RELEVANSI APOLOGIA DALAM DIALOG ANTAR AGAMA DI INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Kekristenan di Indonesia bertumbuh dalam konteks masyarakat yang sangat pluralistic, baik keragaman dalam budaya, suku, bahasa, ras, maupun keyakinan agama. Sehingga tantangan yang dihadapinyapun juga sangat komplek/multi dimensional. Dalam konteks Agama, keragamanan dalam keyakinan/ agama di satu sisi dapat menjadi factor pemersatu setiap warga negara, namun di sisi lain kita sadari juga bahwa agama seringkali justru menjadi faktor pemecah belah dalam masyarakat Indonesia yang plural, hal tersebut tercermin dalam sejarah bangsa ini, yang tidak jarang mengalami kerusuhan karena faktor agama, pembakaran tempat ibadah, peperangan antara kelompok agama, dan sebagainya. Memang pada dasarnya setiap peristiwa yang bersifat destruktif ini tidak semata-mata berkaitan dengan pengajaran agama-agama tertentu, melainkan ada “sesuatu lain” yang seringkali ikut membonceng atas nama agama
If matters of faith were kept clean of politics then life on this planet would be a
lot easier. Wherever people of faith gather to ponder over what to them matters
at the deepest level of their being, they come up with the same answer. That
there is one transcendal Being who we refer to as God, Yahweh, Allah, or any
other name regardless of what our religion is. Unfortunately the matter then
does not rest here. It goes from there to religion with its demand for rituals
and obligations. This creates a divide from others whom we begin to perceive as
less perfect or in fact inferior, further drawing a moat around our faith-
based group identity.
Historically territorial expansion
and acquisition of power and control of resource have all been done in the name
of religion and vice versa. That is, the basic ambitions and needs primarily of
people or groups to expand, acquire, and control territory and resources, have
been given a religious identity in many instances like the crusade/jihad, holy
war etc. Thus with all these ideas and attitudes emerging out of one single
category of faith, mankind has remained divided, involved in endless
internecine battles throughout history. Enormous destructions, loss of lives
and resources continue to pile up through our history, all in the name of
religion[1].
Masuknya unsur-unsur politik, perang kepentingan antar kelompok-kelompok tertentu dengan maksud tertentu dan sebagainya semakin menambah atau memperkeruh keadaan bangsa yang sudah carut marut ini.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan cita-cita utama bangsa kita sejak merintis upaya kemerdekaan dari penjajahan, maka untuk mengaktualisasikan mimpi tersebut maka kerukunan antar umat beragama yang ada di dalamnya merupakan suatu pilihan dalam mewujud nyatakan NKRI sehingga dirumuskanlah UUD 1945 dan PANCASILA sebagai dasar dan pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara bagi seluruh masyarakat Indonesia. Jika agama telah menjadi salah satu dari bagian dari permasalahan bangsa ini, sepatutnyalah agama itu sendiri juga menjadi salah satu bagian dari jalan keluarnya
If religion has been such a big part of humanity’s problems, surely it also must be a part of the solution. In order to ponder this question and seek a common understanding to its solution, Kind Abdullah of Saudi Arabia has taken the lead. He brought interfaith leaders in Madrid to begin a dialogue for this purpose. Many prominent leaders of the faith community gathered and agreed that there was enough in common among different group of people to put aside their differences and work for the common good.[2]
Agama menjadi salah satu dari solusi dalam mewujudkan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara, karena agama merupakan sarana kontrol social yang berisikan nilai-nilai (tentang yang baik dan yang tidak baik) dan kaidah-kaidah moral (berkaitan dengan hal-hal yang dilarang dan yang diperbolehkan) yang mampu memberikan arah bagi sikap dan prilaku para penganutnya. Dengan ketaatan beragamalah segala nafsu jasmaniah dan hasrat duniawi yang menyesatkan dapat dikekang.[3]
Dalam usaha membangun suatu kerukunan antar umat beragama tentu ada begitu banyak pendekatan maupun metode, salah satunya adalah usaha dilakukannya dialog antar umat beragama, yang merupakan suatu pendekatan yang paling popular dilakukan di Indonesia. Pendekatan melalui dialog harus diakui sangat dibutuhkan dalam kontek masa kini meskipun mungkin belum menghasilkan dampak, atau memberi kontribusi yang cukup signifikan[4].
B. Tujuan Penulisan Makalah
Dari sudut pandang kekristenan, setiap orang percaya diperintahkan untuk hidup berdampingan secara damai dengan orang lain, hal itulah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika mengajarkan tentang hukum kasih (Mat 22:37-40) sehingga kerukunan antar umat beragama seperti yang dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya tentulah bagian dari cakupan pengajaran Yesus itu sendiri dan dialog tentulah merupakan salah satu cara yang ditawarkan baik oleh pemerintah maupun oleh pemimpin-pemimpin agama untuk mewujudkan impian besar tersebut, namun di satu sisi kita juga harus dipertemukan dengan suatu tugas yang tidak kalah penting yaitu kesiapsediaan untuk selalu memberikan pertanggung jawaban iman atau yang lazim disebut apologia, yang mana setiap pengikut kristus harus selalu membela keyakinan imannya di hadapan orang-orang yang meragukan, menanyakan, menafsirkan secara salah, atau bahkan mungkin melecehkan iman Kristennya dan tentulah langkah yang diupayakan dalam apologia tersebut adalah cara-cara yang masih dalam koridor atau batasan-batasan pengajaran Kristus yaitu cara yang damai.
Dalam dua tugas ini (dialog dan apologia) kita mencermati dua hal yang paradoks, di satu sisi dalam dialog itu seolah-olah kita diajak untuk berkompromi, agar dengan rela meyakini bahwa ada kebenaran lain yang terdapat pada agama-agama lain, sedangkan dalam apologia kita perlu menyatakan keyakinan-keyakinan yang fundamental dalam iman Kristen terutama keunikan dan finalitas Kristus. Tulisan ini berupaya untuk mencari tahu apakah dalam dialog antar umat beragama apologia masih relevan menurut Pdt Petrus Octavianus ? jika masih relevan, sejauh mana tingkat relevansinya ? jika apologia sudah tidak relevan apa yang menjadi alasan-alasannya?
C. Ruang Lingkup Pembahasan
Topik pembahasan mengenai relevansi apologia dalam dialog antar umat beragama dalam masyarakat yang plural merupakan pembahasan yang sangat luas, sehingga tidak mungkin dijabarkan hanya dalam suatu makalah kecil ini, sehingga untuk memungkinkan pembahasan yang seimbang maka dalam pembahasan ini akan dibatasi beberapa hal, yaitu
Pertama, apologia Kristen akan dibahas secara sepintas kilas pada bagian awal bab II, yaitu hanya mencakup pengertian, dasar teologis, model-model apologia.
Kedua, dialog antar agama juga hanya dibahas sepintas berkaitan dengan pengertian dialog, model-model dialog, dan kontribusinya dalam menciptakan toleransi kehidupan beragama. Pembahasan ini akan secara khusus diarahkan pada konteks dialog antara agama Islam-Kristen.
Ketiga, pembahasan pada bagian akhir akan difokuskan pada variable tentang relevansi apologia Kristen dalam dialog antar umat beragama di Indonesia menurut perspektif Petrus Octavianus beserta alasan-alasan yang mendasarinya.
BAB II
RELEVANSI APOLOGIA DALAM DIALOG
ANTAR AGAMA DI INDONESIA
A. Pemahaman Tentang Apologia Kristen
Apologetika merupakan bagian atau cabang dalam disiplin ilmu teologia Kristen. Jika apologia lebih menekankan pada suatu tindakan aktif melalui usaha membenarkan secara rasional kebenaran-kebenaran ilahi dari suatu iman sedangkan apologetika merupakan disiplin ilmu yang mempertahankan dan membenarkan dogma dengan argumentasi-argumentasi yang masuk akal.
Pada dasarnya apologetika terkandung dalam system teologi khatolik dan Ortodoks, sedangkan Protestantisme cenderung menolak apologetika seraya berpegang pada keyakinan yang bertumpu pada keunggulan iman atas rasio.[5] Bagi kebanyakan kaum Protestan, dalam apologetika terkandung suatu kelemahan pada dirinya sendiri karena di satu sisi apologetika menekankan penggunaan rasio, sementara di pihak lain menyatakan bahwa dogma-dogma agama yang pokok tidak dapat ditangkap oleh rasio manusia, dengan kata lain apologetika rasional dalam bentuk tetapi irasional dalam isi.[6]
Pengertian Tentang Apologia Kristen
Apologetik menurut seorang teolog Khatolik, Gerald O’Collins dan Edward G.Farrugia adalah suatu pembelaan secara ilmiah keyakinan Kristiani mengenai Allah Kristus, gereja dan tujuan hidup umat manusia, pembelaan ini dapat ditujukan kepada pemeluk agama lain, anggota komunitas Kristiani lain, warga komunitas sendiri yang ragu-ragu kepada orang beriman biasa yang ingin mengerti bahwa iman mereka dapat dipertanggung jawabkan (I Petrus 3:15)[7]. Pengertian ini juga disokong oleh pandangan Edward V.Stanford yang berpandangan bahwa apologetika adalah “the science which has for its purpose the explanation and defense of fundamental truths of Christianity …it is reasoned explanation of those truths about God and religion which can be known without the aid of supranatural revelation”[8], jika penjabaran sebelumnya Gerald lebih menekannkan pada upaya pembelaan yang ilmiah namun Edward Stanford menyorotinya dari sisi upaya kekristenan dalam memberikan pemahaman mengenai keyakinan fundamental iman Kristen tanpa melalui wahyu khusus Allah dan bukan hanya itu Edward juga mengutip definisi dari Webster Dictionary bahwa apologetika merupakan “…systematic argumentative discourse in defense, especially of the divine origin and authority of Christianity”[9] yang lebih menekankan argumentasi sistematik mengenai doktrin Kristen.
Pada dasarnya apologetik Kristen sangat berbeda, baik mengenai konsep maupun isinya dengan apologetik yang dimiliki oleh agama lain karena obyek yang dibela atau dipertahankan adalah keyakinan iman kepada Tuhan dan kebenaran-kebenaran yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu Edward V.Stanford menyatakan bahwa
In the study apologetics we deal with such fundamental truths as existence of supreme being is the creator of the universe, the existence of spiritual and immortal soul in man, the need that man has to practice religion and necessity of a divine revelation to keep him from going astray, the existence of Jesus Christ as both God and man, and finally the identification of the church which Christ founded with the command that all men should hold membership therein establishing the validity of all these truths, reliance is placed upon sound reasoning rather than on the authority of faith and revelation.[10]
Beberapa kebenaran fundamental dari kekristenan merupakan esensi dari apologetika tersebut, yaitu keyakinan dasar akan eksistensi ilahi sebagai pencipta alam semesta, eksistensi rohani dan kefanaan jiwa manusia akibat dosa, kebutuhan akan tuntunan iman dan wahyu ilahi agar terlepas dari penghukuman kekal, eksistensi Yesus sebagai Allah sejati dan manusia sejati, keberadaan Gereja sebagai perwujudan dari perintah Yesus agar setiap orang menjadi anggotanya.
Seperti yang dikemukakan sebelumnya, meskipun Protestantisme cenderung menolak apologetika (termasuk kelompok Reformed/Injili yang merupakan bagian di dalam Protestantisme), namun hal ini tidak sekaligus membuang apologetika itu sendiri dalam tatanan dogmatikanya, mereka memiliki perbedaan yang substansial berkaitan dengan pemahaman mengenai apologetika secara epistemology sehingga secara praksis upaya apologia dan dan studi apologetika tetap dipertahankan, hal ini tersermin dalam pandangan Van Till yang tidak membuang sama sekali peran apologia
apologetic theology is theology that holds that the message of the gospel does not come down from above, like a plumbline, without any relation to culture or without having any anticipations within culture. Apologetic theology relates to culture. There are anticipations of the gospel, it is said, within the cultural milieu. Possibly culture is said to ask the questions and theology give the answers.
Apologetic theology of this kind has taken radical forms. It is suggested that the question concerning the gospel arises even from the deepest denial of the gospel witness, that an affirmation of God and his grace arises even from the most profound denial of him and the most solid repudiation of his grace. This line of thought intends to break the back of any position that holds to a doctrinal Christianity that comes to us with divine authority.[11]
Penjabaran lebih lanjut dapat juga ditemukan dalam beberapa pemikiran kaum reformed yang salah satunya dijabarkan melalui The Transcendental Perspective Of Westminster's Apologetic.[12] Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pemahaman tentang apologetik bersifat multi tafsir, namun urgenitas maupun signifikansinya tidak dapat diabaikan sama sekali, paham ini juga tercermin dalam beberapa pemikiran Pdt Octavianus baik melalui tulisan-tulisan maupun ceramah/khotbahnya. Beliau concern pada upaya menciptakan metodologi apologia yang sejuk dan damai yang didasari dengan semangat nasionalisme dan ideology Pancasila yang cinta damai.
Urgenitas dan Alasan-Alasan Berapologi
Pembahasan mengenai topik ini akan disoroti dan dijabarkan melalui tiga sudut pandang, yaitu dimensi epistemologis, dimensi teologis dan dimensi praktisnya.
a. Dimensi Epistemologis
Gereja-gereja sejak abad pertengahan dengan kebulatan tekad telah menerima rumusan-rumusan ortodoksi Kristen klasik dari Rene Descartes dan beberapa pemikir Kristen lainnya bahwa “Fides Quarens Intellectum” artinya iman dan keyakinan merupakan kunci pembuka dari segala pengertian, dan rumusan yang berkata “Credo Ut Intelligam” suatu keyakinan bahwa diperlukan kepercayaan terlebih dahulu supaya kita mampu mengerti akan kebenaran Allah. Dua aksioma tersebut di atas merupakan kebenaran yang tidak bisa kita abaikan begitu saja, namun di sisi lain hal ini mengindikasikan suatu perjuangan untuk mengesampingkan atau mengorbankan aspek rasionalitas secara naïf sebab bagaimanapun juga menurut Peter Kreeft, ada begitu banyak hal yang Allah ingin bukan hanya dipercayai secara imani tapi juga dapat dibuktikan dengan kemampuan rasionalitas manusia yang digunakan secara benar.[13]
Di era postmodern ini, dunia juga sedang menghadapi krisis filosofis maupun krisis intelektual karena postmodern sedang memperjuangkan kebenaran subyektif ketimbang obyektif, sehingga relativisme menjadi momok utama dalam apologia Kristen. Di tengah isu-isu yang berkembang mengenai dunia posmo ini kita menemukan tiga permasalahan utama[14] :
· Posmodern menentang metafisika representasional, yaitu bahwa realitas merupakan fakta yang sebenarnya (given) dan siap dieksplorasi. Bilamana dunia ini given, berarti dunia ini dapat dimengerti secara obyektif dan pasti. Sebaliknya posmo berpendapat bahwa realitas adalah bentukan atau hasil konstruksi, realitas tidak serta merta dapat didekati. Manusia tidak mungkin menjelaskan dengan benar dan tepat dengan cara menjalin fakta-fakta kedalam kerangka kaidah-kaidah penalaran yang logis.
· Posmodern menyangkal dasar-dasar yang menjamin obyektifikasi tersebut. Posmodernis berkeyakinan pengetahuan manusia tidak sama sekali didasarkan pada satu atau beberapa keyakinan dasar yang pasti benar dan tidak mungkin dikoreksi. Willard Van Orman mengatakan bahwa pengetahuan atau kepercayaan terikat pada pengalaman historis dan geografis. Pengetahuan tidak lebih dari sekedar pilihan pada satu, dan bukan yang lain karena dianggap cocok dengan kondisi kontemporer, oleh sebab itu sangat mungkin suatu pengetahuan dikoreksi. Ketika satu pengetahuan dikoreksi maka pengetahuan yang lainpun juga terbuka bagi penijauan ulang. Pengetahuan lahir dari konteks historis-geografis maka pengetahuan terikat oleh komunitas, jadi komunitaslah yang menjadi penentu berlaku atau tidaknya sebuah pengetahuan.
· Pengetahuan yang berakar dan bertumbuh pada dalam konteks komunitas tidak mungkin terpisah dari unsur linguistik. Bahasa menjadi unsur perting pembentuk suatu identitas komunitas. Posmo membalikkan keadaan dunia modern yang menjunjung “kemahamampuan penalaran manusia” kepada “kemahamampuan linguistik/bahasa”. Bagi posmodernis manusia tidak mungkin sampai kepada realitas tanpa bahasa. Dunia maupun cara berfikir merupakan jalinan tekstual yang dibentuk oleh bahasa, bahasalah yang membuat sesuatu bermakna. Meskipun demikian bahasa juga tidak bisa mewakili realitas apapun karena suatu kata-kata tidak pernah mewakili realitas apapun diluar dirinya, yang ada adalah sebuah kata selalu mengacu kepada kata-kata lainnya. Tidak ada satupun yang ada dibalik sebuah teks. Penulis maupun motif dibalik penggunaan kata-kata dalam teks sudah mati, dan teks itu menjadi independen. Oleh sebab itu yang berlaku sekarang adalah sebuah penanda. Satu tanda berbada dengan yang lainnya, sehingga sebuah kata tak mungkin dipahami dan dimengerti secara mutlak.
Dasar pemikiran filosofis yang demikianlah yang pada akhirnya menproduksi paham-paham pluralisme dalam agama-agama di dunia. Di tengah-tengah arus kesesatan yang seperti ini, kekristenan ditantang untuk menyediakan suatu rumusan filosofis yang dapat menghadang dan meluruskan kembali pemikiran dunia kepada pemikiran yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.
b. Dimensi Teologis
Beberapa kali Allah menuntut umatnya untuk senantiasa siap sedia dalam melakukan pertanggung jawaban iman kepada siapapun yang meragukan atau bahkan yang lebih jauh lagi sampai menentang keyakinan iman kita, kepada orang yang meminta klarifikasi dari keabsahan kebenaran yang kita anut, dan juga kepada orang yang berusaha memperoleh informasi yang absah tentang keyakinan keagamaan kita. Ayat sentral yang menjadi dasar apologia Kristen adalah dalam I Petrus 3: 15, dalam ayat ini ada suatu perintah “pros apoligian panti” yaitu untuk senantiasa bersiap dalam pembelaan terhadap tiap-tiap orang[15], sasaran pertanggung jawaban adalah sangat jelas yaitu “aitounti = aitew + umas logou” yaitu orang yang meminta pertanggung jawaban. Dari ayat ini tercermin tentang sikap bagaimana dalam apologia, yaitu harus dengan lemah lembut dan hormat. Apologia dalam konsep Kristen dipahami sebagai karunia Roh (bdg.Mar 13:11, Kis 6:10, 25:25, 26:24-28) yang timbul dari hati nurani yang murni.[16]
Perintah ini muncul karena ada dasarnya yaitu munculnya begitu banyak orang-orang yang meragukan keabsahan pengajaran Kristus pada gereja mula-mula, dan bahkan menolaknya, sehingga perintah ini akan selalu relevan selama masih ada orang-orang yang masih memerlukan atau meminta pertanggung jawaban atas iman Kristiani.
c. Dimensi Praktis
Peradaban Barat yang selalu diidentikan dengan nilai-nilai Kristen telah kehilangan inti kehidupannya yang kristiani. Hal ini tidak semata-mata disebabkan oleh multikulturalisme multidimensional, melainkan oleh karena justru monokulturalisme sekularisme yang bebas sehingga mematik munculnya kehidupan yang kontradiksional yaitu kecenderungan fundamentalisme, dan suatu pola kehidupan bebas yang tanpa batas yaitu sekuler.
Untuk konteks di Indonesia, pluralitas yang berkembang mendorong suatu upaya apologia yang sehat dari tantangan-tantangan yang dimunculkan oleh penganut agama lain, terutama muslim yang terus menyerang dan mempertanyakan keabsahan pengajaran Kristen yang paling fundamental.
Dari penjabaran tiga alasan mendasar dari apologetika Kristen tersebut, muncul banyak keberatan-keberatan, yang utamanya tidak senang atau mengabaikan apologetika karena alasan bahwa di dalam apologetika tampak bersifat intelektual, abstrak dan terlalu rasional. Di antara beberapa keberatan tersebut mengungkapkan bahwa kehidupan, kasih, dan kekudusan jauh lebih penting dari pada akal manusia. Fakta-fakta yang sedemikian sebenarnya adalah suatu paradoks karena di satu sisi ketika orang berkeberatan untuk berapologia dengan mengungkapkan statementnya, mereka sedang lupa bahwa sedang ada dalam suatu proses apologia, yaitu berfikir. Berapologetika memang tidak dapat dihindari, satu-satunya yang dapat dihindari adalah berapologetika atau melakukan apologetika secara benar, oleh sebab itu alasan-alasan atau fakta-fakta bahwa apologetika tidak sepenting teologia praktis lainnya tidak membuktikan bahwa apologetika sangat-sangat tidak penting.
B. Dialog Sebagai Wacana Menuju Kerukunan Dalam Masyarakat Indonesia
Sejarah pendekatan dialogis antar pemeluk umat beragama di dunia dimulai sejak dilakukannya diskusi-diskusi mengenai perbedaan doctrinal di negara-negara Eropa, secara khusus Jerman. Hal ini diupayakan oleh karena masuknya secara bersama-sama orang-orang Yahudi, Kristen, dan katholik dalam ranah intelektual level tertinggi. Dan tipe diskusi tersebut kemudian disebut dialog. Kemudian tipe diskusi ini terus berkembang dan diupayakan bukan hanya dalam lingkup internal suatu bangsa yang memiliki keberagaman keyakinan iman, namun juga diupayakan oleh suatu lembaga yang jangkauannya lebih luas lagi, salah satunya seperti Dewan Gereja Dunia, dan lembaga-lembaga sejenisnya.
Pemahaman Tentang Dialog
Istilah dialog dalam bahasa Yunani berarti “berbicara bersama” yang kemudian berkembang menjadi suatu diskusi yang jujur antara dua orang yang mempunyai keyakinan berbeda, dengan harapan mencapai kesepakatan atau sekurang-kurangnya mendekatinya.[17] Memang dialog pada awalnya dipahami sebagai suatu usaha argumentative untuk dan cenderung memunculkan perdebatan untuk mencapai suatu kemenangan yang bersifat argumentative pula
Discussions of this type have been called dialogs, probably to remove them from the realm of debate, a form of argumentation in which one seeks by his arguments to overcome his opponent and register a victory. In dialog the efford is made to explain one’s point of view to be successful it must be conducted with patience and be founded on charity, knowledge, and understanding, and goodwill.[18]
Bertolak dari pemahaman tersebut di atas maka dialog dikonotasikan sebagai suatu wadah diskusi ilmiah antar pemeluk agama yang seolah-olah mencari pemenang yang penentuannya disyaratkan melalui pengajaran-pegajaran agama mana yang paling unggul, sehingga keberhasilan dari suatu dialog yang demikian akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh seseorang mampu menjabarkan argumentasi secara logis dan menyentuh terhadap lawan diskusi maupun audience atau pendengar
If you wish to succed in presenting your argument, you must try to understand the situation of your hearer and then make your explanation and proofs clear and convincing to him. Do not make valid or general statements and then jump to your conclution. Develop your argument patiently and logically, using comparisons and examples freely to drive home your point[19]
Namun dalam perkembangan berdasarkan konteksnya, pada akhirnya konsep dialog terus mengalami beberapa perubahan terutama berkaitan dengan essensi maupun sasarannya. Dialog antar agama pada akhirnya dipahami sebagai upaya untuk mencari jalan keluar terhadap konflik-konflik yang ditimbulkan oleh keberagaman kepercayaan :
Religious pluralism is sometimes used as a synonym for interfaith dialogue. Interfaith dialogue refers to dialogue between members of different religions for the goal of reducing conflicts between their religions and to achieve agreed-upon, mutually desirable goals. Inter-religious dialogue is difficult if partners adopt a position of particularism, ie if they only care about the concerns of their own group, but is favoured by the opposite attitude of universalism, where care is taken for the concerns of others. Interfaith dialogue is easier if a religion's adherents have some form of inclusive- ism, the belief that people in other religions may also have a way to salvation, even though the fullness of salvation can be achieved only in one's own religion. Conversely, believers with an exclusivist mindset will rather tend to proselytise followers of other religions, than seek an open-ended dialogue with them.[20]
Untuk konteks Indonesia, dialog terus diupayakan sebagai suatu wacana dengan maksud saling memahami karakteristik keyakinan orang lain, dan mencari pengertian yang tepat dan jujur tentang hal itu seperti yang diungkapkan oleh DC Mulder bahwa dialog adalah
Suatu percakapan atau pertemuan dimana orang-orang yang berbeda agama berusaha dengan sungguh-sungguh untuk paham memahami pandangan-pandangan yang dianut. Dalam dialog itu para peserta berusaha untuk mendengarkan dan berbicara, berbicara dan mendengarkan. Mereka mencari pengertian yang tepat dan jujur tentang agama orang lain[21].
Pemahaman ini juga didukung oleh beberapa tokoh Kristen dari golongan arus utama (oikumenikal) yang inklusif dan cenderung pluralis terhadap keragaman dan dialog, Weinata Sairin misalnya berpandangan bahwa dialog merupakan suatu percakapan yang bertolak pada upaya untuk mengerti mitra percakapan dengan, saling mendengar pendapat masing-masing. Dialog karena itu merupakan pertukaran pikiran yang di dalamnya peserta mengungkapkan pendapatnya/keyakinannya, mempertimbangkannya dan berusaha memahami pendapat orang lain.[22]
Pandangan-pandangan yang terus mengalami perubahan dan cenderung terbuka tersebut sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa pemikir Kristen seperti misalnya Choan Seng Song dan Pannikar yang cenderung menyetujui kalau dialog merupakan suatu perjumpaan yang sejati dengan orang lain, kepercayaan dan ideology lain, dan menemukan bahwa ada jalan lain untuk mengenal kebenaran dari pada yang kita telah pelajari sehingga pada akhirnya Song mengkritisi pemahaman yang telah dikembangkan selama ini oleh kekristenan (secara khusus kelompok ekslusivism) agar kekristenan mengalami pertobatan dialogis, yaitu berbalik dari memakai dialog sebagai alat untuk mengubah iman iman kepercayaan lain dan melangkah masuk kedalam kehidupan mitra-mitra dialog.[23] Berdasarkan beberapa pandangan tersebut maka dapatlah kita menyimpulkan bahwa dialog adalah suatu komunikasi aktif, multi arah, jujur, dan terbuka di antara pemeluk agama yang berbeda, yang didorong oleh keinginan luhur yaitu menciptakan kerukunan antar umat beragama.
Karakteristik dan Model-Model Dialog
Sangat beralasan jika beberapa tokoh menyatakan bahwa dialog agama merupakan sebuah obsesi-obsesi positif tertentu yang diperlukan sebagai salah satu pendekatan alternatif sehingga perlu adanya pembelajaran terhadap aturan-aturan yang perlu dijaga jika sebuah dialog mau berhasil, karena jika dialog hanya dipakai sebagai alat untuk membujuk agar seseorang atau kelompok tertentu masuk agama tertentu, atau bahkan dijadikan sebagai alat pemersatu keragaman hal ini adalah mustahil karena sangat tidak mungkin menyatukan agama-agama yang saling mempertahankan keunikannya sendiri-sendiri. Dialog masih terus dikembangkan untuk maksud-maksud dan konteks tertentu, misalnya Winata Sairin[24] mengemukakan dua model dialog yaitu dialog Formal, yang membahas suatu tema tertentu dalam suatu pertemuan yang pembahasannya bertolak dari visi teologis masing-masing, dan kedua adalah dialog Informal, yang terjadi dalam bentuk-bentuk pergaulan, kerja sama dan hubungan social antar umat beragama melalui kesempatan itu mereka saling mengenal satu sama lainnya. Dalam pendekatan dialog kedua itulah kekristenan dapat terlibat lebih banyak, namun diperlukan beberapa pertimbangan yang matang tentang
Pendalaman tentang isi kepercayaan/agama sendiri, menjelaskan secara jujur baik yang bersifat doctrinal, maupun tradisi.
Pemahaman terhadap agama lain.
Sikap saling menghormati tanpa memandang latar mayoritas dan minoritas.
Dialog bukan berarti merelatifkan injil atau menuju kepada sinkretisme, dialog bukan pengganti atau identik dari misi tetapi melaluina kesaksian Kristiani bisa diungkapkan.
Tidak terlalu berbeda dengan Weinata[25], Victor I.Tanja salah seorang tokoh yang cenderung pluralis mengemukakan empat model dialog[26] yang selama ini telah dilakukan dan akan terus diupayakan untuk dilakukan, yaitu :
q Dialog kehidupan, merupakan perjumpaan yang terjadi antar pemeluk agama pada taraf kehidupan, tidak dimaksudkan untuk terjadi pertukaran pengalaman keagamaan secara eksplisit, namun saling membagi nilai-nilai dan kaidah-kaidah keagamaan yang dapat memperkaya hidup.
q Dialog melalui Percakapan, merupakan dialog dengan melalui percakapan antar pribadi yang berbeda agama tentang ajaran agama masing-masing. Dialog ini merupakan dialog yang bersifat elit karena biasanya bersifat tidak pragtis, namun keunggulan bisa mempertemukan suatu pola piker yang lebih baik.
q Dialog spiritualitas, merupakan dialog yang menembus aspek spiritual dengan melakukan sharing pengalaman spiritual.
q Dialog dalam tindakan, dialog yang diimplementasikan melalui aksi, menekankan kerjasama, dan kebersamaan dalam kehidupan pragtis.
Memang ada begitu banyak model dialog yang berkembang, namun hal terpenting sekarang ini yang patut untuk dipikirkan kembali adalah aspek kesiapan setiap orang untuk hidup secara damai berdampingan dengan yang lain, dan melakukan dialog itu dengan fair dan terbuka, tanpa ada prasangka buruk seperti yang dikemukakan oleh Eka Darmaputera bahwa
The problem is : we are ready to do so? My general impression is, we are not perhaps we are ready to live together side by side peacefully but without any real interaction, perhaps we are ready to relate ourselves with others in a polemical and apologetical way or perhaps we are even ready ti live in tension and conflict with others. But are we sincerely enter into a dialogical relationship with others? Ready to accept others as they are? Ready to speak with and to listen to them? Ready to give and to receive? Agree to disegree without closing the possibility to continue the dialog and communication? Dialog needs of course, psychological readiness but it also needs theological readiness. Thus, for axample, we must ask ourselves, who is really our partner in dialog? Are they our neigbours or our rivals? Are they God’s beloved ones or the cursed ones? Do their existence and presence have a meaning at all before God.[27]
Pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa ada begitu banyak model dialog antar agama yang selama ini pernah dilakukan dalam konteks masyarakat di Indonesia, namun dalam pembahasan ini sebenarnya kita tidak bisa menolak tiga usulan model dialog yang multi tujuan dari Henri Efferin[28], yaitu
q Pertama, Dialog untuk membangun hubungan kemanusiaan, menyingkirkan keterasingan dan saling penghargaan.
q Kedua, dialog untuk memahami konsep kebenaran. Termasuk pemahaman tentang doktrin.
q Ketiga, dialog untuk melakukan proyek pembangunan yang bermanfaat bersama-sama.
Ketiga model dialog tersebut sangat representatif dalam merealisasikan cita-cita bersama yaitu menciptakan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, karena di satu sisi setiap agama tidak perlu mengalami ketakutan terhadap polemik yang kemungkinan dimunculkan dalam suatu dialog, dan di sisi lain setiap umat beragama dapat secara co-eksisten hidup bersama dalam kerja sama yang saling menguntungkan.
Kontribusi Pendekatan Dialogis Dalam Kehidupan Beragama
Beberapa kalangan evangelical yang cenderung ekslusive sedikit pesimis bila melalui dialog itu sendiri dapat mereduksi permasalahan yang sedang mengancam kerukunan antar umat beragama di Indonesia, misalnya saja tokoh yang paling banyak bersuara menentang Pluralisme, Stevri Lumintang beranggapan bahwa dialog, tanpa di sadari telah berubah arti dan hakekatnya yaitu dari suatu wadah persekutuan antar umat beragama kini menjadi suatu usaha memahami sampai pada taraf menerima keabsahan dan kebenaran semua agama.[29] Masih menurut Stevri, konsep dan praktik pendekatan dialogis sesungguhnya merupakan pendekatan yang berbahaya bagi semua agama karena menurutnya pendekatan ini tidak hanya menganjurkan untuk tidak mempercayai kebenarannya sendiri dan kalaupun mengakuinya hanya sebagian saja sehingga harus dilengkapi dengan kebenaran agama lain. Pendekatan ini menghancurkan semua agama.[30]
Memang kaum ekslusive tidak menolak perlu diadakannya dialog karena bagi merekapun dialog dianggap sebagai salah satu dari tugas gereja (orang percaya) sebagai alat memberitakan Firman kepada dunia. Jadi bagi mereka dalam dialog harus selalu ada proklamasi Injil yang berpusat pada finalitas Kristus. Pandangan ini tidak mengharamkan suatu dialog, asal saja dalam dialog itu dengan cara apapun yang penting Injil disampaikan atau dalam istilah lain. Dialog dianggap sebagai salah satu metode penginjilan.
Secara de facto dialog antar umat beragama memang belum menampakkan hasil yang cukup signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap kerukunan di Indonesia, buktinya dalam tiga puluh tahun terakhir ini masih saja banyak gereja yang dibakar, dirusak, diresolusi bahkan tahun 90-an kondisi ini semakin memuncak. Menurut Franz Magnis Suseno fakta dialog menunjukkan bahwa biasanya tema dan terms of reference cukup baik, makalah-makalah bercorak sloganistic dan normative yang cenderung menjunjung tinggi toleransi, namun pada akhirnya wakil dari agama minoritas seringkali menjadi terdakwa dan sasaran serangan dari mayoritas. Dari fakta ini menunjukkan bahwa sikap dasar yang diandaikan dalam sebuah dialog belum ada, kadang sulit menghindari kesan bahwa mereka yang berbicara dari posisi kuat semakin tidak merasa perlu menyembunyikan agresi-agresi yang mereka rasakan. Dialog lalu bisa merosot menjadi kesempatan untuk menghantam yang tidak dapat memukul kembali. Kenyataan ini tidak berarti bahwa dialog menghadapi jalan buntu dan tidak relevan lagi, justru hal ini mendorong bagi setiap pemimpin agama untuk tidak banyak berharap sesuatu yang tidak mungkin diberikan oleh dialog itu sendiri sehingga perlu adanya pengertian terhadap perbedaan sosiologis, budaya, dan visi sejarah. Mulder pernah menyarankan agar tidak menghindari suatu dialog yang bersifat teologis filosofis sekalipun, meskipun akan jauh dari kesepakatan bersama mengenai kebenaran religius sehingga sering yang dicapai adalah “agree to disegree”, namun ini justru akan menetapkan suatu kaidah-kaidah yang berlaku dalam dialog yang baik, misalnya
Kita berusaha untuk menerima pengertian yang sebaik mungkin tentang keyakinan orang lain dengan melepaskan prasangka-prasangka dan pra-anggapan-pra anggapan mengenai agama lain.
Kita berbicara dengan jujur mengenai agama kita sendiri dengan tidak menyembunyikan kelemahan-kelamahan kita.
Kita sanggup belajar dari agama lain.[31]
Pandangan Mulder ini juga disokong oleh pandangan Victor I.Tanja yang dengan tegas menyatakan bahwa dialog apapun bentuknya, memunculkan suatu pengalaman baru, yakni dari orang-orang beragama lain dengan mengalami pengalaman keagamaan lain itu maka seseorang dapat mengalami penyuluhan pengalaman keagamaannya sendiri.[32] Pandangan Viktor memang tidak sepenuhnya benar, namun hal ini juga tidak sepenuhnya salah sebab bagaimanapun juga melalui dialog itu, tidak satupun yang tidak menunjukkan titik-titik kelemahan baik yang menyangkut pemahaman kita tentang iman kita sendiri maupun praksisnya dalam masyarakat yang majemuk.
C. Relevansi Apologia Kristen Dalam Dialog Antar Agama
Bertolak pada penjabaran sebelumnya, seolah-olah umat Kristen menghadapi tantangan yang paradoksal karena di satu pihak kita mendapat mandat untuk senantiasa bersiap sedia memberikan pertanggung jawaban iman (berapologia) kepada siapapun, namun di satu pihak dalam konteks sosiopolitik sebagai warga negara perlu mewujudkan suatu kehidupan berdampingan yang harmonis dengan pemeluk agama lain, yang salah satunya diupayakan melalui pendekatan dialogis. Permasalahan yang muncul adalah bahwa dalam dialog, seolah-olah menuntut kita untuk hadir di dalamnya dan berada pada posisi yang netral, penuh penghargaan terhadap keragaman keyakinan, dan toleran dengan klaim-klaim kebenaran agama lain, sehingga upaya membenarkan diri atau dalam istilah lain mengabsolutkan kayakinan diri sendiri, dan berusaha membela diri, sedapat mungkin atau semaksimal mungkin untuk dapat dihindari dengan tujuan menjadikan dialog itu menjadi berhasil. Apologia seolah menjadi salah satu penghambat dalam mencapai kesuksesan suatu dialog karena akan memunculkan polemik yang baru. Pada dasarnya pandangan yang demikian tidak selalu benar. Apologia masih relevan untuk konteks dialog masa kini karena di dalamnya tidak ada kontradiksi dengan esensi maupun tujuan dari dialog itu sendiri dan justru dalam apologi itu dialog akan lebih hidup dan berwarna.
Apologia Memperkaya Dialog yang Jujur dan Terbuka
Seperti dikemukakan sebelumnya, dalam bentuk dialog guna memahami konsep kebenaran termasuk pemahaman tentang doctrinal, diperlukan suatu diskusi yang masing-masing memaparkan suatu pengajaran-pengajaran yang fundamental mengenai topik seperti yang telah disepakati bersama dalam term reference. Tentu saja dalam dialog tidak hanya terjadi presentasi-presentasi doctrinal semata dan kemudian para pendengar, yang adalah penganut agama lain dituntut menghargai dan mengabsahkannya tanpa perlu adanya klarifikasi-klarifikasi yang ditimbulkan oleh perbedaan pressuposisi, kerangka berfikir, maupun control belief masing-masing. Dalam dialog yang jujur dan terbuka pintu terbuka lebar untuk klarifikasi, kritik, maupun sanggahan meskipun arah tujuannya bukanlah untuk mencari-cari kesalahan, meremehkan pengajaran agama tertertentu, melainkan untuk melihat titik kelemahan diri sendiri dan mencari kebenaran-kebenaran yang Allah juga wahyukan kepada agama lain seperti yang oleh Arthur Holmes nyatakan bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Allah dimanapun itu ditemukan.[33] Dalam diskusi berkaitan dengan usaha mencermati kerusuhan yang terjadi di Tasikmalaya dan beberapa wilayah di Indonesia, Abdulrahman Wahid pernah menyatakan bahwa perbedaan interpretasi terhadap Allah dan pengajaran-pengajaran tentang Allah seharusnya tidak menjadi alat pemecah belah dan pertimbangan untuk saling mengkafirkan yang lain, sehingga apologia seharusnya menjadi sebagai alat untuk mengklarifikasi terhadap perbedaan tersebut.[34]
Apologia memiliki peran dalam menjawab setiap keberatan, klarifikasi, maupun sanggahan, sehingga melaluinya orang lain memperoleh bahan pertimbangan yang dapat dipertanggung jawabkan dalam setiap pengambilan keputusan. Apologia tidak dimaksudkan untuk membujuk orang lain agar percaya dan mengadopsi keyakinan kita, tetapi di dalamnya menyediakan alasan-alasan yang mendasari seseorang meyakini akan sesuatu, meskipun tidak menuntup kemungkinan salah satu sasaran dari apologia adalah meyakinkan orang lain tentang apa yang telah kita yakini.
Apologia Sebagai Upaya Mewujudkan Tugas Gereja Melalui Dialog
Telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya bahwa pendekatann dialogis oleh sebagian orang Kristen secara khusus golongan yang ekslusif dipandang sebagai salah satu alat untuk mewujudkan tugas gereja yaitu menjadi saksi Kristus, sehingga dalam dialog, apologia merupakan bagian dalam tugas tersebut. Eddy Paimoen dalam disertasinya menyatakan bahwa
in a world of religious pluralism and competing claims of truth, Christians must be prepared to witness to their faith in any context and to give an answer to anyone who ask for reason for the Christian hope. This demands and implies the principle of dialog. In English usage, implies conversation and exchange of ideas. Jesus used conversational dialogue as the teaching method. So did the apostle Paul. But dialogue in the Socratic and Greek sense of discussion with a view to the discovery of truth is not to be found in the Old and New Testament.[35]
Menurutnya dialog merupakan suatu pembicaraan dan pertukaran ide, dimana masing-masing dilegalkan untuk menyatakan keyakinan maupun memberi jawaban atas keyakinannya. Pandangan ini bertolak pada keteladanan Yesus yang menggunakan metode dialog dan apologia sebagai bagi dari salah satu metode pengajaranNya.
Bagi beberapa tokoh yang berposisi pada pandangan tersebut di atas, dialog semata-mata dipahami sebagai suatu metode untuk dapat mendengarkan orang lain dengan baik dengan tujuan agar mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai pemahaman/keyakinan dasar dari orang lain sehingga kita mampu menangkap kebutuhan dasariah mereka dalam hal keyakinan tersebut “for Christian, dialogue is a method of mutual listening, as well as speaking, in order to understand the basics of beliefs or main points of the subject matter and the needs of others”[36] sehingga bertolak dari hal ini, maka tujuan atau sasaran dialog adalah berupaya untuk membangun jembatan guna menyampaikan injil seperti yang dinyatakan oleh Kraemer “its aim is to build brindges and to understand men of other faiths so as to communicate the gospel compassionately, persuasively, and effectively in any context”[37].
Jadi bertolak pada pemahaman bahwa setiap orang Kristen adalah saksi-saksi Kristus dan perlu mengejawantahkannya dalam masyarakat yang mejemuk ini, maka dialog dipahami sebagai suatu peluang untuk mengaktualisasikan tugas tersebut, dan apologia merupakan unsure atau aspek yang mutlak diperlukan agar tugas tersebut dapat dikerjakan secara efektif.
Apologia Menyediakan Dasar Bagi Dialog Sejati
Meskipun dalam pemaparan sebelumnya dijelaskan bahwa apologia relevan, berdasarkan pertimbangan bahwa dialog dipahami sebagai sarana untuk menyampaikan berita tentang pengajaran fundamental dari iman Kristen, namun bukan berarti setiap dialog haruslah demikian idealnya. Ada begitu banyak pertimbangan yang seharusnya dipahami secara mendalam oleh setiap orang percaya berkaitan dengan tugas ‘menjadi saksi”tersebut, sebab pemahaman yang salah justru dapat menimbulkan permasalahan yang sangat fatal. Hal ini pernah diungkapkan oleh W.Bonar Sirait bahwa
The awareness of the life of a Christian as a witness, or as a bearer of testimony for some thing; is quite decisive in the issue of religious tolerance. The misunderstanding of the implications of witness will eventually engender in tolerance attitude to others. Particulary at the present the Christians should realized that their life as a Christians is merely to be token for something that took place in the act of Jesus. Without being the victims of any kind of fatalistic views of life, they should know the proper place their destiny in the world. The nature of our twentieth century forces us back to realized this, just as the Christians in the early centuries were aware of their task of witnessing. It ought to be mentioned, that these have been many occasions when tha later Christian were not conscious of this task, be it due to misunderstanding of the Gospel, or on account of the assimilation of other elements into Christianity.
To mention in advance, there was a time when the Christians thought that their task was to prove the superiority of Christianity over every other form of religion and philosophy. This they did either in the quasi-scientific manner or in show arrogant condemnations of other religions and philosophies. These “defender of faith” proved to have failed, curiously enough to the advantage of the church. Hence, we may state that the present return to the life of witnessing in the churches and the world may be caused either by the real understanding of the “kerygma” itself or because of the failure of those so called “defender of faith” in their plea for superiority of Christianity over other religions and philosipies[38].
Meskipun Bonar Sirait dalam pernyataannya secara jelas menolak konsep apologia dalam dialog karena rentan menimbulkan kesalahpahaman, sehingga menganjurkan untuk mengimplementasikan tugas “menjadi saksi” untuk masa kini melalui pemahaman dan karya nyata yang benar tentang konsep “kerygma”, dan pandangan yang demikian tidak sepenuhnya dapat diterima karena beberapa alasan namun, beliau mengingatkan bahwa kesalahan mungkin saja terjadi melalui apologia dalam suatu dialog, jika kita tidak memahami secara benar mengenai konsep “bersaksi” maupun konteks dialog yang mungkin saja akan menghancurkan banyak hal positif yang selama ini telah kita bangun untuk mewujudkan amanat agung tersebut.
Pemahaman dan praktik apologia dalam dialog harusnya diarahkan kepada argumentasi yang bersifat “defense” atau pertahanan (pertanggung jawaban verbal) sesuai dengan hakekat apologi itu sendiri, bukan yang oleh beberapa tokoh sebut sebagai “apologetis polemis”[39] atau mempertahankan keyakinan iman lalu menyerang keyakinan lain sebagaimana terjadi selama ini dalam dialog-dialog antar agama di negara kita. Apologia justru menjadikan dialog itu beranjak dari anggapan bahwa tiap-tiap agama mempunyai tuntutan-tuntutan mutlak yang tidak dapat dinisbikan. Perumusan kembali tidak akan menghilangkan perbedaan, namun dengan membiarkan pembahasan teologi kita dipengaruhi teologi agama lain sehingga kita terpaksa menjadi makin jujur dan lebih memperdalam kehidupan rohani kita. Prasyarat untuk dialog bukanya menyelaraskan semua keyakinan, melainkan pengakuan bahwa tiap-tiap orang beragama memiliki keyakinan yang teguh dan mutlak dan bahwa keyakinan-keyakinan ini berbeda dan di sinilah apologia itu berperan.[40]
DC Mulder pernah memberikan laporan mengenai perkembangan dialog antar umat beragama di dunia dan menyatakan bahwa
Kebanyakan pertemuan itu membicarakan soal-soal yang etis sifatnya. Pokok pembicaraan yang paling utama ialah: bagaimana kita dapat hidup bersama sama dengan damai? Sumbangan apa yang dapat diberikan oleh agama kita masing-masing kepada perdamaian dan keadilan dunia dalam ini? Mungkinkah kita bekerja sama dalam perdamaian itu? Akan tetapi dengan membicarakan soal-soal etis itu, soal-soal ajaran agama memang tidak dapat dijauhi[41]
Bertolak dari praktek dialog dalam sejarah yang cenderung mengarah kepada suatu pola yang tetap, yaitu selalu menyentuh pada ranah pengajaran agama, meskipun term of referencenya beragam, jelas bahwa praktik apologia juga akan terus tetap relevan dalam segala bentuk dialog.
Apologia Kristen Mengarahkan Dialog Kepada Rekonsiliasi
Agama-agama samawi yang berkembang di dunia ini, yaitu Yudaisme, Kristen (Khatolik maupun Protestan), dan Islam, memiliki akar yang sama dalam berbagai aspek, namun sangat disayangkan karena kesamaan akar inilah yang justru seringkali menjadi akar pemicu perpecahan di antara ketiganya. Perpecahan dan kekerasan timbul karena masing-masing memiliki klaim ekslusif yang dianggap melampaui klaim-klaim yang ada pada keyakinan yang lainnya, keadaan ini terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama antara Kristen-Islam karena keduanya merupakan agama-agama yang terkenal memiliki jiwa missioner tinggi.
Eksistensi Kristen- Islam pada dasarnya tidak dapat dilepaskan begitu saja karena ada begitu banyak keterkaitan di antara keduanya. Robbyanto pernah menyatakan bahwa
The existence of islam as religion since its inception cannot be divorced from Christianity. To admitted or not, it is from the Al Quran it self as the Islam ultimate authority that we can find many hints, which expose the fact that there are resembling figures and accounts as those of the bible. These happen especially concerning several Old Testament stories such as of Abraham, Isaac, Jacob, Ishmael, and Joseph, and of the birth of Jesus story. Despite the denial of muslim scholars who asserted that these similiarities were not borrowed from the Bible, most Christian scholars/theologians believed that Mohhamad picked up those stories directly or indirect from Christian sources and then reinterpreted and reinvented them according to his own purpose and agenda.[42]
Kesamaan dalam kaitannya dengan beberapa pengajaran maupun cerita dalam kedua kitab suci keduanya, meskipun berbeda dalam penyampaian dan tujuannya didasarkan pada konteks penulisannya, namun hal ini merupakan suatu aspek yang positif yang dapat dijadikan dasar berpijak untuk membangun sutu hubungan yang telah rusak agar menjadi lebih baik. Eddy Paimoen menyatakan bahwa jikalau diteliti melalui pendekatan teologis, histories, biologis, sosiologis, dan anthropologis, maka yang dapat dikategorikan menjadi keturunan Abraham adalah keturunan Ishak, Ismael, anak-anak Abraham yang lain dan orang-orang percaya kepada Yesus. Apabila memang benar demikian, maka bangsa Israel, Arab, dan orang-orang Kristen adalah pewaris-pewaris Abraham. Hal ini tidak bicara tentang hokum taurat, tetapi berbicara tentang garis keturunan Abraham dan janji Allah kepadanya. Maka jikalau orang Kristen, Yudaisme, dan islam dapat duduk bersama-sama, berbincang bersama-sama, serta tidak salaing mengklaim dan menghakimi, mereka akan menemukan rahasia besar yang selama ini belum terungkap.[43]
Pernyataan ini bukanlah sebuah legitimasi terhadap pluralisme agama yang mengabsahkan semua klaim keagamaan, namun sebuah tantangan besar yang diperhadapkan kepada tiga agama besar tersebut dalam menciptakan dunia yang jauh lebih baik.
Bertolak dari pandangan tersebut diperlukan suatu pertanggung jawaban iman atas setiap kesamaan sumber berita dalam masing-masing kitab suci yang diklaim oleh setiap penganutnya memiliki otoritas final. Melalui dialog inilah, dengan penuh kedewasaan berfikir ilmiah setiap orang berapologia membuktikan kesahihan pengajaran dari sudut pandangnya, sehingga dengan hati dan pikiran terbuka dengan rela membangun suatu rekonsiliasi, bukan dalam arti menyatukan semua system keagamaan namun kesadaran penuh akan sikap dan prilaku keagamaan yang selama ini diwarnai dengan kecurigaan, saling menyalahkan, pembenaran diri sendiri, mengembangkan rasa permusuhan, provikatif dan sebagainya, dan mengantikannya dengan mengembangkan rasa persaudaran dan rasa saling memiliki seperti perbedaan dalam keluarga yang menyatukan.
Bab III
Kesimpulan
No peace among the nations
Without peace among religions
No peace among religions
Without dialogue between the religions
No dialogue between the religions
Without investigation of the foundation of the religions
Pernyataan Hans Küng ini mungkin sangat representatif untuk menyimpulkan seluruh pembahasan dalam makalah ini, bahwa tidak akan mungkin tercipta kedamaian dalam suatu bangsa tanpa adanya kedamaian antara agama-agama yang ada di dalamnya, dan tidak ada kedamaian di antara agama jika tidak ada dialog, dan dialog hanya mungkin terjadi melalui investigasi terhadap dasar-dasar agama-agama. Artinya bahwa dialog merupakan salah satu factor yang menjadi solusi bagi permasalahan suatu bangsa yang mengalami krisis dalam hal toleransi kehidupan umat beragama seperti Indonesia ini. Dialog merupakan tumpuan semua harapan pemerintah, tokoh agama, maupun seluruh masyarakat untuk menciptakan kedamaian, karena tidak ada satupun peperangan ataupun konflik, bagaimanapun bentuknya dan motifnya, yang tidak merugikan semua pihak.
Dalam dialog yang sejati, tentulah diperlukan sikap yang jujur dan terbuka untuk saling memberi dan menerima segala perbedaan, bukan dalam arti menerima tanpa dasar, klarifikasi dan kejelasan. Oleh sebab itu apologia berperan penting dalam menciptakan dialog yang jujur dan terbuka, menyediakan dasar pertimbangan yang kokoh, mengarahkan dialog kepada rekonsiliasi, dan tentu sebagai orang percaya, apologia dapat dipakai sebagai suatu perwujudan terhadap salah satu dari tugas Gereja dalam konteks masa kini.
Sebagai orang percaya dengan segala tugas yang diembannya untuk ambil bagian dalam tugas menciptakan dunia yang lebih baik melalui terciptanya kedamaian, tentulah dalam dialog itu kita dapat berperan serta, tanpa harus mengabaikan tugas lainnya sebagai orang percaya yaitu berapologia karena pada hakekatnya keduanya dapat berjalan beriringan tanpa kontradiksi, meskipun tampaknya paradoks.
BIBLIOGRAFI
Buku- Buku :
Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah, Surabaya : Momentum,
2000
BF.Drewes, et al, Kunci Bahasa Yunani, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006
Charles F.Pfeiffer, Wycliff Bible Commentary, Malang : Gandum Mas, 2001
CS Song, Tell Us Our Name: A Story Theology From an Asia Perspective, (MaryKnoll : Orbis Book, 1986
David Lochhead, The Dialogical Imperative: A Christian Reflection on Interfaith Encounter, Maryknoll : Orbis Books, 1988
DC Mulder, Pengalaman-Pengalaman Mengenai Dialog Agama dari Dewan Gereja-Gereja Se-Dunia, dalam Jurnal Teologi Gema Duta Wacana, (Yogjakarta : Universitas Duta Wacana, 1994
Eddy Paimoen, Christian Responsibility in Nation Building : The Church and The State in Indonesia Today, Bogor : Kasih Abadi, 2007
Edward V.Stanford, Foundations Of Christian Belief : an Introductory Course in Apologetics, Westminster : The Newman Press, 1962
F. Suleeman, Ioanes Rahmat, Masihkan Benih Tersimpan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1990
Gerald O’Collins SJ, Edward G.Farrugia,SJ, Kamus Teologi, Jakarta : Kanisius, 1996
H.Kraemer, The Christian Message in a Non-Christian World, New York : International Missionary Council and Harper, 1938
Harold Coward, Pluralisme Tantangan Bagi Agama-Agama Jogjakarta : Kanisius, 1989
Jan S.Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2005
Karel A.Steen Brink, Perkembangan Teologi Dalam Dunia Kristen Modern (IAIN Sunan Kalijaga,
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2002
PD.Latuihamallo, Konteks Berteologi di Indonesiai, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004
PD.Latuihamallo, Konteks Berteologia di Indonesia, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004
Peter Kreefts, Ronald K.Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen I, Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 2000
Stevri Indra Lumintang, Teologia Abu-Abu: Pluralisme Agama, Malang : Gandum Mas, 2004
Victor I.Tanja, Spiritualitas, Pluralitas & Pembangunan Indonesia, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996
W.Bonar Sirait, Religious Tolerance and the Christian Faith, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1982
Weinata Sairin, Iman Kristen & Pergumulan Kekinian, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996
Artikel :
http://pakobserver.net/200910/13/news/world05.asp
Lensa : Jurnal STT Cipanas edisi Maret 2007
Jurnal Amanat Agung, April 2006
Victor Silaen, Sisi Lain Agama Dalam Masyarakat Majemuk, Majalah TAMPIL edisi Juni 1995
http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/apologetic
Jurnal Teologi Gema Duta Wacana, (Yogjakarta : Universitas Duta Wacana, 1994
Kairos No.50/Th V/Februari 1997
Veritas Vol 4 no.2 thn 2003
http://www.weekendpost.co.za/lifestyle/food/article.aspx?id=488748
Henry Efferin dalam Diktat kuliah Pluralisme Agama di Institut Injil Indonesia.
[3] Bdg Victor Silaen dalam Sisi Lain Agama Dalam Masyarakat Majemuk, Majalah TAMPIL edisi Juni 1995
[4] Karena tingkat kepentingannya yang cukup urgen tersebut, dalam program pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudoyono untuk episode kepemimpinannya yang kedua, upaya ini juga menjadi salah satu isu sentral sehingga permasalahan toleransi antar umat beragama menjadi salah satu pembahasan utama dalam National Summit 2009.
[5] Branch of Christian theology devoted to the intellectual defense of faith. In Protestantism, apologetics is distinguished from polemics, the defense of a particular sect. In Roman Catholicism, apologetics refers to the defense of the whole of Catholic teaching. Apologetics has traditionally argued positively to quell believers' doubts and negatively against opposing beliefs to remove obstacles to conversion. It attempts to take objections to Christianity seriously without giving ground to skepticism. Biblical apologetics defended Christianity as the culmination of Judaism, with Jesus as the Messiah. In the 2nd and 3rd centuries a number of Christian writers defended the faith against the criticisms of Greco-Roman culture, and in the 5th century St. Augustine wrote his monumental City of God as a response to further criticisms of Christianity following the sack of Rome in 410. John Calvin's “natural theology” attempted to establish religious truths by rational argument. The late 18th-century argument that a universe exhibiting design must have a designer continues to be used; apologists have also dealt with the challenges of Darwinism, Marxism, and psychoanalysis. See also Apologist. (http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/apologetic)
[8] Edward V.Stanford, Foundations Of Christian Belief : an Introductory Course in Apologetics, (Westminster : The Newman Press, 1962),p.6
[13] Peter Kreefts, Ronald K.Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen I, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 2000),hlm.23
[18] Edward V Stanford, Foundations of Christian Belief : an Introductory Course in Apologetic,.P.12
[23] CS Song, Tell Us Our Name: A Story Theology From an Asia Perspective, (MaryKnoll : Orbis Book, 1986)P.186
[25] Pandangan serupa dengan Weinata dikembangkan oleh Karel A.Steen Brink dalam bukunya “Perkembangan Teologi Dalam Dunia Kristen Modern (IAIN Sunan Kalijaga ) yang menyatakan dua model dialog yaitu dialog dengan rumusan dokumen teologis dan yang kedua sebagai dialog dalam aspek sosiopolitik.
[26] Victor I.Tanja, Spiritualitas, Pluralitas & Pembangunan Indonesia, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996),hlm.4-6
[27] F. Suleeman, Ioanes Rahmat, Masihkan Benih Tersimpan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1990),hlm.39
[31] PD.Latuihamallo, Konteks Berteologia di Indonesia, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004),hlm.163-164
[33] Arthur F.Holmes, Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah, (Surabaya : Momentum, 2000),hlm.58-59
[35] Eddy Paimoen, Christian Responsibility in Nation Building : The Church and The State in Indonesia Today, (Bogor : Kasih Abadi, 2007).p.173
[36] David Lochhead, The Dialogical Imperative: A Christian Reflection on Interfaith Encounter, (Maryknoll : Orbis Books, 1988),p.46
[37] H.Kraemer, The Christian Message in a Non-Christian World, (New York : International Missionary Council and Harper, 1938)
[38] W.Bonar Sirait, Religious Tolerance and the Christian Faith, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1982),p.172-172
[39] Jan S.Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2005),hlm.484-485.
[41] DC Mulder, Pengalaman-Pengalaman Mengenai Dialog Agama dari Dewan Gereja-Gereja Se-Dunia, dalam Jurnal Teologi Gema Duta Wacana, (Yogjakarta : Universitas Duta Wacana, 1994), hlm.75
[42] Robbyanto Notomiharjo, The Cross in The Crescent’s Eye : theology of cross in muslim context and its significances for Christian mission, hlm. 132, dalam Jurnal Amanat Agung, April 2006
[43] Eddy Paimoen, Paradigma Alternatif Berteologi di Bumi Indonesia dengan Konteksnya yang Pluralis dari Perspektif Etika Kristen, dalam Lensa : Jurnal STT Cipanas edisi Maret 2007, hlm.19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar