Kamis, 29 April 2021

Bahaya Serangan Iblis

 

STRATEGI SERANGAN SETAN DAN PERTOLONGAN TUHAN 
TERHADAP MANUSIA PERTAMA

 

PENDAHULUAN

 

SERANGAN SETAN TERHADAP ADAM DAN HAWA

Keharmonisan taman Eden, sebagai tempat yang telah dirancang oleh Allah sebagai tempat bertemunya Tuhan Allah dengan pasangan manusia pertama segera berakhir ketika iblis mulai memasuki area tersebut tanpa menghadapi perlawanan apapun dari Adam dan Hawa sehingga dengan bebas ia mengoda dan menjatuhkan mereka. Dampak kejatuhan tersebut sudah sangat jelas bahwa selain beberapa kutukan dijatuhkan, merekapun terusir dari taman Eden sehingga tidak lagi dapat menikmati segala kebaikan dalam taman tersebut.[1]

 

INTI PEMBAHASAN

1.      Strategi Serangan Setan

Melalui narasi Kitab Kejadian pasal 3, kita dipertemukan pada sebuah drama yang menarik mengenai peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, dari pasal ini pula kita disadarkan bahwa Setan seringkali tidak melakukan serangan terhadap manusia, dalam konteks ini adalah Adam dan Hawa, secara frontal dan membabi buta, melainkan menyusun suatu strategi yang cermat, sistematik, dan sangat jitu. Iblis menyusun sebuah perangkap tersembunyi yang tidak dapat dideteksi oleh Adam maupun Hawa, sehingga secara tidak sadar mereka telah digiring masuk ke dalam perangkap tersebut dan tidak mampu lagi untuk melepaskan diri. Beberapa langkah taktis yang dipakai oleh iblis untuk menjebak manusia dapat kita cermati melalui beberapa fase, seperti berikut ini

 

1.      Memanipulasi Firman Allah.

Setan, yang dalam konteks pasal 3 direpresentasikan dengan ular, mengambil inisiatif untuk menghampiri dan mencobai Hawa, ada beberapa alasan yang yang dikemukakan oleh banyak teolog mengenai mengapa Hawa yang di cobai oleh Setan, diantaranya karena alasan bahwa Hawa dianggap sebagai “the weaker sex” dan ia tidak menerima perintah mengenai larangan untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat secara langsung melainkan melalui perantaraan Adam. Masalah perbedaan penafsiran ini dijawab oleh Victor Hamilton, bahwa narator kitab Kejadian tidak menunjukkan kepada pembaca bahwa Adam dan Hawa tidak sedang berada pada dua tempat yang berbeda pada saat dialog antara Setan dengan Hawa terjadi karena menurutnya kata “…jangan kamu makan…” dalam ayat 1 dan 3, kata “…kamu mati…” ayat 3, dan kata “…sekali-kali kamu tidak akan mati” dalam ayat 4. menggunakan kata kerja jamak, artinya Adam dan Hawa adalah subyek dari dialog tersebut. [2]

            Terlepas dari mengapa Hawa yang dipilih oleh iblis untuk dicobai, Iblis telah mengeluarkan sebuah statement yang seolah-olah seperti Firman yang telah disampaikan oleh Allah, atau dengan sitilah lain Firman yang telah dimanipulasi dalam ayat 1 yang berbunyi “…tentulah Allah berfirman : semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan?” perhatikan betapa iblis sangat licik dalam memanipulasi Firman yang sebenarnya berbunyi “….semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, jangan kau makan buahnya, sebab pada hari kau memakannya, pastilah engkau mati.” (ay 16-17). Iblis melakukan pendekatan secara hati-hati dengan cara memberikan arahan yang lembut yaitu saran-saran jahat yang secara positif menyangkal Firman Allah.[3]

            Melalui pertanyaan tersebut tujuan yang paling utama dari iblis adalah membangkitkan suatu pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Hawa tentang integritas Allah.[4] Gambaran mengenai Allah dalam mentalitas Hawa inilah yang diserang oleh iblis, karena dalam hal ini, dasar fundamental kehidupan iman terhadap Allah dibangun, sehingga ketika dasar itu mulai goyah, maka runtuhlah seluruh keyakinan terhadap Allah. Iblis berusaha menanamkan suatu gambaran yang baru dalam pikiran Hawa bahwa Allah adalah pribadi yang posesif dan overprotective, terlalu rumit hokum-hukumNya yang diberlakukan. Iblis berusaha mendistorsi segala kebebasan, kasih dan kebaikan yang telah Allah berikan pada manusia.

 

1.      Menanamkan Keraguan Dalam Hati & Pikiran Manusia

Kepastian akan dampak terhadap pelanggaran pada Hukum Allah, secara khusus pelanggaran mengenai persoalan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat direduksi oleh Iblis. Allah dengan tegas menyatakan bahwa “pada hari engkau memakannya engkau pasti mati” diturunkan nilainya, bahkan dihapuskan oleh iblis. Dengan menyatakan pada Hawa  “sekali-kali kamu tidak akan mati”. Keraguan yang ditanamkan oleh iblis tidak saja berhenti pada pernyataan tersebut, bahkan ia terus menerobos  hati pikiran manusia sampai yang paling dalam dengan menyatakan dalam ayat 5 “tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya….” Bahwa dampak yang ditimbulkan jika melanggar perintah tidaklah seperti yang Allah ucapkan.

Iblis hanya berbicara dua kali saja, namun itu cukup untuk mengatur keseimbangan dari keyakinan dan ketaatan antara manusia dengan penciptanya. Point sentral dalam kisah itu adalah pertanyaan mengenai pengetahuan tentang kebaikan. Iblis berusaha menunjukkan kepada Hawa bahwa ada pengetahuan yang sedang Allah sembunyikan dari manusia (mis, 1:4; 10,12,18,21,25,31,2:18),[5] namun itu dapat diperolehnya jika manusia mau menuruti anjuran iblis. Iblis bersilat kata dan melakukan tipu muslihat dengan mempergunakan kata-kata yang tertulis dalam Taurat supaya manusia mulai bimbang imannya dan kemudian oleh setan dibalikkan hatinya.

 

1.      Menawarkan Janji-Janji Palsu

Iblis mempertajam rayuannya terhadap Hawa dengan menawarkan janji-janji palsu, ayat 5 mengemukakan tentang janji-janji palsu iblis bahwa “ketika kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu akan yang baik dan yang jahat.” Inilah sebenarnya ambisi terbesar iblis yaitu keinginan untuk  menjadi sama seperti Allah, yang justru membuatnya jatuh dan dihukum oleh Allah. Keinginan yang sama, yang ia juga tawarkan kepada manusia.

Iblis sebenarnya menyadari bahwa keinginan dan ambisi untuk menjadi sama seperti Allah inilah yang justru menjerumuskannya ke dalam suatu pelanggaran yang sangat besar dan mematikan, ia menyadari manusiapun memiliki potensi yang sama seperti dirinya untuk melakukan pelanggaran yang sama, sehingga tawaran itu ia kemukakan kepada manusia. Von Rad berpendapat bahwa iblis telah menunjukkan kepada Hawa bahwa ketaatan pada Allah hanya memberikan rasa aman saja, sehingga ia menawarkan suatu tingkat pencapaian yang melebihi itu semua bagi dirinya sendiri.[6] jika kita cermati secara leksikal tawaran iblis untuk “menjadi seperti Allah”, tidak hanya berkaitan dengan kompetensi mengenai pengetahuan saja sebab kata “hayah” yang dipakai tidak sekedar berarti “to be” melainkan lebih bermakna “ye shall exist as gods” atau dengan kata lain “you shall exist in the class of higher beings”.[7] Betapa tawaran itu menggiurkan Hawa karena itu akan membuatnya menjadi makhluk yang superior.

Pengetahuan tentang kebaikan memang menjadi tema sentral dalam kejadian pasal 1 dan 2, dan Allah sebenarnya bahwa Allah akan menyediakan segala kebaikan itu bagi manusia hanya jika mereka percaya dan taat kepadaNya. Pencarian terhadap hikmat di luar Allah inilah yang ditawarkan oleh iblis.

 

1.      Melepaskan Diri Dari Tanggung Jawab

Pasca kejatuhan manusia ke dalam dosa, oleh karena menuruti bujuk rayunya, iblis berusaha melepaskan diri dari segala tanggung jawab. Bahkan ketika selanjutnya terjadi dialog antara manusia dengan Allah, dan manusia merasa ketakutan ketika Allah mencari mereka dan berusaha mengklarifikasi permasalahan yang sedang terjadi, iblis sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Inilah karakter iblis, melemparkan “bola panas” dan membiarkannya mengelinding kemana-mana dan membakar apa saja, namun tidak mau mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuatnya.

 

2.      Masa Krisis Hawa Dalam Menghadapi Serangan Setan

Pada dasarnya ketika Hawa membiarkan iblis berbicara kepadanya saja, ini merupakan suatu kesalahan terbesarnya karena telah membiarkan iblis menguasai dirinya dan berusaha mencari celah atau kelemahan untuk dipakainya menghancurkannya. Respon Hawa dalam menanggapi serangan iblis ini menunjukkan bahwa ia sedang ada dalam situasi krisis

 

2.      Menambah/merekayasa Firman Allah

Hawa sangat sadar bahwa ketika iblis telah mengemukakan suatu pertanyaan dan sekaligus pernyataan kepadanya mengenai larangan untuk memakan seluruh buah yang ada di dalam taman adalah tidak sesuai dengan Firman Allah, hal ini membuktikan bahwa Hawa memahami dan mengerti larangan tersebut. Tetapi masalah justru muncul ketika ia mengklarifikasikan Firman Allah dengan menyatakan bahwa “buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah yang ada di tengah taman, Allah berfirman jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati”. Hawa mungkin saja tidak bermaksud untuk melecehkan perintah Allah dengan menambah-nambah Firman Tuhan, tetapi dengan hal itu ia sedang menghinakan Firman dan ini merupakan kesalahan dan kekalahan paling fatal yang ia lakukan.[8]

 

2.      Meragukan Dampak/Konsekuensi Logis Dari Pelanggaran Terhadap Firman

Allah telah memastikan dengan tegas mengenai dampak terhadap pelanggaran pada perintahNya bahwa “ pastilah engkau mati” (2:17). Kepastian ini oleh Hawa direduksi atau diperingan menjadi “nanti engkau mati”(3:3) disinilah kita mencermati betapa Hawa telah meragukan perkataan dan mulai kurang yakin dengan Firman Allah, sehingga iblis menangkap perkataan Hawa ini dan dijadikan sebagai senjata yang sangat ampuh untuk melumpuhkannya (bdg Yakobus 4:7).

Keraguan Hawa tidak hanya berhenti pada memikirkan dampak jika ia melanggar perintah saja, selanjutnya ia melangkah lebih jauh dari sekedar memikirkan, namun ia mengamati keelokan buah tersebut dan mengandaikan jika ia memakannya (ayat 6) maka ia akan mengetahui tentang yang baik dan yang jahat atau dengan istilah lain menjadi seperti Allah.

 

2.      Mengambil Keputusan Untuk Melanggar Firman

Akumulasi pemikiran atau penafsiran Hawa terhadap terhadap perkataan Allah dan keraguan dirinya terhadap integritas Allah telah menyeretnya pada suatu keputusan yang sangat berani yaitu memetik buah pengetahuan dan memakannya (ay 6). Kisah Pencarian manusia terhadap hikmat (pengetahuan) di luar Allah berpuncak pada keputusan dan mengambil tindakan melanggar perintah Allah.

Hawa (dan juga Adam) begitu percaya pada apa yang dijanjikan oleh iblis, bahwa ketika mereka memperoleh pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, mereke menjadi seperti Allah, dan dalam pandangan mereka sendiri, mereka dapat menikmati kebaikan itu, namun kenyataannya, justru pengetahuan tentang yang jahatlah yang mereka peroleh, bukan pengetahuan yang baik karena ketika mereka memakannya justru mata mereka terbuka dan melihat bahwa mereka telanjang


[1]     T.Desmond Alexander, From Paradise To The Promised Land, (London : Paternoster Press,1995)p.21-22

[2]      Victor P.Hamilton, Handbook on The Pentateuch,(Grand Rapid : Baker Book House, 1982)p.44

[3]      HC.Leupold, Exposition of Genesis vol 1,(Grand Rapid : Baker Book House, 1942),p.149

[4]      ibid,p.47

[5]     John H.Sailhamor, The Pentateuch As Narrative, (Grand Rapid : Zondervan Publishing House, 1992)p.103

[6]      Von Rad, Commentary of The Bible : Genesis,p.89

[7]      HC.Leupold, .150

[8]      RA Jaffray, Tafsiran Kitab Kejadian, jilid I, (Bandung : Kalam Hidup, 1960)hlm.36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Trinitas

  BAB I PENDAHULUAN   A.     Definisi Istilah Meskipun istilah "Trinitas" tidak pernah muncul di Alkitab secara eksplisi...