Identitas Buku :
Judul Buku : Missiologia
Penulis : Arie de Kuiper
Penerbit : BPK Gunung Mulia
Tahun Terbit : 2003
Jumlah Halaman : 107 halaman
Garis Besar Isi Buku :
Secara umum buku ini mengupas tuntas dasar-dasar teologis dan historis mengapa orang Kristen dan Gereja harus terlibat secara aktif dalam pekabaran Injil. Dengan tujuan agar Gereja dan orang percaya tidak mengalami kesalahpahaman terhadap hakikat misi itu sendiri sehingga mengulangi kegagalan-kegagalan Gereja pada masa lampau penulis mengharapkan semua pembaca buku ini menyadari, memahami dan menginsyafi sumber dan tujuan dari misi. Oleh sebab itu penulis mengungkapkan kebenaran-kebenaran secar progresif dalam beberapa bagian.
Bagian pertama merupakan sebuah pendahulusn yang menjabarkan tentang pengertian istilah-istilah yang sering ditemui dalam teologia Kristen berkaitan dengan masalah pemberitaan Injil, penelusuran konteks historis dari pekabaran Injil, dan letak disiplin ilmu tersebut dalam tataran teologi sistematika. Pada bagian akhir menjelaskan tentang pembagian pokok masalah dalam pembahasan ini.
Bagian kedua memuat landasan teologis dari misiologi Kristen yang di awali dari konsep misi dalam perjanjian lama, masa intertestamental, dan pada masa perjanjian baru, yang meliputi pembahasan tentang konsep pekabaran Injil menurut Yesus, pemahaman jemaat mula-mula, konsep teologia Paulus, penginjil sinoptik, serta pandangan lainnya dalam PB. Pada bagian ini pula dijabarkan tentang alasan-alasan mengapa harus melakukan pekabaran Injil.
Bagian ketiga membentangkan secara sistematis hakikat misi yang meliputi subyek maupun obyek misi, pola hubungan Israel dan Gereja dari perpektif misi, keterkaitan apostolate dengan agama Islam, hubungan antara Kekrustenan dengan agama lain, titik tolah misi, hubungan antara gereja dengan konteks social budaya masyarakat, serta pola hubungan antara misi dengan unitas, pelayanan, pengharapan, serta apa sasaran dari misi itu sendiri.
Bagian keempat mengupas permsalahan metodologi dalam pekabaran Injil, baik itu metodologi yang bersifat personal, maupun komunal jemaat Kristen. Pendekatan-pendekatan komperehensif dan dialog komunikatif juga dibahas pada bagian ini.
Tanggapan :
Secara umum buku berisi sebuah penelahaan terhadap segala hal ikhwal tentang misiologia, yang oleh penulis sering disebut sebagai pekabaran Injil. Penulis menguraikan sebuah gambaran umum yang sangat kritis terhadap teori maupun praktik misiologi dalam sepanjang sejarah Gereja baik itu sebuah pergerakan progresif atau dapat juga kita sebuat sebagai sebuah “revival” seperti yang terjadi pada abad pertama sampai abad pertengahan, lalu pada era reformasi mulai mengalami stagnasi dan pekabaran Injil menjadi kurang mendapat perhatian, memasuki era pietisme konsep misi menjadi sangat pragmatis, dan pada akhirnya di zaman modern mulai kembali kepada semangat PI yang mula-mula. Secara historis penulis mengupas secara terbuka kelemahan-kelemahan yang membuat pekabaran Injil tidak berkembang seperti yang diharapkan, hal ini dikarenakan oleh karena segala orientasi ilmu teologia yang banyak diupayakan untuk dipelajari dan dikembangkan oleh para tokoh Gereja tidak berpuncak pada ilmu pekabaran Injil yang merupakan implementasi teori dalam praktik (hlm.16-17). Penulis mencermati bahwa seluruh ilmu teologia seharusnya menjadi sebuah kesatuan integral dan melalui misiologi seluruh kebenaran yang ditemukan dan dirumuskan dalam disiplin ilmu teologia dapat diterapkan.
