Identitas Buku :
Judul : Iman Sesamaku Dan Imanku
Penulis/penerjemah : Eka Darmaputera
Penerbit : BPK Gunung Mulia
Tahun : 2002
Jumlah halaman : 92 hlm
Garis Besar Isi :
Buku kecil ini lebih bersifat seperti buku penuntun refleksi dan penghayatan melalui sebuah diskusi, terutama bagi umat Kristen yang hidup dalam konteks dunia yang majemuk secara cultural, religious dan ideologis dengan tujuan mencari landasan teologi dalam konteks yang demikian serta mengupayakan sebuah kebersamaan dan persekutuan yang harmonis antar umat beragama.
Buku ini memiliki format isi yang baku, dan secara substansial dibagi menjadi 9 (Sembilan) bagian dengan materi berupa beberapa kesaksian hidup di lapangan, komentar dan daftar pertanyaan diskusi sebagai respon reflektif terhadap teks yang diketengahkan oleh sub-unit dialog dari Dewan Gereja Dunia (DGD).
Studi I merupakan sebuah bahan diskusi menyangkut masalah kehidupan dalam konteks pluralitas secara khusus kemajemukan agama.
Studi II membahas keragaman kisah penciptaan dalam konteks agama-agama, maupun tradisi.
Studi III berkaitan dengan konsep kitab suci yang dipercayai dan dianggap sebagai sumber keagamaan oleh agama-agama samawi maupun agama kosmik.
Studi IV memuat sebuah studi untuk memahami pribadi Yesus Kristus dari perspektif kemajemukan keagamaan serta pandangan beberapa penganut agama lain tentang Kristologi.
Studi V merupakan studi reflektif terhadap pengalaman keselamatan baik yang bersifat alkitabiah, maupun dari perpektif pengalaman penganut agama non Kristen.
Studi VI mengajak pembaca memikirkan kembali konsep bersaksi dalam konteks kemajemukan dunia.
Studi VII memuat sebuah bahan perenungan untuk masalah spiritualitas, termasuk pendekatannya dalam membangun sebuah spiritualitas keagamaan dalam konteks kemajemukan.
Studi VIII merupakan sebuah himbauan mengenai konsep persekutuan baik yang bersifat Kristiani, maupun dalam konteks masyarakat secara umum.
Studi IX membahas tentang pengharapan keagamaan serta visi/penglihatan ke depan mengenai kehidupan dari beragam perspektif.
Tanggapan :
Jika ditinjau dari perspektif teleologis dan pragmatisnya, tulisan ini sangat baik dalam kaitannya dengan menanamkan kesadaran kepada pembaca untuk terus berupaya (tanpa menyerah) dan mengusahan kerukunan, kedamaian dan toleransi kehidupan bersama dengan umat beragama lain, bahkan diharapkan pengalaman keagamaan yang diperoleh melalui kehidupan dalam konteks kemajemukan ini memperkaya pengalaman spiritualitas semua orang.
Tim penyusun buku kecil ini mengajak pembaca untuk memiliki perpektif baru dalam memandang orang lain dengan latar belakang agama yang berbeda dan lebih bersikap positif . himbauan ini sangat bermanfaat bagi upaya untuk mereduksi fanatisme sempit serta kecenderungan munculnya ekstremisme, fundamentalisme, dan juga terorisme.
Dari perpektif teologis tulisan ini seolah mempropagandakan paham pluralism yang mana bagi mereka “ Allah…dapat dikenal melalui bermacam-macam jalan. Mereka yang menganut paham ini melihat kegiatan Allah pencipta itu di dalam kerangka pluralitas dunia ini. mereka berusaha untuk melihat kegiatan Roh Kudus bahkan di luar tembok-tembok gereja. Mereka menegaskan bahwa kegiatan penyelematan Allah itu terjadi di banyak tempat, di dalam banyak tradisi dan melalui banyak jalan“ (hlm.6) sepanjang penjabarannya secara implicit tulisan ini mengajak pembaca memiliki paradigm yang baru, yaitu paradigma pluralime itu sendiri sehingga pembaca diarahkan untuk belajar juga dari pengalaman keagamaan orang lain karena dalam pengalaman itu juga wahyu Allah diungkapkan. Kekristenan akan kehilangan esensinya yang fundamental jika paham yang demikian itu menjadi paradigm baru dalam kekristenan karena pengorbanan Kristus di kayu salib seolah-olah menjadi sangat tidak berarti dan bermakna bila karya keselamatan Allah terjadi dalam banyak konteks. Jika memang ada begitu banyak jalan menuju kepada karya keselamatan, mengapa Allah harus membuat scenario yang tragis dalam peristiwa penyelamatan oleh Kristus, jadi paradigm yang ditawarkan oleh DGD harus dicermati secara kritis karena hal itu justru akan medistorsi karaketristik dan keunikan Kristen.
Pada dasarnya untuk dapat hidup berdampingan dengan orang-orang beragama lain secara damai, rukun dan mengubah paradigm keagamaan yang cenderung destruktif tidak harus mengorbankan keunikan pengajaran Kristen yang fundamental tersebut, sebab sebenarnya jika orang percaya masa kini secara sungguh-sungguh dan konsisten mengaktualisasikan pengajaran Yesus dalam hidup keseharian mereka, maka kedamaian bukanlah hal yang sulit dicapai. Esensi pengajaran Kristen adalah kasih Allah yang diwujudkan dalam diri manusia dan hal itu harus juga diimplementasikan melalui hubungan antar manusia. Menjadi orang Kristen sejati harus mengaktualisasikan kasih Allah dalam kehidupan social artinya harus mewujudkan perdamaian di antar umat manusia, hal inilah yang perlu disampaikan kepada orang-orang percaya, bukan dengan cara mengorbankan hal yang paling berharga dari agama kita.
Dari perspektif sosiologi agama solusi yang ditawarkan oleh DGD memang sangat baik, namun hal tersebut tidak harus dipaksakan secara serampangan karena pada hakikatnya menjadi seorang Kristen sejati tidak harus anti dengan agama lain, harus fundamentalis, harus fanatisme secara sempit, dan bersikap destruktif terhadap orang lain, justru menjadi Kristen yang sejati harus menjunjung tinggi cinta kasih di atas segala egoism, kepentingan golongan, dan hal-hal lainnya karena “cinta kasih” itulah yang sebenarnya esensi kekristenan. Pengalaman keagamaan orang lain harus dihargai pada batas-batas tertentu karena pengalaman rohani yang sejati merupakan sebuah refleksi dan penghayatan secara penuh terhadap esensi keyakinan agamannya sendiri.
Kita sadari bahwa Dewan Gereja Dunia secara serius berjuang untuk mewujudkan kedamaian di dunia ini. Dalam situasi kehidupan beragama yang semakin tidak menentu ini diperlukan andil dari lembaga-lembaga yang bersifat internasional, dan DGD telah menunjukkan kepeduliaanya itu namun beberapa konsep pemikiran yang cenderung pluralis dapat dipastikan tidak dapat menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Dalam perkembangan teologi beberapa tahun belakangan justru tampak adanya perpecahan di dalam Gereja sendiri dalam meresponi pandangan yang disampaikan oleh DGD mengenai konsep pluralism tersebut. Pergolakan teologis secara khusus di Indonesia sangat terasa, bahkan menimbulkan beberapa dampak yang kurang baik, misalnya saja kelompok garis utama (mainline) yang sering disebut sebagai kelompok oikumenikal dengan cirri pluralismenya sering menuduh orang-orang reformed dan injili sebagai golongan yang fundamentalis, dan sebalikanya orang-orang injili yang cenderung ekslusif menuduh kaum oikumenikal sebagai orang-orang Kristen yang telah kehilangan identitas kristianinya. Seharusnya DGD sebagai representasi kekristenan dunia melakukan kajian-kajian secara mendalam dan berkelanjutan dalam merumuskan sebuah paradigm yang hendak ditawarkan kepada umat. Kesalahan fatal yang dibuat dapat menyebabkan kemunduran kekristenan yang cukup signifikan oleh karenanya perlu dasar pertimbangan yang matang. Beberapa kebijakan DGD sepertinya sangat kontraproduktif, jika isi buku ini merupakan sebuah pemikiran DGD, apakah ini merupakan representasi dari pemikiran Kristen global, ataukah hanya sebuah presuposisi beberapa gelitir orang dengan motif-motif yang kita juga belum pahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar