Senin, 03 Mei 2021

Contemporary Approaches To Christian Education

 

IDENTITAS BUKU :

  1. Judul Buku             : Contemporary Approaches To Christian Education
  2. Penulis                    : Jack L. Seymour, Donald E.Miller, et al
  3. Penerbit                  : Abingdon
  4. Tahun Penerbitan : 1982
  5. Jumlah Halaman  : 175 hal

 

Garis Besar Isi Buku :

    1. Pendekatan-pendekatan kepada pendidikan Kristen

             Pada decade 1970an pendidikan Kristen memasuki suatu sejarah baru, dimana perhatian kontemporer dalam menyelidiki makna untuk memilih teori Pendidikan Kristen sekaligus pelaksanaan praktisnya diusahakan dengan sangat serius. Perkembangan tersebut terbukti dengan semakin berkembangnya penelitian kependidikan di dalam Pendidikan Kristen, diperbaharuinya Penerbit-penerbit rohani Kristen, penerbit-penerbit khusus dalam bidang materi pendidikan agama, dan sebagainya. Pada bab ini diseskripsikan secara singkat tentang 5 pendekatan Pendidikan Kristen Kontemporer baik secara teoritis maupun secara praktis, yaitu : Religius Instruction, faith community, spiritual development, liberation, interpretative, yang kesemuanya tersebut tidak ekslusive antara satu dengan yang lainnya dan juga tidak kesemuanya dijelaskan secara komperehensif, namun para penulis berusaha menggambarkannya melalui penggambaran-penggambaran agar melaluinya tugas pendidikan dapat dipahami dari beberapa pendekatan tersebut.

             Dalam pendidikan Kristen pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh beberapa teori yang berkembang karena sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya pendidikan Kristenpun juga mengarahkan pribadi-pribadi untuk mengalami dan mampu menjelaskan realitas disekitarnya. Pendekatan-pendekatan tersebut kemudian dijelaskan secara sepintas demikian

  1. Religius Instruction, menekankan bahwa pendidikan adalan suatu transmisi keyakinan-keyakinan Kristen, hal-hal praktis, perasaan-perasaan, pemahaman, dan dampaknya bagi siswa dan juga konteks program pendidikan gereja.
  2. Faith Commuity, menekankan pemnbentukan pengalaman spiritual melalui komunitas daripada sebuah intruksional yang dianggap sebagai penindasan dan pemenjaraan Pendidikan Kristen oleh pedagogi sekuler.
  3. Spiritual Development, jika pendekatan sebelumnya menekankan pada isi, metode, dan yang lainnya menekankan pengalaman rohani maka pendekatan ini mencermati bahwa kehidupan rohani pribadi adalah tujuan, konteks, dan isi pendidikan itu sendiri. Pengalaman rohani adalah yang paling utaa sehingga perlu diarahkan, diperkaya dalam proses pendidikan, dan tentunya sesuai dengan kapasitas pertumbuhn pribadinya.
  4. Liberation, memulai dari janji Alkitabbiah dan visi tentang kerajaan Allah yang dikombinasi dengan analisa kritis dalam ranah social untuk menginspirasi misi Gereja sehingga pendidikan harus peduli dengan kontekas sosialnya, dan tujuannya harus memampukan gereja dan anggotanya untuk mengimani panggilan kerajaan Allah dan memberantas bentuk-bentuk penindasan.
  5. Interpretative, lebih berkeyakinan bahwa tugas pendidikan adalah menafsirkan tradisi kekristenan dan pegalaman-pengalaman pribadi masa kini dalam kaitannya dengan yang lain..

 

    1. Religius Instruction

            Pendekatan ini sangat menekankan bahwa kegiatan pembelajaran mengandung transmisi keyakinan-keyakinan keagamaan, kehidupan praktis, perasaan-perasaan, pemahaman dan dampaknya kepada peserta didik dan konteksnya adalah program-program endidikan gereja. Penekatan ini dibangun diatas asumsi dasar pendidikan merupakan pemahaman yang lebih luas dari pada sekedar sebuah intruksi, kegiatan yang disebut sebagai intruksi tidak akan dikaburkan oleh setting yang disebut “sekolahan” dan pendekatan ini adalah satu-satunya fungsi yang memberi kontribusi bagi tujuan komunitas agama dan pendekatan ini juga harusnya dipandang sebagai “pelengkap” dari pada sebagai “saingan”.

            Pendekatan Religius Instruction ini hanya satu bagian dari keseluruhan, sehingga tidak bergantung pada setting khusus. Pendekatan ini adalah komponen-komponen bukan sejarar dengan pendidikan itu sendiri karena pada hakekatnya pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan kembali warisan-warisan Kristen bagi individu dan bagi komunitas, sehingga berdasarkan hal ini maka guru dipahami sama seperti siswa yang sedang ada di depan kebenaran yang sedang memilih area-area untuk menyelididki, menyususn dan memproses secara bersama-sama sehingga dapat menjawab pertanyaan “mengapa…”. Pendekatan ini memberikan sebuah kontribusi yang menarik yaitu mampu menolong pribadi-pribadi memahami apa yang mereka percaya dari apa yang telah mereka tarik keluar dan ciptakan ulang dari warisan-warisan.

 

    1. Faith Community

Adalah orang-orang bekerja sama sebagaimana identitasnya pribadi yang ditemukan dalam kaitannya dengan peristiwa penting dimasa lalu. Respon mereka terhadap peristiwa itulsh ysng membentuk karakter mereka, rasa solidaritas dan memperjelas identitas, kesatuan mereka terekspresi melalui komitment bahwa peristiwa dan nasib mereka dinyatakan dalam kekuatan dan kemapuan.

Pemikiran dari Faith Community memberikan kontribusi cukup besar bahwa kategori-kategori sosiologis dan anthropologis dieksplorasi dalam pendidikan Kristen. Pemikiran ni menjadikan pendidikan Kristen peduli terhadap bentuk-bentuk social dalam transmisi nilai dan praxis dari orang tua kepada generasi selanjutnya. Dalam pendekatan Faith Community pendidikan Kristen diingatkan bahwa membangun tubuh Kristus bukan sekedar menambah jiwa baru atau anggota-anggota baru saja, tapi didalamnya ada unsure pemeliharan, instruksi, penafsiran, ungkapan ekstatik pujian dan penyembahan dan kehidupan yang saling mendukung yang intinya membangun kebersamaan.

 Berdasarkan pemahaman yang demikian maka guru adalah seseorang yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, tapi pribadi yang mengabdikan hidupnya dan berkomitment untuk melayani dalam komunitas baik secara formal maupun informal, jadi intinya guru adalah seorang imam dalam sebuah komunitas yang selalu siap melayani yang memahami bahwa kehidupan komunitas merupakan isi dari pendidkan, dan interaksi antara dirinya dan murid merupakan setting pendidikan sehingga mereka bersama-sama mengeksplorasi hubumgan untuk mendapatkan untuk mendapat nilai-nilai dan komitment terhadap komunitas. Dan kurikulumnya, menurut pendekatan Faith Community adalah komponen yang ditemukan dalam mengingat dan mencetak nilai dari sebuah peristiwa kehidupan komunitas yang mana tujuan dan kehendak Allah dipahami dan dirayakan, dan respon iman dari setiap pribadi diidentifikasi, diperjelas, dan diterima.

 

    1. Pendekatan Perkembangan Kepada Pendidikan Kristen

            Konsep perkembangan menjadi pusta pergerakan Pendidikan Kristen pada abad 20. berkembangnya banyak konsep “perkembangan” baik dalam ranah kognitif, emosional, dan moral menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan konservatif, apalagi Alkitab sendiri juga sering mengajarkan tentang fase-fase perkembangan, sehingga selanjutnya Pendidikan Kristen diperkaya oleh pendekatan ini.

Pada dasarnya ada 3 elemen dasar dari konsep perkembangan, yaitu preexisting, an invariant sequnce, dan an end state, yang kemudian di tambah lagi 2 elemen oleh penulis mejadi: perkembangan integrasi elemen-elemen kompleks, dan interaksi antar individu dan lingkungannya. Sebenarnya perkembangan ini bukan hanya menyangkut individu saja, melainkan juga kelompok, komunitas dan bangsa, namun untuk konteks Pendidikan Kristen biasanya yang diterapkan adalah perkembangan individu saja.

              Dalam bab ini dijelaskan secara garis besar fase-fase perkembangan kognitif yang dipelopori oleh Jean Piagget, perkembangan moral yang dikembangkan oleh Lawrwnce Kohlberg, dan perkembangan emotional oleh Erik Erikson. Dalam perkembangan moral juga dibahas fase-fase perkembangan iman yang dikembangkan oleh James Fowler.

              Berdasarkan beberapa model perkembangan tersebut dapatlah ditarik sebuah kesimpulan bahwa murid adalah pribadi yang bergerak melalui fase perkembangan kematangan, sehingga tujuan utama pendidikan haruslah diarahkan kepada kemampuan pribadi-pribadi untuk bertumbuh dalam iman kepada kematangan rohani.

 

    1. Pembebasan Dan Masa Pendidikan Kristen

Pendidikan pembebasan dimulai dari sebuah kepedulian kritis bahwa manusia adalah bagian dari permasalahan dunia dan pengalaman kita sepenuhnya berbeda dari apa yang sedang menindas orang-orang yang dengannya pendekatan ini dihasilkan. Penulis mengingatkan agara perndidikan Kristen menjadi pendidikan yang prophetic dengan menghadapi tantangan penindasan struktur social dalam perspektif eskatologi Kristen. Pendidikan Kristen proprtik akan konsen dengan perkembangan iman Kristen dengan kepedulian terhadap penindasan konteks global dan menuntun/mengarahkan orang-orang Kristen yang terbangun baru, beriman dan bergaya hidup Kristen, dan isu-isu pendidikan Kristen masa depan diakitkan dengan pertanyaan seputar resolusi terhadap tantangan bagi kemerdekaan manusia.

Pendidikan Kristen menurut pendekatan ini seharusnya termotivasi oleh belas kasihnya untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung di dunia sehingga hidup dalam jalur yang lebih baik, artinya pendidikn harus berpartisipasi secara aktif dalam tantangan pemanusiaan. Pendekatan ini memang membrikan kontribusi yang cukup baiak, namun tidak serta merta dapat diadopsi oleh pendidikan gereja karena memang pada dasarnya pendidikan Kristen dominan dipengaruhi oleh kultur iman, sehingga seharusnya pendidikan membantu setiap pribadi belajar membentuk iman yaitu pernyataan yang relevan dengan dunia nyata dimana ia hidup. Sifat kritis pendidikan Kristen harus membawa kepada reformulasi arah fungsinya sehingga agaya pendidikan harus konsen dengan merubah kenyataan status quo karena hanya jika orang-orang siap merekonstruksi visi untuk hidup mereka hal itu bisa terjadi.

 

    1. Iman Mencari Pemahaman: Penafsiran  Sebagai Tugas Pendidikan Kristen

Pendidikan Kristen seharusnya mengkorelasikan antara hidup dan iman melalui hubungan dialogis antara sejarah iman dan pengalaman hidup yang melaluinya makna akan terpancar. Oleh sebab itu pendekatan ini adalah salah satu solusi karena heremeneutika filosofis dan penefsiran biblical adalah dua sumber yang memungkinkan guru memahami proses pembentukan makna tersebut. Setiap peserta didik harus memahami bahwa kata-kata, teks dan pengalaman membawa makna dari waktu ke waktu dan dari seseorang kepada yang lainnya oleh sebab itu penafsiran sebagai suatu proses pemahaman memiliki tugas untuk mencari pengertian tentang makna dari teks dan karya sastra dari sebuah budaya dan tugas lainnya mencari pemahaman makna masa kini dalam prilaku setiap hari. Secara garis besar tugas itu dikelompokkan demikian :

*  Menerima pengalaman orang lain

*  mengundang pengalaman itu dalam dialog dengan sejarah iman.

*  merenungkan makna masa kini dalam cerita kekristenan, symbol dan ritual

*  membayangkan dengan yang lain suatu tindakan yang harus dilakukan sebagai pengalaman sekarang ang dimaknai kembali, disimbolisasi ulang dan dikisahkan kembali melalui kuasa iman Kristen.

            Berdasarkan tugas tersebut, guru memegang peran penting karena berfungsi sebagai pembimbing bagi siswa yang sedang mencari makna. Sebagai seseorang yang telah memahami arah ia berjalan bersama siswa dalam sebuah penjelajahan makna, sehingga guru dituntut untuk terus mengembangkan refleksi dan interpretasinya terhadap iaman, memiliki kepedulian kritis terhadap asumsi dan presuposisi, memiliki beban membantu siswa, dan menerima kehidupan siswa dan pengalamannya sebagai sebuah pengakuan.

           

    1. Pendidikan Kristen Masa Depan

Tekanan utama dalam bagian terakhir ini bukanlah pembuatan sebuah deskripsi dari Pendidikan Kristen masa depan, melainkan suatu usaha yang dilakukan setelah menganalisa kontribusi dari beberapa pendekatan sebelumnya dan membangkitkan isu-isu masa depan dan menentukan agenda-agend apa saja yang perlu dikerjakan di masa mendatang. Prospek Pendidikan Kristen masa depana sangat dipengaruhi oleh penerimaan terhadap beberapa pendekatan kontemporer sebelumnya dan yang terpenting adalah kejelian terhadap segala kemungkinan dan masalah-masalah masing-masing pendekatan sebagaimana kita membuat suatu pikiran-pikiran formatif. Penulis mempersembanhkan 5 arahan pentig dalam membentuk Pendidikan Kristen

*Pendidikan Kristen harus mencari kembali komitmen sejarah untu transformasi social.

*guru Kristen harus melanjutkan memperbaikai Pendidikan Kristen sebagai pusat dalam pelayanan gereja

*hubungan teori psikologi perkembangan terhadap Pendidikan Kristen harus diperhatikan

*guru Kristen harus mencari kejelasan hubungan Pendidikan Kristen terhadap luasnya lingkngan pembelajaran.

*pondasi hubungan Pendidikan Kristen yaitu pendidikan dan teologi harus terus dieksplorasi secara berkelanjutan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...