Penulis mengungkapkan bahwa universalisme yang ditunjukkan oleh melalui sejarah dalam PL menjadi salah satu dasar teologis bagi misiologi, bahwa secara historis Allah secara aktif bekerja bagi semua bangsa, menunjukkan kasih secara universal, demikian jugalah hendaknya PI harus bersifat demikian. Kita dapat mencermati bahwa penulis seharusnya menyadari bahwa konteks universalisme dalam PL adalah bentuk penyataan umum Allah yang merupakan komunikasi Allah sendiri kepada semua orang di setiap tempat dan waktu. Penyataan ini adalah segala sesuatu yang dinyatakan Allah di dalam dunia sekitar kita, termasuk manusia. Sifatnya umum dan jangkauannya juga umum, yaitu untuk semua orang (Mat 5:45, Kis 14:17). Yang terwujud melalui Ciptaan/creature (Maz19:1-7 ; Rom 1:18-32), Keteraturan/harmoni alam semesta (Maz 19:2; Kis 14:15-18), Manusia (Maz 94:9 ; Kis 17:28,29), Melalu sejarah dunia, Melalui agama-agama. Adapun isi dari penyataan Umum adalah, Kemulyaan-Nya(Maz 19:2), Kuasa penciptaanya (ay 2), Keunggulan-Nya(Rom 1:20), Keillahian-Nya(ay 20), Penentuan-Nya dalam mengendalikan alam semesta (Kis 14:17), Kebaikan-Nya(Mat 5:45), dan Kecerdasan-Nya(Kis 17:29). Maksud dan tujuan dari penyataan umum adalah untuk :
a. Memberikan bobot kepada teisme dan menolak ateisme, agnotisisme, evolusionisme, pantheisme, dsb.
b. Membawa manusia kepada pengetahuan tentang Allah, tetapi pada umumnya tidak membawa kepada hubungan yang benar dengan Allah (Rm 1:19-20), dan tidak membawa kepada keselamatan/soteriologis.
c. Mempersiapkan manusia untuk menerima penyataan khusus, John Calvin pernah menyatakan bahwa “apa yang terserak-serak dan tidak jelas dalam penyataan umum dipadukan dan dibuat jelas dalam penyataan khusus”.
d. Memberi pandangan yang luas terhadap fenomena agama-agama dunia.
Kita seharusnya menyadari akan ekslusivisme soteriologis dalam misi Kristen sehingga tujuan PI bukanlah supaya seluruh dunia menjadi Kristen, melainkan seluruh umat pilihan Allah, yang ditetapkan dari semula untuk diselamatkan mendengar dan mendapat bagian bagi janji tersebut. Konsep pilihan ini merupakan “tindakan kekal Allah dimana, Ia dalam kedaulatan kehendakNya yang baik, dan tidak berdasar pada usaha mereka, memilih sejumlah orang untuk menjadi penerima anugerah khusus dan keselamatan kekal”[1]. Dan oleh karena kita tidak tahu siapa saja yang telah ditetapkan untuk diselamatkan, maka penginjilan itu harus dilakukan kepada semua orang di dunia sehingga melaluinya kita dapat mengerti “domba-domba mana yang merupakan domba yang telah terhilang” hal ini ditegaskan penulis kemudian pada penjelasan selanjutnya (hal 38).
Pada bagian yang membahas tentang tinjauan historis PI, penulis mengungkapkan sebuah kebenaran prinsipil yang seharusnya saat ini diperhatikan oleh Gereja, yaitu pengoptimalan gerakan kaum awam (hlm.61). penulis mencermati rahasia pertumbuhan dan persebaran kekristenan secara historis sangat dipengaruhi oleh gerakan kaum awam melalui kesaksian hidup sehari-hari. Kita tidak dapat memungkiri peran vital ini sebab kaum awamlah yang paling banyak, sering dan luas berhubungan dengan konteks sosialnya disbanding para teolog, misionaris, atau pemimpin rohani yang lainnya.
Secara teologis buku ini memang memberikan sebuah landasan misi yang sangat biblical dan sangat baik, namun dalam beberapa bagian sepintas penulis berupaya menghindar terhadap polemic teologis, terutama masalah hubungan antara Israel dan Gereja dalam konteks soteriologis, misiologis, maupun eskatologis. Sebuah konsep yang sering mematik perdebatan antara kaum amillenial dengan penganut premilenialism dispensasionalis. Dalam pembahasananya dalam halaman 80-82, tampak jika penulis berupaya tidak terjerumus dalam permsalahan teologis yang terlalu dalam sehingga lebih menekankan pola hubungan keduanya hanya dalam tataran metodologis semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar