekekalan-Nya ( Yoh 8:58; 17:5).
2) Maha hadir karena Ia hadir di mana-mana (Mat 18:20; 28:20).
3) Maha tahu , tidak ada sesuatu yang tersembunyi di hadapanNya (Mat 16:21; Luk 6:8; 11:7; Yoh 4:29).
4) Maha kuasa ( Mat 28:20; Mar 5:11-15; Yoh 11:38-44).
Keempat hal ini hanya dimiliki oleh Allah saja, tidak oleh pribadi siapapun dan kuasa apapun di bumi ini.
a. Ia mampu melakukan sesuatu yang hanya mampu dilakukan oleh Allah
Kitab-kitab Injil menyajikan kepada kita begitu banyak fakta kebenaran mengenai karya perbuatan Yesus, yang tidak dapat ditiru oleh nabi siapapun dan di manapun, suatu karya agung yang hanya dapat dilakukan oleh Dia dalam kapasitasnya sebagai Allah yang sejati. Tindakan itu meliputi :
1) Mengampuni dosa-dosa manusia ( Mark 2:1-12).
2) Memberi kehidupan rohani yaitu suatu kehidupan yang kekal (Yoh 5:21).
3) Membangkitkan orang dari kematian (Yoh 11:43).
4) Menghakimi manusia dan dunia (Yoh 5:22,27).
Dan masih banyak lagi karya-karya Kristus yang belum dicatat dalam buku ini, baik suatu tindakan yang telah dilakukan oleh Kristus di masa lalu maupun karya yang masih terus dan akan terus dilakukanNya sampai tergenapi seluruh rencana Allah atas alam semesta ini.
b. Ia diberi nama-nama dan gelar-gelar keallahan.
1) Anak Allah (Yoh 10: 36), dan istilah itu juga sering dipakaikan kepada Yesus oleh orang-orang (Mat 26:63-64).
2) Tuhan dan Allah, Yesus disebut sebagai Yahweh dalam Perjanjian Baru, hal ini menunjukkan keallahan-Nya secara penuh (Luk 1:76 bdg Mal 3:1 dan Rom 10:13 bdg Yoel 2:32)
c. Ia mengaku sebagai Allah
Pernyataan Yesus yang sangat jelas mengungkapkan pengakuan akan diriNya sebagai Allah adalah pada peristiwa hari penahbisan Bait Allah dan ketika Ia berkata “ Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30) kata satu mengindikasikan kesatuan-Nya dalam sifat dan kegiatan, hal itu mengindikasikan bahwa Ia adalah sama dengan Allah, oleh sebab itu Ia mendapat tantangan/reaksi yang sangat keras oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena dianggap telah melakukan penghujatan terhadap Allah.
e. Implikasi dari Keallahan Kristus
Keillahian Yesus jelas sekali memiliki dampak yang sangat luas, baik menyangkut pada tataran doktrinal maupun juga dalam tataran kehiduppan praktis, di antaranya seperti yang dinyatakan oleh Millard J.Erickson bahwa “we can have real knowledge of God (Yoh 14:9). Redemption is available to us. God and humankind have been reunited. Worship of Christ is appropriate”.[18] Oleh karena Yesus itu Tuhan, maka kemungkinan untuk kita mengenal Allah itu sangat-sangat nyata, pendamaian yang ditawarkan oleh Yesus adalah pilihan kita karena Yesus telah memenuhi segala kriteria sebagai penyelamat, hubungan antara Allah dan umat manusia dipersatukan kembali karena Yesus adalah perantara yang memenuhi kualifikasi, dan penyembahan kepada Kristus haruslah menjadi prioritas utama dalam segala aspek hidup kita.
J. Kronologi Kehidupan Kristus
1. Kelahiran Kristus
Kisah tentang kelahiran Kristus secara terinci dijelaskan dalam kitab-kitab Injil, secara khusus Matius dan Lukas, tekanan peristiwa ini dititik beratkan pada Kristus sebagai raja Israel dan Anak Daud, hal itu ditunjukkan dengan silsilah-Nya. Ada beberapa peristiwa yang mewarnai dalam proses kelahiran dan masa bayi Kristus ini, di antaranya adalah : kedatangan orang Majus dari timur, kelahiran Yohanes Pembaptis sebagai sang pendahulu, kunjungan para gembala dari padang, serta nubuatan Simeon dan Hana.
2. Masa 30 Tahun yang Tersembunyi
Sangat sedikit informasi yang dapat kita peroleh mengenai masa pasca kembalinya Yesus dari pengungsian. Satu-satunya informasi mengenai masa-masa pertumbuhan Yesus sebagai anak manusia hanya kita peroleh dari peristiwa ketika Ia sudah berusia 12 tahun dan pergi ke Bait Allah bersama dengan kedua orang tuaNya dan setelah itu informasi muncul langsung pada pelayanan Yohanes pembaptis.
3. Pelayanan Pendahuluan (Mat 3:1-4,11; Luk 3:1-4;Yoh 1:19-2:12)
Dalam Injil Yohanes diketengahkan informasi bahwa pelayanan Yesus didahului oleh Pelayanan Yohanes Pembaptis melalui khotbah-khotbah pertobatan dan pembaptisan Yesus. Dalam ketiga kitab Injil sinoptik dijabarkan pula bagimana Yesus memprsiapkan diri selama 40 hari di padang gurun dan dicobai di sana, serta perekrutan murid-murid. Yohanes menjelaskan pelayanan pertama Yesus melalui suatu peristiwa di Kana, ketika Yesus mengubah air menjadi anggur (Yoh 2).
4. Pelayanan Mula-Mula di Yudea (Yoh 2:13-4:42)
Pelayanan di Yudea diceritakan hanya oleh Yohanes saja, yaitu ketika Yesus menyucikan Bait Allah, dan bernubuat untuk yang pertama kalinya mengenai kedatangan-Nya kembali kelak dikemudian hari, yang selanjutnya diikuti dengan pembicaraan dengan Nikodemus mengenai rahasia masuk ke dalam Kerajaan Allah.
5. Pelayanan di Galilea
Kapernaum merupakan tempat yang dipilih sebagai basis pelayanan Yesus oleh karena Nazareth menolak Dia (Luk 4:16-30). Yesus melayani di sana kurang lebih 1,9 tahun disertai dengan kunjungan ke Yerusalem saat penyembuhan di Kolam Bethesda dan kunjungan hari paskah kedua.
6. Masa Pelayanan di Perea
Pelayanan di Perea secara garis besar dapat dituliskan sebagai berikut :
a. Pengutusan 70 murid (Luk 10:1-24)
b. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati
c. Peristiwa-peristiwa dalam Yohanes 9 & 10
d. Kebangkitan Lazarus dan pergolakan setelah hari penyerahan.
e. Penyembuhan 10 orang kusta, wawancara dengan orang muda kaya; dan kisah Zakheus, si pemungut cukai.
f. Pengurapan oleh Maria Magdalena.
7. Peristiwa Akhir (akan dibahas dalam bagian tersendiri)
K. Kristus : Nabi, Imam, & Raja
Berdasarkan pekerjaan dan karya-karya-Nya maka Yesus memiliki tiga jabatan sekaligus, dan seringkali jabatan itu disebut jabatan ganda, baik itu sebagai Nabi, Imam, maupun sebagai Raja :
1. Yesus Kristus sebagai Nabi
Musa pernah menubuatkah bahwa akan datang seorang nabi yang seperti dirinya (Bil 18:5), meskipun banyak bermunculan nabi baru dalam suksesi nabi-nabi Perjanjian Lama, tetapi semuanya berpuncak pada pribadi Kristus sebagai nabi itu sendiri (Kis 3:22-24). Masyarakat Yahudi yang hidup pada masa Yesus Kristus mengakui Dia sebagai nabi, sehingga pengakuan ini memunculkan ketakutan bagi kaum Farisi dan Imam akan balas dendam jika mereka memperlakukan Yesus Kristus dengan keras (Mat 21:11,45; Yoh 7:40-53). Legitimasi kenabian Yesus Kristus juga muncul dari pernyataan dan pengakuan-Nya sendiri bahwa memang Ia seorang Nabi (Mat 13:57; Mark 6:4;Luk 4:24;13:33;Yoh 4:44). Kenabian Yesus Kristus ditunjukkan melalui beberapa hal seperti Cara Mengajar & Berkhotbah, ada beberapa ciri yang membuatnya sama dengan nabi terdahulu,
Pertama, Pola mengajar yang tidak intens karena Ia mengajar hanya kadang-kadang saja jika ada kesempatan (Mark 1:21).
Kedua, Pengajarannya tidak sistematis, artinya Ia mengajar tidak direncanakan sesuai dengan kurikulum, tetapi begitu ada kesempatan Ia mengajar sesuai dengan konteks dan kebutuhan pendengar saat itu.
Ketiga, pengajarannya banyak disertai gambaran-gambaran atau ilustrasi (perhatikan Mat 24 :40-41; Luk 15:4,8).
Keempat, menggunakan pertanyaan-pertanyaan terutama saat situasi controversial (Mat 22).
Kelima, pengajaran-Nya mengandung kuasa. Tidak hanya sekedar mengeluarkan firman yang kosong, namun Firman itu penuh dengan kuasa.
2. Yesus Kristus sebagai Imam
Jika sebagai Nabi, Kristus menyampaikan amanat dan isi hati Allah kepada umat manusia (penyambung lidah Allah), maka sebagai Imam, Ia menyampaikan pergumulan umat kepada Allah (penyambung lidah umat). Sebenarnya menurut peraturan keimaman lama, Ia tidak memenuhi syarat untuk menjadi imam karena seorang imam harus dari keturunan Harun, sedangkan Kristus dari keturunan Yehuda, tetapi Allah membuka jalan melalui peraturan imam yang baru yaitu peraturan Melkisedek. Meskipun demikian Yesus memenuhi peraturan baik menurut peraturan Harun (Im 21; Ibr 5:1-7), maupun Melkisedek (Kej 14:18-20; Ibr 7:1-30). Penjelasan di atas tidak berarti keimaman Kristus diragukan, melainkan semakin mengokohkan sebab Kristus memenuhi kualifikasi keduanya dengan sempurna, baik secara geneological, maupun fungsional.
3. Yesus Kristus sebagai Raja
Konsep seorang raja mengandung suatu indikasi hak istimewa yang tidak dimiliki oleh siapapun, yaitu Hak eksekutif, yudikatif, legislatif, ekonomis dan military. Keunikan dari pengajaran tentang peran Yesus sebagai raja tidak hanya sebatas pada hak istimewa itu saja tetapi justru terletak pada kelima fase menarik berikut ini :
a. Raja yang Dijanjikan
b. Raja yang Dinubuatkan
c. Raja yang Dinyatakan
d. Raja yang Ditolak
e. Raja yang Disadari
L. Karya Kristus : Kematian & Kebangkitan-Nya
Seluruh pengajaran atau doktrin Kristen akan menjadi sia-sia dan tidak relevan jika satu konsep ini tidak ada, atau dihilangkan dari seluruh tatanan dogmatika Kristen, jika inti dari seluruh pengajaran Kristen terletak pada Kristologi dan Soteriologi, maka inti dari Kristologi dan Soteriologi adalah terletak pada pengajaran tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Golongan liberal terus mengembangkan suatu pemahaman dan teori-teori yang mengajarkan bahwa Kristus tidak benar-benar mati atau tidak benar-benar bangkit dari kematian, atau dengan istilah lain secara sadar sedang mereduksi makna pengajaran tersebut, demi terciptanya suatu teologi yang rasional dan kompromi dengan ilmu pengetahuan. Meskipun demikian Firman Allah tidak pernah ragu dalam menyatakan bahwa Yesus benar-benar mati, baik itu dinyatakan melalui nubuatan sebelum kematian-Nya, maupun dalam fakta historisnya karena pengajaran ini merupakan keyakinan inti dalam Perjanjian Baru (I Kor 1:23; 2:2; 15:17 & Rom 8:34).
Pada akhirnya kita dapat berkesimpulan bahwa peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus merupakan peristiwa yang sangat fundamental, baik bagi manusia, maupun bagi Kristus sendiri karena melalui kedua peristiwa tersebut seluruh tujuan Kristus dalam kaitannya dengan rencana penyelamatan manusia dan membawanya kembali kepada hubungan yang baik dengan Allah tergenapi. Secara singkatnya pekerjaan Kristus terbagi menjadi dua, yaitu memberikan hidup baru dan sekaligus memberikan pemahaman/pengetahuan rahasia yang tidak pernah dimiliki oleh manusia sebelumnya. Hal inilah yang di sampaikan oleh Tillich bahwa “the work of Christ is twofold, first gnosis (knowledge) and secondly Zoe (Life)” pernyataan ini seringkali juga digambarkan dengan satu frase “a thanatos gnosis” yang artinya ”immortal knowledge, the knowledge of that which is immortal and which makes immortal”.[19]
1. Urutan Peristiwa
Peristiwa-peristiwa penyaliban Yesus, meliputi suatu proses peristiwa yang panjang dan sangat melelahkan, sehingga menguras begitu banyak tenaga dan emosi. Peristiwa ini seolah sedang menguji keteguhan Yesus terhadap misi yang sedang Ia kerjakan untuk manusia, namun pada akhirnya Ia mampu menyelesaikannya dengan sempurna. Urutan-urutan tersebut meliputi :
1. Diawali kemenangan ketika Yesus masuk Yerusalem dengan menunggangi keledai enam hari sebelum Paskah, Ia mengumpulkan para murid untuk melakukan perjamuan untuk yang terakhir (Yoh 13:16), serta doa kepada para murid (Yoh 17) dan di Getsemani (18:1-11).
2. Diadili 6x secara terpisah, yaitu tiga kali oleh pemimpin Yahudi dan tiga kali oleh pemimpin Romawi
a. Pengadilan Hannas ayah mertua Kayafas (Yoh 18:12-24 pengadilan ini merupakan pengadilan yang illegal)
b. Pengadilan Kayafas (Mat 26:57-68;Mark 14:53-65 para saksi yang dihadirkan adalah saksi-saksi palsu dengan tuduhan palsu pula)
c. Pengadilan hari berikutnya (Mat 27:1-2, pada akhirnya ditunda oleh karena pengadilan harus dilakukan pada siang hari menurut tradisi Yudaisme)
d. Pengadilan Pilatus (Mat 27:11-14;Mrk 15:1, Yesus tidak dapat didakwa seperti apa yang dituduhkan para musuhNya karena memang tidak ditemukan kesalahan pada diriNya sehingga Pilatus hanya memutuskan bahwa Yesus dianggap telah mengacaukan situasi negara)
e. Herodes (Mat 23:8-12 dalam pengadilan ini Yesus diam dan tidak berkata apapun juga dan dalam pengadilan ini pula Ia dicemoohkan)
f. Pengadilan terakhir (Mat 27:15-26;Mark 15:6-15)
3. Disalibkan di bukit Golgota
2. Pentingnya Kematian Kristus
Konsep ini memang sangat berbeda jika ditinjau dari segi budaya manusia pada umumnya yang justru menekankan pentingnya kehidupan dari pada kematian, tetapi Kristus justru kematianNyalah yang sangat penting dan ditonjolkan, hal ini disebabkan oleh beberapa pertimbangan teologis, bahwa
a. Kematian-Nya telah dinubuatkan sejak dari Perjanjian Lama.
b. Kematian Kristus merupakan Pengajaran yang menonjol dalam Perjanjian Baru
c. Kematian Kristus merupakan tujuan utama penjelmaan.
d. Kematian Kristus merupakan tema pokok/central Injil.
e. Kematian Kristus perlu sekali bagi Kekeristenan
f. Kematian-Nya perlu untuk keselamatan manusia
Secara sederhana melalui derita kematian Kristus itulah keselamatan itu dimungkinkan terjadi “the first aspect of salvation Christ made possible by his suffering of death”[20]
3. Teori Yang Salah Tentang Kematian Kristus
Ada beberapa pandangan yang berkembang dalam sepanjang sejarah Gereja yang memahami kematian Kristus secara kurang tepat, beberapa pengajaran tersebut beberapa di antaranya adalah :
a. Teori Kebetulan
Pandangan ini menyatakan bahwa Kristus adalah manusia biasa yang harus mengalami kematian sebagaimana manusia pada umumnya. Pengajaran-Nya banyak tidak disukai oleh orang lain sehingga Ia dibunuh, memang sangat disayangkan orang sebaik Dia harus dibunuh, tetapi pada hakekatnya kematian-Nya tidak ada yang istimewa.
b. Teori Mati Sahid
Pandangan ini mengajarkan bahwa Yesus mati karena keteguhannya untuk mempertahankan prinsip hidup dan hukum yang Ia yakini (mati sahid), dia merupakan teladan kesetiaan/loyalitas kepada kebenaran dan tugas.
c. Teori Pengaruh Moral
Nama lain dari teori ini adalah teori Kasih Allah, menurut pandangan teori ini kematian Kristus merupakan kematian yang wajar karena Ia telah mengambil rupa manusia dan Ia menderita sekedar di dalam dan bersama dengan dosa makhluk ciptaan Tuhan. Kasih Allah terungkap paling nyata melalui penjelmaan, penderitaan dan kematian Kristus yang dimaksudkan untuk melunakkan hati manusia dan membuat mereka bertobat.
d. Teori Pemerintahan
Kematian Kristus merupakan suatu upaya menjaga wibawa hukum yang telah dibuat oleh-Nya, kematian ini merupakan alat untuk menunjukkan betapa bencinya Ia akan dosa. Kristus tidak sesungguhnya menderita karena hukuman oleh Taurat, namun Allah bermurah hati menerima penderitaan Kristus sebagai pengganti hukuman manusia.
e. Teori Komersial
Pandangan yang dipegang teguh oleh golongan konservatif, yaitu bahwa dosa menghina kehormatan Allah sehingga kehormatan Allah itu mengharuskan-Nya menghukum dosa dengan hukuman kekal meskipun kasih-Nya ingin menyelamatkan. Konflik kedua sifat ilahi inilah yang diselesaikan melalui kematian Kristus.
4. Makna Kematian Kristus
Meskipun segala kemampuan kita tidak mampu menyelami dan memahami kasih Allah yang sempurna itu, namun Perjanjian Baru memberikan pengertian terhadap makna karya salib itu :
a. Kematian-Nya sebagai Pengadilan (Yoh 3:18,19)
b. Kematian-Nya sebagai Kemenangan (Yoh 12:31b; 16:33; Yoh 19:30)
c. Kemerdekaan menuntut harga Mahal
d. Kematian-Nya sebagai Pendamai (Rom 3:25; I Yoh 2:2; I Yoh 4:10; II Kor 5:8)
e. Kematian-Nya sebagai ungkapan isi hati Allah ( Rom 5:8)
f. Kematian-Nya sebagai korban Pengampunan (Ibr 5:9; 9:12-16; 10:11-12; 13:20).
g. Kematian-Nya sebagai Pengganti (Gal 3:3)
h. Kematian-Nya sebagai teladan Penyerahan Diri (Fil 2:5-11; I Pet 2:21)
Oleh sebab itu melalui kematianNya Kristus membawa dampak yang sangat luas, yaitu kita terlepas dari hutang dosa dan diperdamaikan dengan Allah, dilahirkan kembali, menerima kodrat baru, bebas dari perbudakan moral, dan kita ditempatkan dalam dalam persekutuan kasih dengan orang percaya lainnya.
5. Kebangkitan Kristus dari Kematian
Kebangkitan Kristus merupakan bagian dari perjalanan inkarnasi yang sangat penting, implikasinya bukan hanya penting bagi terlaksananya misi Kristus sendiri, melainkan juga bagi seluruh eksistensi kekristenan karena tanpa kebangkitan itu tidak ada juga kekristenan “ the resurrection is the very essence of Christianity and from all the evidence we have, this was so from the beginning. Indeed, if there had been no ressurection there would have been no Christianity”[21]. Oleh sebab itu kita dapat mencermati betapa luas dan kayanya makna kebangkitan tersebut.
Kebangkitan Kristus secara teologis memang tidak mudah untuk dijelaskan dan dipahami secara rasional, oleh sebab itu sepanjang sejarah teologi Kristen masalah ini selalu muncul ke permukaan dan selalu hangat untuk dibicarakan, Pertanyaan-pertanyaan yang paling sering dimunculkan adalah sejatinya kebangkitan yang seperti apakah yang telah dinyatakan oleh Kristus, secara physical ataukah spiritual. Bagi orang-orang yang hidup pada masa Kristus sangat sulit memahami akan fenomena ini, tetapi pada kemudian hari orang-orang Yunani memahami hal ini, meskipun secara salah[22]. Bukti-bukti yang terekam dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menunjukkan bahwa konsep kebangkitan memiliki makna bangkitnya tubuh meskipun bukan dalam bentuk dan esensi yang sama, melainkan suatu tubuh jasmani yang diubahkan
But in both the Old and New Testaments the concept ressurection means a raising of the body, though not necessarily in the same form. Indeed Paul argues strongly for both the ressurection of the body (for the christian) and its transformations. Flesh and blood cannot inherit the kingdom of God; therefore there must be a spiritual body. He is nor arguing for a spiritual survival, but for a ressurection of the physical body, which in the process is transformed into a spiritual body.[23]
Itulah sebabnya konsep ini sangat dalam makna teologisnya bagi seluruh aspek kekristenan.
a. Pentingnya Kebangkitan
1). Bagi Pribadi-Nya
Ia telah menyatakan bahwa akan bangkit dari kematian, jadi jika Ia tidak bangkit maka Ia adalah seorang pembohong (Mat 20:19 ; 28:6). Kebangkitan-Nya sekaligus sebagai legitimasi bagi ke Tuhan-an dan kenabian-Nya. Bagi John RW. Stott secara jelas bahwa kebangkitanNya memiliki signifikansi yang sangat besar, jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian maka Ia juga menujukkan bahwa memang Ia adalah figur yang unik, yang membedakanNya dengan manusia lainnya, yang mampu menang terhadap kematian.[24]selain itu kebangkitan, masih menurut John Stott bukanlah mengesahkan keillahian Yesus, melainkan merupakan konsistensi keilahiannya. Seorang pribadi yang supranatural/ilahi, tanpa terkecuali, pasti datang dan meninggalkan bumi dengan cara yang supranatural juga. Kelahiran Yesus memang natural, tapi konsepsinya terjadi secara supranatural. KematianNya memang natural, tapi kebangkitanNya terjadi secara supranatural, inilah keunikan Yesus.[25]
2). Bagi Karya-Nya
Jika Ia tidak bangkit maka keselamatan kita incomplete atau tidak sempurna, karena Ia tidak bisa menjadi imam besar kita, yang berperan sebagai pembela dan pengantara, dan tidak akan ada yang menguatkan orang percaya (Rm 6:1-10; Gal 2:20).
3). Bagi Injil
Dalam I Korintus 15:3-8 dinyatakan bahwa kematian dan kebangkitan-Nya merupakan dua dasar dari Injil. Bandingkan dengan Roma 4:25. maka jika tidak ada kebangkitan Yesus maka Injil adalah kosong dan tidak bermakna apa-apa bagi dunia.
4). Bagi Orang Percaya
Jika Kristus tidak bangkit maka kesaksian kita adalah palsu, iman kita kosong, dan masa depan kita menuju kepada kesia-siaan (I Kor 15:13-19) dan tentu akhirnya dapat disimpulkan bahwa orang-orang Kristen adalah orang-orang yang sangat kasihan.
b. Bukti-Bukti Kebangkitan
Ada banyak bukti yang menyatakan kebenaran akan kebangkitan-Nya. Penampakan-penampakan pasca kebangkitan dapat diurutkan sebagai berikut
Pertama, kepada Maria Magdalena dan wanita-wanita (Mat 28:8-10).
Kedua, kepada Petrus (Luk 24:34)
Ketiga, Kepada dua murid dalam perjalanan ke Emaus (Mark 16:12) Keempat, kepada para murid kecuali Thomas (Luk24:36-43)
Kelima, Kepada murid-murid termasuk Thomas (Mark 16:14)
Keenam, kepada tujuh murid di pantai Galilea (Yoh 21:1-24)
Ketujuh, kepada para Rasul dan lebih dari 500 orang ( I Kor 15:6-7).
Alkitab, secara khusus kitab-kitab Injil telah menunjukkan paling tidak tujuh kali Yesus menampakkan diri kepada para pengikutNya pasca kebangkitan, untuk menunjukkan konsistensi terhadap perkataanNya bahwa Ia akan mengalahkan maut dan bangkit pada hari yang ketiga, dan dalam suatu peristiwa Ia memberikan kesempatan kepada Thomas (dan mungkin murid-murid yang lain juga) untuk membuktikan originalitas kebangkitanNya dengan menunjukkan lubang paku di tangan dan bekas lubang di lambungNya (Mark 16:14).
6. Kenaikan Kristus Ke Surga
a. Pernyataan-Pernyataan Tentang Kenaikan
Dalam Perjanjian Lama terdapat dua nubuat mengenai kenaikan Mesias ke surga yaitu dalam Mazmur 68:18 dan Mazmur110:1 yang kemudian dikutip dalam Perjanjian Baru yaitu Efesus 4:8 dan Kisah Para Rasul 2:34. Yesus sendiri telah beberapa kali mengatakan bahwa Ia akan kembali kepada Bapa-Nya di surga (Yoh 7:33;14:12,28; 16:5,10,28) secara khusus kenaikan-Nya dalam Yohanes 6:62; 20:17. Pernyataan itu juga didukung oleh beberapa tulisan dalam kitab Injil lainnya.
b. Hal-Hal Mengenai Kenaikan Ke Surga
Peristiwa kenaikan terjadi di dekat Betania (Luk 24:50), yaitu Betania dekat bukit Zaitun (Kis 1:12), sedangkan proses kenaikannya itu sendiri terjadi seolah-olah Kristus diangkat oleh awan (Ay 9) secara perlahan-lahan ke atas dan akhirnya lenyap.
c. Makna Kenaikan
Kenaikan Kristus mengisyaratkan tentang telah berakhirnya masa penghinaan terhadap diriNya, dan tiba saatnya Ia masuk ke dalam masa kemuliaan, sehingga penampakan-penampakan setelah kenaikan-Nya selalu menunjukkan keagungan kemuliaan-Nya misalnya seperti penampakan kepada Yohanes di Pulau Patmos yang dituliskan dalam kitab Wahyu, dan beberapa penampakan lainnya di sepanjang sejarah Gereja.
7. Pelayanan Yesus KristusPelayanan Pada Masa Lalu
Pelayanan Kristus pada masa lalu secara garis besar dapat dibagi menjadi dua pokok penting, yaitu praeksistensi dan masa kehidupanNya. Pelayanan pada masa praeksistensi sebenarnya sudah dijelaskan dalam bagian sebelumnya (bdg, Yesus Dalam Perjanjian Lama), sedangkan mengenai pelayanan Yesus pada masa kehidupanNya dapat kita cermati melalui pemaparan kitab-kitab Injil, yang di dalamnya digambarkan bahwa Yesus mengajar, menasihati, mengkonseling, menegur dan sebagainya.
8. Pelayanan Pada Masa Kini
Pada masa kini pelayanan Yesus dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
a. Sebagai Kepala Gereja
Dalam kaitannya sebagai kepala Gereja (Ef 1:20-23) , Yesus melakukan banyak sekali pekerjaan, yaitu membentuk tubuh (Kis 1:5; 2:33; I Kor 12:13) dan selanjutnya memelihara tubuh tersebut (Ef 5:26; 5:29), memberikan karunia-karunia rohani (Ef 4:7-1), dan memberikan kuasa kepada tubuh tersebut (Yoh 15:1-10).
b. Selaku Imam Bagi Umat
Sebagai imam yang sejati, kenaikanNya ke surga memberikan simpati, menolong dalam kesusahan dan memberikan rahmat kepada umatNya (Ibr 2:18; 4:14-16) Ia memohonkan pengampunan bagi kita (7:25), selaku imam Ia juga meyakinkan bahwa kita memiliki akses jalan ke surga karena Ia memiliki jalan itu (6:19-20).
c. Menyiapkan Tempat Bagi Orang Percaya
Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus telah menyampaikan maksud bahwa kepergianNya adalah untuk menyiapkan tempat bagi umatNya, dan jika semuanya sudah siap maka Ia berjanji akan kembali untuk menjemput umatNya (Yoh 14:1-3).
9. Pelayanan Pada Masa Yang Akan Datang
Mengenai pelayanan yang akan datang secara rinci akan di bahas dalam eskatologi, namun secara garis besar pelayanan Yesus nanti akan meliputi tiga hal utama, yaitu
1. Membangkitkan orang-orang mati (I Tes 4:13-18; wah 20:5).
2. Memberikan upah kepada semua orang sesuai dengan perbuatannya ( Yoh 5: 22,27; I Kor 3:11-15; 2 Kor 5:10).
3. Ia akan memerintah dunia (Wah 19:15).
[1] Paul Tillich, A History Of Christian Thought, (New York : A Touchstone Book, 1968),p.22
[2]There are two principal reasons why our anquery into christianity should begin with the person of Christ. The first, is that essentially christianity is Christ. The person and work of Christ are the rock upon which thechristian religion is built. If He is not who he said he was, and if He did not do what he said he had come to do, the foundation is undermined and the whole superstucture will collaps… secon, if Jesus can be shown to have been a uniquely divine person, many other problems begin naturaly to be solved. The existence of Gos is proved and the character of God revealed if Jesus was divine… dalam ,John RW Stott, Basic Christianity (Illionis : Inter Versity Press, 1974)p.21
[3] Bahkan bukan hanya itu, masih begitu banyak lagi injil-injil lain yang bermunculan, yang oleh para teolog seringkali disebut sebagai Gnostic gospel atau injil gnostik, yaitu injil yang inti pemikirannya dipengaruhi oleh gnosticism, yang pada umumnya menolak sisi kemanusiaan Yesus Kristus.
[4] Millard J.Ericson, Introduction Christian Doctrine, (Michigan : Bakker Book House,1992).p207
[5] Ken Gnanakan, The Pluralistic Predicament, (India : Theological Book Trust, 1992),p.125
[6] Leroy Nixon, The Confession Of Faith Of The Reformed Church dalam Reformed Standart of Unity, (Grand Rapid : Society for Reormed Publications, 1952),p.65
[7] Charles Hodge, edited by Edward N.Gross, Theology Sistematic, (Grand Rapid : Bakker Book House, 1992).p.177
[8] THL.Parker, Edited : Everett F.harrison, Bakker’s Dictionary of Theology, (Michigan : Baker Book House, 1988)p.383
[9]Knowing God, p.48-49
[10] Leroy Nixon, p.70-71
[11] Charles Hodge,p.176
[12] John Walvoord, Jesus Christ Our Lord,P.144
[13] Charles Hodge, P.57-58
[14]Paul Tillich, p.119
[15] leroy Nixon,p.72
[16] Charles Hodge, p.57
[17] Millard J.Ericson, p.222-223
[18] Millard J.Erickson, Introducing Christian Doctrine, p.213
[19] Paul Tillich,p.23
[20] John RW.Stott,p.81
[21] Kenneth G.Howkins, the Challenge of religious Studies, (London : Tyndale Press, 1972),p.46
[22] Orang-orang Yunani meyakini akan keabadian jiwa, dan kefanaan materi. Bagi mereka materi/tubuh jasmani adalah milik dunia yang akan dihancurkan saat kematian sedangkan jiwanya akan mengalami pembebasan.
[23] Kenneth G Howkins, p.46
[24]Clearly, if it is true, the ressurection has great significance, if Jesus of Nazareth rose from death, then He was beyond dispute a unique figure. It is not a question of his spiritual survival, nor of of His physical resuscitiation, but of His conquest of death. P.46
[25]The argument is not that his ressurection establishes his deity, but that it is consistent with it. It is only to be expected that a supranatural person should come to and leave the earth in a supranatural way. This is in fact what the NT teaches and what, in consequence, the church has always believed. His birth was natural, but His conception was supranatural. His death was natural, but His ressurection was supranatural. P.46

Tidak ada komentar:
Posting Komentar